Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Mencari Rahul


__ADS_3

Kiran sudah berada di halte untuk menunggu bus saat kedua laki-laki itu berlarian menyusulnya, dengan napas yang terengah-engah mereka berpegangan pada lengan Kiran, masing-masing satu, dengan badan terbungkuk memegangi perut seraya berusaha mengatur napas.


" Hei bocah lepaskan tanganmu darinya " Ken mendelik tajam kepada Dylan yang juga berpegangan di lengan Kiran.


" Kau sendiri bagaimana, tangan mu itu tidak punya sopan santun " Balas Dylan sengit menunjuk tangan Ken dengan wajahnya yang juga berpegangan pada lengan Kiran.


" Sudah kalian berdua ini kenapa terus saja berdebat, sebenarnya ada apa ? " Tanya Kiran kesal dan menyentakkan tangan mereka berdua dari lengannya, membuat mereka berdua terhuyung maju kehilangan keseimbangan.


" Lihat ini semua salah mu, dasar bocah ingusan " Maki Ken kesal dan berkacak pinggang di depan Dylan.


" Hei pak tua, siapa yang kau bilang bocah ingusan, umurku sudah 16 tahun, dan beberapa bulan lagi akan berubah jadi 17 tahun, yang artinya aku sudah legal dan sudah bukan bocah lagi " Elak Dylan juga tak kalah ketusnya, dengan menyilangkan tangan juga dada membusung menantang Ken. Meskipun mereka berbeda jauh dari segi usia, namun Dylan cukup tinggi untuk ukuran remaja, dan kalau mereka berjejer bisa dipastikan hanya akan selisih beberapa senti saja.


Anak jaman sekarang mereka makan apa, kenapa anak sekolahan bisa setinggi ini ?


Ken menilai Dylan dari atas sampai bawah lalu kembali lagi ke atas.


" Dylan ayo cepat, itu busnya sudah datang " Kiran mengingatkan Dylan agar mereka berhenti bertengkar terus.


" Kiran tunggu... " Ken mencoba menghentikannya, namun Kiran menolak. Dia tidak ingin berada satu mobil dengan dua orang yang seperti kutub utara dan kutub selatan, tidak bisa akur, meskipun tidak tau mereka bertengkar karena apa.


" Nanti aku akan menelepon mu " Putus Kiran sebelum naik bus yang sudah berhenti tepat di depan mereka.


Dylan yang merasa kemenangan berpihak padanya menoleh kearah Ken dan menjulurkan lidahnya, mengejek Ken layaknya anak kecil yang merasa menang.


" Aish sial ! " Ken meninju udara saat bus mulai bergerak meninggalkan halte, meninggalkan Ken sendirian disana. Dengan berat hati Ken kembali ke sekolahnya dan memutuskan pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, dia bergegas pergi ke kamarnya, mengabaikan sapaan Ruby dan juga Rai yang sedang duduk santai di ruang tamu, dia bahkan mengabaikan bunyi keroncongan perutnya yang seakan-akan membiarkan peternakan cacing didalamnya mengadakan demo, meminta untuk di beri makanan. Namun di tengah jalan dia berhenti sejenak, merasa bersalah karena juga ikut mengabaikan junior. Dia memutuskan kembali untuk menyapanya.


" Junior, paman mu sedang tidak baik-baik saja " Begitu curhatnya kepada Junior yang ada di dalam perut Ruby, membuat Ruby dan juga Rai hanya terbengong-bengong menatap Ken yang terlihat lesu, letih, lemah, lelah dan lalai, persis seperti gejala anemia. Hampir saja Rai panik dan akan menelepon dokter untuk mempersiapkan ruang operasi untuk Ken, karena sangat di luar kebiasaan Ken bersikap seperti itu, jika bukan karena sikap tanggap Ruby yang langsung menghubungi Kiran dan menanyakan perihal yang terjadi di sekolahan, bisa dipastikan saat ini rumah sakit lord akan ada di mode siaga 3, dan mengirimkan helikopter ambulance untuk menggotong Ken yang sudah terlihat sangat parah, bahkan untuk melangkah saja dia harus memaksa menyeret kakinya.


Ruby mengangguk-angguk mendengarkan cerita Kiran di ujung teleponnya, dan sesekali tersenyum, terkekeh, bahkan tertawa terbahak-bahak saat Kiran menceritakan detail sikap aneh Ken belakangan ini.

__ADS_1


Ternyata Kiran belum menyadari kalau Ken sudah jatuh cinta padanya.


Ruby hanya membatin di dalam hati, biarkan Kiran mencintai Ken dengan usaha yang dilakukan Ken sendiri, bukan dari campur tangannya, jadi dia hanya akan mengawasi mereka berdua dari jauh saja.


Rai sangat antusias saat mendengarkan cerita Ruby tentang adiknya, yang menurutnya bodoh. Karena Rai berpendapat, bagaimanapun tindakannya dulu yang langsung menikahi Ruby adalah hal yang sangat tepat, cinta bisa belakangan, yang terpenting adalah memilikinya lebih dulu. Namun semua tergantung kepada Ken yang menjalani kisah cintanya.


Hari berikutnya Ken lebih memilih izin tidak masuk sekolah, tidak masuk bekerja lebih tepatnya, dia merasa kesal karena kemarin Kiran tidak menghubungi sesuai janjinya. Dia merasa di khianati, tertolak, terabaikan, dan segala macam penyakit patah hati lainnya. Pak Handoko dan Ruby bahkan sampai bolak balik memeriksa keadaan Ken yang mengurung diri di dalam kamarnya, tidak ingin bertemu dengan siapapun.


Ruby juga terpaksa berbohong kepada Regis bahwa Ken hanya sedang kelelahan dan tidak perlu dirawat di rumah sakit seperti perintahnya semula.


Hari-hari berikutnya berlalu begitu saja, namun Ken juga belum membaik dan masih mengambil cuti, ternyata membutuhkan waktu yang lebih lama baginya untuk sembuh dari kekecewaan. Rai dan Ruby sampai harus menyeretnya keluar kamar dan mengancam akan memberitahukan Regis kejadian yang sebenarnya.


" Kau ini laki-laki kenapa lembek seperti itu " Omel Rai tegas melihat Ken yang hanya duduk diam di ruang tamu.


" Aku bukannya lembek, aku hanya sedang berpikir, apa aku akan meneruskan untuk mendekati Kiran atau mundur saja " Ken menjawab malas, mengelak dari kenyataan.


" Itu terserah kau saja, apapun keputusanmu yang terpenting kau merasa bahagia " Rai memberikan semangat kepada adik kesayangannya.


" Kiran sangat sulit di tebak, dia sudah tidak terlalu tertutup seperti dulu, dia lebih terbuka padaku sekarang tapi sepertinya dia tidak tertarik pada laki-laki " Ken menjelaskan penilaiannya.


" Kau kan tau traumanya terhadap laki-laki, bukan karena dia tidak menyukai mu " Sanggah Ruby.


" Itu dia masalahnya, aku tidak yakin kalau aku laki-laki yang mampu menyembuhkan traumanya, dia orang yang baik, bertanggung jawab dan pekerja keras, kau tau bahkan menjadi guru BK saja dia sampai seserius itu, dia menulis setiap nama murid yang datang padanya untuk berkonsultasi, dan juga menuliskan masalah-masalah mereka, terkadang dia malah mendiskusikan masalah mereka denganku, bukannya malah membahas bagaimana caranya kita lebih dekat, dia malah membahas masalah orang lain " Ken menjelaskan malas, dia merasa buntu tentang hubungannya dengan Kiran.


" Mungkin kalian memang tidak cocok, tidak bisa di paksakan juga " Ruby menyerah, dia tau cinta memang tidak bisa dipaksa, karena dia sendiri mengalaminya, cinta Vivianne terhadap Rai yang sudah tumbuh bersama sejak kecil saja tidak mampu menggerakkan hati Rai. Cinta Lucas untuknya yang berhati lembut juga tidak mampu membuatnya berpaling dari Rai. Cinta Ignes yang sebesar lautan juga tidak mampu membuat Rai berpaling dari Ruby, dan Ruby juga lebih memilih Rai yang notabene bersikap buruk padanya di awal pernikahan, memaksanya melakukan "itu" sampai segala macam pertengkaran yang nyatanya malah membuat mereka saling jatuh cinta. Begitulah cinta, semuanya misteri.


" Ya kurasa aku akan menyerah saja, aku akan mencari orang lain saja " Ken memutuskan mantap di dalam hatinya. Sebenarnya berat untuk melupakan Kiran, tapi dia juga tidak ingin terus tersiksa perasaan cemburu yang menurutnya sangat tidak enak, belum lagi dia juga tidak yakin apakah dia orang yang tepat untuk menghilangkan trauma Kiran.


Semua beban pikiran itu membuat Ken tidak nyaman, dia selalu tidak enak makan dan tidak enak tidur. Benar pepatah yang di katakan cu pat kai, beginilah cinta deritanya tiada akhir.


" Semangatlah, kau pasti mendapatkan yang terbaik " Rai menepuk pundak adiknya, dia tidak bisa memaksakan pemikirannya kepada Ken karena mereka jelas 2 orang yang berbeda, menurut Rai dia lebih suka menggunakan cara memaksa untuk mendapatkan Kiran, bahkan mengancam kalau perlu. Tapi Ken lebih memilih jalan damai, cinta memang tidak bisa dipaksakan.

__ADS_1


Aku akan merelakannya, mungkin memang benar kita tidak di takdirkan bersama.


Ken menghela nafas panjang, berusaha melepaskan beban di hatinya, tapi tetap saja dadanya terasa penuh sesak oleh nama Kiran.


Disaat trio biang kerok itu sedang serius melamun memikirkan masalah percintaan Ken, pak Handoko masuk dan memberitahukan bahwa ada tamu untuk mereka.


" Tuan Rai ada seorang tamu di depan " Ucap Pak Handoko sopan.


" Siapa ? " Tanya Rai heran, di mansion itu mereka tidak akan pernah ada tamu.


" Seorang wanita muda... " Pak Handoko memberitahukan, tapi belum selesai kalimatnya Rai sudah berdiri dan terkejut.


" Usir dia, aku tidak kenal " Rai menjawab tegas.


Ken dan Ruby heran dengan sikap Rai yang terlihat mencurigakan. Rai semakin salah tingkah.


" Marimar jangan dengarkan dia, aku tidak selingkuh, aku bersumpah " Rai duduk berlutut di depan Ruby dan menggenggam tangannya.


" Tapi tuan dia mencari... " Pak Handoko ingin menjelaskan.


" Aku bilang usir dia ! " Perintah Rai tegas dengan setengah berteriak.


" Rai sebenarnya ada apa ? " Ruby semakin bingung.


" Tuan dia mencari Rahul " Pak Handoko segera melanjutkan cepat sebelum suasana semakin runyam.


" Apa ?? " Mereka bertiga kompak terkejut.


Anjeli ku. Ken tersenyum penuh bahagia.


Rahul ? Shahrukh Khan maksudnya ? Ruby heran siapa yang dipanggil Rahul oleh tamu tersebut.

__ADS_1


Ternyata hanya aku yang GR, ku kira masih banyak wanita yang mengejarku. Rai tersenyum kecut karena bukan dia tokoh utamanya sekarang.


__ADS_2