Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Ketiga Kali


__ADS_3

" Ken...Ken... " Kiran menepuk-nepuk pelan pipinya untuk membangunkan Ken yang pingsan setelah melihat nenek Mis yang tiba-tiba ada di sampingnya.


Ken membuka matanya perlahan-lahan, pandangannya masih kabur. Dia mendengar suara-suara orang yang panik berputar-putar di sekitarnya.


Dia mengerjapkan matanya berulang kali untuk mengumpulkan kesadarannya.


" Kau baik-baik saja ? " Tanya Kiran panik.


" Hmm... " Angguk Ken lemah sebagai jawaban, Kiran kemudian membantunya bangun dan beberapa warga yang lainnya yang panik segera mengambilkan Ken segelas teh hangat yang mereka bawa sebagai bekal pergi kesawah.


" Hgg... " Tolak Ken lemas saat seorang warga mengulurkan tangannya untuk memberikan segelas teh.


" Aish sudah ambil saja " Kiran segera menyambar segelas teh tersebut dan membantu meminumkannya kepada Ken.


" Sudah baikan ? " Tanya Kiran cemas.


" Ya " Jawab Ken lirih.


" Kenapa dia pingsan Kiran ? " tanya Adelia juga ikut cemas.


" Entahlah bu, mungkin masuk angin, dia kan tidak terbiasa dengan hawa pegunungan, dan lagi sepertinya pingsan karena belum makan " Jawab Kiran berspekulasi.


" Aduh kenapa kau malah mengajaknya jalan-jalan kesini, tentu saja dia masuk angin, dihawa sedingin ini dia bermain air dan belum sarapan " Omel Adelia lembut kepada Kiran.


" Sudah cepat ajak dia pulang, ibu sudah menyiapkan sarapan untuk kalian " Lanjutnya lagi.


" Ya " Jawab Kiran singkat dan kemudian membantu Ken berdiri, dengan sigap dia merangkulkan lengan Ken ke pundaknya, berusaha memapahnya karena Ken sepertinya masih lemas.


" Aish dasar sok keren, kalau memang tidak kuat harusnya jangan memaksakan diri " Omel Kiran ketus.


" Hei aku ini sakit tapi kenapa kau malah mengomel terus, tidak bisakah kau memperlakukan ku dengan lembut ? " Balas Ken tak kalah ketus.


" Aiyoo...melihatmu yang bisa mengomel dengan keras penuh semangat sepertinya kau sudah sehat, kalau begitu kenapa kau tidak jalan sendiri " Cibir Kiran sinis.


" Aakkh... " Ken tiba-tiba menyandarkan kepalanya di pundak Kiran, berpura-pura pingsan lagi namun masih terus berjalan.


" Aktingmu sungguh bagus, kenapa kau tidak jadi aktor saja, malah jadi kepala sekolah " Sindir Kiran yang tau Ken hanya menggodanya saja dengan berpura-pura pingsan.


Setelah berjalan cukup lama akhirnya mereka sampai di dalam rumah. Kiran segera mendudukkan Ken yang masih berpura-pura pingsan.


" Hei kenapa badanmu berat sekali, kau tidak kasihan padaku harus memapahmu dengan tubuhku yang mungil ? " Cibir Kiran sinis dengan napas terengah-engah.


Dia kemudian mengambil air dan meminumnya sampai habis.


Tak berselang lama para warga yang tadinya ada di sungai sudah berbondong-bondong datang ke rumah Kiran, mereka ingin menengok tamu desa mereka yang tiba-tiba jatuh pingsan.


Melihat hal itu, Ken segera bangun dan duduk dengan tegap, tidak ingin kehilangan harga diri dan image nya sebagai laki-laki yang jantan karena ketahuan pingsan.


" Kau baik-baik saja ? " Tanya Adelia begitu masuk kedalam rumah dan mendapati Ken yang sudah terlihat gagah kembali.


" Ya saya baik-baik saja " Jawabnya tegas.


" Kenapa tidak bilang kalau kau harus sarapan pagi-pagi, jika tau begitu aku akan menyuruhmu sarapan dulu sebelum pergi mandi di sungai " Jelas Adelia dengan perasaan sungkan sekaligus merasa bersalah.


" Tidak bu, saya tidak pingsan karena hal itu, saya terbiasa sarapan jam 7 pagi, jadi bukan salah anda " Jawab Ken terbata-bata.


" Bu Adel tolong mobil tamu anda di pindahkan, karena kita akan mengadakan acara penyambutan di jalan saja, biar luas " Salah seorang warga laki-laki yang baru saja datang berbicara kepada Adelia dengan bahasa daerah yang tidak Ken mengerti.


" Oh ya baik, tunggu sebentar, biar dia lebih kuat dulu " Jawab Adelia juga dengan bahasa yang sama.


Warga itu mengangguk paham dan kemudian pamit pergi keluar rumah. Adelia kembali menatap Ken.


" Makanlah dulu, setelah itu baru pindahkan mobilmu, para warga akan bersiap-siap untuk mengadakan pesta selamat datang untuk mu nanti sore " Ucap bu Adelia lembut seraya menyodorkan sepiring nasi dan lauk pauk beraneka macam.


Dengan sungkan Ken menerimanya dan kemudian memakannya. Masakan khas pedesaan sangat asing di lidah Ken, tapi demi menghormati dan menghargai para penduduk yang sudah sangat ramah padanya, Ken memakan sarapannya dengan cepat.


Setelah selesai sarapan, Ken segera keluar rumah untuk memindahkan mobilnya, di lihatnya beberapa bapak-bapak sedang mengelilingi mobilnya dan berbicara satu sama lain.

__ADS_1


Bisa di tebak Ken mereka sedang memuji mobil miliknya. Dan kemudian dia teringat oleh buah tangan yang dibawanya.


Dengan cepat Ken bergegas menghampiri bapak-bapak yang berkerumun di sekitar mobilnya.


" Bapak-bapak saya ada buah tangan untuk warga disini, bisa tolong bantu saya untuk mengeluarkannya ? " tanya Ken sopan, namun bapak-bapak tersebut malah saling berpandangan bingung, tidak mengerti apa yang Ken bicarakan.


Melihat sepertinya mereka tidak bisa berkomunikasi dengan baik, maka Ken langsung saja menunjuk bak mobil miliknya yang tertutup dengan penutup khusus untuk bak mobil, yang sengaja di pasang oleh karyawannya, menjaga agar barang bawaan Ken tidak basah jika hujan turun sewaktu-waktu.


Dengan cepat Ken membukanya dan menunjukkan isinya lalu menunjuk rumah Kiran secara bergantian.


" Ooh...iya iya " Jawab seorang bapak yang paham dan kemudian menjelaskan pada beberapa orang yang ada.


Lalu mereka mengangkat barang-barang itu, membawanya masuk ke dalam rumah Kiran.


" Apa itu ? " Tanya Kiran bingung.


" Itu buah tangan, ku pikir tidak sopan aku berkunjung ke rumah saudara mu tanpa membawa apapun, dan aku juga tidak tau apa yang sebaiknya ku bawa, jadi aku... " Ucap Ken dengan canggung dan menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.


" Sebanyak ini ?! " Pekik Kiran terkejut melihat para warga yang mulai menata kardus-kardus yang mereka pindahkan dari mobil Ken.


" Jika kau merasa begitu " Ken mengedikkan bahunya dan tersenyum kikuk.


Adelia juga para ibu-ibu yang lain pun tak kalah terkejutnya, hampir separuh ruangan yang dianggap Ken ruang tamu rumah Kiran itu penuh oleh barang-barang bawaan Ken.


" Nak Ken kau tidak seharusnya membawa segini banyak, tidak perlu repot-repot " Sungkan Adelia.


" Tidak merepotkan bu, jangan sungkan " Jawab Ken sopan.


Setelah semua barang-barang di turunkan, kemudian mereka berkumpul bersama untuk membuka semua buah tangan Ken.


Ken melihat wajah mereka yang tampak sangat bahagia dan takjub dengan barang-barang yang di bawa Ken.


" Ini kan seperti yang ada di tivi itu " Pekik salah satu warga menunjuk sebuah alat pijit otomatis yang di bawa Ken.


Dan semua warga langsung mengalihkan perhatian mereka pada alat itu.


Ken pun ikut tertawa melihat ekspresi mereka semua saat mencobanya.


" Hei tindakan mu ini sangat manis, aku sangat tersentuh " Bisik Kiran kepada Ken.


" Tentu saja, harus kau tau aku ini adalah laki-laki romantis, jika saja tidak selalu tertimpa sial " Jelas Ken sombong.


" Cih " Cibir Kiran dan tersenyum membenarkan ucapan Ken.


Seharian ini di habiskan Ken dan para warga untuk mempersiapkan acara penyambutannya nanti sore, bukan penyambutan meriah seperti yang biasa di dapatkannya dari para koleganya, tapi penyambutan sederhana oleh warga sekitar.


Warga disana tidak terlalu banyak, hanya terdiri dari 50 keluarga dan tidak ada anak mudanya sama sekali, hanya ada orang tua juga anak-anak kecil. Itu karena para anak muda pergi merantau ke ibu kota untuk mengadu nasib, dan hanya beberapa saja yang tinggal untuk merawat orang tua mereka, terkadang sebagian mereka meninggalkan anak-anak mereka pada kakek neneknya di desa.


Hari pun berlalu dengan cepat, Ken sudah mulai bisa beradaptasi dan merasa nyaman. Hingga waktu sore menjelang.


Jalanan yang berbatu itu kini sudah tertutup tikar sebagai alas duduk, dan mereka menata meja-meja kayu besar yang dijadikan satu menjadi sebuah panggung dadakan dan di alasi dengan tikar.


Dengan penerangan lampu-lampu seadanya mereka membuat panggung itu terlihat luar biasa.


Dan saat matahari mulai tenggelam dan langit berubah menjadi lebih gelap barulah para warga datang berbondong-bondong ke depan rumah Kiran untuk melihat pesta penyambutan Ken. Para ibu-ibu sudah berada lebih dulu di rumah Kiran karena harus memasak dalam skala besar untuk semua warganya.


Setelah semua siap, makanan juga telah tersaji di hadapan mereka, dan seluruh lampu-lampu rumah serta jalanan di telah matikan, hanya tersisa beberapa lampu di atas panggung yang menyoroti mereka yang akan tampil nanti, barulah kepala desa membukanya dengan sambutan. Lalu acara berganti menjadi sebuah pertunjukan tari tradisional oleh beberapa anak-anak kecil yang masih sekolah, dan beberapa ibu-ibu berbakat yang juga ikut menarikan tarian khas daerah mereka.


Suasana sangat hangat dan penuh rasa kekeluargaan. Ken tak henti-hentinya tersenyum saat melihat beberapa bapak-bapak bermain drama, meskipun tidak mengerti apa yang di ucapkan, namun melalui gerak geriknya dan beberapa terjemahan Kiran yang ada disampingnya Ken bisa memahaminya.


Semua jerih payahnya terbayar mahal, dia bahagia, dan yang lebih penting adalah hubungan mereka mengalami kemajuan.


Ken melihat Kiran yang ada di sampingnya, yang sedang tertawa terbahak-bahak melihat suguhan drama lawak yang di mainkan oleh bapak-bapak, sedang menggosok-gosok tangannya untuk menghangatkannya karena memang cuacanya sangat dingin, tanpa permisi Ken kemudian menggengam tangannya dan memasukkannya ke saku jaketnya.


" Udaranya sangat dingin, pakai saja yang ada " Jawab Ken acuh saat Kiran menatapnya dengan ekspresi terkejut.


Kiran menunduk dan tersipu malu, dia bergeser lebih dekat ke arah Ken, memangkas jarak di antara mereka hingga tidak ada lagi celah yang tersisa. Lengan Kiran kini sepenuhnya menempel pada lengan Ken.

__ADS_1


" Jadi ini seperti kita sedang menonton bioskop ya ? Gelap dan hanya ada cahaya disana " Tunjuk Ken dengan dagunya ke arah panggung.


" Ya mungkin kau bisa menyebutnya begitu, ini seperti bioskop tradisional " Jawab Kiran mengangguk-angguk.


" Um...sayang " Panggil Ken berbisik lembut kepada Kiran.


Mendengar panggilan sayang yang di ucapkan Ken membuat Kiran gelagapan, nafasnya pendek-pendek memburu akibat dari detak jantungnya yang tak karuan.


" Bolehkah aku mencium pipimu ? " Izinnya kemudian.


Kiran menarik tangannya spontan dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


" Hei kenapa bicara begitu ? Disini ada banyak orang " Pekik Kiran berbisik dan memukul lengan Ken gemas.


" Kenapa memangnya ? Mereka semua tidak akan melihat, disini gelap " Saut Ken antusias tapi masih dengan bisikan.


" Hei bukannya aku menolak, tapi jika kau meminta izin begitu, aku jadi membayangkannya, dan jujur saja pikiranku jadi membayangkan wajah orang yang namanya tidak boleh ku sebut " Jelas Kiran sedih.


" Jika tadi pagi aku baik-baik saja itu karena aku melakukannya secara reflek, jadi otakku tidak sempat menampilkan bayangan wajahnya. Aku minta maaf padamu, karena memang beginilah trauma ku " Lanjutnya.


" Maafkan aku Kiran, aku tidak bermaksud membuat trauma mu... " Jawab Ken panik.


" Tidak apa-apa, hanya saja jangan meminta izin dari ku ya, itu akan lebih baik " Jawab Kiran malu-malu.


" Jadi maksud mu ? " Ken bertanya ragu-ragu.


" Ya, kau boleh menciumku tanpa izin, aku memberimu lampu hijau " Lanjutnya dan kemudian menutup wajahnya lagi karena malu.


" Baiklah kalau begitu " Ken tersenyum sangat bahagia mendengar jawaban Kiran.


" Kiran bisa bantu ibu sebentar ? " Suara Adelia dari dalam rumah memanggil Kiran.


" Ah ya bu " Saut Kiran cepat, dia kemudian bangkit dari duduknya.


" Aku kesana sebentar, ok " Pamit Kiran yang di jawab dengan anggukan Ken.


Apa ini ? Jadi dia mengizinkan ku langsung menciumnya sewaktu-waktu tanpa perlu bertanya lagi ? Apa ini mimpi ?


Teriak batin Ken girang. Pikirannya tidak lagi terpusat pada drama lawakan yang dibawakan bapak-bapak di depan sana, namun melayang pada gambaran saat dirinya dan Kiran berciuman di tepi sungai tadi pagi.


Tiba-tiba darahnya berdesir dan tubuhnya merasa merinding. Dia mengedikkan bahunya untuk mengusir sensasi menggelitik di dadanya yang berdenyut tak karuan.


Disaat suasana hatinya sedang tak karuan, dia merasakan seseorang tengah duduk di sebelahnya, tanpa menoleh pun Ken tau bahwa itu adalah Kiran, karena dia mencium wangi parfum milik Kiran.


" Baiklah karena kau bilang aku tidak perlu meminta izin mu, jadi aku akan melakukannya sekarang " Ucapnya berbisik.


Dan cup !! Ken mendaratkan kecupannya di pipi Kiran.


Karena suasana yang gelap dan hanya ada penerangan di panggung yang ada di depan sana itu lah yang membuat Ken berani mencuri-curi kesempatan untuk mencium Kiran meskipun di tengah-tengah warga desa. Dan lagi kecupan itu hanya mampir sebentar saja di pipi Kiran.


Ken menunduk malu dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Prok, prok, prok !!! Terdengar suara tepuk tangan dan sorak sorai dari seluruh warga desa.


Apa ? Kenapa mereka bertepuk tangan ? Apa mereka melihat ku mencium Kiran ? Bagaimana ini ? Apa aku akan di hukum karena melakukan hal yang mesum ? Bagaimana ini ?


Ken mulai merasa panik, dia tidak berani membuka telapak tangannya.


" Baiklah semuanya, terima kasih atas penampilan bapak-bapak yang luar biasa bagus, dan juga terima kasih untuk tuan Ken yang sudah membawa banyak sekali buah tangan untuk kami semua warga yang ada disini. Kami semua berterima kasih yang teramat besar kepada tuan Ken " Suara kepala desa membuat Ken terkejut sekaligus bernapas lega. Jadi mereka bertepuk tangan bukan karena Ken ketahuan mencuri ciuman dari seorang gadis tapi karena penampilan bapak-bapak telah selesai.


Dengan percaya diri Ken membuka kedua telapak tangannya, terdengar tepuk tangan kembali membahana setelah kepala desa menyelesaikan kalimatnya. Lalu semua lampu-lampu di nyalakan kembali dan suasana terang yang mendadak membuat Ken memincingkan matanya akibat silau.


" Ken " Panggil Kiran riang. Ken menoleh ke arah Kiran.


" Mas Ken nakal sudah mencium ku " Nenek Mis yang ada di sebelah Ken tersipu malu dan mencubit lengan Ken gemas.


" HIIIAAAA " Untuk ketiga kalinya Ken mendapatkan senam jantung gratis.

__ADS_1


__ADS_2