
" Apa ini ? " Tanya Ken kepada Wakil Kepala Sekolah yang datang ke ruang perawatannya dirumah sakit untuk membawakan berkas-berkas yang harus di periksa dan di tanda tanganinya. Dia mengangkat secarik kertas bertuliskan pemberitahuan.
" Ah itu surat pemanggilan untuk orang tua siswa tuan " Jawab Wakil Kepala Sekolah dengan sopan.
" Rapat ? " Ulang Ken masih belum paham maksud dari Wakil Kepala Sekolah.
" Bukan tuan tapi pemanggilan khusus karena mereka terlibat perkelahian " Jelasnya lebih terperinci.
" Apa ? Berkelahi ? Di sekolah ku ? " Pekik Ken terkejut.
" Maafkan saya tuan, saya gagal dalam menjaga sekolah " Jawab Wakil Kepala Sekolah dengan terbata-bata.
" Siapa saja yang terlibat perkelahian ? Panggil semuanya, ini untuk hari senin bukan ? Aku akan hadir disana " Omel Ken kesal. Karena jika ayahnya sampai mendengar berita ini, maka dia sendiri yang akan repot nantinya. Kenakalan remaja sangat di tentang ayahnya mengingat bagaimana Ganung bermula.
" Dia adalah anak pengacara terkenal tuan, Andromeda " Jawab Wakil Kepala Sekolah dengan sungkan.
" Anak siapa ? " Tanya Ken penasaran.
" Anak dari Pengacara Henry tuan " Jawabnya ragu-ragu.
" Hah ?!? " Ken membekap mulutnya karena saking terkejutnya. Dia sangat mengenal pengacara Henry, dia adalah pengacara andalan Klan Loyard yang sangat di percaya ayahnya, bisa di bilang dialah yang bertugas di bagian hukumnya klan Loyard. Dan sekarang anaknya mengalami tindak kekerasan di sekolahnya. Tamat sudah riwayatnya. Pengacara Henry pasti melapor kepada Regis.
" Lalu siapa lawannya ? " Tanya Ken lemas, jantungnya seperti melemah dengan drastis.
" Dylan tuan " Jawab Wakil Kepala Sekolah takut karena melihat ekspresi Ken yang begitu terkejutnya, bisa dipastikan dirinya juga akan terseret dalam permasalahan ini.
" HAH ?!?! " Teriak Ken lebih keras lagi saat mendengar nama Dylan di sebut sebagai rival tanding Andromeda.
" Kenapa tuan ? Apa ada masalah ? " Tanya Wakil Kepala Sekolah lebih panik lagi, dia tidak menyangka hanya dengan mendengar nama Dylan saja sudah membuat Ken seperti ikan ****** yang kembang kempis berusaha mencari oksigen.
" Ke-kenapa mereka berkelahi ? " Tanya Ken megap-megap seraya memegangi dadanya yang terasa berat akibat syok.
" Saya juga tidak paham alasannya, hanya saja berdasarkan keterangan saksi, Dylan lah yang memulai lebih dulu perkelahiannya, dia tanpa alasan yang jelas langsung memukul Andromeda di kantin " Terang Wakil Kepala Sekolah takut.
" Ya dia memang punya bakat untuk melakukan hal menyebalkan seperti itu " Gumam Ken lirih, dia menarik napas dalam-dalam.
" Maafkan saya tuan " Wakil Kepala Sekolah menundukkan kepalanya karena melihat keadaan Ken semakin bertambah buruk pasca kedatangannya. Dia pun segera menyelesaikan tugasnya dan pamit pergi, tidak ingin berlama-lama disana atau dia mungkin akan jadi penyebab Ken terkena serangan jantung.
" Hei kau kesini sekarang " Tanpa basa-basi lagi Ken menelepon Dylan setelah Wakil Kepala Sekolah pergi, dia bahkan tidak menunggu jawaban Dylan dan langsung menutup sambungan teleponnya. Dia tidak habis pikir kenapa Dylan bisa berbuat begitu.
Sementara itu di ruangan lain, Ruby dan Rai yang sedang asyik memandangi Raline yang tidur di kejutkan oleh suara ketukan pintu. Ruby mempersilahkan tamunya masuk, dan ternyata itu adalah Tina.
" Nyonyaaa... " Pekik Tina antusias begitu melihat Ruby.
" Ssstt...pelankan suara mu, dia sedang tertidur " Jawab Ruby berbisik dan menunjuk Raline.
Tina yang merasa bersalah segera membekap mulutnya dan menundukkan kepala meminta maaf tanpa suara karena melihat Rai yang menatapnya tajam dan dingin.
" Ini aku bawakan bubur kacang hijau, ibu ku bilang wanita menyusui butuh ini untuk asi dan juga pemulihan " Jawab Tina masih antusias.
" Waahh... terima kasih " Ruby menerima sebotol tremos yang di ulurkan Tina namun masih tersisa satu tas lagi yang tidak di berikan Tina. Dia segera membawanya ke meja yang ada di depan sofa dan Tina mengikutinya.
Mereka berdua duduk disana dan sibuk bergosip tentang teman-teman mereka di club.
" Dia baik-baik saja " Ucap Ruby begitu melihat gelagat Tina yang seperti ingin menanyakan keadaan Ken. Tina tersenyum lebar.
" Kau memang yang terbaik " Tina mengulurkan tas lain yang dibawanya.
" Ini tolong berikan padanya " Jawab Tina malu-malu.
" Kenapa tidak kau berikan sendiri padanya ? " Tanya Ruby menggoda.
" Kau ingin aku patah hati dan berakhir disini ? Jantungku masih belum siap menerima kenyataan bahwa tuan Ken sudah memiliki kekasih " Ucap Tina memelas, Ruby tersenyum mendengar penuturan Tina.
" Kau libur hari ini ? " Tanya Ruby basa-basi, dia sangat kesepian di rumah sakit, tidak ada yang bisa di ajaknya bercanda selain Rai.
" Ya aku libur hari ini " Jawab Tina malas.
" Kalau begitu temani aku ya disini, aku sangat bosan disini " Ruby memohon dengan wajah imutnya.
" Ok baiklah, tidak ada ruginya juga untukku, dengan begitu aku bisa bertemu tuan Ken " Jawab Tina juga girang. Mereka terkekeh bersama. Namun suara tawa mereka rupanya mengusik ketenangan tidur Raline, dia menangis dengan sangat keras.
Ruby yang terkejut segera menghampiri Raline di boks tidurnya. Dengan kaku dia mengangkat Raline di gendongannya.
Tina juga ikut mendekat, melihat cara Ruby yang masih kaku dalam merawat bayi, membuat Tina terusik.
" Nyonya kenapa kau kaku sekali, sini berikan padaku. Begini caranya " Tina kemudian mengambil Raline dari gendongan Ruby dengan lihai dan cekatan, seketika itu juga Raline langsung terdiam dan kembali tidur pulas.
Ruby dan Rai terbengong-bengong melihat kepiawaian Tina dalam merawat bayi.
" Bagaimana bisa kau selihai itu ? " Tanya Rai penasaran.
" Oh ini... aku sebenarnya anak terakhir di keluarga ku, dan aku sudah terbiasa merawat bayi sejak aku masih sekolah SMA, karena kakak-kakakku sudah menikah semua " Jawab Tina malu-malu.
__ADS_1
Rai hanya memperhatikan Tina dengan seksama, dibalik sikapnya yang terkesan terlalu mendramatisir situasi dan terlalu ember, rupanya ada hal positif lainnya dalam diri Tina. Hal itu membuat Rai kagum.
" Oh apa ini ? " Tanya Tina tiba-tiba membuyarkan lamunan Rai.
" Apa ? " Tanya Ruby penasaran.
" Tali pusarnya belum lepas ? " Tanya Tina seraya menunjuk pusar Raline di balik bajunya yang tersingkap.
" Iya dokter bilang tidak masalah, nanti akan lepas dengan sendirinya " Jawab Ruby santai.
" Ini sudah berapa hari sejak kelahirannya nyonya ? " Tanya Tina lagi.
" 20 hari, memangnya kenapa ? " Jawab Ruby mulai cemas.
" Wuaah... ibu ku bilang kalau bayi yang tali pusarnya lama sekali lepasnya dia akan menjadi... " Jawab Tina dengan sedikit berlebihan.
" Jadi apa ? " Potong Rai panik.
" Dia akan menjadi orang yang teguh, berkeinginan kuat, dan sangat cantik, seperti aku. Dulu ibuku bilang tali pusarku lepas tepat satu bulan " Jawab Tina dengan antusias.
Rai dan Ruby hanya bisa ternganga melihat Tina menjelaskannya. Rai tanpa sadar bergidik ngeri saat membayangkan Raline akan jadi seperti Tina di kemudian hari. Cerewet, ember, lebay, dan terlalu over percaya diri.
Tidak !!!
Rai menghalau bayangannya dengan tangannya.
" Darimana kau tau hal-hal seperti itu ? " Tanya Ruby penasaran.
" Kami sekeluarga dari desa, dan didesa kami banyak sekali mitos wejangan-wejangan untuk bayi dan ibu yang baru melahirkan " Jawab Tina santai.
Benar, itu hanya mitos, mitos, tidak mungkin terjadi. Aku tidak percaya mitos.
Rai mengelus-elus dadanya dan menarik napas panjang.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sementara itu Dylan yang sedang berdiri di hadapan Ken hanya bisa tertunduk dalam saat Ken berjalan mengitarinya dan mengamatinya, sesekali tersenyum dengan kesal.
" Kenapa kau berkelahi ? " Tanya Ken untuk yang ketiga kalinya karena Dylan tidak menjawab ataupun menjelaskan alasannya memukul Andromeda.
Dylan tetap diam membisu.
" Jadi kau ingin menyalahgunakan nama Loyard untuk bertindak seenaknya begitu ? " Tanya Ken lagi. Namun Dylan masih tetap diam.
" Aku tau " Jawab Dylan malas.
" Kalau tau kenapa kau memukulnya ? Kau ingin jadi jagoan ? Hah ? Kau ingin menguji sejauh mana nama keluarga Loyard berpengaruh, begitu ? " Teriak Ken kesal melihat sikap Dylan yang terus saja menyebalkan sampai akhir.
" Aku tidak memakai nama Loyard sedikitpun, lagipula aku tidak ingin jadi keluarga Loyard, ayahmu sendiri yang menjadikan ku anaknya " Balas Dylan juga berteriak tak kalah kesalnya.
" Kalau kau tidak menggunakan nama Loyard, lalu kenapa kau berkelahi ? Kau bukan anak yang seperti itu " Jawab Ken mulai merendahkan suaranya, dia kembali duduk di ranjangnya dan memegang kepalanya yang terasa pusing. Dia sudah menanda tangani surat pemanggilan orang tua, dan dia bisa menebak siapa yang akan hadir memenuhi panggilan itu. Jika bukan sekertaris Yuri pastilah ayahnya sendiri. Dan diantara kedua orang itu tidak ada satupun yang akan meringankan bebannya.
" Itu karena dia menghina mu " Jawab Dylan marah.
" Apa ? " Tanya Ken tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Namun Dylan sudah kembali tertunduk dengan wajah merah merona dan mulut yang terkatup rapat. Ken menghela napas dalam, ditatapnya Dylan yang salah tingkah setelah memberitahukan alasannya. Dan kemudian tersenyum.
" Ayo jalan-jalan " Ajak Ken tiba-tiba, dia merangkul pundak Dylan dan menyeretnya keluar ruangan.
" Jalan-jalan kemana ? " Tanya Dylan berpura-pura ketus dan menepis tangan Ken karena malu.
" Kita ke kantin " Ajak Ken kemudian, di perjalanan keluar, dia keruang perawatan lebih dahulu untuk meminta masker dan memakainya.
" Kau takut kena penyakit menular ya ? " Tanya Dylan sinis.
" Sudahlah, kau akan tau kenapa aku memakai masker " Jawab Ken penuh teka-teki, tak urung Dylan mengikutinya hingga mereka tiba di kantin.
Suasana sore hari yang nyaman, kantin rumah sakit Klan Loyard di penuhi oleh orang-orang yang menjenguk kerabatnya atau juga para staff rumah sakit yang rehat sejenak menghilangkan penat setelah seharian bekerja.
Ken duduk di meja yang ada di tengah ruangan, begitu juga Dylan masih mengikutinya dengan bingung. Ken melambaikan tangan kepada pelayan dan memesan beberapa menu makanan untuk mereka berdua.
" Kenapa kemari ? " Tanya Dylan membuka suara, setelah pelayan selesai mencatat pesanan mereka dan pergi.
" Ssttt... diam, dengarkan dan amati " Jawab Ken seraya memberikan tanda agar Dylan tak bersuara.
Suasana kantin tentu saja berisik dengan begitu banyaknya orang-orang yang ada disana, masing-masing dari mereka saling mengobrol.
" Anak ku sakit disini... " Suara seorang ibu-ibu muda tertangkap oleh pendengaran Dylan.
" Kau tau pasien di ruangan 403, dia sangat cerewet sekali " Suara salah satu staff rumah sakit yang bercerita kepada temannya.
Dylan yang masih belum paham maksud Ken hanya diam dan mendengarkan mereka semua menggerutu, bercerita atau hanya sekedar duduk-duduk bermain ponsel.
Dylan menatap lekat Ken yang masih saja santai menoleh kesana kemari, seakan sedang mencari sesuatu. Tanpa sadar dia juga ikut melakukan apa yang Ken lakukan, menoleh kesana kemari.
__ADS_1
" Kau jadi perawat di ruang tuan Ken ? " Suara seorang perawat yang tadi kembali terdengar.
Deg !! Jantung Dylan berdetak cepat begitu mendengar nama Ken di sebut, dia kembali menatap Ken yang masih saja santai. Dylan mengernyitkan alisnya, menilai sikap Ken, karena dia yakin Ken juga mendengar hal itu.
" Ya, kenapa ? " Tanya perawat kedua yang menjadi lawan bicaranya.
" Haahh... pasti enak menjadi perawatnya, setiap hari melihat wajah tampannya, aku iri " Jawab perawat pertama dengan nada memelas.
" Ya bisa di bilang aku beruntung " Kekeh perawat kedua tersebut.
" Pasti menyenangkan menatap wajah tampannya setiap waktu di tengah keletihan kerja " Saut perawat pertama lagi dengan antusias.
" Ya kau benar, andai aku juga beruntung bisa menjadi salah satu keluarga Loyard, pasti sekarang aku sedang shopping di luar negeri dan tidak akan keletihan bekerja " Jawabnya seraya menghela napas panjang.
" Hahaha... kau terlalu tinggi berkhayal " Saut perawat pertama mencibir.
" Kenapa aku tidak boleh berkhayal, tuan Ken saja juga mendapat keberuntungan dengan menjadi keluarga Klan Loyard bukan ? " Balas perawat kedua dengan ketus.
" Iya kau benar, dia beruntung sekali ketua klan mengangkatnya menjadi anak, padahal dia yatim piatu yang tidak jelas asal usulnya. Sekarang dia bisa merasakan kemewahan dimanapun berada " Ucap perawat pertama di penuhi dengan rasa iri.
" Untung saja wajahnya tampan, jadi dia cocok menjadi adik tuan Rai " Celetuk perawat kedua dengan nada mencibir yang tidak di tutup-tutupi.
" Eii.. mungkin saja dia jadi tampan karena anak dari ketua, coba saja kalau dia orang biasa, aku yakin ketampanannya akan berkurang drastis " Sanggah perawat pertama dengan nada mencibir juga.
" Kau benar hahaha... " Kedua perawat itu kemudian terkekeh sendiri dan beranjak pergi dari sana.
Dylan yang mendengar semua hal itu kembali merasakan kemarahan. Dia mengepalkan tangannya menahan emosi. Di tatapnya wajah Ken yang tertutup masker, berusaha menilai ekspresinya di balik maskernya.
Ken yang sedari tadi menoleh kesana kemari, kemudian menoleh ke arah Dylan begitu kedua perawat itu pergi. Dia membuka maskernya dan tersenyum hangat.
" Begitukah yang kau dengar ? " Tanyanya lembut. Hal itu membuat Dylan terkejut. Bagaimana Ken bisa tau, begitulah pikirnya.
Dylan hanya tertunduk malu. Namun Ken berjalan mendekat dan berpindah tempat duduk di sebelah Dylan. Dia mengelus-elus kepala Dylan dengan lembut.
" Hal seperti itu sudah biasa bagiku, aku memang anak angkat, tidak ada yang bisa merubah kenyataan itu " Lanjut Ken kemudian.
" Aku tidak malu dengan pandangan orang lain kepada ku, yang aku pedulikan adalah pandangan Ayah dan kakak padaku. Aku harus menjaga nama baik mereka sebagai bentuk rasa terima kasihku pada mereka. Sebenarnya mereka tidak pernah mempermasalahkan perilaku ku, mereka selalu bilang bagaimana pun diriku, aku tetap keluarga mereka. Hal itulah yang membuatku bertahan dengan semua kata-kata orang di belakangku " Ken menjelaskan dengan santai kepada Dylan yang masih saja menunduk dalam. Ken menghela napas untuk mengambil jeda sejenak, kemudian melanjutkan ceritanya.
" Ayahku, dia tidak pernah membeda-bedakan antara aku dan kakak, pun saat kami kecil dulu. Setiap kakak bersalah, aku juga akan mendapat hukuman, dan setiap aku bersalah maka kakak juga akan mendapat hukuman. Begitulah caranya bersikap adil. Kau tau, kakakku bisa saja protes dan menyalahkan tindakan ayah, tapi dia tidak begitu, dia dengan jantan menjalankan hukumannya tanpa menyalahkan aku atau ayah. Dan saat ku tanya kenapa dia tidak marah, jawabannya membuatku menangis. " Memang beginilah menjadi seorang kakak, kesalahan adiknya adalah kesalahannya, karena aku tidak bisa menjagamu dan mengajarimu dengan baik ". Hal itu yang membuatku merasa di terima oleh keluarga ini " Ucap Ken dengan suara tercekat menahan tangis mengingat bagaimana Rai sangat menyayanginya. Dia menoleh ke arah Dylan yang masih tertunduk dalam.
" Saat kakak tau ayah mengangkatmu menjadi anaknya, dia tidak mempertanyakan keputusan ayah, dia hanya bilang, tanggung jawab kita bertambah satu lagi. Jadi jika kau ingin melakukan hal semau mu, pikirkan lah aku dan kakak, kita semua akan mendapat hukuman yang sama " Lanjut Ken. Dylan yang sedari tadi menunduk kini berurai air mata, pundaknya naik turun karena terisak-isak mendengar penuturan Ken.
Semakin dia mengenal lebih jauh Ken dan klan Loyard, semakin besar rasa hormatnya pada mereka semua. Dan juga tekadnya untuk menjadi seperti Ken atau Rai semakin besar. Dia akan membuktikan kepada ayah angkatnya bahwa dia bisa menjadi seseorang yang hebat seperti mereka semua.
" Seperti kata Ben parker, di balik kekuatan yang besar, ada tanggung jawab yang besar pula " Lanjut Ken memeluk Dylan karena melihatnya menangis semakin keras.
" Aku minta maaf, aku tidak berpikir panjang. Aku hanya marah kepada diriku sendiri. Aku merasa telah sangat jahat kepada kalian semua, aku sangat membenci kalian tanpa alasan yang jelas di masa lalu " Isak Dylan di pelukan Ken.
" Sudah, sudah, masa lalu tidak untuk di bahas, hanya untuk di ingat dan di hindari agar tidak sampai melalukan kesalahan yang sama. Aku yakin ayah menjadikanmu anak karena ayah tau kau memang layak untuk menjadi putra orang sehebat ayahku " Jawab Ken seraya menepuk pelan pundak Dylan.
" Maafkan aku... " Isak Dylan kembali.
" Ya ya aku memaafkanmu, sudah, sudah, apa kata orang kalau kau menangis seperti ini " Jawab Ken seraya terkekeh mencoba menghibur Dylan.
Ken melepaskan pelukannya, dan Dylan mengangkat wajahnya, dia mengusap air matanya seraya memandang Ken dengan pandangan takjub terpesona.
" Satu pesan ku padamu, jangan gunakan kekuasaan yang kau miliki saat ini untuk hal-hal yang bisa merugikan orang lain, mengerti ? " Ken memberikan nasehatnya kepada Dylan yang di jawab dengan anggukan patuh penuh semangat.
" Baiklah kalau kau sudah mengerti " Ucap Ken lembut. Ken membenarkan posisi duduknya saat pelayan datang untuk mengantarkan pesanan mereka.
" Makanlah, ini seperti upacara penyambutan untukmu, selamat datang di keluarga " Lanjut Ken menyodorkan sepiring spageti yang dia pesan.
Dylan kemudian memakan makanan yang disodorkan Ken. Mereka kemudian berbicara panjang lebar tentang Klan Loyard, dan juga beberapa peraturan yang di buat ayahnya.
Setiap cerita yang di meluncur dari mulut Ken semakin menambah rasa kagumnya pada Klan Loyard, dan juga semakin menambah rasa bersalahnya disaat yang bersamaan. Dia terus saja memandang Ken dengan pandangan takjub saat Ken bercerita tentang keluarga barunya, bagaimana sifat-sifat mereka dan kebiasaan mereka. Hingga tanpa sadar matahari telah tenggelam dan Ken segera ingat dengan janjinya kepada sekertaris Yuri.
" Ah aku harus pergi dulu, aku ada tugas penting malam ini " Ucap Ken dengan terburu-buru karena dia harus bersiap-siap lebih dulu mengingat ini adalah misi penting menjaga Raline yang notabene adalah primadona kesayangan Regis, maka sudah bisa dipastikan ini adalah pengamanan tingkat tinggi, dan mungkin saja Ken yang akan memimpin pasukan kali ini, begitulah yang ada di bayangan Ken, sekelompok pasukan dengan bersenjata lengkap.
" Tugas penting apa ? " Tanya Dylan penasaran.
" Nanti kau akan tau sendiri jika sudah cukup umur " Jawab Ken lembut dan menepuk pundak Dylan pelan. Dylan memandanginya dengan takjub.
" Sudah, jangan terpesona begitu. Aku pergi dulu ya " Lanjut Ken seraya berdiri dan pergi meninggalkan Dylan yang masih memandanginya dengan perasaan kagum.
" Tunggu kak " Panggil Dylan setelah Ken beberapa langkah jauhnya.
" Aku tau, aku tidak akan terluka, aku akan baik-baik saja " Jawab Ken penuh percaya diri dengan hanya menolehkan sedikit wajahnya ke arah Dylan dan tersenyum sombong.
" Bukan begitu, siapa yang akan membayar makanan ini ? " Tanya Dylan polos.
" Apa ? " Tanya Ken terkejut dan langsung membalikkan badan, kesal.
" Bilang saja pada kasir kantin, masukkan ke tagihan rumah sakit ku. Aish dasar kau ini, bikin malu saja " Ken cepat-cepat berbalik badan dan berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya.
__ADS_1
" Tadi dia bilang tidak boleh menggunakan kekuasaan, sekarang dia sendiri membayar makanan kantin memakai nama Klan Loyard, dasar ipin labil " Gumam Dylan kesal.