
Waktu makan siang tiba, Ken sudah bersiap-siap segera keluar kamar, dia tidak sabar ingin bertemu Kiran dan memberikan tepuk tangan untuknya meskipun terlambat. Dia tidak ingin bertengkar dengan Kiran lagi, terlebih hari ini adalah hari pertamanya jadian, dia tidak ingin ini menjadi hari yang buruk.
Ken berjalan cepat langsung menuju restoran resort yang sudah di penuhi oleh murid-murid yang sedang berbaris mengantri makan siang. Ken mengedarkan pandangannya mencari Kiran, namun dia tidak ada dimanapun, bahkan di meja khusus guru-guru juga Kiran tidak terlihat. Ken memutuskan untuk menghampiri meja itu.
" Selamat siang semuanya " Sapa Ken ramah dan sopan, tapi matanya menyelidik keberadaan Kiran atau siapapun yang biasanya terlihat dekat dengan Kiran.
" Selamat siang pak Ken " Guru-guru kompak berdiri dan membungkukkan badan menyambut kedatangan Ken yang tiba-tiba.
" Kalian ingin makan siang ? " Tanya Ken basa-basi.
" Ya tuan, silahkan duduk " Pak Joni selaku ketua panitia memberikan tempat duduknya kepada Ken, dan Ken tersenyum menerimanya. Dia segera duduk di tempat duduk tersebut.
Ken berpikir jika dia ikut makan siang bersama para guru, dia akan memiliki kesempatan melihat Kiran walau harus berusaha bersikap biasa dan mencuri-curi pandang.
Tak lama berselang Kiran dan Bu Lia pun datang, Kiran terlihat sangat cantik dengan pakaiannya yang feminin kali ini, dress selutut berwarna coral dengan motif bunga-bunga kecil seakan membuat suasana ikut berbunga-bunga indah.
Kiran memang guru tercantik di sekolah, tidak bisa di pungkiri, kedatangannya seperti menghipnotis semua laki-laki, murid-murid dan guru-guru bahkan para pelayan restoran.
Dia berjalan langsung menuju meja khusus guru. Ken yang juga sudah duduk disana menunggu kedatangannya, merasa sedikit tidak senang dengan kepopuleran Kiran.
" Selamat siang " Kiran menyapa semua guru dan langsung duduk di depan Ken, dia bersikap acuh padanya karena masih merasa kesal.
" Selamat siang " Balas semua guru yang sudah lebih dulu berada disana, tapi Ken malah diam saja tidak membalas sapaannya, dia sedang tidak berkonsentrasi dengan keadaan sekitar, dia terlalu sibuk berpikir kapan waktu yang tepat untuk memberikan tepuk tangannya tanpa menimbulkan kecurigaan.
" Waah bu Kiran memang luar biasa, dia selalu jadi primadona dimanapun dan kapanpun " Puji Pak Joni seraya bertepuk tangan pelan kepada Kiran.
Kiran yang mendapat pujian itu tersenyum tersipu, sedangkan Ken yang melihatnya terkejut dan merasa kesal, dia tidak menyangka dan tidak memperhitungkan orang lain akan memberikan Kiran pujian dan tepuk tangan.
__ADS_1
Sialan, harusnya aku yang memberikannya tepuk tangan. Ini karena aku tidak berkonsentrasi, aku harus lebih konsentrasi lagi aku tidak boleh lengah sedikitpun.
Ken merutuki dirinya sendiri.
" Sejak Bu Kiran bergabung di sekolah kita, rasanya seperti sekolah kita akan membuka kelas modeling saja, karena ada guru secantik bu Kiran " Pak Doni juga memuji Kiran dan memberikan tepuk tangan pelan. Kiran membalasnya dengan senyuman tulus dan wajah merona.
Ken yang melihat itu terkejut sekali lagi, dia melirik tajam ke arah pak Doni dan pak Joni, merasa kesal kenapa laki-laki itu harus memuji Kiran, dan kenapa juga dia bisa terlambat memberikan tepuk tangannya.
Bukankah mereka berdua sudah menikah, lalu kenapa mereka memuji wanita lain. Tapi semua guru terlihat biasa saja, kalau aku juga memuji Kiran pasti mereka curiga karena aku belum menikah, lalu mereka akan mulai bergosip, aish menjalin hubungan backstreet seperti ini sangat rumit.
Ken kembali sibuk dengan pikirannya sampai tidak mendengarkan pembicaraan para guru, dan dia tersadar saat Pak Andreas juga memberikan tepuk tangan pelan untuk Kiran, Ken semakin gelisah, kesempatannya untuk memberikan tepuk tangannya sekali lagi melayang.
Dia bertekad kali ini dia yang akan memberikan tepuk tangannya untuk Kiran, tidak boleh orang lain. Jadi apapun yang orang lain katakan dia akan langsung memberikan tepuk tangan lebih dulu, tidak boleh ada yang menyerobotnya lagi.
" Oh ya bu Kiran, saya dengar anda tinggal sendiri karena ayah anda sudah meninggal ? " Tanya Bu Lia kepada Kiran, dan di jawab dengan anggukan Kiran. Wajahnya berubah sedih karena dia teringat ayahnya. Dan guru-guru yang lain pun juga ikut memasang ekspresi sedih sebagai penghormatan.
Semua guru menatap Ken dengan bingung, karena Ken malah bertepuk tangan dengan wajah bahagia saat Kiran bercerita tentang keadaan sedihnya.
" Wah wah wah itu sungguh bagus sekali, benar-benar bagus " Puji Ken berlebihan, dia ingin menunjukkan pada Kiran bahwa dia bukan kekasih yang cuek.
Kiran yang terkejut dengan Ken menatapnya tajam, dia semakin merasa kesal.
" Ada apa ? " Tanya Ken kikuk karena semua mata memandangnya saat ini, terlebih lagi melihat tatapan Kiran padanya.
" Kenapa anda terlihat bahagia sekali dengan kematian ayah saya pak Ken ? " Tanya Kiran tajam dan ketus.
" Apa ? " Ken masih belum sadar situasi dan tidak mengerti maksud Kiran. Dia melihat sekelilingnya lagi, dia memang tidak berkonsentrasi pada isi dari percakapan mereka, dia hanya berkonsentrasi pada usahanya memberikan tepuk tangan sebelum di dahului yang lain.
__ADS_1
" Pak Ken kami paham mungkin anda memang tidak menyukai bu Kiran karena julukan-julukan buruknya yang dia berikan di belakang anda, tapi bukankah keterlaluan bertepuk tangan dengan bahagia saat bu Kiran bercerita tentang kesedihannya ? " Pak Joni memberitahukan dengan sopan.
" Memangnya bu Kiran bercerita apa ? " Tanya Ken masih bingung.
" Bu Kiran bercerita kalau ayahnya sudah meninggal " Pak Joni menjawab dengan raut wajah sedih.
" Haah ! " Ken terkejut dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Dia tidak mendengarkan isi pembicaraan tersebut.
Bagaimana ini ? Kenapa aku malah bertepuk tangan saat tau ayahnya sudah meninggal, apa yang akan dia pikirkan tentang ku sekarang. Bodoh, bodoh, bodoh.
Ken menatap Kiran dengan wajah bersalah, namun Kiran menatap Ken dengan wajah penuh amarah yang membara.
" Terima kasih atas tepuk tangannya yang meriah pak Ken " Kiran menjawab dengan menekankan kata-katanya, menahan geram.
Semua guru menggeleng-gelengkan kepala prihatin melihat sikap Ken, membuatnya semakin terpojok.
Habis sudah aku, dia terlihat marah sekali.
Ken menundukkan kepalanya dan bergegas memulai makan siangnya.
Aku benar-benar tidak percaya dia tega bertepuk tangan sekeras itu saat tau ayahku sudah meninggal. Apa benar dia menyukai ku ? Aku kesal sekali padanya.
Kiran sibuk memaki Ken yang duduk di hadapannya, tanpa sadar mengambil segelas besar air putih dan langsung meneguknya sampai habis, dia meletakkan gelas kosongnya dengan keras, membuat semua orang yang ada di meja makan tersebut terlonjak kaget.
Sepertinya pak Ken sengaja melakukan itu untuk membalas bu Kiran, ya mereka pasti sangat tidak akur.
Pak Tomy semakin yakin kejadian yang di lihatnya tadi tidak seperti yang dia bayangkan. Tidak mungkin Ken dan Kiran memiliki hubungan. Dan dia memutuskan tidak akan menyebarkan gosip yang dia lihat di lorong resort. Tentang Kiran yang mual dan Ken yang mengelus perut Kiran.
__ADS_1