Cinta Big Bos ( Buku Ken )

Cinta Big Bos ( Buku Ken )
Dylan


__ADS_3

Mereka sarapan dalam diam, Ken tidak berselera makan saat ini. Dia hanya ingin segera pergi dari sini untuk lari sejauh mungkin dari Kiran yang mungkin sudah menganggapnya bukan manusia lagi mengingat dia selalu bertingkah aneh saat di dekatnya.


" Rahul " Panggil Kiran tiba-tiba berusaha memecah keheningan, dia sengaja memanggil Ken dengan sebutan itu karena mengingat aksi konyolnya tadi di depan restoran.


" Jangan ! " Saut Ken ketus kepada Kiran, wajahnya terlihat malu bercampur kesal.


" Sudahlah tuan, aku tidak masalah dengan mu, lagipula Ruby sudah bercerita tentangmu semuanya " Kiran tertawa menghibur Ken.


" Semuanya ? " Tanya Ken mengulang.


" Ya semuanya, tanpa terlewat " Kiran menjawab mantap.


" Aish dasar marimar durjana " Maki Ken kesal, tapi kemudian dia melirik Kiran yang sedang tertawa cekikikan dengan ekor matanya. Jantungnya langsung berdegub kencang. Mungkin memang benar bahwa dia sudah jatuh cinta pada Kiran.


" Kau tidak perlu malu tuan, semua orang bisa bersikap konyol, tidak ada hukum yang melarangnya" Kiran tetap tertawa menghibur Ken yang berada di depannya.


" Jangan panggil aku tuan, panggil saja aku Ken " Ucap Ken santai, dia sedang menikmati pemandangan langka di depannya. Kiran yang terlihat bahagia dan tertawa lepas.


" Baiklah tuan Ken " Kiran menjawab masih di sela tawanya.


" Hm ? " Ken mengerutkan alisnya.


" Baiklah, baiklah Rahul " Jawab Kiran meralat ucapannya dan sekaligus menggoda Ken.


" Hei bagaimana bisa kau samakan aku dengan Rahul yang ketinggalan jaman itu " Saut Ken berpura-pura kesal.


" Hahaha... " Kiran lagi-lagi tertawa keras membayangkan Ken yang seperti tokoh film bollywood yang lagunya sedang mereka dengarkan saat ini


" Kalau aku Rahul maka kau siluman ular yang kalau di mainkan seruling akan meliuk-liuk " Balas Ken sengit.


" Siluman ular ? " Tanya Kiran heran.


" Ya kau seperti siluman ular yang matanya selalu melotot itu " Jawab Ken asal.


" Jadi kau tau film itu ? " Tanya Kiran takjub.


" Ya dulu saat kecil aku dan kakak harus menemani ibu menonton semua acara tv untuk membunuh bosan. Mulai dari acara dari negera india, negara latin, sampai negara ini " Ken menceritakan masa kecilnya.


" Kita sama, aku dulu juga sering menonton acara-acara seperti itu " Saut Kiran antusias.


Dan mereka bernostalgia tentang masa kecil mereka yang hanya berjarak satu tahun. Ken seperti baru saja menemukan sosok Kiran yang lain, Kiran seperti yang di ceritakan Ruby, ceria dan juga cerewet.


" Ah ya kau akan melakukan apa hari ini ? " Tanya Ken penasaran.


" Aku hanya akan pergi kuliah, karena aku kuliah di universitas terbuka, jadi aku hanya pergi kuliah di hari minggu " Kiran menjawab santai dengan melahap bubur ayamnya.


" Sebenarnya kau kuliah jurusan apa ? " Tanya Ken heran melihat Kiran, di usianya yang seharusnya sudah lulus kuliah, dia malah baru memulai kuliahnya.


" Aku mengambil jurusan keguruan untuk mengajar TK " Jawab Kiran malu-malu.


" Anak TK ? " Ulang Ken tidak percaya. Pantas saja dia begitu telaten menghadapi curhatan setiap murid laki-laki di sela jam istirahat mereka.


" Ya aku suka sekali dengan anak kecil, kau tau saat mendengar Ruby sudah menikah dan hamil aku bahkan melamar untuk jadi babysitter nya " Jawab Kiran antusias.


" Benarkah ? Baguslah kalau begitu " Ken mengangguk mantap. Dia akan sangat senang menerima Kiran sebagai babysitter Junior nanti, dengan begitu dia bisa lebih akrab dengannya, atau sebaiknya mereka menikah dan punya junior sendiri, itu akan lebih baik. Tiba-tiba wajah Ken bersemu merah karena pikirannya sendiri yang mengkhayal terlalu jauh tentang dirinya dan Kiran.

__ADS_1


" Ah ya sebenarnya aku ingin membicarakan sesuatu " Kiran ragu-ragu memulai pembicaraan, tujuan utamanya untuk menemui Ken.


" Begini di sekolah kita ada murid bernama Dylan, dia terlihat sangat acuh bahkan terkesan tidak sopan kepada guru. Namun yang membuatku terkejut adalah dia ternyata bertetangga dengan ku, dan saat pulang sekolah beberapa hari yang lalu aku melihatnya di pukuli oleh preman " Kiran menjelaskan garis besarnya.


" Mungkin perkelahian antar remaja, kau tau hal biasa seperti itu. Mereka masih muda, emosi yang melonjak-lonjak jadi mungkin saja berkelahi " Ken menjawab malas karena Kiran membahas laki-laki lain saat bersamanya.


" Tapi mereka adalah preman dari Klan Loyard, setidaknya itulah yang ku dengar dari mulut Dylan " Kiran menjelaskan lagi. Kali ini Kiran menarik perhatiannya, dia membenahi posisi duduknya menjadi lebih serius.


" Klan kami tidak mungkin memukuli seorang pelajar, dan lagi pula apa salahnya sampai harus di pukuli ? " Ken bertanya seperti lebih kepada dirinya sendiri.


" Itulah masalahnya, dari yang ku dengar Dylan sangat membenci klan Loyard, tapi dia bersekolah khusus di sekolah milik Loyard, bukankah itu aneh ? " Kiran menjabarkan asumsinya.


" Tenang saja aku akan menyelidiki nya, kau tidak perlu khawatir " Ken menenangkan Kiran yang terlihat sangat penasaran dengan muridnya.


" Tidak bisa, dia murid ku, dan aku guru BK, aku harus mencari tau apa yang terjadi dengan murid-murid ku " Kiran menjawab penuh semangat.


Baiklah mungkin ini kesempatan untuk dekat dengannya, aku akan menemaninya bermain detektif - detektifan dan bisa terus bersamanya. Ini akan menyenangkan.


" Baiklah kalau begitu aku akan bersama mu mencari tau tentangnya " Ken menjawab yakin.


" Benarkah ? Terima kasih kalau begitu " Ucap Kiran dengan tertawa lebar dan bahagia.


Setelah selesai sarapan mereka berdua kembali ke kost Kiran. Mobil Ken berhenti di depan gedung kost Kiran.


" Kau bilang dia tinggal di sebelah kamar mu ? " Tanya Ken membuka pembicaraan.


" Ya tapi yang aneh, dia tidak pernah sekalipun keluar kamar, dan disana sangat sepi " Kiran menjelaskan dengan lirih penuh nada misteri.


" Jangan-jangan dia mata-mata yang sedang menyamar untuk mencari tau kelemahan sekolah kita ? " Ken berasumsi sendiri, asumsi yang konyol.


" Mata-mata dari mana ? " Tanya Kiran heran.


" Yang benar saja ? Memangnya kau pikir ini di film-film action ? " Kiran mencibir Ken.


Kemudian mereka tersenyum bersama mentertawakan asumsi konyol mereka.


" Baiklah saat ini kita tidak usah memata-matainya dulu, aku harus pergi kuliah " Kiran menyudahi pembicaraannya dan akan keluar dari mobil.


" Tunggu dulu " Ken mencegahnya, dia memegang tangan Kiran. Dan anehnya Kiran tidak menepisnya seperti awal-awal mereka bertemu dulu.


" Aku akan mengantarmu, bagaimana ? Aku bosan di rumah tidak ada hal yang bisa ku kerjakan " Suara Ken berubah sedih yang di buat-buat.


" Hmm... " Kiran menimbang-nimbang permintaan Ken.


" Baiklah, tapi dengan syarat kau jangan menganggu ku " Kiran menyetujuinya.


" Tenang saja, aku akan sediam angin " Ken menjanjikan dengan yakin kepada Kiran.


" Baiklah, tunggu disini aku hanya akan berganti baju dan turun lagi " Kiran menjawab dan segera pergi keluar mobil, setengah berlari kembali masuk ke gedungnya.


" Pergi kencan, pergi kencan, pergi kencan... " Ken berjoget-joget di dalam mobilnya.


" Sarada kau jangan beritahukan ini pada Hinata, kalau tidak dia akan cemburu pada Kiran " Ocehnya sendiri sambil menepuk pelan setir mobilnya.


Namun dia di kejutkan dengan ketukan di jendela mobilnya. Ken yang tidak berkonsentrasi terlonjak kaget. Dia melihat ke arah jendela. Seorang anak remaja berdiri di depan pintu mobilnya.

__ADS_1


Ken membuka jendela mobilnya. Mengernyitkan alis heran.


" Hei paman tua, jangan parkir kendaraan mu disini, kau tidak baca tulisan di larang parkir ? " Ucapnya dengan ketus dan acuh.


Ken mendongak untuk melihat rambu lalu lintasnya, namun tidak ada tulisan di larang parkir. Dia menoleh kesal ke arah anak laki-laki diluar mobilnya.


" Dasar bocah " Ketus Ken dan keluar dari mobil.


" Hei bocah, aku belum setua itu untuk kau panggil paman, dan lagi mataku belum rabun. Tidak ada rambu itu " Maki Ken sambil berkacak pinggang di depan anak laki-laki itu.


Anak itu cukup tinggi dan tampan untuk ukuran anak-anak, dia juga memiliki otot-otot yang lumayan kekar di balik kaosnya yang tanpa lengan. Memakai pakaian olahraga dengan handuk tersampir di leher, sepertinya dia baru selesai joging. Keringat menetes-netes di dahinya, jatuh dari pucuk-pucuk rambutnya yang berantakan.


" Ah kau rupanya, pantas saja aku bertanya-tanya siapa yang mengendarai mobil semewah ini di tempat kumuh seperti ini " Cibir anak iku mengusap keringat di lehernya dengan handuk.


" Kau tau aku ? " Ken bertanya heran.


" Ya dan tidak " Jawabnya acuh.


" Dasar anak-anak jaman sekarang, tidak menghormati orang tua " Omel Ken sengit.


" Jadi kau ada urusan apa disini ? " Tanya Dylan curiga, dia benar-benar waspada terhadap klan Loyard.


Apa sampai harus dia yang turun tangan untuk membereskan aku ? Apa rahasia itu sepenting ini ?


Selidiknya mengamati Ken dari atas ke bawah dan kembali lagi.


" Dasar bocah nakal, kenapa bicara informal kepada ku ? Umur ku lebih tua dari mu ! " Ken mulai kesal dan kehabisan kesabaran.


Ken melemparkan pandangannya ke arah gedung di depannya, dan melihat Kiran yang sudah berganti pakaian dan menuju ke arahnya.


" Kali ini kau selamat karena dia, kalau tidak " Ken mengangkat tangannya ke udara.


Anak itu menoleh mengikuti arah pandangan Ken di belakangnya, dan terkesiap melihat siapa yang di maksud oleh Ken.


Kenapa dia disini ? Dan apa hubungannya dengan pak tua ini ?


Anak itu melotot melihat Kiran yang berjalan mendekat.


" Dylan ? " Pekik Kiran terkejut.


" Kau ? " Dylan juga menunjuknya berbarengan.


Dylan segera menoleh ke arah Ken, semakin menyelidiknya dengan tatapan curiga.


Dia sepertinya gadis polos, ternyata dia busuk juga.


Maki Dylan dalam hati melihat Kiran.


" Selamat pagi " Ucap Kiran terbata-bata merasa rahasianya terungkap bahwa dia adalah tetangga Dylan.


" Kau kenal dia ? " Tanya Ken heran melihat Kiran menyebut nama Dylan.


" Dia murid di sekolah kita " Ucap Kiran takut-takut.


" Aku tidak sudi mengakui sekolah preman itu sebagai sekolah ku " Ucap Dylan sinis dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Bukan urusan ku, bukan urusan ku, bukan urusan ku.


Dylan menggelengkan kepala mengusir pikirannya yang melayang-layang.


__ADS_2