Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Rencana Bersembunyi


__ADS_3

Kiran dan Dylan terdiam untuk waktu yang lama setelah selesai menceritakan kejadian buruk yang menimpa mereka masing-masing, sebersit kebencian muncul di hati Kiran, memang tidak sebesar rasa cintanya untuk Ken, tapi tetap saja, dia tidak akan bisa melihat Ken seperti sebelumnya saat dia tidak mengetahui apa-apa. Sekarang dia merasa Ken seperti sosok yang terbelah 2, separuh batman dan separuh joker, dan paduan wajah serta tubuh yang saling bertolak belakang tersebut tentu bukanlah hal yang indah untuk di pandang. Kiran tidak bisa lagi melihat Ken secara utuh sebagai batman saja, sang pahlawan kesiangan untuknya.


Lamunan Kiran buyar karena panggilan di ponselnya. Kepala Sekolah. Begitulah nama yang tertera di benda berlayar datar yang tergeletak di meja di hadapannya saat ini. Dylan yang ada di depannya pun tak luput memperhatikan hal itu.


" Jangan di angkat, mungkin saja mereka berkerja sama " Dylan memerintahkan Kiran, dia memegang tangan Kiran yang hendak mengambil ponselnya.


" Tapi aku harus mendapat penjelasan darinya " Kiran membantah lirih, dia merasa alasannya tidak terlalu bagus untuk di lontarkan karena kenyataan yang terpampang jelas di depan mata saat ini, mereka di buru oleh klan Loyard, begitulah persepsi mereka sekarang.


" Penjelasan apa lagi yang kau butuhkan darinya ? Apa kau mengira dia tidak tau apa-apa tentang hal ini ? Kau ini bodoh atau buta ? Aku tau kalian sepasang kekasih, tapi jangan menutup mata. Dia orang yang buruk, dan kau sekarang akan berlari kepadanya meminta penjelasan ? Kau kira dia akan dengan senang hati merentangkan kedua tangannya dan memberikanmu penjelasan atas pekerjaan buruknya ? Kau terlalu naif " Oceh Dylan kesal karena sikap Kiran yang keras kepala.


" Tapi kemana lagi kita harus bersembunyi ? Aku menyewa kamar itu menggunakan nama orang lain agar paman tidak bisa menemukanku, sekarang semua sudah terbongkar, bagaimana lagi ? " Kiran menarik tangannya dan melipatnya di dada, seperti berusaha melindungi dirinya sendiri.


" Kita pergi menyewa kamar yang lain saja, kalau kau tidak ada uang, aku ada. Warisan yang di tinggalkan ibu ku cukup banyak, dan lagipula aku tidak pernah membayar uang sekolah ku, jadi uangku tidak berkurang terlalu banyak, kita bisa bersembunyi dengan uang itu " Tawar Dylan.


" Sampai kapan ? Kau tau cepat atau lambat kita akan ketahuan. Ini ketiga kalinya aku harus berpindah tempat, saat aku mulai curiga dengan orang yang selalu mondar mandir di depan gedung kamar sewa ku yang dulu, aku langsung pindah di tengah malam, tapi kau lihat, dia masih bisa menemukan kita " Kiran menjawab dengan takut, orang yang sekarang mereka hadapi bukan orang biasa, dan mereka sadar itu. Dylan hanya terdiam mendengar jawaban Kiran, dia tidak menyangkal atau berdebat dengannya, karena dia tau dan dia pun melakukan hal yang sama, dia sudah berpindah lebih dari 5 kali hanya untuk menghindari mantan ayah tirinya itu.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Sementara itu Sekertaris Yuri sudah melaporkan semua hal yang terjadi kepada Kiran dan Dylan, dan tentang mereka yang selamat sampai di restoran.


" Terus saja jaga mereka berdua tanpa mereka sadari, kita harus menunggu sedikit lagi sampai semua anak buah yang berkhianat kepada kita muncul ke permukaan, lalu kita akan menebas habis semuanya. Sedikit saja pergerakan kita, dia akan menyadarinya, lalu antek-antek yang berkhianat akan berubah haluan memihak kita lagi, dan kita hanya akan mengulang semua dari awal lagi, orang-orang munafik yang menusuk dari belakang, musuh dalam selimut. Kita harus menghilangkan mereka sampai akar-akarnya " Saut Regis setelah mendengar penjelasan dari Sekertaris Yuri yang melaporkan bahwa Kiran dan Dylan sudah ketahuan.


" Baik tuan " Jawab Sekertaris Yuri dengan sopan dan menundukkan kepalanya, lalu gambaran tentang bagaimana anak buah yang dia perintahkan menjaga Kiran dan Dylan bekerja menghalangi mereka dari kejaran laki-laki tersebut.


Sedikit flashback, saat Kiran dan Dylan berlari hampir mendekati restoran, laki-laki itu menabrak tukang sampah dan membuatnya jatuh tersungkur, itu lah sebabnya dia tidak melihat Kiran dan Dylan masuk kedalam restoran, karena dia sibuk memaki tukang sampah tersebut yang ternyata memang bertugas mengamati Dylan dan Kiran.


Masalah ini sudah berjalan beberapa tahun yang lalu, seseorang yang di percaya oleh Regis berkhianat, dia menjalankan bisnis perdagangan wanita tanpa sepengetahuan Regis, dan saat Regis tau dia menangkapnya, namun semua saksi yang di kumpulkannya, serta wanita-wanita yang menjadi korbannya memberikan keterangan yang berbeda, mereka mengaku tidak menjalankan bisnis seperti itu, dan alasan setiap malam mereka berganti pasangan adalah alasan pribadi, jika sudah menyangkut hak asasi setiap orang untuk memilih pasangan, maka Regis tidak bisa ikut campur. Lalu saat terbukti dia membunuh istrinya, Regis juga menangkapnya untuk di serahkan kepada polisi, namun lagi-lagi polisi tidak menemukan bukti bahwa penusukan itu dilakukan olehnya, karena di pisau tersebut hanya di temukan sidik jari dari istrinya saja, juga ada sedikit darah laki-laki tersebut di pisau itu, yang menurutnya adalah dia lah yang menjadi korban, luka memanjang di wajahnya adalah bekas goresan pisau dari istrinya, dan dia mendorong istrinya sebagai bentuk pembelaan diri, lalu istrinya terjatuh dan pisau itu menancap tanpa sengaja di perutnya. Dengan kata lain, istrinya tewas karena dirinya sendiri. Semua bukti yang di hadirkan di persidangan menguatkan pernyataannya, dan karenanya dia dibebaskan dari segala tuduhan, dan hanya di kenai hukuman selama 6 bulan karena pertengkarannya yang mengakibatkan kematian istrinya.


Sementara itu Ken kebingungan karena lokasi sekolahan yang masih saja sepi walaupun dia sudah menunggu 1 jam lamanya. Dia mencoba terus menghubungi Kiran namun nihil, panggilannya tidak di jawab. Ken memutuskan akan langsung menemui Kiran di rumahnya. Dia melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah.


Dylan dan Kiran yang bingung dimana mereka akan tinggal selanjutnya masih saja berdiskusi dalam diam di restoran. Mengacuhkan pelayan yang terus menerus menatap mereka yang hanya memesan seporsi makanan dan minuman tapi tidak menyentuhnya sama sekali. Para pelayan itu bukannya tidak tau Dylan dan Kiran, mereka tau bahwa mereka adalah penghuni di sekitar lingkungan ini, tapi tidak biasanya mereka datang berdua dan terlihat panik. Pelayan itu akan menanyainya tapi urung karena mengingat mereka tidak terlalu dekat untuk bertegur sapa.


" Baiklah, untuk sementara waktu kita tinggal saja di rumah ibuku " Suara Dylan memecah kesunyian yang terbentang di antara mereka. Kiran yang sedari tadi hanyut dalam pikirannya untuk menuntut penjelasan dari Ruby pun menengadahkan wajahnya menatap Dylan, ada keraguan dalam nada bicara Dylan dan Kiran tau itu. Tidak mudah kembali ke tempat yang menjadi awal mimpi terburuk dalam hidup kita, seperti Kiran yang masih belum sanggup kembali ke rumah ibu tirinya karena trauma masa lalu.


" Tidak, jangan memaksakan diri " Saut Kiran cepat menunjukkan rasa prihatinnya.

__ADS_1


" Tidak apa-apa, tempat itu lumayan cukup aman. Aku sudah beberapa kali mengamatinya, sepertinya anak buah lelaki itu tidak mengawasinya lagi, mungkin mereka berpikir aku tidak akan mau lagi tinggal disana karena hal buruk yang pernah terjadi " Jawab Dylan santai, namun dia tidak bisa menyembunyikan kegetiran dalam nada suaranya.


" Sepertinya keadaan sudah cukup aman, kita sudah terlalu lama disini, pasti orang itu sudah pergi, jangan lupa pakai masker wajah untuk menyamar " Dylan menyodorkan sebuah masker hitam yang dia simpan di tasnya sebagai jaga-jaga setiap kali dia keluar rumah.


" Ini baru atau bekas ? " Tanya Kiran curiga.


" Apa ? Dalam keadaan seperti ini kau masih berani tanya ini baru atau bekas ? Hah aku tidak percaya melarikan diri bersama orang sepertimu, bikin repot saja " Saut Dylan ketus, dia menghembuskan napas kasar, kesal karena Kiran masih saja mempermasalahkan hal sepele padahal bahaya besar sedang menanti mereka.


" Aku kan hanya tanya, kenapa panjang sekali jawabannya, padahal kau hanya perlu menjawab ya atau tidak " Cibir Kiran sinis, dia melirik tajam Dylan namun tak urung meraih masker yang ada di depannya.


" Cih dasar Noona-noona lanjut usia " Ejek Dylan dengan senyum miring.


" Aduh manisnya adik ku, kalau begitu kau harus bersikap baik pada noona mu ya " Balas Kiran meledek dengan suara lembut di buat-buat.


Setidaknya ini lebih baik daripada dipanggil upin. Haaah ipin... aku merindukan saudara kembar ku.


Kiran menghela napas berat dan bangkit berdiri mengikuti Dylan yang sudah berjalan menuju meja kasir.

__ADS_1


__ADS_2