
Sesiangan ini hanya di isi Kiran dan Dylan dengan bermain ular tangga di rumah persembunyian mereka, rasa bosan sedikit demi sedikit mulai menggayuti mereka.
" Ini tidak berhasil " Dylan menghela napasnya untuk yang kesekian kalinya, dia hanya menatap nanar papan permainan itu dengan pandangan kosong.
Kiran tak jauh berbeda, dia yang sedang mengocok dadunya menghentikan kegiatannya kemudian ikut menghela napas bersama. Mereka mencoba segala cara, segala permainan untuk membunuh rasa bosan itu, namun tak ada satupun yang berhasil. Saat dimana mereka merasa ceria kembali adalah saat Ken datang di malam hari untuk berkumpul dan makan malam bersama. Meskipun Dylan dan Ken tidak pernah akur, namun suasana seperti itu menjadi sangat di rindukan oleh Dylan dan Kiran.
" Kau benar " Sautnya lemas, sudah lebih dari seminggu mereka ada di tempat itu, tersembunyi dari dunia luar.
" Apa saja yang dilakukannya sampai membuat kita harus menunggu selama ini ? Apa kau yakin dia pewaris Klan Loyard ? Atau jangan-jangan dia memang berniat menyembunyikan penjahat itu ? " Cibir Dylan asal, dia melirik ke arah Kiran untuk memastikan reaksinya.
Kiran hanya diam tertunduk, dulu menangkap dan membalas dendam kepada pamannya adalah hal terbesar yang dia inginkan dalam hidup ini, tapi beberapa waktu terakhir keinginan itu seperti tenggelam kedasar hatinya. Sejak mengenal Ken dan jatuh cinta padanya, pikirannya lebih terfokus menyembuhkan rasa traumanya terhadap sebuah hubungan. Sampai sekarang Kiran seperti merasa sedang di intai bahaya yang mengancam dirinya maupun Ken.
Bayangan para lelaki yang dulu mengencaninya lalu berakhir di rumah sakit selama berminggu-minggu kini semakin sering muncul di mimpinya. Bukan lagi mimpi buruk tentang membunuh Ganung yang menghiasi malamnya, tapi mimpi tentang Ken yang harus terbaring di ranjang rumah sakit dengan luka di sekujur tubuhnya yang membuatnya tak tenang.
Apa sebaiknya aku lupakan dendam itu dan mulai menata hubunganku dengan Ken ? Aku rasa berada di dekat Ken membuatnya tidak akan berani mendekatiku. Lagipula Ken sangat mahir dalam berkelahi, jadi Ganung itu tentu bukan apa-apa baginya kan ?
Kiran semakin larut dalam pikirannya sendiri, hingga dia tidak sadar Dylan sudah setengah berteriak saat memanggilnya.
" Apa ? " Kiran menutup telinganya setelah sadar suara Dylan seperti melesat 7 oktaf tingginya.
" Kau ini kenapa ? " Tanya Dylan kesal.
" Masih ingin main tidak ? Kalau tidak, biar aku bereskan ini " Dylan menunjuk papan permainan dengan wajahnya.
" Ya bereskan saja, aku mau ke kamar saja, kepala ku sedikit pusing " Kiran beralasan, dia bangkit dari duduknya dan pergi ke kamarnya.
Merebahkan dirinya di atas kasur yang berukuran sangat besar jika hanya di tiduri oleh satu orang saja.
Aku sangat merindukannya.
Kiran memejamkan matanya, berharap saat nanti terbangun sudah saatnya makan malam dan dia akan bisa melihat Ken lagi.
Dylan yang malas-malasan membereskannya juga menghela napas bosan, di rumah sebesar itu dengan banyak pelayan, dia bahkan tidak punya teman untuk di ajak bicara selain Kiran, itu pun kalau Kiran mau mendengarkannya.
__ADS_1
Tiba-tiba aku merindukannya, tapi aku tidak akan mengatakan itu padanya.
Dylan tersenyum membayangkan wajah Ken kalau dia sampai nekat mengatakan bahwa dia merindukannya.
🍁🍁🍁🍁🍁
" Tuan apakah anda tidak masalah membiarkannya pergi begitu saja ? Bukankah tadi adalah kesempatan yang bagus untuk menangkapnya ? Bagaimana kalau dia kabur setelah anda memberitahukannya bahwa anda akan memburunya " Sekertaris Yuri yang sedang menyetir mobil memulai pembicaraan dengan Regis yang sedari tadi hanya diam saja di kursi penumpang yang ada di belakang. Dia terlihat sangat tenang padahal suasananya terasa begitu menegangkan untuk sekertaris Yuri.
" Apa Huan sudah menangkap semuanya ? " Tanya Regis datar.
" Sudah tuan " Jawab Sekertaris Yuri sopan, namun nada suaranya terdengar masih saja cemas, bagaimana tuan bisa begitu tenang sedangkan kepala pemberontak itu masih bebas berkeliaran, begitulah yang di cemaskan sekertaris Yuri yang sedari tadi melirik gelisah Regis dari kaca spion.
" Baiklah, baiklah " Regis menyerah dan menatap ke arah sekertaris Yuri.
" Aku sudah mempertimbangkan semua hal ini, kau tau aku sudah lama mengamati Kiran dan Dylan, mereka orang yang terluka oleh Ganung, semula kalau saja Ganung berniat benar-benar berubah, aku ingin membersihkan namanya dari kesalahpahaman di antara mereka. Namun variabel lain datang, Ruby dan Kiran ternyata mereka bersahabat, dan takdir malah membawa Ken ikut terlibat didalamnya " Regis menghela napas sesaat mengingat hubungannya dengan Ganung, dia ingat saat sama-sama masih menjadi remaja nakal dan hidup di jalanan, Ganung termasuk orang yang setia kawan, tapi dia selalu berpikiran orang buangan seperti mereka tidak akan bisa mendapatkan hidup yang layak, hal itu lah yang kemudian membuat jalan mereka berbeda, Regis bertemu Lorie yang bisa mengubah hidupnya menjadi lebih baik.
Regis menatap nanar keluar jendela, mobil yang melaju dengan kecepatan sedang itu menampilkan deretan gedung-gedung yang bergerak-gerak bergantian.
" Alasanku membiarkannya saat ini karena dia bilang akan pergi ke tempat kakaknya untuk berpamitan " Kata Regis datar, seolah berusaha mengusir kegelisahan di benak sekertaris Yuri.
" Aku sudah bilang padanya, sejauh apapun dia lari, para pemburu akan menemukannya, dan dia cukup bijak untuk tidak berusaha kabur, karena dia tau itu akan percuma saja. Dan sebagai gantinya aku yakin dia akan memakai kakaknya sebagai umpan untuk menarik Kiran " Saut Regis mantap dengan firasatnya.
" Tuan itu artinya nona Kiran dalam bahaya ? " Sekertaris Yuri semakin gelisah mendapati kenyataan tersebut.
" Tidak, Ganung memang terkenal kejam kepada siapapun, tapi aku tau dia tidak akan melukai Kiran mau pun kakaknya, karena Ken dan Kiran akan menikah, aku membutuhkan alasan yang tepat untuk menghabisinya. Kalau aku menghabisinya sekarang sebelum semuanya terbongkar, bayangkan bagaimana perasaan kakak sekaligus ibu Kiran, apa menurutmu dia bisa menerima Ken sebagai menantunya kalau tau aku ayahnya yang menghabisi adik kesayangannya ? " Regis menjelaskan santai.
" Jadi maksud tuan, anda berniat mengumpankan nona Kiran untuk menangkap Ganung ? " Tanya Sekertaris Yuri memastikan rencana tuannya.
" Sebenarnya aku tidak ingin menggunakan cara ini, aku tidak ingin membuka trauma yang ada pada Kiran, tapi ini akan menjadi penentu hubungan Ken dan Kiran ke depannya " Ucap Regis lamat-lamat terdengar sangat serius.
" Lalu sekarang bagaimana ? " Tanya Sekertaris Yuri memastikan.
" Biarkan Ganung pergi ke tempat kakaknya, dia pasti merengek meminta bantuan kakaknya agar meluruskan kesalahpahamannya dengan Kiran, dan meminta mereka untuk bertemu, saat mereka bertemu itulah kita akan menangkapnya, dengan begitu kakaknya akan tau semua tentang Ganung yang tidak akan pernah berubah " Jawab Regis menjelaskan rencananya.
__ADS_1
Sekertaris Yuri yang semula diam saja kemudian mengangguk-angguk paham saat Regis menjelaskan maksudnya, dan dengan sigap dia menghubungi anak buah Huan untuk menjaga tempat persembunyian Kiran maupun Dylan.
" Terima kasih Sekertaris Yuri " Puji Regis tersenyum saat Sekertaris Yuri selesai menutup sambungan teleponnya setelah memberikan perintah untuk Huan.
" Tidak tuan, saya masih sangat bodoh dalam memahami anda, saya bahkan tidak bisa menangkap maksud anda melepaskan Ganung, maafkan saya atas kinerja saya yang buruk " Sekertaris Yuri menjawab dengan nada menyesal karena kredibilitasnya sebagai sekertaris masih saja buruk.
" Benarkah kau menyesal ? " Tanya Regis sangsi, dia sengaja menunjukkan nada tidak percaya yang semakin membuat sekertaris Yuri gelisah.
" Maafkan saya tuan, maafkan saya... " Hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari bibir sekertaris Yuri yang merasa sungkan.
" Baiklah kalau kau merasa tidak enak, tolong luangkan jadwalmu di hari jumat ini " Saut Regis santai.
" Jumat ? " Sekertaris Yuri mengulanginya dengan lirih.
Dia berpikir keras, pikirannya melayang pada deretan jadwal Regis di hari jumat, tidak ada sesuatu yang mendesak, rapat, pertemuan, perjamuan atau apapun itu.
" Anda kosong di akhir pekan ini tuan " Jawab Sekertaris Yuri ragu-ragu, apakah ada yang dia lewatkan lagi.
" Bukan jadwal ku, tapi jadwal mu, aku ingin kau... " Regis sengaja tidak menyelesaikan kalimatnya agar Sekertaris Yuri sendiri yang bisa menebaknya.
Apa ini ? Kenapa tuan ingin aku mengosongkan jadwalku di hari jumat, ada apa ?
Sekertaris Yuri berpikir sangat keras, dan dia memberanikan diri melirik Regis dari kaca spion. Sialnya pandangan mereka saling beradu, dan segurat ekspresi kengerian tergambar langsung diwajahnya saat melihat Regis tersenyum licik.
Glek !! Dia berusaha menelan ludahnya di antara kerongkongannya yang terasa tercekat kekurangan oksigen.
Jangan-jangan tuan ingin aku...
Sekertaris Yuri segera menangkap maksud dari Tuannya. Dan dia mengangguk pasrah.
" Kau memang luar biasa, baiklah aku percayakan padamu hahahaha.... " Tawa jahat Regis menggema di seluruh penjuru mobil yang hening tanpa background musik apapun itu.
Tuan putri Raline, cepatlah besaaarrrr...
__ADS_1
Jerit keputusasaan sekertaris Yuri menggema di relung hatinya yang terdalam.