Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Kesempatan Terakhir


__ADS_3

Dylan yang semula sedang mendengarkan musik dan belajar di kamarnya, merasa haus dan memutuskan pergi keluar untuk mengambil minum, namun langkahnya tertahan di depan pintu kamarnya saat dia melihat Kiran dengan wajah kusut berurai air mata berlari buru-buru keluar rumah. Dia mengurungkan niatnya untuk minum dan mengejar Kiran. Penasaran apa yang membuatnya menangis seperti itu.


" Ada apa ? " Tanyanya panik saat berhasil meraih tangan Kiran untuk menghentikannya. Dia membalikkan badan Kiran agar menghadap padanya, pandangan mata mereka kini sejajar. Tampak jelas raut ketakutan di wajah Kiran.


" Aku harus pergi, ibu ku di tahan olehnya " Isak Kiran dengan panik, dia berusaha melepaskan tangan Dylan yang menahannya.


Dylan mengernyitkan keningnya, bingung.


" Siapa ? " Tanya Dylan masih belum paham.


" Dia, kau tau, dia " Oceh Kiran tidak bisa berkonsentrasi, bahkan untuk menyebutkan nama Ganung saja dia tidak berani. Serangan panik yang menderanya saat ini sukses membuat tubuhnya gemetar sangat hebat.


Dylan yang segera paham siapa yang di maksud Kiran terkejut. Matanya membulat seiring dengan bayangan ayah tirinya yang muncul berseliweran di kepalanya. Dia menarik Kiran kedalam pelukannya untuk menenangkan Kiran yang kalut dan semakin terisak-isak. Tangannya mengepal menahan amarah yang siap meledak setiap kali dia mengingat Ganung.


" Kita hubungi dulu kekasih mu " Tawar Dylan saat Kiran sudah sedikit lebih tenang. Dia menuntunnya menuju bangku kayu yang ada di taman.


" Tidak " Tolak Kiran tegas, menyeka sisa air mata yang masih membasahi pipinya.


" Kenapa ? " Dylan heran dengan sikap Kiran, sekilas menimbang apa ada yang di sembunyikan oleh guru sekaligus mantan saudara tirinya itu.


" Aku... aku tidak ingin dia celaka, pria itu akan membunuhnya, dia pasti akan terluka " Kiran kembali terisak mengingat mimpi buruknya.


" Lalu kau akan pergi menemuinya sendirian tanpa ada yang tau ? Tanpa ada yang berusaha melindungi mu ? " Suara Dylan melesat naik, meninggi. Tidak percaya Kiran memutuskan hal sebodoh itu sendirian saat berhadapan dengan psikopat gila yang terobsesi padanya.


" Dia menahan ibu ku, dan dia bilang aku harus menemuinya sendiri, jika tidak ibu ku pasti... " Kiran tidak bisa melanjutkan kalimatnya, dia menutup wajahnya dengan telapak tangannya dan kembali terisak.


" Kau tau itu hal bodoh, dia bisa saja melukaimu, kita harus memberitahunya " Desak Dylan, dia sendiri tau meskipun dia ikut bersama Kiran itu tidak akan banyak membantu, mereka berdua hanya akan menjadi sandera yang dengan mudahnya tertangkap oleh Ganung.


" Tidak, aku punya firasat buruk tentang Ken, aku tidak ingin dia terluka, dia tidak boleh mendekat kepada laki-laki itu " Kiran masih menolaknya dengan keras kepala, entah kenapa firasatnya tidak enak kali ini, mimpi buruk itu terasa sangat nyata, seperti hanya tinggal menunggu waktu untuk terwujud menjadi sebuah kenyataan yang mengerikan.


Dylan yang tau betapa keras kepalanya Kiran akhirnya menyerah, dia tau dia tidak bisa memaksa Kiran lagi.

__ADS_1


" Baiklah aku ikut dengan mu, tenangkan dulu dirimu, aku akan masuk dan mengambilkan jaket untukmu, di luar sangat dingin. Ok ? " Bujuk Dylan mengulur waktu, berharap sebentar lagi Ken akan datang kesana seperti kemarin-kemarin dan mengetahui keadaan mereka. Dia terlalu gengsi untuk meminta tolong kepada Ken.


Setelah memastikan Kiran sedikit tenang, Dylan meninggalkannya masuk kembali kedalam rumah, dia sengaja berlama-lama mengambil jaket untuknya maupun Kiran.


Cukup lama dia menatap layar ponselnya, sudah lewat lama dari jam pulang sekolah, yang artinya Ken juga sudah pasti pulang.


" Aish si tua ini kenapa saat di butuhkan seperti ini malah tidak datang, kalau tidak di butuhkan dia bahkan menginap disini " Gerutu Dylan seraya berjalan mondar mandir di dalam kamarnya.


Dia terus saja menatap layar ponselnya, menimbang apakah harus menghubungi Ken atau tidak.


Tring, tring, tring !!! Suara ponsel yang di genggamnya mengagetkannya. Dia segera melihatnya, berharap itu dari Ken, namun wajahnya kembali berubah pias saat yang menelepon adalah Kiran.


" Aish bagaimana ini ? " Ocehnya bingung, panggilan dari Kiran semakin membuatnya tegang. Pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi dengan Kiran tanpa menghubungi Ken.


Dia segera berlari menemui Kiran yang sudah menunggunya. Memberikan jaket untuk Kiran.


" Kau yakin tidak ingin menghubunginya ? " Dylan memastikan sekali lagi, berusaha mengubah keyakinan Kiran.


" Tidak, aku tidak ingin Ken terluka, kita akan menyelesaikan ini, dendam ini harus di akhiri, aku tidak ingin lagi di hantui bayang-bayangnya " Jawab Kiran ragu-ragu, dia sendiri tidak yakin apa yang akan di lakukannya nanti saat berhadapan dengan Ganung.


Kiran terus saja meyakinkan dirinya sendiri, dia memutuskan akan bicara baik-baik dengan pamannya, dia tidak ingin terus di hantui perasaan was-was setiap kali memiliki kekasih.


Dylan yang tidak bisa lagi membujuk Kiran hanya bisa pasrah mengikutinya, dia sendiri tidak tau dimana alamat rumah Kiran, jadi dia tidak bisa mengirim pesan kepada Ken untuk memberitahukan keadaan mereka saat ini.


Sementara itu Ken yang masih berkutat menyelesaikan berkas-berkas yang tertumpuk di mejanya, hanya bisa menghela napas kesal, semenjak Raline lahir Rai tidak bekerja sama sekali, dia mengambil cuti sampai beberapa bulan untuk menjadi ayah yang seutuhnya. Dan tentu saja hal itu membuat Ken harus mengambil alih pekerjaan Rai untuk sementara waktu.


Meskipun sedikit merasa kesulitan namun dia berusaha keras agar tidak meminta bantuan kepada Rai, dia tidak ingin mengganggu kakaknya, terlebih lagi selama ini Rai sudah bekerja keras membantunya mengurus pekerjaannya secara diam-diam, hal itu semakin membuatnya merasa sungkan jika sampai tidak sanggup menangani ini sendirian.


Dia melirik jam dinding di ruangannya, hampir pukul 5 sore. Dia akan menyudahi pekerjaannya nanti saat waktunya makan malam, dia akan pulang dan makan malam bersama Kiran dan juga Dylan.


Namun rasa rindunya pada Kiran menggelitiknya, seharian ini dia belum mendapat pesan dari Kiran. Dia mengambil ponselnya. Foto Kiran yang di ambil diam-diam olehnya menghiasi layar ponselnya. Dia tersenyum menatap wajahnya.

__ADS_1


" Aku benar-benar jatuh cinta padanya, tapi kenapa dia bisa sekeras itu menolakku, apa kurang ku coba ? Wanita lain pasti akan pingsan jika aku mengatakan akan menikahi mereka kurang dari satu bulan, tapi dia malah tertawa terbahak-bahak dan mengatakan bahwa aku akan kabur darinya saat tau bagaimana dia " Oceh Ken seraya menunjuk nunjuk foto Kiran yang diam tak bergerak.


" Apa aku kurang romantis melamarnya ya ? Kalau di pikir-pikir aku tidak melamarnya dengan layak, mungkin itu alasannya dia tidak mau menerima ku " Ken mengangguk-angguk memikirkan kecerobohannya yang langsung saja memberitahu Kiran tanpa memikirkan perasaannya.


" Baiklah, aku akan menyiapkan sebuah lamaran romantis untukmu, sangat romantis sampai kau tidak akan bisa menolak pesona ku " Ucap Ken penuh percaya diri. Dia kemudian membuka laman goo*le dan mencari informasi cara melamar pasangan secara romantis.


Berbagai pilihan kini berderet di layar laptopnya, dia membacanya dengan seksama untuk memutuskan mana yang sesuai dengan tipe Kiran. Dia terlalu larut dalam bayangan indahnya saat membaca setiap tips yang muncul di hadapannya hingga melupakan pekerjaannya dan juga lupa menghubungi Kiran.


Para penjaga yang di tempatkan Regis di rumah persembunyian Kiran dan Dylan berhasil menangkap pembicaraan Dylan dan Kiran tentang Ganung, dia segera melaporkannya langsung kepada sekertaris Yuri.


Sekertaris Yuri yang menerima laporan itu hanya diam menyimak dengan seksama setiap detail yang di ucapkan oleh orang suruhannya tersebut.


" Kerja bagus " Ucapnya kemudian dan mengakhiri panggilan di ponselnya. Dia segera menghadap Regis untuk melaporkan perkembangan dari kasus Kiran dan Dylan.


Dia mengetuk pintu ruangan Regis, dan masuk setelah mendengar jawaban dari Regis.


" Tuan, Ganung telah bergerak, dia berhasil memaksa nona Kiran untuk pergi menemuinya, dia menyandera ibu nona Kiran " Lapor sekertaris Yuri berusaha terlihat tenang, namun dia sendiri juga sangat gugup menghadapi situasi ini.


Ganung memiliki beberapa anak buah yang sangat setia padanya, bukan tidak mungkin mereka saat ini ikut bersamanya dan melakukan penyanderaan. Meskipun sebelumnya dia telah mendapatkan laporan dari Huan bahwa para pengkhianat di Klan mereka telah tertangkap seluruhnya, tapi tetap saja mereka harus memperhitungkan kemungkinan masih ada yang lolos dan pergi bersama Ganung melakukan aksi ini.


Jika memang benar begitu, maka akan ada pertarungan antara 2 kubu, walaupun sudah bisa di pastikan hasilnya, tetap saja itu tidak akan baik untuk Kiran dan juga ibunya menyaksikan bagaimana mereka berkelahi.


" Biarkan saja dulu, aku sudah menempatkan beberapa orang di sekitar rumah Adelia, mereka orang-orang terlatih, dan mereka akan mengawasi Ganung agar tidak sampai melukai Adelia maupun Kiran, siapkan saja beberapa orang yang akan ikut dengan kita, jangan terlalu membuat keributan, dan pastikan Ken tidak tau hal ini " Perintah Regis tenang, di saat seperti ini pikiran yang tenang sangat berpengaruh pada setiap keputusan yang di ambil, sedikit saja emosi ikut andil dalam pengambilan keputusan, maka bisa berakibat fatal.


Ganung pun yang tau bagaimana Regis juga telah memperhitungkan hal ini, di rumah Adelia dia telah menyiapkan berbagai perangkap untuk menghalau anak buah Regis yang akan menangkapnya.


Ganung tau betul bagaimana pemikiran Regis, dan dia sudah mengantisipasi hal itu semampunya. Dia memasang beberapa ranjau darat di sekitar halaman rumah Adelia, berjaga-jaga jika dia akan di sergap oleh anak buah Regis.


" Jangan kau kira aku tidak menyiapkan hal ini dengan baik Regis, aku sudah belajar banyak darimu, bertahun-tahun aku mengikutimu hanya untuk melihat bagaimana caramu berpikir, aku tidak akan tertangkap dengan mudah kali ini, tidak akan " Ganung tersenyum penuh kemenangan ketika selesai memasang semua jebakan di setiap sudut rumahnya.


Dia kembali kedalam rumah untuk menyiapkan senjata terakhirnya, senjata yang akan membuat Kiran menjadi miliknya selamanya.

__ADS_1


Inilah kesempatan terakhirku, kali ini atau tidak selamanya.


Ucap Ganung mantap dalam hati.


__ADS_2