
" Kalian akan bulan madu kemana ? " Tanya Regis kepada Ken dan Kiran saat sarapan bersama keesokan paginya setelah upacara pernikahan.
" Kemana saja yang penting jauh " Jawab Ken geram seraya memotong rotinya dengan pisau keras-keras, dan kemudian menusuknya dengan garpu lalu menatap Rai dan Ruby secara bergantian sebelum memakannya.
" Ke kutub utara pun tak masalah " Lanjutnya mendelik kesal kepada pasangan lama yang baru mengulang pernikahannya tersebut.
" Maaf ya kami tidak bermaksud begitu, tapi itu karena ta... " Jawab Ruby sungkan, namun belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Ken semakin mendelik tajam.
" Ckssttt... " Desisnya kesal memotong kata-kata Ruby.
" Ah maaf maaf " Ruby yang mengerti hampir saja menyebut kata terlaknat dalam kamus hidup Ken, segera menutup mulutnya rapat-rapat.
Namun Rai sebagai tersangka utama insiden semalam sepertinya tak terusik oleh setiap sindiran keras yang di ucapkan oleh Ken. Dengan santai dia tetap saja memakan sarapannya.
" Kapan kalian akan berangkat ? " Tanya Regis memungkas perdebatan di antara mereka.
" Secepatnya " Jawab Ken lagi, dengan sengit.
Kiran yang sedari tadi hanya mendengarkan, memutar bola matanya jengah melihat Ken yang uring-uringan.
Tapi dia memaklumi hal itu, seminggu sebelum menikah mereka hampir saja melakukan hal yang sangat intim namun gagal karena telepon dari ibu Kiran, lalu saat sudah sah menjadi suami istri, malam pertama mereka pun harus ternodai oleh Raline yang terus menerus rewel membuat seisi mansion kelimpungan menenangkannya.
Pikirannya kembali melayang kepada kejadian semalam. Setelah semua tamu pulang dan malam semakin larut, Kiran serta Ken pergi ke kamar Ken. Kiran kemudian mandi dan membersihkan diri dari sisa-sisa pesta seharian ini.
" Aku lapar " Ucap Kiran setelah mengganti bajunya dengan baju yang lebih santai.
" Tapi apa aku harus memakai ini ? " Tanyanya lagi memutar badannya di depan Ken yang sedang berbaring dengan kedua tangan menyangga lehernya.
" Kenapa memangnya ? Kau kan tidak perlu baju sebenarnya, dan lagi pak Handoko belum membelikan mu baju " Jawab Ken santai dan terus mengamati Kiran dalam balutan piyama tidur miliknya.
Tubuh Kiran yang kecil mungil itu pun tenggelam di piyama milik Ken yang terlihat seperti berukuran xl jika dipakai Kiran. Dengan hanya mengenakan atasannya saja tanpa bagian bawah piyama, namun entah kenapa hal itu justru semakin membuat kesan seksi untuk Kiran.
" Kemarilah " Ken menepuk ranjang disampingnya, Kiran mendekat perlahan dan duduk di tepi ranjang.
Melihat Kiran yang mendekat dengan gugup dan malu-malu, Ken pun mengambil inisiatif memeluknya dari belakang. Dia membenamkan wajahnya di antara leher Kiran, menciumi aroma tubuhnya yang segar setelah mandi.
" Aku lapar " Ucap Kiran terbata-bata saat merasakan tangan Ken yang mulai menyusup ke dalam bajunya dan naik perlahan-lahan, dengan sentuhan seringan bulu, jari-jari Ken mengukir tanda hati di dada Kiran.
" Aku juga, tapi entah kenapa aku tidak ingin makan sesuatu kali ini, tapi aku ingin memakanmu " Desah Ken dari balik punggung Kiran, napas panas Ken yang memburu di leher Kiran membuatnya merasakan sensasi geli dan desiran aneh dari dalam tubuhnya.
Kiran menggeliat sebagai bentuk respon otomatis dari tubuhnya.
" Kau sangat cantik sayang " Puji Ken dengan bisikan penuh nada sensual. Tangannya yang semula ada di balik baju Kiran kini telah berpindah ke kancing piyama yang di kenakan Kiran. Dengan gerakan pelan dia membukanya satu persatu.
Ken membaringkan Kiran di atas ranjangnya dan menatapnya dengan lembut penuh cinta. Akhirnya penantian mereka tercapai sudah, mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri saat ini.
__ADS_1
" Kau siap kan ? " Tanya Ken membelai lembut kepala Kiran, menyisihkan rambut-rambut yang menutupi wajah Kiran.
" Hmm... " Kiran menggigit bibir bawahnya, dengan wajah yang merona dan jantung yang berdegub tanpa irama itu Kiran menganggukkan kepalanya. Namun matanya yang terpejam rapat membuat Ken tersenyum.
Ken tau bukan hal yang mudah untuk Kiran membiarkan Ken sedekat ini dengannya, entah seberapa keras usahanya untuk melawan rasa panik yang pasti saat ini memenuhi pikirannya dan rongga dadanya. Terlihat dari keringat dingin Kiran yang membasahi dahinya dan lehernya.
" Kita tidak harus melakukannya hari ini jika kau tidak siap, toh masih ada banyak hari dan banyak kesempatan " Ucap Ken lembut penuh pengertian, dia lalu mencium kening Kiran yang penuh dengan keringat dingin.
Kiran membuka matanya, di tatapnya Ken yang tersenyum sabar dan seketika air matanya mengalir melalui ujung matanya.
" Aku terlalu memikirkannya seharian ini, jadi wajah orang itu terus ada di kepala ku, aku sudah coba sekuat tenaga mengusirnya tapi dia semakin terlihat nyata " Isaknya lirih.
" Sstt...sstt...sudah jangan di pikirkan, aku paham " Jawab Ken lembut.
Dihari Kiran memintanya menginap, dia dan Kiran spontan saja melakukannya, tapi malam ini, Kiran yang sudah paham setelah pernikahan akan ada malam pertama terlalu memikirkannya hingga membuat rasa traumanya kembali muncul.
" Kau mau bermain kartu ? " Tawar Ken mengalihkan pembicaraan.
Kiran tersenyum dan mengangguk, Ken lalu bangkit berdiri dan membantu Kiran untuk berdiri juga dan dia membenahi pakaiannya yang sudah terbuka, kembali mengancingkan bajunya.
" Aku akan mencari snack untuk teman main kartu " Kiran segera kembali ke ruang ganti untuk mengambil setelah piyamanya.
Kiran lalu pamit pergi ke dapur di bangunan utama mansion, sedangkan Ken mempersiapkan semua permainannya.
Dia akan mengajak Kiran bermain kartu lebih dulu agar pikirannya teralihkan, lalu dengan sedikit taruhan "nakal" dia akan membuat Kiran melakukan malam pertama mereka dengan tanpa rasa tegang ataupun takut.
" Kenapa Raline ? " Tanyanya panik mendekat.
" Entahlah, dia rewel sekali padahal aku baru saja menyusuinya " Jawab Ruby putus asa, rambutnya yang berantakan seperti menandakan dia telah cukup lama berdiri dan bergoyang-goyang.
" Apa kau terganggu ? " Tanyanya sungkan.
" Tidak, aku mau mencari makanan ringan, seharian ini aku makan tidak benar dan hanya makan kue, jadi aku kelaparan " Jawabnya santai.
" Kau sudah menelepon dokter ? " Tanya Kiran mulai ikut cemas dan kasihan melihat Raline yang menangis terus.
" Sudah, dan Dokter bilang dia baik-baik saja " Jawab Ruby semakin putus asa, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Merasa frustasi dan gagal menjadi seorang ibu.
Kiran yang tidak tega mencoba ikut menenangkannya dan membawanya pada Ken, di ikuti semua orang mereka bersama-sama menuju bangunan Ken.
" Ken... " Ucap Kiran begitu membuka pintunya lebar-lebar.
" Saa.... " Disaat bersamaan Ken yang sedang duduk di sofa panjang, mengenakan mantel tidur yang dia buka hingga memperlihatkan dadanya yang bidang dengan menggigit setangkai mawar, dia merentangkan tangannya lebar-lebar, bermaksud untuk menggoda Kiran yang akan masuk dengan gaya yang tidak biasa.
" Huaa ?!?! " Pekiknya kaget begitu melihat Rai dan Ruby, dengan cepat membuang tangkai mawar di mulutnya dan menutup dadanya.
__ADS_1
" Ke-kenapa kalian semua kesini ? " Tanyanya tergagap menunjuk satu persatu wajah yang sedang melongo bingung melihat tingkah Ken tersebut.
" Kau sedang apa ? " tanya Rai heran.
" Apa ? " Jawab Ken ketus, dia bangkit berdiri dan mendekati mereka semua.
" Harusnya aku yang bertanya begitu, sedang apa kalian semua datang kemari di malam pengantinku ? " Tanya Ken dengan senyum kesal tidak habis pikir.
" Maaf Ken Raline dari tadi menangis, jadi kami membawanya padamu " Ucap Ruby sungkan.
" Hahaha... " Ken tergelak sinis.
" Raline menangis dan aku yang harus menangkannya ? Dimalam pengantin ku ? " Tanya Ken masih dengan nada sinis.
" Ah kau benar, maafkan kami " Jawab Ruby dan akhirnya mengulurkan tangannya kepada Kiran untuk meminta Raline.
Namun Kiran menolaknya dan menatap Ken dengan wajah memelas.
" Dia menangis dari tadi " Ucapnya lirih.
Ken yang mendengar suara tangis Raline pun luluh juga, dia berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya meminta Raline dari gendongan Kiran.
Dan benar saja, Raline langsung terdiam begitu dalam gendongan tangan Ken. Semua yang ada disana menghela napas lega.
" Kau ini anaknya siapa sih, kenapa manja dan pemilih sekali ? " Ucap Ken gemas menepuk-nepuk kaki Raline pelan.
" Dia anak ku " Saut Rai bangga.
" Pantas saja kau cerewet sekali " Ejek Ken kepada Raline.
" Apa ? " Rai mendelik kesal mendengar ucapan Ken.
" Aish sudah " Lerai Ruby dan melirik Rai tajam.
" Harusnya kau berterima kasih padanya, ini malam pribadinya tapi kita malah mengganggunya " Bisik Ruby lirih.
Namun Raline kembali menangis dan menggeliat, lalu mulut mungilnya mengecap-ngecap. Ken yang merasakan firasat tidak enak akan menimpa padanya segera berbicara pada Ruby.
" Hei marimar sepertinya Raline haus " Bisiknya buru-buru.
Dengan sigap Ruby segera mengulurkan tangannya untuk meminta Raline kembali, namun terlambat, tangan mungin Raline telah mendarat di dada Ken dan meremas-remasnya, lalu menangis keras saat merasakan disana tidak ada stok makanannya.
" Terlambat sudah " Pasrah Ken dan jatuh terduduk.
Raline kembali menangis dan meskipun Ruby menggendongnya untuk menyusui Raline tetap saja menangis, semua yang mengerti dan seperti paham apa keinginan Raline kembali menoleh kepada Ken dengan wajah penuh harap.
__ADS_1
" Tidak !!! " Jeritnya putus asa.
Di malam pertama ku, aku harus menyusui dan bukan di susui.