
Selama sisa hari itu hanya di lalui Ken dengan cemberut, setelah panggilan dramatis Kiran untuknya didepan teman-temannya, terlebih lagi calon saingannya, Bambang, Ken memilih mengikuti kelas Kiran sampai sore hari. Dia tidak ingin lagi melihat laki-laki lain mendekati Kiran seperti itu.
Ken duduk di bangku paling belakang untuk menghindari pandangan dosen yang mengajar, pikirannya sibuk menilai seluruh aset yang di miliki keluarganya kalau ingin membangun sebuah universitas untuk Kiran kuliah, dan hanya Kiran yang akan jadi mahasiswanya, akan lebih baik lagi kalau Ken sendiri yang menjadi dosennya, begitu pikiran Ken melayang jauh.
Dia menatap punggung Kiran dari tempat duduknya, Kiran duduk diapit kedua temannya. Dia terlihat sangat serius mendengarkan dosen yang mengajar, satu lagi sifat Kiran yang berhasil di tangkap Ken, dia orang yang serius dan bertanggung jawab. Tapi sejurus kemudian pandangan Ken menyipit dan kesal, rupanya bukan hanya Ken yang mengamati Kiran, tapi hampir setiap laki-laki yang ada disini kedapatan mencuri-curi pandang ke arah Kiran, membuat Ken semakin berpikir keras berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun sebuah universitas secara dadakan. Dalam hal cemburu sepasang kakak beradik Rhoma dan Rahul itu seperti tidak ada bedanya.
Ken sampai harus membayangkan menggunakan kekuasaannya untuk membabat habis semua saingannya dalam hal merebut hati Kiran. Padahal dulu dia sangat menentang habis perilaku kakaknya yang selalu menggunakan nama Klan untuk mengancam orang lain, tapi saat ini, di tengah kegilaan cinta dan rasa cemburu, Ken merasa hal yang dilakukan kakaknya dulu adalah hal yang tepat.
Tenggelam beberapa lama dalam khayalannya sendiri, Ken sampai tidak menyadari bahwa dosen telah keluar ruangan dan suasana mulai riuh. Ken segera berdiri saat dia mulai melihat Bambang juga bangkit berdiri akan menghampiri Kiran.
" Anjeli... " Ken memanggilnya dengan suara lantang, sampai-sampai seisi kelas menoleh kearahnya, termasuk juga Kiran. Wajahnya langsung merona merah.
Dengan langkah lebar Ken bergegas menghampirinya.
" Ayo kita pulang " Ken segera meneruskan kalimatnya.
Bisik-bisik tetangga pun tidak dapat di hindari lagi, kisah cinta sepasang remaja lanjut usia itu begitu mengusik perhatian. Entah Ken dan Kiran yang terlalu tua, atau teman-teman sekelas Kiran yang terlalu muda, yang jelas gadis-gadis yang usianya sepertinya jauh di bawah Ken mencelos kecewa.
Ken sudah berdiri di samping Kiran yang sedang membereskan buku-bukunya, pandangan matanya tajam menatap Bambang yang juga melayangkan pandangan tak kalah sengit kearahnya.
" Kiran bukankah kau sudah berjanji akan mampir ke toko kue ku untuk makan cake bersama " Gaya bahasa Bambang di lebih-lebihkan, sok inggris.
" Maaf aku tidak bisa kali ini " Kiran menjawab lirih dan menundukkan kepalanya. Tapi teman-teman Kiran yang lain sudah buru-buru melayangkan protesnya.
" Ayolah Kiran bukankah kau sudah berjanji untuk mampir ketempatnya " Salah satu teman wanita Kiran merengek sambil menggoyang-goyangkan lengan Kiran.
" Tapi aku tidak bisa, ada teman ku disini " Kiran setengah berbisik dan menunjuk Ken dengan wajahnya. Tapi semua masih bisa mendengarkan suara Kiran begitu juga Ken.
" Tidak apa-apa Kiran, aku akan mengantarmu ke tempatnya, aku tidak keberatan " Ken menjawab penuh perhatian dan tak lupa memberikan bonus senyum di akhir kalimatnya.
Tak ayal senyum manis Ken membuat ketiga teman Kiran menggelepak terpesona, namun Kiran hanya memandang Ken dengan sorot mata tajam yang seakan berkata tolong jangan pergi ke tempat apapun itu. Tapi memang dasar Ken yang terlalu percaya diri, dia malah mengartikan pandangan mata Kiran menjadi jangan goda teman-temanku, dan khayalan ini membuat Ken semakin tersenyum lebar.
Mereka berlima keluar gedung universitas, matahari sudah condong ke barat dan mengeluarkan semburat jingga di langit biru.
" Kiran bagaimana kalau kau naik mobil ku saja " Bambang memulai pembicaraan saat mereka sampai di tempat parkir.
Sial harusnya aku membawa hinata tadi, tak peduli dia akan cemburu atau tidak dia harus akur dengan calon iparnya.
Ken merengut menyesali sikapnya yang terlalu memanjakan hinata yang menyebabkan dia akan protes setiap kali ada wanita yang menaikinya, tapi semua itu jelas hanya ada didalam pikiran Ken.
__ADS_1
" Tidak, tidak dan tidak, Kiran datang bersama ku tadi pagi, jadi jelas kami harus satu mobil " Sela Ken memutuskan tanpa menanyakan persetujuan Kiran.
" Maaf Bams, aku harus dengannya " Kiran menjawab lirih.
Bams ? Kenapa namanya bisa jadi begitu keren kalau Kiran yang menyebutkan, cih dia menyebutku Rahul dan Bams untuk laki-laki lain.
Ken melirik Kiran sinis, kesal karena Kiran bersikap manis kepada laki-laki lain tapi tidak padanya.
" Sudah ayo cepat " Ajak Ken dengan ketus dan menarik tangan Kiran menjauh meninggalkan ke empat orang yang sedang terbengong melihat Kiran yang tidak meronta saat di sentuh Ken.
Sudah bukan rahasia lagi kalau Kiran memiliki semacam phobia terhadap laki-laki, dia akan menjaga jarak saat laki-laki berbicara padanya, dan akan menjerit-jerit histeris saat ada seorang laki-laki yang berusaha menyentuhnya. Sebagian lelaki justru menganggap itu sebuah tantangan untuk menaklukan Kiran, tapi sebagian wanita menganggap bahwa itu hanya akal licik yang di lakukannya untuk menarik simpati laki-laki. Selalu sifat iri dalam wanita yang lebih dominan.
Ken sendiri tanpa sadar menyentuh tangan Kiran, didorong perasaan kesal dan cemburu membuatnya lupa memperlakukan Kiran seperti biasanya, tapi Kiran sendiri juga heran dengan dirinya, saat tangan Ken menyentuhnya dia tidak merasakan semacam serangan panik seperti biasanya, dia tetap merasa aman dan nyaman, mungkin karena dia percaya kepada Ruby, begitu sangkalnya dalam hati.
Ken membukakan pintu untuk Kiran begitu mereka sampai di mobil Ken, dia berhenti sejenak untuk mengawasi sarada, cantik, tapi tidak secantik hinata bila untuk dipamerkan kepada laki-laki calon saingannya.
" Sial !!! " Umpatnya lirih dan melayangkan tinjunya ke udara, rasa cemburu benar-benar menguasai dirinya.
" Kenapa ? " Tanya Kiran heran yang melihat Ken begitu emosi.
" Tidak masuk saja " Ken menjawab cepat dan berjalan memutari mobil menuju kursi pengemudi.
" Kenapa teman-teman mu sangat aneh ? " Tanya Ken asal, kecemburannya masih memuncak.
" Kami tidak terlalu akrab, hanya bertemu seminggu sekali saat kuliah " Jawab Kiran santai, dia masih tetap heran kenapa Ken terlihat sangat marah.
Apa karena aku merepotkan dia, makanya dia semarah ini ?
Kiran bertanya-tanya dalam hati.
" Bambang juga ? " Tanya Ken ketus.
" Ya kami juga hanya bertemu seminggu sekali " Jawab Kiran polos dan jujur.
Jawaban Kiran sedikit melunakkan emosi Ken, menurunkan kadar cemburunya karena dia tahu bahwa dirinya lebih beruntung, dia bisa bertemu Kiran setiap hari, dan saat libur tiba dia bisa mencari alasan untuk mengantarnya kuliah, sekalian memastikan tidak akan ada laki-laki yang berani mendekatinya.
Cukup lama perjalanan yang mereka tempuh sampai akhirnya mereka tiba di sebuah ruko 2 lantai dengan desain khas anak muda, sebuah cafe yang cocok untuk tempat kencan anak muda jaman sekarang dan suasananya sangat ramai.
" Hah hanya segini, aku bahkan bisa membuat cafe yang lebih mewah dari ini " Sinis Ken sombong.
__ADS_1
" Sudahlah, sepanjang perjalanan kau hanya mengeluh dan mengomel terus, aku tidak keberatan kalau kita pulang sekarang, lagipula aku tidak terlalu suka " Kiran menjelaskan kepada Ken sesaat sebelum memasuki cafe tersebut.
" Tidak, kalau kita pulang dia akan merasa besar kepala, akan ku buat dia mengerti dengan siapa dia bersaing " Ken menjawab ketus dan menimbang apa yang harus di lakukannya terhadap cafe tersebut.
" Bersaing ? Bersaing apa ? Jelas kau bukan saingannya, mana mungkin cafe ini bisa menyaingin Klan loyard kalian " Kiran menjawab heran, dia tidak mengerti maksud ucapan Ken yang sedang kesal dan apa yang membuatnya kesal.
" Kau tidak perlu tau, ini urusan lelaki " Jawab Ken asal dan menarik tangan Kiran masuk.
Mereka disambut pelayan dengan sangat ramah sekali, dan di bimbing menuju ke meja private yang ada di ujung ruangan, meja yang berbeda dengan meja lainnya, lebih besar dan lebih mewah.
Teman-teman Kiran sudah lebih dulu masuk dan sibuk mengambil foto selfi mereka dari berbagai sudut.
" Kiran pilih cake apapun yang kau mau, aku akan memberikannya gratis " Bams kembali menyombongkan diri.
Tapi bukan keturunan Loyard jika Ken tidak bisa membalas kesombongan Bams. Dengan pongah dan dada membusung dia segera membalas kata-kata Bams.
" Tidak aku akan membeli semua cake yang ada disini, semua tanpa sisa " Seringai miring menghiasi sudut bibir Ken saat menyelesaikan kalimatnya, teman-teman Kiran yang sedari tadi hanya menyaksikan kini semakin terhipnotis oleh Ken. Tampan dan kaya, cuma kata itu yang terlintas di pikiran mereka.
Bams menunjukkan raut wajah kesal dan menatapnya lekat. Tapi Kiran sudah lebih dulu menyeret Ken agar menjauh dari kerumunan teman-temannya, dengan raut wajah khawatir.
" Rahul, apa kau gila ? " Tanya Kiran dengan berbisik dan ragu-ragu.
" Tidak, kenapa memangnya ? Apa kau mau cake gratisan dari dia begitu ? " Ejek Ken sinis dan melotot kepada Kiran.
" Memangnya kartu kreditmu sudah kembali ? Ruby bilang kau kan sedang dimiskinkan " Kiran mengingatkan kenyataan kondisi Ken yang sedang dihukum oleh ayahnya.
Dan hukuman tentang kartu kredit hanya bisa di cabut saat Ken membawa pulang calon istrinya untuk di perkenalkan kepada ayahnya secara resmi.
Kenyataan yang di lontarkan Kiran membuatnya sadar dan terkejut, pikirannya menerawang jauh kedalam isi dompetnya, dia menghitung secara gamblang berapa uang tunai yang ada di dompetnya, dan bisa dipastikan dari matanya yang membelalak kalau isi dompetnya tidak akan cukup untuk membayar kesombongannya.
" Kau punya uang berapa di atm mu ? " Tanya Ken tiba-tiba dengan wajah pucat pasi.
" Selalu saja ! " Balas Kiran ketus dan memukul keras lengan Ken.
Namun Ken terlalu malu untuk mengangkat wajahnya sekarang, jadi dia membiarkan saja harga dirinya hancur sekali lagi.
Kenapa aku selalu sial !!!! Ken.
Dasar Rahul labil. Kiran.
__ADS_1