
Suara musik dari Adam Clayton dan Larry Mullen Jr yang terkenal dengan ost Mission impossible, terputar sebagai latar belakang suasana di kamar Ken. Saat ini dirinya sedang berdiri di depan cermin besar yang seukuran dengan tubuhnya. Di belakangnya sekertaris Yuri berdiri dengan wajah yang tidak bisa di tebak sedang membawakan rompi anti peluru pesanannya. Dengan wajah yang sungkan, takut, gemas dan ekspresi lainnya yang bercampur aduk karena melihat Ken yang sedang bersiap-siap dengan peralatan tempur dengan keamanan tingkat tinggi.
" Tuan saya rasa ini sedikit berlebihan " Sekertaris Yuri berusaha memberitahu Ken, namun dia teringat sumpahnya sebagai lelaki yang dia ucapkan di depan Regis, Rai serta pak Handoko bahwa dia tidak akan mengatakan apapun kepada Ken.
" Apa kau bilang ? Berlebihan ? " Jawab Ken sedikit menaikkan nadanya dengan sikap kesal yang ketara. Dia masih marah karena merasa di sisihkan dari kegiatan Klan Loyard.
" Ya saya rasa " Jawab Sekertaris Yuri sungkan.
" Kau tidak belajar dari pengalaman ya ? Setelah kejadian baru-baru ini harusnya kau semakin menaikkan kewaspadaan mu, kita harus siap dalam segala situasi dan kondisi. Lagipula aku akan menikah, jadi aku tidak berencana untuk terluka lagi atau bahkan tewas " Omel Ken menasehati sekertaris Yuri yang semakin gelisah melihat Ken bersemangat sekali menjalankan misi ini.
" Justru karena aku belajar dari pengalaman makanya aku memakai baju santai untuk ke pantai " Gumam Sekertaris Yuri lirih. Namun Ken sepertinya terlalu asik bersiap-siap hingga tidak menghiraukan sekertaris Yuri.
" Baiklah aku siap, pakaikan itu " Ucap Ken setelah mematut dirinya di cermin dan menyisipkan beberapa senjata rahasia di bagian-bagian tubuhnya. Dia merentangkan tangannya layaknya raja yang akan memakai jubah kebesaran milik kerajaan.
" Baiklah terserah kau saja, aku sudah memberikanmu petunjuk, di lain hari jangan menyalahkanku " Gumam Sekertaris Yuri lagi seraya menghela napas panjang dan kemudian menuruti perintah Ken, dia memasangkan rompi anti peluru ke tubuh Ken, yang kemudian di iringi dengan sabuk berisikan pistol di pinggangnya.
" Aku tidak akan terluka lagi kali ini " Ucap Ken penuh percaya diri di depan cermin, sekali lagi dia memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri memeriksa ulang persiapannya. Rompi anti peluru di dada, sabuk berisikan pistol di pinggang, dan sebuah sabuk berisikan sebilah belati di paha kiri dan kanan. Sempurna, pikirnya. Penampilannya malam ini layaknya seorang agen 007 yang akan bertugas.
Setelah persiapan yang matang dan penampilan yang all out, Ken berjalan menuju pintu. Perasaan bersalah semakin menjalari sekertaris Yuri, dia akan melihat Ken hancur besok pagi dengan mata kepalanya sendiri, dan dia sangat paham bagaimana rasanya.
" Tunggu tuan " Panggil Sekertaris Yuri dengan suara tercekat. Ken yang sudah memutar handle pintu berhenti dan berbalik, dengan wajah polos dia menatap sekertaris Yuri.
" Kenapa dengan ekspresi mu itu ? " Tanyanya bingung.
Sekertaris Yuri langsung menghambur ke arah Ken dan memeluknya erat, seperti pelukan perpisahan.
" Apapun yang terjadi padamu nanti, kau tetap tuan muda Ken, putra mahkota klan Loyard. Jangan sungkan, aku akan meminjamkan bahu ku padamu " Sekertaris Yuri menepuk pelan punggung Ken. Hal itu membuat Ken semakin yakin bahwa misi ini adalah misi rahasia yang sangat penting.
Berbagai macam bayangan berseliweran di kepalanya. Musuh-musuh klan Loyard yang bersatu untuk menculik Raline dan menghancurkan Klan Loyard menghiasi pikirannya.
" Aku akan menjalankan misi ini dengan segenap jiwa raga ku walaupun nyawa taruhannya " Jawab Ken mantap.
" Bukan nyawamu taruhannya tapi harga dirimu yang akan terluka " Gumam Sekertaris Yuri lirih dan kemudian melepaskan pelukannya.
Ken yang mendengar hal itu heran dan bingung, dia akan bertanya apa maksudnya namun di urungkan niatnya saat melihat sekertaris Yuri yang memandangnya dengan tulus.
Mereka pun berpisah dengan perpisahan yang dramatis di ruangan Ken.
🍁🍁🍁🍁🍁
" Baiklah semuanya, matikan ponsel kalian dan nikmati malam minggu yang cerah ini " Ucap Regis memberikan perintahnya di saluran telepon kepada Rai dan sekertaris Yuri.
Dia sedang duduk santai menikmati suasana malam yang cerah di halaman rumahnya bersama pak Handoko bermain catur.
" Sepertinya ini akan jadi malam yang panjang tuan " Ucap Pak Handoko melihat Regis tergelak bahagia.
" Bagi sebagian orang ini adalah malam yang suram, tapi bagi sebagian yang lain ini adalah malam yang indah " Jawabnya kembali tergelak.
Sementara itu Rai yang baru saja menerima panggilan dan perintah dari Regis segera menghubungi supir dan mengajak Ruby berkencan makan malam romantis di hotel yang telah di bookingnya. Sejak kelahiran Raline mereka menghabiskan waktu mereka di rumah sakit saja, berpindah dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Terkadang mereka menginap di ruangan ayah Ruby, dan terkadang mereka menginap di ruangan Raline karena piket menjaganya semalaman. Namun untuk malam ini, mereka berdua bebas tugas dan hal itu patut untuk dirayakan dengan sebuah candle light dinner.
Jam menunjukkan pukul 9 tepat, saatnya pergantian perawat jaga untuk shift malam. Tiga perawat telah datang ke ruangan Raline untuk absen dan serah terima tugas dari perawat sebelumnya. Mereka juga sudah mulai mempersiapkan alat-alat yang akan di pakai sang petugas piket malam ini.
" Siapa yang akan menjaga tuan putri malam ini ? " Tanya perawat pertama seraya memasukkan botol-botol susu ke alat sterilisasi.
" Entahlah, nyonya Ruby bilang orang baru. Tapi Tuan Rai tadi berpesan siapapun orangnya kita harus memaksanya dan tidak boleh membiarkannya lepas " Jawab Perawat kedua seraya menurunkan stok asi beku dari freezer ke chiller.
" Ssstt... jangan terkejut, dari yang ku dengar mangsa kita malam ini adalah tuan Ken, aku mendengarnya langsung dari sekertaris Yuri. Dia berpesan agar kita mengunci pintu tepat setelah dia masuk agar dia tidak kabur. Jika benar yang dikatakannya maka aku rasa tugas kita akan berat malam ini " Jawab Perawat ketiga memberikan bocoran.
" Haahh..ini akan seperti malam pertama untuk perawan, tuan Ken yang malang " Saut perawat kedua menggelengkan kepalanya prihatin.
Tak butuh waktu lama, orang yang di tunggu-tunggu datang juga. Ken mengetuk pintu dan memasuki ruangan dengan gagahnya.
Ketiga perawat itu hanya mampu melongo menatap Ken, penampilannya yang tidak biasa seakan menandakan dia datang karena sebuah jebakan. Ketiga perawat itu menghela napas bersamaan.
" Dimana petugas jaga yang lainnya ? " Tanya Ken penuh percaya diri.
" Hanya kami bertiga tuan " Jawab perawat ketiga dengan ragu-ragu, dan dia segera memberikan kode kepada teman-temannya agar memblokir jalan keluar. Kedua temannya yang tanggap segera berjalan ke arah pintu sementara perawat ketiga mengalihkan perhatian Ken.
Ken yang masih belum paham situasi menggelilingi ruangan Raline untuk memeriksa keadaan di ikuti dengan perawat ketiga.
" Aku rasa semua aman " Ucap Ken dengan mengangguk-angguk puas.
" Ya tuan, kamar ini di desain khusus untuk tuan putri Raline, kedap suara, yang akan membuat tidurnya nyenyak tanpa gangguan suara " Jawab perawat itu menjelaskan, sesekali dia mencuri pandang ke arah teman-temannya, dan setelah kedua temannya memberikan tanda ok dengan jarinya dia mulai menjelaskan tugas Ken.
" Tuan putri Raline sangat sensitif, biasanya dia akan terbangun dan menjadi sedikit rewel sekitar pukul 10. Ini karena tuan putri Raline masih belum bisa menyesuaikan antara waktu siang dan malam yang berakibat dia banyak tidur di siang hari dan menjadi aktif dimalam hari " Jelasnya dengan serius yang dijawab Ken dengan anggukan kepala paham.
" Lalu masalah genting apa yang mengharuskan dia dijaga setiap malamnya ? " Tanya Ken berwibawa.
" Masalahnya adalah tuan putri Raline tidak bisa di gendong oleh kami bertiga, sekeras apapun kami mencoba tuan putri tetap tidak bisa tidur nyenyak di gendongan kami, setelah melalui sedikit penelitian dan percobaan ternyata tuan putri baru bisa tertidur jika di gendong laki-laki atau nyonya Ruby sendiri " jelasnya lebih lanjut. Ken mengernyitkan keningnya masih belum paham penjelasan perawat tersebut.
" Lalu apa hubungannya dengan ku ? " Tanya Ken ragu-ragu. Namun perawat tersebut malah berjalan menjauhinya dan berkumpul bersama kedua perawat lainnya. Mereka bertiga berbaris rapi dan menenteng alat-alat asing yang tidak Ken ketahui fungsinya.
" Maafkan kamu tuan, tapi anda harus memakai ini " Ucap Perawat ketiga dengan menunduk.
__ADS_1
" Apa itu ? " Tunjuk Ken bingung.
" Inilah senjata yang tuan butuhkan saat menjaga tuan putri Raline " Jawabnya yakin dan mereka bertiga berjalan mendekat ke arah Ken dengan tatapan tajam.
Ken yang ketakutan beringsut mundur menjauh. Dia kaget dan sekaligus bingung bagaimana mencerna keadaan saat ini.
" Jadi rupanya kalian penyusup ya ? Hah ? Pantas saja Raline butuh perlindungan. Katakan siapa yang mengirim kalian ? Dari Klan mana kalian ? " Tanya Ken tegas seraya memasang kuda-kuda pertahanan diri. Tidak pernah terbayangkan dia akan melawan wanita.
Disaat bersamaan Raline memulai mode aktif on nya, dia terbangun dan menangis kencang. Konsentrasi Ken terpecah, dia menengok Raline yang ada di boks tidurnya dan para perawat itu secara bergantian.
" Mundur kalian " Perintah Ken tegas. Namun kedua perawat itu tetap maju dan salah satu perawat menghampiri boks Raline dan menggendongnya.
" Ini lah tugas anda tuan, di mulai dari sekarang " Ucap Perawat tersebut dengan serius.
Dia berjalan mendekati Ken dengan menggendong Raline. Mengulurkannya kepada Ken. Dengan ragu-ragu Ken menerima Raline, dan benar saja Raline terdiam saat dia berada di gendongan Ken. Namun masalah yang sebenarnya baru saja di mulai. Mulut kecil Raline mengecap-ngecap imut dan bergerak mencari ****** susu, tangannya yang mungil mendarat di dada Ken, meremasnya lembut dan kemudian kembali menangis saat dia merasakan tidak ada stok asi disana.
" Kenapa dia menangis lagi ? " Tanya Ken panik.
" Itu karena dia mencari susu tuan " Jawab perawat ketiga menjelaskan.
" Kalau begitu berikan botol susunya " Perintah Ken tidak sabaran karena bingung mendengarkan Raline yang terus saja menangis.
" Itulah masalahnya tuan, anda harus memakai ini dan ini " Jelasnya lebih lanjut seraya menunjuk ke perawat pertama dan kedua yang sudah menenteng sebuah baju tidur milik Ruby dan sabuk yang sudah di modifikasi hingga bisa menahan botol susu.
" Kenapa aku harus memakai itu ? " Teriak Ken masih bingung.
" Dengan memakai baju milik nyonya Ruby, tuan putri Raline akan bisa merasakan aroma nyonya Ruby dan bisa tenang, dan sabuk ini..." Tunjuk Perawat tersebut kepada alat aneh yang membuat Ken bergidik ngeri itu.
" Akan memudahkan tuan putri Raline menyusu layaknya sedang menyusu langsung dari Nyonya Ruby " Jawabnya dengan santai.
" Apa ? Tidak !!! " Pekik Ken berteriak.
Namun teriakan Ken semakin membuat Raline menangis dengan kencang. Hal itu membuat Ken panik, antara Raline yang menangis atau harga dirinya yang akan terluka, kedua pilihan itu membuat tekanan yang sangat kuat di batinnya, dan kedua pilihan itu tidak ada yang baik sama sekali.
" Tuan, ayo cepat, semakin lama tuan putri menangis, maka akan semakin susah menenangkannya " Perawat pertama mulai terlihat panik.
Merasa jalan yang di tempuhnya adalah jalan buntu, mau tidak mau Ken menuruti para perawat tersebut. Dia mengulurkan Raline kepada perawat ketiga, dan dengan lemas melepaskan satu persatu senjatanya yang bersamaan dengan itu juga lepaslah harga dirinya.
Para perawat tersenyum malu-malu melihat Ken yang menangis tertahan. Dengan sigap para perawat memakaikan peralatan tempurnya yang baru.
Terkutuklah kalian sampai neraka terdalam !!
Teriak batin Ken putus asa, malu, marah, gusar, dan sedih.
" Cheers " Ucap Rai dan Ruby seraya bersulang dengan bahagia merayakan kencan romantis mereka.
" Skak mat " Ucap Pak Handoko memindahkan bidak caturnya tepat ke arah ratu Regis.
" Belum pernah kalah rasanya semanis ini hahaha... " Gelak Regis bahagia di ikuti dengan pak Handoko.
" Aahh... musik klasik yang menenangkan " Sekertaris Yuri menghela napas panjang seraya menarik selimutnya sampai menutupi lehernya, dia akan menikmati tidur nyenyaknya malam ini.
🍁🍁🍁🍁🍁
Dering alarm di ponsel perawat mengagetkan mereka berempat yang sedang tidur dengan posisi duduk. Ken duduk di kursi tunggal dengan bantal yang menyangga tangan kanan maupun kirinya serta kedua kakinya, sementara para perawat duduk di lantai di samping kursi Ken.
" Bunyi apa itu ? " Tanya Ken panik dan otomatis membangunkan Raline di pangkuannya.
" Saatnya minum susu tuan " Jawab Perawat pertama seraya menutup mulutnya karena menguap.
" Lagi ? Aku baru saja tidur 15 menit " Rengek Ken memelas. Dia melirik jam di dinding, lewat tengah malam, dan Raline sukses membuat mereka berempat kerepotan karena terus saja menangis. Ken harus menimangnya dengan berdiri baru Raline akan terdiam dan tertidur, namun sedikit saja pergerakan dari Ken untuk duduk, maka Raline akan kembali menangis. Setelah 2 jam lamanya dia menimang barulah dia bisa duduk dengan tenang tanpa membangunkan Raline.
" Mau bagaimana lagi tuan, memang bayi harus minum 2 jam sekali " Jawab perawat ketiga seraya mengambil Raline dari gendongan Ken.
Kedua perawat yang lainnya bergegas menyiapkan ASI untuk Raline dan yang satunya melepas botol dari sabuk yang di gunakan Ken.
Dengan mata mengantuk dan gerakan yang lemas mereka bahu membahu untuk menjaga Raline.
Setelah semua persiapan selesai Ken pun menyusui Raline. Hanya dalam sekejap saja botol susu itu telah kosong. Para perawat pun membantu Ken melepaskannya.
" Arahkan ke pundak anda tuan agar tuan putri Raline bisa sendawa, kalau tidak dia akan muntah " Ucap Perawat ketiga, dan membantu Ken membenarkan posisi Raline.
Dengan arahan dari para perawat dan hati-hati Ken berhasil membuat Raline sendawa. Dan hal itu mendapat apresiasi dari ketiga perawat tersebut.
" Ternyata anda lebih luwes dari yang terlihat ya, yang lainnya tidak bisa melakukan hal ini " Ucap Perawat pertama dengan kagum.
" Ehem... ehem.... " Ken berdehem dan tersenyum sombong mendapat pujian seperti itu.
" Memang yang lain tidak bisa ? " Tanya Ken berpura-pura polos.
" Tidak ada yang bisa, tuan Rai sangat tidak sabaran dan membuat tuan putri Raline semakin menangis, tuan Regis terlalu kaku hingga membuat tuan putri terus saja bergerak-gerak menyesuaikan diri, yang terparah sekertaris Yuri, dia bahkan tidak berani bergerak sama sekali saat menggendong tuan putri, awalnya kami pikir tuan akan sama saja, tapi ternyata anda lebih lihai dan mahir dari mereka semua " Puji perawat kedua.
" Begitukah ? " Ken membusungkan dadanya sombong.
__ADS_1
" Berikan pada kami tuan putri, kami akan mengganti popoknya. Meskipun tuan putri memakai popok sekali pakai, namun kulitnya sangat sensitif, jadi harus sering di ganti " Jelas perawat ketiga mengulurkan tangannya.
Ken yang terlalu pongah dan merasa paling sukses diantara ke empat lelaki yang pernah menjaga Raline, ikut mengamati cara mengganti popoknya.
Hah yang begitu saja kecil...
Batin Ken sombong.
Setelah Raline siap perawat tersebut mengulurkannya kembali kepada Ken. Karena merasa besar hati dan mendapat pujian bertubi-tubi, Ken memutuskan akan mentraktir mereka sebagai ucapan terima kasih. Dia memerintahkan para perawat itu untuk memesan layanan restoran cepat saji 24 jam, dia akan mentraktir mereka sampai puas.
Setelah menunggu beberapa lama, kurir restoran tersebut menghubungi mereka dan mengatakan bahwa dia telah sampai di lobby rumah sakit.
Perawat kedua meminta izin kepada Ken untuk mengambil pesanan mereka, namun Ken menyuruh mereka bertiga untuk pergi bersama.
" Pergilah kalian bertiga, hiruplah udara di luar, aku bisa mengatasinya sendiri " Ucap Ken lembut, pribadinya yang memang baik dan menyenangkan membuatnya mudah berbaur dengan siapa saja.
Ketiga perawat tersebut melonjak kegirangan. Mereka memang sangat lelah setelah membantu Ken menenangkan Raline yang lebih rewel dari biasanya malam ini. Dan mereka bertiga keluar bersama-sama, hanya tinggal Raline dan Ken saja yang tertinggal.
Ken duduk di kursi dengan hati-hati agar tidak membangunkan Raline. Di tatapnya wajah keponakannya itu, begitu lucu dan menggemaskan dengan pipi bulat tembam mirip bakpao.
Namun hal tidak terduga terjadi, Raline yang sedang asyik tidur rupanya buang air besar.
" Aish bagaimana ini ? " Gumam Ken panik.
Dia menengok ke kanan dan ke kiri mencari apa saja yang bisa di gunakan untuk memanggil para perawat tersebut. Namun nihil, ponsel mereka bertiga ada di meja sofa yang ada di sudut ruangan.
" Baiklah tidak ada pilihan lain, aku harus mengganti popoknya sendiri " Ucap Ken mantap. Dia merasa percaya diri karena telah melihat para perawat melakukannya.
Di baringkannya Raline di atas boksnya, dia mengambil sarung tangan karet dan masker yang tersedia di meja yang ada di sampingnya. Layaknya dokter yang akan mengoperasi pasien, dengan perlahan dia membuka popok Raline.
" Hueekk... " Ucapnya jijik, namun demi totalitasnya menjalankan misi ini, dia mengabaikan rasa mual di perutnya. Dengan cekatan dia mengusap bokong Raline dengan tissu basah berulang kali hingga bersih. Dan segera menyingkirkan popoknya kedalam tong sampah yang ada di pojok ruangan.
Kini saatnya memakaikannya popok yang baru. Ken mengangkat kaki Raline sedikit dan menyusupkan popoknya. Setelah mengukur sisi kanan dan kiri, depan dan belakang, hingga merasa pas, barulah Ken menarik perekat yang ada di kedua sisinya. Berhasil, dengan hasil yang sempurna.
Namun ada yang janggal di mata Ken, sesuatu di perut Raline bergeser dan tidak pada tempatnya. Dia berniat memeriksanya namun sial, benda itu terlepas. Benda hitam kering dengan terbalut capitan kecil itu kini ada di genggaman jarinya.
" Lepas... " Angkatnya dengan tangan gemetaran.
" Bagian tubuh Raline terlepas ? Bukankah ini namanya mutilasi ? Aku memutilasinya ? " Gumamnya panik seraya mencoba memasang kembali tali pusar Raline pada tempatnya. Namun nihil, berkali-kali Ken meletakkannya di sana, berkali-kali pula tali pusarnya jatuh.
Bayangan wajah ayahnya yang marah, Rai yang murka, serta Ruby yang menangis berseliweran di kepalanya kala mengetahui salah satu bagian tubuh putrinya lepas.
Tulang-tulang di tubuh Ken seakan-akan melembek dan membuatnya jatuh bersimpuh di lantai, di iringi tangis Raline yang membahana keras sekali.
" Maafkan paman sayang, apakah itu sakit ? Maafkan paman " Isak Ken meratapi kebodohannya sendiri.
Di saat yang menengangkan seperti itu, ketiga perawat tersebut datang membuka pintu dan terkejut melihat kondisi Ken yang ambruk di lantai sedangkan Raline menangis dengan keras.
" Tuan !! " Pekik mereka bertiga seraya berlari menghampiri Ken, dan yang lainnya segera menggendong Raline.
" Ada apa ? " Tanya Perawat yang lainnya panik. Namun Ken seperti orang yang ketempelan setan, dia hanya bengong tidak menjawab, dengan tatapan nanar tanpa ekspresi.
Bayangan ayahnya yang benar-benar marah dan kecewa padanya menghantamnya telak. Dia tidak ingin jadi pecundang.
" Tidak ada apa-apa " Jawabnya lirih, berbohong dan berusaha tersenyum.
Dengan cepat otaknya berpikir keras, jika dia membuang potongan tubuh Raline, maka Regis akan menggeledah seluruh rumah sakit untuk mencari tau pelakunya, jika dia menyimpannya, maka Regis akan menggeledah mereka berempat. Semua pilihan hanya mengarah ke arah yang buruk, karena dalam hitungan menit para perawat tersebut akan tau ada yang hilang dari tubuh Raline.
Maafkan paman sayang.
Isak batin Ken seraya melepaskan capitan dari tali pusar Raline kemudian menelannya demi menghilangkan barang bukti.
" Hah ?!? " Pekik perawat yang menggendong Raline.
" Apa ? " Tanya yang lainnya.
Terbongkar sudah.
Ken diam membisu dengan wajah pucat pasi, sebentar lagi akan ada 1 kompi pasukan khusus yang akan menangkapnya sebagai pelaku mutilasi.
" Tali pusar tuan putri sudah lepas " Teriaknya girang.
" Benarkah ? " Pekik yang lainnya ikut girang.
Apa ? Kenapa mereka girang ?
Ken bertanya-tanya dalam hati.
" Syukurlah itu sudah lepas, jadi sebentar lagi tuan putri sudah bisa pulang karena ternyata dia tidak infeksi " Ucap perawat kedua lega.
" Iya syukurlah " Jawab yang lainnya.
Demi neptunus penguasa lautan, jadi itu memang seharusnya lepas ?!?!?!
__ADS_1
Ken jatuh pingsan setelah tau yang sebenarnya.