
Ken dan Kiran memutuskan berangkat bersama menjenguk Raline, meskipun dalam hati Ken sendiri sebenarnya tidak yakin, apa lagi alasannya kalau bukan karena Regis ada disana.
" Mmm... Kiran aku ingin bicara sebentar dengan mu " Ucap Ken lirih saat mobil mereka telah sampai di area parkir rumah sakit.
" Ada apa ? " Tanya Kiran bingung karena ekspresi Ken yang sepertinya ragu-ragu sekaligus serius.
" Begini, ayahku ada disana, jadi... " Ken bingung memilih kata yang tepat agar tidak menyakiti hati Kiran.
" Tentu saja " Kiran menjawab maklum, tapi entah kenapa hatinya merasa sedikit terluka, hubungan yang harus di sembunyikan itu juga merupakan kesepakatan mereka berdua.
" Memangnya kau mengerti apa yang ingin ku katakan ? " Tanya Ken penasaran.
" Aku tau, kita bisa berangkat terpisah. Kau pergilah lebih dulu, nanti aku akan menyusulmu " Kiran menjawab dengan tersenyum, tapi matanya tidak bisa berbohong, sedikit rasa kecewa menyeruak keluar dari pancaran matanya.
" Terima kasih sudah memahami ku " Ucap Ken tersenyum lebar.
" Boleh aku memegang tangan mu ? " Tanya Ken sopan.
Kiran mengernyitkan kening tapi dia tetap mengulurkan tangannya. Ken menyambut uluran tangan Kiran dan menggenggamnya erat.
" Maafkan aku karena bersikap tidak jantan kali ini, aku dengan pengecutnya menyembunyikanmu, tapi bukan berarti aku tidak menyukaimu, saat ini hanya kau yang terlihat di mataku, saat pagi hari melihatmu begitu manis aku jatuh cinta, saat siang hari melihatmu kelelahan aku jatuh cinta lagi, dan saat malam aku melihatmu mengantuk aku kembali jatuh cinta lagi, tak terhitung dalam sehari aku jatuh cinta padamu berapa kali, setiap saat dan tak peduli bagaimanapun kondisimu aku selalu jatuh cinta, jadi maafkan aku kali ini yang tidak bisa dengan bangga menggandengmu menemui keluargaku " Ken menjelaskan dengan lembut.
" Tidak apa-apa, bukankah ini juga kesepakatan kita berdua, aku dan kau memang ingin merahasiakan ini, maafkan aku juga karena tidak bisa menjadi wanita pemberani yang berdiri di sampingmu memperkenalkan dirinya sebagai kekasihmu. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu tentang isi hatiku, tapi nanti bukan sekarang, nanti saat laki-laki itu tertangkap kau akan tau bagaimana aku sebenarnya, dan jika sampai saat itu kau masih mencintaiku maka aku akan jadi pemberani untuk kau gandeng dengan bangga di depan semua orang " Kiran menjawab dengan lembut namun juga suara tercekat, bayangannya tentang pamannya dan hal-hal buruk yang menimpanya dulu kembali terputar.
Tidak apa-apa Kiran, kau akan baik-baik saja. Aku hanya harus menekan perasaanku, jadi saat dia tau siapa aku yang sesungguhnya dan pergi, maka rasanya tidak akan terlalu sakit. Dia harus mendapatkan wanita yang luar biasa, bukan wanita dengan segudang trauma dan masa lalu yang buruk seperti ku.
Kiran menatap Ken lekat-lekat, berusaha sekuat tenaga melawan rasa cintanya yang semakin bertumbuh liar tak terkendali.
__ADS_1
" Ok baiklah, aku pergi lebih dulu " Ken melepaskan genggamannya dan keluar dari mobil. Kiran yang melihat itu hanya mampu memandangi punggung datar Ken yang semakin menjauh.
Sementara itu di ruangan khusus Ruby sedang beristirahat di temani oleh Rai dan Regis yang tidak pernah absen sekalipun dari sisi Raline. Seorang tuan putri pewaris Klan telah hadir, jadi bagaimana mungkin mereka meninggalkannya tanpa pengawasan.
Perawat yang datang untuk memeriksa Raline pun bahkan di buat gemetaran oleh tatapan Rai dan Regis, tatapan mereka seperti memancarkan sinar radiasi dalam skala besar saat tangan mungil perawat itu menyentuh tubuh Raline. Membuat Ruby yang terbaring di ranjangnya hanya mampu menghela napas tidak percaya.
" Jangan terlalu terindimidasi suster, abaikan mereka " Jelas Ruby saat melihat perawat itu tampak kikuk memeriksa Raline.
" Ayah sepertinya kita harus membuat peraturan baru, kalau siapa saja bisa menyentuh Raline, lalu dimana harga dirinya, memangnya dia perempuan murahan yang bisa di sentuh oleh setiap orang " Omel Rai kepada Regis yang juga sedang serius mengawasi perawat tadi.
" Kau benar, kita harus membuat undang-undang baru tentang Raline, kita akan mengadakan seleksi ketat tentang siapa-siapa saja yang boleh menyentuhnya, dia harus seperti berlian yang tidak boleh sembarang di sentuh " Angguk Regis setuju.
Daebak ! Bahkan ayahpun setuju dengan ide gila Rai ?
Ruby semakin menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
Dia terkejut melihat perawat itu memeriksa Raline.
" Kenapa dia harus di periksa ? Apa dia sakit ? " Tanya Ken khawatir.
" Tidak tuan ini hanya pemeriksaan dasar saja " Jawab perawat itu sopan.
" Jadi kau menganggap memeriksa Raline bukan hal penting dan kau menyepelekannya ? " Saut Rai emosi, membuat perawat itu dan Ruby juga terlonjak kaget.
" Ti-tidak tuan maksud saya...itu... " Perawat itu mulai tergagap kehilangan keberaniannya yang dari awal memang tidak pernah ada.
" Jadi kau ingin bilang kalau memeriksa Raline hanya sebuah formalitas rumah sakit saja, dan kau melakukannya setengah hati begitu ? " Tanya Rai kembali emosi.
__ADS_1
" Sudah Rai hentikan, kau tau perawat itu tidak bermaksud begitu " Ruby menginterupsi Rai yang sedang emosi.
Suasana hening membentang. Ruby menghela napas, dia tau cepat atau lambat ini akan terjadi, di mulai sejak mengidam saja perlakuan keluarga ini terlalu berlebihan, apalagi setelah Raline lahir dan menjadi sesuai ekspektasi Regis, semuanya berubah semakin kacau.
Ken yang melihat hal itu juga ikut menghela napas, dia merasa kali ini keputusannya salah untuk mengajak Kiran menjenguk Ruby, suasananya sedang dalam masa tegang seperti di area perang dunia ke tiga.
Ken memutuskan untuk kembali keluar dan membujuk Kiran untuk menjenguk nanti saja saat Rai atau Regis tidak ada, akan lebih manusiawi kalau hanya bicara berdua dengan Ruby.
Dia menyelinap diam-diam seperti ninja dan pergi keluar, menelepon Kiran namun tidak ada jawaban. Dia memutuskan untuk mencarinya saja.
Ken langsung menuju lantai bawah rumah sakit, tempat lobby berada. Dia mencari Kiran berkeliling. Nampak Kiran sedang berdiri dan menatap halaman dan tersenyum-senyum sendiri.
Ken mendekatinya perlahan, melihat Kiran dari jauh dengan senyuman cerah membuat Ken seperti terhipnotis. Siluet Kiran dari samping dan tersenyum lebar terpapar sinar matahari pagi membuatnya seperti lukisan.
Dia sangat cantik, belum pernah aku melihat wanita secantik dia, bolehlah kalau dia dijadikan wanita tercantik ke tiga di Klan Loyard, karena posisi pertama sudah jelas ibu pemenangnya, lalu posisi kedua aku harus mengalah untuk marimar, jadi Kiran akan menempati posisi ke tiga.
Ken berhenti sejenak untuk memandangi Kiran.
Tunggu...lalu Raline harus ada di posisi berapa ? Apa dia harus ada di posisi ke empat ? Tapi Raline sangat cantik, kalau aku menempatkannya di posisi ke empat maka ayah dan Rai pasti akan sangat membenci Kiran karena merebut posisi Raline. Lalu Raline akan membenciku karena aku bukan paman yang baik.
Tiba-tiba Ken menjadi galau memikirkan pikiran konyol yang terlintas di benaknya.
Maafkan aku Kiran, sepertinya kau harus mengalah.
Ken memutuskan dengan berat hati, dia kembali berjalan mendekati Kiran dengan lesu.
Kiran berdiri menghadap halaman memang sedikit tertutupi oleh bayangan tembok, Ken berjalan semakin mendekat dan betapa terkejutnya dia melihat Kiran ternyata sedang asyik mengobrol dengan seorang laki-laki, tertawa bersama. Rasa cemburu Ken muncul dan langsung naik ke level 1000.
__ADS_1
" Kenapa dia bicara dengan Kiran " Ucapnya geram seraya mengepalkan tangannya.