Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Pergi Berlibur


__ADS_3

Ken yang sedang malas-malasan di kamarnya hanya bisa berbaring tak bertenaga seperti seonggok selimut lusuh, meringkuk memeluk kakinya sendiri dengan wajah yang sedih.


Dia bahkan mengabaikan panggilan Rai saat memasuki rumah tadi, masih merasa kesal dengan ide konyolnya.


Namun di tengah rasa terpuruknya, ponselnya yang ada di meja sofanya berbunyi, dia merasa terlalu malas untuk mengangkatnya jadi dia mengabaikannya. Tapi seperti tidak memahami perasaan Ken yang hancur, ponsel itu terus saja berbunyi menunggu untuk di jawab oleh si empunya ponsel.


" Aish !! " Teriaknya kesal, dengan malas-malasan dia bangkit dari tidurnya.


" Siapa sih yang menelepon ? Sangat tidak pengertian sekali, awas saja kau !! " Omelnya kesal dan berjalan ke arah sofa.


Dengan membungkuk dia mengambil ponselnya yang di letakkan secara terbalik, mengangkatnya dan membaca nama yang tertera di panggilan masuknya. Anjeli Ku.


" Hah ?!?! " Lonjaknya tidak percaya dengan mata membelalak lebar. Dia kemudian menampar pipinya sendiri untuk meyakinkannya bahwa dirinya saat ini sedang tidak bermimpi.


" Augh " Teriaknya kesakitan saat merasakan panas di pipi yang di tamparnya terlalu keras tadi. Tapi kemudian dia tersenyum senang. Sudah lebih dari 3 hari mereka marahan dan tidak saling berkirim pesan, dan sekarang tiba-tiba Kiran meneleponnya.


" Ehem... ehem " Ken berdehem untuk mengatur nada suaranya agar terdengar manis.


" Do re mi fa...re re ya benar pakai nada re saja, terlihat lembut dan sabar " Lanjutnya berlatih, dia kemudian mengatur deru napasnya, dengan satu tangannya yang bebas dia mengelus-elus dadanya, menenangkan detak jantungnya yang tak terkendali. Kemudian dengan yakin dan percaya diri menjawab panggilan di ponselnya.


" Hallo ? " Dengan nada Re yang telah di latihnya, sangat pas tidak terlalu rendah juga tidak terlalu tinggi.


" Hallo " Jawab Kiran lirih.


" Ya ada apa ? " Tanya Ken dengan tenang.


" Begini... aku ingin mengambil cuti selama 2 hari, aku akan menyusul ibu ke desa, boleh kan ? " Tanya Kiran ragu-ragu.


" Desa ? " Ulang Ken kecewa, karena tebakannya salah. Dia mengira Kiran menghubunginya karena ingin mengajaknya baikan, tapi ternyata untuk meminta izin sebagai guru di SMA Loyard.


" Ya ibu ku pergi ke desa beberapa hari yang lalu, dan aku ingin menyusulnya kesana " Jawab Kiran lirih.


" Ya tentu saja " Jawab Ken tersenyum, tidak seharusnya dia kecewa, bukankah ini juga sudah kemajuan Kiran mau menghubunginya lagi setelah kata-kata kasar yang dia ucapkan dan bunga kamboja yang dia kirimkan. Dia harus bersabar lebih lama lagi, mungkin memang Kiran butuh waktu untuk menenangkan diri.


" Terima kasih " Jawab Kiran lembut.


" Kenapa kau tidak memberitahu ku sebelumnya, jika tau kau akan pergi ke desa, aku pasti akan mengantarmu " Lanjut Ken berhati-hati, dia tidak ingin terlihat seperti laki-laki yang berpikiran picik lagi.


" Tidak apa-apa, aku sudah naik ke atas bus sekarang, lagipula desanya jauh, aku khawatir kau akan capek mengemudi " Jawab Kiran.


Mendengar nada bicara Kiran yang sepertinya sudah melembut, membuat Ken yakin bahwa Kiran sudah tidak marah lagi, ini kesempatan baik baginya.


" Umm.. Kiran ? " Panggilnya pelan.


" Aku minta maaf atas semua ucapan ku tempo hari, aku mengatakan itu tanpa memikirkan trauma mu, dan hanya memikirkan diriku sendiri, maaf aku sudah berpikiran picik dan egois " Jelas Ken lirih.


" Tidak, aku yang seharusnya minta maaf telah membuatmu ikut menderita oleh trauma ku... " Jawab Kiran dengan suara tercekat.


Namun bukannya bahagia mendengar jawaban Kiran, jantung Ken semakin berdetak kencang.


Kenapa dia bicara begitu ? Apa itu artinya dia minta putus ? Apa dia pergi ke desa karena tidak akan kembali lagi kesini ? Tidak boleh !


Jerit batin Ken bingung sekaligus takut.


" Tunggu dulu... " Potong Ken tiba-tiba.


" Apa kau sedang berpamitan padaku sekarang ? " Tanya Ken tergagap.

__ADS_1


" Hm ? " Jawab Kiran bingung.


" Apa kau berniat pergi dariku ? " Tanya Ken semakin di himpit rasa takut.


" Tidak, aku hanya akan mengambil cuti beberapa hari lalu kembali lagi " Jawab Kiran polos.


" Lalu apa maksud ucapanmu tadi ? " Tanya Ken masih belum merasa lega karena jawaban Kiran yang terlalu umum.


" Aku minta maaf ikut membuatmu menderita dengan trauma ku, kedepannya aku akan berusaha untuk mencium mu " Jawab Kiran berbisik di speaker ponselnya.


" Apa ?!?! " Teriak Ken, terkejut dan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


" Apa aku tidak salah dengar ? katakan sekali lagi " Ulangnya cepat.


" Hei... " Jawab Kiran malu-malu.


" Aku sedang di bus, mana mungkin aku mengulangnya lagi " Protes Kiran berpura-pura ketus.


" Sekali saja, ya ? Sekali saja " Rengek Ken manja.


" Tidak mau, sudah aku tutup dulu teleponnya " Jawab Kiran malu-malu, dan tanpa menunggu jawaban dari Ken dia langsung menekan tombol merah yang ada di layar ponselnya.


Kiran menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya untuk menyembunyikan rasa malunya karena sudah berbicara mesum dengan Ken.


Dan Ken yang sangat bahagia menari-nari break dance di kamarnya tanpa iringan lagu, mulutnya sibuk menyenandungkan lagu-lagu yang cinta yang dia hapal seadanya.


" Ah benar ! " Ken menepuk jidatnya sendiri.


" Harusnya aku menyusulnya ke desa, ya benar, aku harus menyusulnya kesana " Tiba-tiba saja ide itu terlintas di pikirannya.


" Oke pertama-tama bersiap-siap dulu " Ocehnya bingung karena suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga membuatnya tak bisa berpikir normal.


Secepat kilat dia mengemasi barang-barang yang bisa dibawanya dan mengganti pakaiannya lalu segera pergi keluar kamar dengan menyeret kopernya.


Saat dia melewati ruang keluarga, dia melihat Rai serta Ruby sedang menimang Raline agar tidur siang.


" Mau kemana kau ? " Tanya Rai asal saat melihat Ken menenteng koper besarnya.


" Aku akan berlibur beberapa hari " Jawab Ken asal, jika dia bilang akan menyusul Kiran ke desa, maka sudah pasti Rai akan meracuni pikirannya dengan ide-ide bodohnya.


" Liburan kemana ? " Tanya Rai tidak percaya.


" Rahasia, aku tidak akan memberitahukannya pada kalian " Jawab Ken sombong.


" Memangnya aku mau ikut ? " Cibir Rai sinis.


" Kau memang tidak akan ikut, tapi kau pasti akan mengacau, tertulis jelas di jidatmu, pe-ng-a-cau " Ken mengejanya lambat-lambat dan menujuk kening Rai yang sedang duduk santai di kursi goyang menggendong Raline.


" Hei ! " Teriaknya kesal, Raline yang ada dipangkuannya langsung menggeliat.


" Sshh...sshhh... " Rai menepuk-nepuk pelan kaki Raline dan menggoyang kursinya lagi agar Raline kembali tidur.


" Aku tidak mau ikut, tapi kau tau sendiri kan kedudukanmu di sini " Geram Rai kesal dan mendelik tajam.


" Apa maksudmu ? " Tanya Ken tidak paham.


" Bagaimana kau bisa kabur dengan tali pusar Raline di perutmu itu " Rai masih menggeram marah dan memelototi perut Ken.

__ADS_1


" Aish !! " Teriak Ken keras. Raline kembali menggeliat, dan Rai kembali menenangkannya.


" Sudah ku bilang berapa kali jangan pernah sebut kata tali, aku mengutuk siapapun yang menggunakan istilah tali pusar untuk pusar seseorang " Jawab Ken menggeram, dan bunyi gemeratakan yang beradu antara gigi-giginya.


" Kalau begitu jangan pergi, bagaimana kalau nanti malam dia rewel lagi ? " Teriak Rai dengan suara lirih.


" Hei kenapa kau egois sekali, aku harus mengejar cinta ku, aku juga ingin bahagia " Protesnya kesal.


" Memangnya kau akan mengejar kemana ? " Saut Ruby penasaran.


" Sebenarnya ini rahasia, tapi aku ingin menyusul Kiran ke desa, dia mengambil cuti beberapa hari, jadi ku pikir ini bagus untuk berlibur setelah semua hal yang kami lalui " Jelas Ken tersenyum malu-malu.


" Kalian sudah baikan ? " tanya Ruby antusias.


" Ya sepertinya begitu " Jawab Ken malu-malu lagi.


" Hei nanti kalau kau bertemu dengannya, jangan tunjukkan wajah mesum mu itu di depannya, atau dia akan lari terbirit-birit dan malah meninggalkanmu " Nasehat Rai asal.


" Apa ? Mesum ? " Pekik Ken kesal.


" Memangnya siapa yang orang mesum, hah ? " Sungutnya kesal.


" Kau " Jawab Rai santai.


" Itu tertulis di jidat mu, o-ra-ng-me-sum " Jawab Rai mengejanya lambat-lambat membalas ejekan Ken tadi.


" Sudah, sudah pergi sana, jangan sampai kau kemalaman di jalan, karena yang ku tau kampung halaman Kiran agak terpencil di lereng pegunungan yang masih sepi " Jawab Ruby tersenyum lembut.


" Baiklah aku pergi dulu, daah... " Jawab Ken dan segera pergi meninggalkan mereka berdua.


" Hei kenapa kau selalu lembut padanya ? Kau itu terlalu memanjakannya " Omel Rai ketus setelah Ken menghilang di balik pintu.


" Apanya ? " Tanya Ruby bingung.


" Kau itu milik ku, kau hanya boleh perhatian padaku, kau hanya boleh memanjakanku, kenapa kau malah perhatian kepada yang lain " Protesnya kesal.


" Yang kau maksud orang lain itu adikmu sendiri " Jawab Ruby malas dan beralih menatap Raline yang tengah terlelap di gendongan Rai.


" Tetap saja itu orang lain " Sanggahnya kesal.


" Sudah hentikan " Jawab Ruby acuh.


" Kalau begitu cium " Perintah Rai berpura-pura tegas.


" Cium apa ? " Tanya Ruby ketus.


" Ya cium sebagai hukuman kau memanjakan orang lain " Jawab Rai masih tetap berpura-pura ketus.


" Cih, apa sih ? " Acuhnya, tapi rona merah diwajahnya seakan menunjukkan kebalikannya.


" Ayo " Rai memonyongkan bibirnya.


" Hei, kau tidak lihat banyak pelayan lalu lalang " Bisik Ruby malu.


" Biarkan saja mereka, aku memang suka pamer " Jawab Rai masih terus saja memonyongkan bibirnya.


Cup! Sebuah kecupan mendarat sebentar di bibir Rai tanpa aba-aba, dan Ruby langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena malu.

__ADS_1


" Hei hei hei, lihatlah gadis ini, tidak tau malu sekali, berani-beraninya mencium ku " Goda Rai berpura-pura marah. Dan mereka tertawa bersama-sama.


__ADS_2