
Pagi menjelang, Ken terbangun oleh suara alarm dari ponselnya, dia menegakkan tubuhnya melihat sekeliling. Semalam Rai memaksanya pulang untuk ikut rapat penting tentang perusahaan dan setelahnya dia sibuk mengerjakan pekerjaan lainnya hingga tertidur di meja kerjanya.
Dia mematikan ponselnya dan melihat apakah ada pesan balasan untuknya, semalam dia mengirimkan pesan berisi permintaan maaf untuk Kiran, tapi Kiran tidak membalasnya. Hal itu membuat Ken semakin cemas. Dia bangun untuk bersiap-siap sarapan dan menjemput Kiran di sekolah karena rombongan peserta outbond akan tiba sebelum makan siang.
" Kau terlihat kacau " Sapa Ruby saat melihat Ken yang berjalan dengan lesu.
" Ya aku sedang tidak berselera makan " Jawab Ken malas, dia mendudukkan dirinya di kursi depan Ruby.
" Kemana ayah ? " Tanya nya heran karena cuma melihat hanya ada mereka berdua yang sarapan.
" Entahlah sejak semalam ayah tidak pulang, sekertaris Yuri bilang mereka ada urusan penting jadi akan menginap di hotel. Dan Rai masih ada dikamarnya, sedang bersiap-siap. Dia berencana mengambil cuti ayah yang baru memiliki bayi, jadi dia bekerja lebih keras lagi agar tidak ada yang tertinggal saat cuti " Ruby menjelaskan seraya mengambilkan Ken makanan untuk di letakkan di piringnya.
Ken hanya mengangguk-angguk lemas saat mendengarkan penjelasan Ruby, namun kata-kata Ruby tidak ada yang masuk di kepalanya satupun, dia terlalu sibuk memikirkan kenapa Kiran bisa marah.
" Mm.. kakak ipar aku ingin bertanya padamu " Ucapnya lirih dan mencondongkan tubuhnya agar bisa mendekat ke arah Ruby yang berada di depannya.
" Apa ? " Tanya Ruby bingung dan tanpa sadar ikut mencondongkan tubuhnya juga, namun tertahan oleh perut buncitnya.
" Begini, aku punya murid, mereka baru saja pacaran, lalu suatu hari pasangan itu di datangi pihak ketiga dan antara si wanita dan laki-laki pihak ke tiga itu bermain drama tentang sandera seperti penculikan atau tawanan atau semacamnya, tapi si pacar ini tidak memberikannya apresiasi dan tepuk tangan, dan itu membuatnya marah, lalu si pacar meminta maaf, tapi si wanita masih saja marah, kira-kira dimana letak kesalahan pacar itu ? " Tanyanya perlahan dan lirih.
" Siapa yang marah ? " Tanya Rai lantang di belakang Ruby. Ken dan Ruby yang terkejut segera menegakkan badannya bersamaan.
" Aish bikin kaget saja, kenapa tidak bersuara " Maki Ken ketus seraya mengelus-elus dadanya yang berdetak kencang.
" Ini Ken sedang bertengkar dengan kekasihnya " Ruby menjawab santai, Rai yang terkejut segera mendudukkan dirinya di kursi sebelah Ruby.
" Kau punya kekasih ? " Tanyanya penasaran.
" Bukan, bukan aku, ini tentang murid ku, dia sedang bertengkar dengan kekasihnya, menurutmu karena apa ? " Tanya Ken ragu-ragu.
" Kau yakin ini bukan tentangmu ? " Tanya Ruby penuh selidik, menatap Ken yang sekarang menegakkan badannya bersandar di kursi, berusaha bersikap santai namun terlalu kaku.
__ADS_1
" Eii...kau kan tau ayah tidak mengizinkanku berkencan dengan Kiran, jadi mana mungkin aku menjalin hubungan dengannya, aku masih sayang nyawa ku kalau harus melanggar perintahnya " Ken mengelak mencari alasan, matanya menatap kesana kemari, berusaha menghindari Rai dan Ruby yang sedang tekun menyimak penyangkalannya yang berlebihan.
Rai dan Ruby yang merasa curiga hanya saling berpandangan.
" Kami tidak menuduhmu berkencan dengan Kiran, kau sendiri yang mengatakannya " Rai menjawab polos.
Ken yang sadar telah keceplosan segera mengambil air di depannya dan meneguknya dengan cepat.
" Ku pikir kalian akan berpikir begitu di dalam pikiran kalian, jadi sebelum pikiran kalian berpikir yang macam-macam, jadi aku harus meluruskan pikiran kalian, be-gi-tu-lah " Jelasnya terbata-bata dan berbelit-belit karena Rai maupun Ruby masih belum mengubah ekspresi tekun mereka.
Aish Ken, kau telalu nyata menyangkalnya, mereka pasti tau kalau aku sedang berbohong, bagaimana ini, apa aku harus mengakuinya saja, aku yakin mereka pasti bisa menyimpan rahasia, tapi aku juga tidak yakin, siapa yang berani melawan siluman raja kerbau itu. Apa yang harus aku lakukan sekarang.
Ken berusaha bersikap tenang meski keringat bercucuran di dahinya.
" Ken apa benar kau dan Kiran berhubungan ? " Tanya Ruby lirih.
" Tidak, sudah ku bilang tidak, kenapa tidak percaya padaku " Ken menyangkal dengan antusias, dia tidak boleh terlihat gugup atau semuanya akan terbongkar.
" Syukurlah, aku tidak bisa membayangkan kau akan melawan perintah ayah, aku tidak tega melihatmu terus-terusan di hukum " Ruby menghela napas lega tapi juga prihatin, dia memandang Ken dengan lembut. Dia yakin sebenarnya Ken belum bisa melupakan Kiran.
" Aku tidak bercerita tentangnya, aku bercerita tentang murid ku, mereka sedang bertengkar, dan meminta pendapatku, sebagai kepala sekolah yang baik tentu saja aku juga harus ikut memikirkan nasib murid-muridku bukan ? " Ken menjawab dengan menggebu-gebu, berusaha keras meyakinkan Rai dan Ruby.
" Sudah jangan beralasan, kau saja tidak peduli dengan urusan perusahaan, dan sekarang kau berharap kami percaya bahwa itu cerita tentang murid mu ? Muridmu dari hongkong ! " Omel Rai kesal karena Ken terus saja berbohong.
" Aish kalian ini, kubilang tidak ya tidak " Ken berteriak kesal.
" Bukankah aku bertekad akan bekerja lebih giat lagi, inilah salah satu bentuknya " Ken menjelaskan dengan semangat sekaligus mengalihkan pembicaraan dari nama Kiran.
" Ooh " Ruby hanya mengangguk-angguk mendengarkan, tapi Rai bersikap acuh dan terus menikmati sarapannya.
" Jadi menurutmu kenapa si wanita itu marah ? Apa yang membuatnya marah ? " Tanya Ken lagi, tapi kali ini dia berusaha bersikap acuh dengan mengambil sepotong roti dan memakannya.
__ADS_1
" Kau bilang tadi ada pihak ke tiga ? " Tanya Rai masih acuh.
" Ya benar, ada pihak ketiga yang tiba-tiba mengajaknya bermain drama, jadi wanita itu marah kepada kekasihnya karena tidak memberikan tepuk tangan " Ken menjelaskan lagi, tapi kali ini dia sudah tanpa sadar mencondongkan tubuhnya mendekati Rai.
" Kenapa laki-laki itu tidak memberikannya tepuk tangan ? " Tanya Rai santai.
" Karena lupa, tapi dia sudah meminta maaf " Jawab Ken serius.
" Itu kesalahan fatal kau tau, harusnya dia memberikan tepuk tangan dari awal, kalau perlu sebuah suitan sebagai bentuk kalau si laki-laki menikmati drama yang di persembahkan oleh si wanita, kalau seseorang ingin membuat kekasihnya terkesan tapi si laki-laki tidak terkesan, bagaimana perasaanmu ? Harga dirimu akan terluka dan itu lebih parah dari sekedar malu " Rai menjawab dengan yakin dan penuh percaya diri.
" Ah benar, itu karena harga dirinya terluka, aku tau jawabannya sekarang, jadi aku akan memperbaiki harga dirinya yang terluka, ya benar-benar " Gumam Ken lebih kepada dirinya sendiri.
Tidak ku sangka ternyata kakakku sudah banyak berubah, dia sudah lebih bijaksana. Aku salut padanya, apa itu karena dia akan jadi seorang ayah, makanya aura keayahannya memancar kuat ?
Ken memandang Rai yang sedang memakan sarapannya dengan takjub, seperti di belakang Rai ada sebuah lampu bohlam berjuta watt yang sedang memancarkan sinarnya, membuat Rai berkilau indah di terpa sinar dari bohlam tersebut.
" Hm ? Kenapa harus kau yang memperbaiki harga diri wanita tersebut, bukankah itu tugas kekasihnya ? " Tanya Rai bingung karena mendengar gumaman Ken.
Ken segera tersadar dari rasa kagumnya, dia menegakkan punggungnya, salah tingkah karena tidak menyangka Rai akan mendengarkan gumamannya.
" Haah ! " Tiba-tiba Rai terkejut dan sendok serta garpu yang dipegangnya jatuh berbenturan dengan piring, menimbulkan bunyi dentingan keras di suasana yang sepi dan tegang saat ini.
" Ada apa ? " Tanya Ken dan Ruby yang juga terkejut, mereka kompak menoleh ke segala arah memeriksa keadaan yang membuat Rai terkejut dengan kerasnya, namun nihil, di ruang makan itu hanya ada mereka bertiga. Ken dan Ruby yang takut segera merapatkan dirinya di dekat Rai.
" Ken jangan bilang kalau pihak ke tiga dari pertengkaran muridmu itu adalah kau " Rai menjawab lambat-lambat karena masih merasa syok.
" Apa yang kau pikirkan ? Masih banyak gadis di dunia ini, kau bisa mendapatkan siapapun, tapi kenapa harus anak yang di bawah umur ? Kau bisa di tuduh pedofilia nantinya, Ken sadarkanlah dirimu, jangan gila " Rai menjawab prihatin seraya mengguncang-guncang tubuh Ken yang ada di sebelahnya.
Ruby yang juga terkejut dengan penjelasan Rai ikut bangkit dan menghampiri Ken. Dia memeluknya dengan lembut.
" Ken bertahanlah, jangan berpikir bodoh, lupakan Kiran, carilah penggantinya, tapi jangan anak SMA " Suara Ruby tercekat, dia menangis melihat keadaan Ken yang semakin mengenaskan.
__ADS_1
Apa aku baru saja bilang dia bijaksana ? Aku tarik kata-kataku, dia masih sama polosnya. Junior semoga kau tidak seperti ayahmu.
Ken menghela napas pasrah, dia membiarkan saja Rai dan Ruby menangis dan memberikannya dukungan.