
" Hahaha.... " Ken tersenyum kecut melihat apa yang ada di hadapannya saat ini.
Mandi ya ?
Tanyanya pada diri sendiri. Otaknya kemudian mencari pengertian dari kata mandi yang ada di kamus.
Mandi adalah mencuci tubuh dengan air dengan cara menyiramkan air ke badan atau merendamnya dengan tujuan untuk membersihkan diri dari kotoran atau sel-sel kulit mati yang melekat.
Setidaknya begitulah yang di ingatnya sewaktu membaca kamus besar tata bahasa di perpustakaan rumahnya. Namun sepertinya dia melupakan lanjutan dari keterangan yang ada di baris bawahnya.
Bahwa menurut kamus besar tata bahasa, kebiasaan sewaktu mandi, frekuensi, tempat mandi, dan perlengkapan mandi yang digunakan bergantung pada kebudayaan dan kondisi geografis tempat tinggal setiap orang.
Dan itulah yang menjadi point utama dalam situasi yang Ken hadapi saat ini.
Dirinya sedang berada di tepi sungai yang dangkal, dengan air jernih mengalir dan di penuhi bebatuan di tepiannya.
Mandi ya ?
Ulang batinnya bertanya pada dirinya sendiri lagi, masih belum percaya apa yang dilihat oleh mata kepalanya sendiri.
Di sungai yang terlihat indah dengan latar belakang pegunungan hijau itu telah berkumpul ibu-ibu yang sedang mencuci baju, serta anak-anak yang asik bermain air, saling menyiram satu sama lain. Sedangkan di sisi yang lain, di dataran yang lebih rendah dari aliran air sungai tersebut, para bapak-bapak juga terlihat sedang asik mandi, tidak sendiri mereka juga mengajak serta kerbau milik mereka, terlihat bahagia saat menyiramkan air ke atas tubuh kerbau yang melenguh panjang.
" Ngooooo... " Suara kerbau yang di siram air saling bersaut-sautan.
" Hei kenapa masih diam saja, ayo sini cepat " Teriak Kiran yang sudah menceburkan dirinya di sungai yang dalamnya hanya sebatas lututnya.
Ken menghela napas panjang, mungkin memang belum rezekinya dia dan Kiran... Ah lupakan, Ken menggelengkan kepalanya mengusir rasa egois yang mulai meracuni pikirannya.
Dengan malas Ken menuruti perintah Kiran, dirinya menuruni bebatuan tempatnya berpijak saat ini.
Brrrr !! Ken menggigil kedinginan saat kakinya menyentuh air sungai tersebut, dengan cepat dia segera menarik kakinya kembali.
" Airnya terlalu dingin, aku tidak bisa " Jawab Ken menggelengkan kepalanya kepada Kiran.
" Dasar anak manja, ayo sini cepat " Kiran melambaikan tangannya, namun Ken dengan keras kepala menolaknya.
" Ya sudah " jawab Kiran menyerah, dia kemudian bermain air sendirian dengan di awasi Ken dari atas bebatuan yang cukup besar.
Melihat Kiran tertawa lepas dan bahagia seperti itu membuat Ken ingin mengabadikannya dalam sebuah foto, dia kemudian mengambil ponselnya dan mengambil gambar Kiran secara diam-diam.
Tak sia-sia perjuangan Ken harus jauh-jauh menyusulnya kemari hingga tersesat di pemakaman dan semua itu terbayar sudah dengan tawa dan senyuman Kiran yang membuatnya terlihat semakin cantik.
Kiran yang melihat Ken malah sibuk bermain ponsel segera menghampirinya, dan secepat itu juga Ken menyembunyikan ponselnya.
" Hei kenapa disembunyikan ? Memangnya ada apa ? " Tanya Kiran mengambil tempat duduk di sebelah Ken, dengan baju basah kuyup dia menyeka wajahnya yang juga basah oleh air.
" Bukan apa-apa " Jawabnya berbohong.
" Kenapa tiba-tiba kau menyusulku kemari ? " Tanya Kiran berubah serius.
" Tidak ada, aku hanya berpikir ada baiknya juga pergi liburan bersama mu setelah semua yang terjadi, tapi mengajakmu pergi berdua saja agak terasa... " Jawab Ken canggung, topik pembicaraan mereka malah mengarah ke trauma yang Kiran miliki. Kiran sepertinya sadar dengan apa yang di maksud oleh Ken.
" Hei bagaimana kau bisa tersesat kemarin ? " Tanya Kiran mengalihkan pembicaraan.
" Jangan membahas itu lagi, itu semua gara-gara Marimar, dia memberikan alamat yang salah " Sungut Ken kesal.
" Dia tidak salah, aku pernah pergi sekali dengannya kesini, dan memang benar desa ku sebenarnya ada disebalah sana " Tunjuk Kiran ke arah pegunungan.
" Kenapa sekarang berubah ? " Tanya Ken bingung.
" Disana terlalu dataran tinggi, di khawatirkan akan longsor, dan lagi terlalu susah di jangkau kendaraan, jadi kepala desa memutuskan memindahkan perumahan para warga ke tempat yang lebih rendah " Cerita Kiran santai, dan Ken menyimaknya dengan seksama.
" Lalu bagaimana bisa kau sampai kesini ? " Tanya Ken penasaran.
" Salah satu warga disini ada yang memiliki angkot, yang menjadi satu-satunya alat transportasi ke pasar yang ada di dekat jalan raya besar, jadi kemarin saat aku menelepon ibu dan bilang akan menyusulnya, tetanggaku yang menjemputku " Lanjutnya bercerita.
" Tapi bukankah aneh, disini signal ponsel sangat baik " Tanya Ken.
__ADS_1
" Tentu saja, dipasar sana, di dekat jalan besar sudah dibangun tower untuk menyalurkan signal sampai ke pelosok desa. Mungkin kau berpikir desa kami sangat terpencil, tapi kami masih memiliki cukup signal untuk menelepon dan berkirim pesan, tapi jika kau menonton live streaming, lupakan saja, tidak akan lancar " Cerita Kiran antusias.
" Mungkin itu alasannya gps di mobil ku tidak bekerja dengan baik, karena tidak ada wifi disini " Gumam Ken mengangguk-anggukan kepalanya.
" Ah ya kau benar tidak seperti di ibu kota, wifi ada di mana-mana. Syukurlah, aku sempat mengira kau di sesatkan oleh si baung rekso " Jawab Kiran seraya menghela napas lega.
" Si baung rekso ? Siapa itu ? " Tanya Ken bingung.
" Hantu, semacam penunggu hutan di pegunungan ini " Jawab Kiran bergidik ngeri.
" Pff... " Ken menahan tawanya. Kiran yang melihatnya langsung mendelik marah.
" Kau tidak percaya padaku ? " Tanya Kiran ketus.
" Bukan bermaksud meremehkan mu, tapi Kiran, hantu itu tidak ada " Jawab Ken seraya terkekeh.
" Kau salah, semula aku juga percaya hantu itu tidak ada, tapi setelah aku mengalaminya sendiri, aku jadi takut sekarang " Jawab Kiran dengan takut.
" Aku pernah menerima telepon hantu disaat jam 12 malam " Cerita Kiran antusias dengan nada seram.
" Darimana kau tau kalau yang meneleponmu itu hantu ? " Tanya Ken sangsi dengan nada sedikit mengejek.
" Hei kau mengejek ku ? " Tanya Kiran ketus.
" Saat aku sendirian di rumah, dan tidak bisa tidur, tiba-tiba ponsel ku berdering, dan kau tau siapa yang menelepon ku ? Dia adalah orang yang namanya tidak bisa ku sebut " Cerita Kiran dengan suara rendah dan kemudian bergidik ngeri mengingat kembali kejadian waktu itu.
" Oh ya ? " Ken masih belum percaya.
" Dan satu lagi " Lanjut Kiran antusias.
" Aku mendapat kiriman bunga kamboja entah dari mana, dengan sebuah pesan didalam amplop yang di tuliskan dengan tinta merah sewarna darah, hiiiyy... " Kiran lagi-lagi bergidik ngeri saat menceritakan pengalaman horornya.
" Uhuk uhuk " Ken terbatuk-batuk mendengar cerita Kiran, wajahnya berubah pias seketika.
" Apa kau tau siapa yang mengirim bunga kamboja itu padamu ? " Tanyanya ragu-ragu.
" Fiuhh... " Ken menghela napas lega dan mengelus-elus dadanya
Selamat... selamat... selamat, aku masih di lindungi. Ok simpan rahasia ini sampai ke liang lahat.
Janjinya pada diri sendiri.
" Hei bukankah disini pemandangannya sangat cantik ? " Tanya Kiran mengalihkan pembicaraan, dengan mata berbinar dan rambutnya yang tertiup angin sepoi serta wajahnya yang di terangi sinar matahari pagi yang lembut membuat Kiran terlihat sangat cantik.
" Ya cantik " Jawab Ken terpesona memandangi wajah Kiran yang bersemu merah, jauh dari kesan tertutup yang selama ini dia perlihatkan.
Seakan tersihir oleh makhluk Tuhan paling cantik versi Ken sendiri, tanpa sadar tubuhnya tergerak maju.
Cup !! Sebuah kecupan mendarat di pipi Kiran yang sedang asyik bercerita, seketika dia menghentikan ceritanya.
" Hah ?!?! " Ken yang tersadar segera menarik dirinya menjauh dan menutup mulutnya.
" Ki-Kiran...aku... " Ucap Ken dengan terbata-bata karena panik.
Jantung Kiran seperti sedang lomba pacuan kuda, berdetak dengan frekuensi yang tidak bisa di hitung dengan hukum alam manapun. Wajahnya merona merah, dan seluruh tubuhnya terasa panas, namun semua yang di rasakannya saat ini justru membuat tubuhnya membeku diam tak bergerak.
Bodoh, bodoh, bodoh !!!
Ken memukul pelan mulutnya sendiri dan mengutuki tindakannya yang begitu ceroboh.
" Hei ingin berfoto dengan ku ? " Ajak Kiran tiba-tiba, sikapnya sangat biasa seperti tidak pernah terjadi insiden apapun.
" Ya...tentu... " Jawab Ken yang semakin tergagap karena melihat reaksi Kiran yang sangat di luar nalar, bayangan Ken adalah Kiran akan menamparnya dengan keras, sebagai hukuman paling ringan, atau berlari dengan menjerit-jerit serta menunjuknya dengan takut seraya meneriakinya sebagai orang mesum, adalah hal terburuk yang bisa di bayangkan Ken.
Namun kedua prediksi Ken salah besar, Kiran terlihat tenang dan biasa saja, bersikap normal sangat normal malah, jika di kategorikan dia adalah korban. Lain hal nya dengan Ken yang adalah pelakunya dalam kasus ini, dia panik dan mengacak-acak rambutnya sendiri.
" Mana ponsel mu ? " Tanya Kiran yang melihat Ken masih panik.
__ADS_1
" I-ini... " Ken merogoh sakunya dengan tangan yang gemetaran.
" Ayo ambil foto bersama " Sautnya riang.
" O-ok... " Ken masih saja belum bisa menguasai rasa terkejutnya.
Dengan pikiran yang masih bingung, Ken memencet tombol pintas menuju aplikasi kamera, dan mengaturnya menjadi timer otomatis untuk mengambil foto selfi mereka berdua, karena dia tidak akan mampu berkonsentrasi untuk mengambil gambar yang bagus dengan tangannya yang terus saja gemetaran.
" Ok siap ? " Tanya Kiran kemudian bergerak lebih mendekat ke arah Ken.
Wajah mereka berdua terpampang jelas di layar ponsel milik Ken, Kiran tersenyum lebar dan terlihat bahagia, namun wajah Ken berbanding terbalik, terlihat kaku dan gugup.
3...2...
" Ken " Panggil Kiran tiba-tiba disaat-saat terakhir waktunya pengambilan gambar, Ken yang di panggil pun menoleh cepat ke arah Kiran.
1...cekrek...
Cup !! Bibir Kiran dan Ken bertemu bersamaan dengan pengambilan gambar otomatis dari kamera ponsel Ken.
Mata Ken terbelalak mendapat kejutan yang tak terduga dari Kiran, untuk beberapa saat mereka masih dalam posisi yang sama, masing-masing tidak ada yang ingin bergerak dan mengakhiri momen indah tersebut.
Ciuman yang manis dengan latar belakang yang cantik, sebuah kesempurnaan untuk menjadi ciuman pertama di bibir Ken yang perawan.
" Aku sudah menepati janji ku untuk mencium mu " Bisik Kiran setelah dia melepaskan bibirnya dari bibir Ken.
Tidak ada kata yang bisa menggambarkan suasana hatinya saat ini, dan Ken hanya mengangguk dengan senyum bahagia yang terpancar jelas dari matanya.
Kiran memperbaiki posisi duduknya, dan menghindari tatapan mata Ken yang penuh cinta.
" Hei jangan menatap ku terus, aku malu " Ucap Kiran dengan wajah yang merona merah.
" Oh...ah... " Jawab Ken tergagap dan juga memalingkan wajahnya menghadap ke sungai.
" Kau baik-baik saja ? " tanya Ken ragu-ragu.
" Trauma ku ? " Tebak Kiran santai seperti bisa membaca pikiran Ken.
" Hm... " Angguk Ken samar-samar.
" Tidak buruk, aku baik-baik saja " Jawab Kiran menunduk malu.
" Darimana kau belajar memberi kejutan manis seperti itu ? " Tanya Ken penasaran.
" Aku bertemu Lucas kemarin, dan dia memberikan ku saran-saran yang cukup berhasil juga untuk mengatasi trauma ku " Jawabnya masih dengan malu-malu.
" Lucas ? " Tanya Ken mengernyit heran.
" Ya dia mengambil kuliah jurusan psikologi, dan kami berbagi cerita, lalu dia menyarankan beberapa hal tentang melawan trauma ku " Jelas Kiran lebih detai.
" Sepertinya aku harus menemuinya untuk berterima kasih, berkat dia aku mendapatkan ciuman spesial dari mu " Jawab Ken tersipu malu.
" Hei jangan di bahas terus, aku benar-benar malu sekarang " Kiran menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
" Mulai sekarang aku ingin melawan rasa trauma ku, dan mendapat ciuman lebih banyak darimu. I Love you " Lanjutnya lagi dari balik telapak tangannya.
Mendengar Kiran mengucapkan kata semanis itu, membuat Ken memalingkan wajahnya yang sudah pasti merona malu. Jantungnya semakin berdetak tak terkendali, seperti ada banyak balon-balon berbentuk hati yang berterbangan di dalam dadanya hingga rasanya sesak memenuhi seluruh dadanya.
Akhirnya....akhirnya....akhirnya aku mendapatkan keberuntungan, aku bebas dari kesialan di saat yang tepat, romantis, manis dan ciuman....Aahh aku malu.
Jerit batin Ken girang, jika saja hanya ada mereka berdua Ken pasti sudah berjingkrak-jingkrak girang dan berjoget-joget bahagia.
" Aku...aku juga mencintai mu " Jawab Ken lirih dan malu-malu, namun tidak ada jawaban dari Kiran. Ken berpikir Kiran tidak mendengarnya karena suaranya terlalu lirih.
" I love you " Ulangnya lagi dengan suara yang lebih keras dan dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah Kiran.
" Maaass Ken... " Jerit bahagia nenek Mis saat mendengar kata-kata cinta dari mulut Ken untuknya.
__ADS_1
" HIIIAAAA !!!! " Teriak Ken histeris begitu melihat nenek Mis sudah duduk di sampingnya dan wajahnya yang berhadapan sangat dekat dengannya.