
Seharian ini di habiskan Ken hanya dengan merutuki kebodohannya, karena terlalu percaya pada ucapan Rai. Andai saja dirinya semalam tidak terlalu mabuk, tentu dia tidak akan mengiyakan tawaran Rai yang berjanji membuat dirinya dan Kiran kembali berbaikan.
Dengan kesadaran yang tersisa tidak lebih dari 50 persen itulah, Ken bercerita panjang lebar tentang kisah asmaranya dengan Kiran yang terlalu rumit.
" Aku kan tidak meminta dia gantian membayar saat kita makan bersama, atau aku tidak meminta dia mengganti uang bensin saat aku mengantar jemput nya, jadi kenapa saat aku hanya meminta ciuman sebagai bukti bahwa dia mencintai ku, dia malah marah-marah begitu ? " Racau Ken di antara kesadarannya di bar mini yang ada di kamarnya.
Rai menghela napas jengah, dia melihat jam tangannya, sudah hampir tengah malam, dan sudah lebih dari 2 jam dia menunggui Ken minum-minum hingga akhirnya mabuk, namun 1 jam terakhir malah di habiskannya untuk mendengarkan Ken yang terus saja mengulang-ulang ceritanya.
" Iya iya dia memang keterlaluan, kau tenang saja " Jawab Rai asal dan menepuk pelan pundak Ken.
" Aku akan membalasnya untukmu " Lanjutnya malas.
" Hei !! " Teriak Ken marah mendengar jawaban Rai.
" Apa lagi !! " Teriak Rai juga tak kalah marahnya, habis sudah kesabarannya. Duduk disana dan mendengarkan Ken mengoceh kesana kemari tidak jelas dan tidak memperbolehkannya pergi, membuat kakinya merasa kesemutan dan pegal.
" Dia itu calon adik ipar mu, bagaimana kau bisa begitu kejam berniat akan membalasnya " Maki Ken kesal, namun kemudian menangis lagi dengan keras.
" Astaga... ini akan berlangsung semalaman " Gumam Rai pasrah melirik Ken yang sudah bergoyang-goyang limbung di tempat duduknya.
" Tapi bukankah dia sangat kejam ? " Rengeknya memelas, membuat Rai berdecak kesal.
" Aku kan tidak meminta dia gantian membayar saat kita makan bersama, atau aku tidak meminta dia mengganti uang bensin saat aku mengantar jemput nya... " Racaunya terus saja mengulang-ulang cerita yang sama.
" Demi mermaid man dan barnacle boy, kenapa juga aku meladeni ucapannya " Menghela napas panjang dan menghembuskannya kasar dengan lirikan jengah.
Ken baru berhenti mengoceh setelah Rai memukul kepalanya pelan yang membuatnya ambruk seketika. Dengan kesal dia mengangkat tubuh Ken, membawanya menuju kasur dan membantingnya dengan asal, kemudian pergi untuk melaksanakan rencananya.
Dan saat sarapan bersama, saat kesadaran Ken telah sepenuhnya pulih dari rasa mabuk yang menderanya, barulah Rai memberitahukan semuanya pada Ken. Tentang kejutan yang dia berikan untuk Kiran, dan tentu saja sudah sangat terlambat untuk datang ke sekolah pagi-pagi mengambil kembali bunga jahanam yang di berikan Rai pada Kiran.
" Aish bagaimana ini ? Masalah yang satu saja belum selesai, sekarang bertambah lagi " Gerutunya kesal mondar mandir di ruangannya.
" Aku harus memberikan alasan apa padanya ? Maaf aku terlalu mabuk jadi tidak sengaja memberikan bunga jahanam itu, begitu ? Dan sudah bisa di pastikan dia akan semakin membenciku, atau aku bilang saja bahwa kakak yang memberikan bunga itu ? " Pikirnya pasrah.
" Tidak, tidak, itu malah hanya akan memperburuk keadaan " Ocehnya lagi.
Dia berhenti sejenak, menghentak-hentakkan kakinya cepat, dengan satu tangan menopang kepala dan satu lagi menahan di dadanya, dia memutar otak briliannya untuk memberikan alasan terbaik dan masuk akal untuk di berikan kepada Kiran.
Bel makan siang berbunyi, Ken melihat jam tangannya, terkejut karena tak terasa waktu sepertinya berputar dengan cepat, dia bahkan belum berhasil memikirkan alasan yang tepat untuk Kiran.
__ADS_1
" Aish hadapi saja, bukankah aku laki-laki, aku harus bersikap jantan " Teriaknya menyemangati dirinya sendiri. Dia menegakkan punggungnya dan membusungkan dadanya berani kemudian bergegas keluar ruangannya untuk mencari Kiran di kantin.
Sudah cukup banyak kesalahan yang di lakukannya. Entah apakah hanya dengan kata maaf akan cukup menggambarkan perasaan bersalahnya yang mendalam atau tidak, yang pasti dia tidak ingin lagi terlalu larut dalam pertengkarannya dengan Kiran.
Kiran yang sedang berjalan menuju kantin bersama guru-guru yang lainnya bertemu Ken di persimpangan lorong. Semua guru menundukkan kepalanya menyapa Ken dengan hormat, namun hanya Kiran saja yang terlihat masih acuh, membuang muka untuk mengabaikan Ken.
Dia marah, dia sangat marah. Tentu saja dia marah, wanita mana yang tidak marah di berikan bunga kamboja sebagai hadiah, bukannya membayangkan berada di tengah taman bunga yang indah, dia malah akan membayangkan berada di tengah pemakaman. Aish semua ini gara-gara Rhoma.
Makinya kesal, membuat tubuhnya yang semula tegap percaya diri kini kembali melenting takut.
Mereka semua berjalan menuju kantin bersama-sama, dan ikut mengantre di barisan, karena Ken ikut dalam rombongan, tentu saja dia bebas mengantre, pelayan yang melihatnya segera datang tergopoh-gopoh menanyakan pesanannya. Dia melirik Kiran sekilas, yang ikut mengantre diantara para guru di posisi paling belakang sendiri. Ini lah kesempatannya untuk berbicara dengan Kiran.
Dengan gerakan tangannya dia menolak layanan yang akan di berikan para pelayan dan lebih memilih ikut mengantre di belakang Kiran.
" Ehem... ehem... " Ken berdehem pelan untuk memberitahu keberadaannya pada Kiran.
" Kau terlihat cantik dan bahagia hari ini " Pujinya lirih.
" Oh ya ? " Saut Kiran malas.
" Tentu saja, kau selalu cantik setiap hari " Lanjut Ken.
" Sepertinya kau harus ke dokter mata " Jawab Kiran malas.
Kiran meliriknya dengan jengah, melihat Ken yang tersenyum malu-malu seperti itu membuatnya semakin merasa kesal. Bagaimana bisa Ken sangat tidak peka dan perhatian seperti itu.
Dia membalikkan badannya menghadap Ken yang masih menunduk dan tersenyum-senyum.
" Apa seperti ini masih terlihat cantik ? " Tanya Kiran ketus dan melipat kedua tangannya di dada.
Ken mendongakkan kepalanya menghadap Kiran dan menatap wajahnya.
" Hua !! " Teriaknya syok dan mundur terhuyung.
Wajah Kiran benar-benar terlihat kacau, dengan mata merah akibat kurang tidur serta lingkaran hitam di bawah matanya yang bahkan semakin memburuk daripada pagi tadi, serta wajahnya yang biasanya merona merah segar tidak terpancar dari kulitnya hari ini, kulit di pipinya sepucat cat tembok yang sudah kusam, seperti semua pembuluh darah di wajahnya yang berfungsi mengalirkan darah hingga menimbulkan semburat semu merah sehat telah di buntu oleh pengalaman tak masuk akal yang di alaminya belakangan ini. Bahkan bibirnya yang biasanya merekah segar kali ini seperti apel kisut yang terlalu lama di simpan dalam lemari pendingin, atau dengan pendek kata Kiran mengerikan.
" Lihatlah, kau bahkan menjerit ketakutan melihat wajahku, masih berani bilang aku cantik dan terlihat bahagia ? " Geramnya kesal diantara sela-sela giginya yang terkatup rapat.
" Kenapa kau merendahkan suaramu ? Kau semakin terlihat menyeramkan " Gumamnya lirih.
__ADS_1
Para guru dan sebagian murid yang melihat Ken berteriak memandangnya bingung, dan yang lainnya memandangnya panik.
" Ada apa Pak Ken ? " Tanya Pak Doni cepat dan menghampiri Ken serta Kiran yang berdiri berhadap-hadapan.
" Ah tidak ada apa-apa " Kilah Ken dengan senyum terpaksa.
" Ya tidak ada-apa, pak Ken hanya terkejut melihat saya yang sedikit "cantik" hari ini " Ucap Kiran lambat-lambat dan menekankan setiap katanya dengan senyum terpaksa.
" Ah begitu, ya bu Kiran sepertinya agak kurang sehat hari ini " Jawab Pak Doni maklum dan beralih pergi menuju meja makan setelah selesai mengantre.
Dengan tatapan dingin menusuk Kiran kembali membalik badannya dan maju dengan cepat untuk mengambil nampan makan siangnya dan kemudian mengisinya dengan tumpukan nasi serta bermacam-macam lauk pauk.
Persetan dengan image nya yang secantik bidadari dan selalu lemah lembut gemulai kemayu, rasa stress di kepalanya lebih butuh untuk di tenangkan saat ini. Semula rasa stressnya hanya berkisar di angka 50 persen, tapi begitu mendengar pujian Ken yang mematikan itu, angka stressnya langsung melonjak tajam hingga tidak ada angka yang mampu menakarnya.
Brak !! Kiran meletakkan nampangnya dengan keras di atas meja dan kemudian menghempaskan bokongnya dengan keras pula di kursi yang akan di dudukinya. Membuat semua guru yang ada di meja makan yang sudah mengangkat sendok untuk di suapkan kemulutnya menjadi urung dan menoleh ke arah Kiran dengan pelan.
Ken yang ada di belakang Kiran tepat hanya mampu menelan ludah dengan kaku, seperti ludahnya mengandung racun hingga membuatnya sulit tertelan dan membutuhkan usaha yang keras untuk memaksanya turun melewati kerongkongannya yang tercekat.
Dia beralih kesamping Kiran, duduk di kursi kosong yang ada disebelahnya dengan gerakan lambat dan tanpa suara.
" Wuah apa ini ? " Goda pak Doni yang melihat nampan makanan Kiran seperti gunung-gunung yang berjajar.
" Sepertinya anda sedang stress berat bu Kiran ? " Tanya Bu Lia lembut, diantara para guru memang bu Lia lah yang terkenal sabar dan sangat keibuan.
" Ya saya mengalami hal buruk belakangan ini " Jawab Kiran lemas.
" Suasana hati yang buruk akan sangat cocok jika makan yang pedas-pedas, bagaimana nanti sewaktu arisan kita pesan saja seblak super pedas ? " Usul pak Tomy.
" Boleh boleh " Saut pak Doni setuju.
" Ok, saya yang akan melakukan reservasi di restoran seblak yang enak. Demi membuat Bu Kiran kembali baik, kita harus mendukungnya bukan ? " Lanjut pak Tomy bersemangat.
" Hooo... " Sorak para guru menggoda pak Tomy.
" Anda perhatian sekali dengan bu Kiran " Goda pak Doni menyenggol lengan pak Tomy.
" Ah tidak biasa saja, bukankah saya perhatian kepada semua rekan-rekan guru ? " Sanggahnya malu-malu.
Ken yang mendengar percakapan itu semakin merasa kesal. Dia melirik Kiran yang acuh dengan pembicaraan para guru dan malah sibuk memakan makanannya dengan porsi 3 kali lipat dari biasanya.
__ADS_1
Ternyata ada banyak sikapnya yang masih di rahasiakan padaku, kadang dia terlihat kalem manis menggemaskan, tapi jika sudah marah begini dia terlihat sangat menyeramkan. Sepertinya aku salah alamat saat jatuh cinta.
Jerit batin Ken pasrah yang selalu saja mendapat kejutan tak terprediksi dari Kiran.