
Suara helikopter terdengar keras di area resort, beberapa siswa keluar untuk melihat. Ken yang sudah bersiap dengan pakaian rapi berjalan mendekat begitu baling-baling helikopter berhenti.
" Selamat malam tuan " Sapa pelayan yang akan menemani penerbangan tunggal Ken.
" Sebaiknya ini penting karena kalian mengganggu malam akhir pekan ku " Saut Ken ketus, setelah menerima panggilan tadi tidak berselang lama suara helikopter yang dikirim untuk menjemput Ken terdengar. Dan dia segera berganti baju dengan cepat untuk pergi kembali pulang.
" Maafkan kami tuan, kami hanya menjalankan perintah " Jawab pelayan itu dengan takut-takut dan membungkukkan badannya.
Ken naik ke atas helikopter dan pilot segera menerbangkannya kembali. Dia merasa gelisah karena belum menemukan penyebab marahnya Kiran tapi dia sudah di paksa untuk kembali pulang. Dia bahkan belum sempat berpamitan pada Kiran.
Sementara itu murid-murid sedang berkumpul di tepi pantai untuk acara api unggun, mereka sibuk bergosip tentang adegan dramatis Ken yang di jemput helikopter, para gadis membicarakan betapa mengagumkannya Ken, sedangkan para anak laki-laki membicarakan betapa kerennya Ken dan mereka iri. Dylan yang duduk bersandar di bawah pohon kelapa hanya tersenyum sinis mendengar para murid membicarakan Ken dan Klan Loyard, kemarahannya kembali memuncak, apalagi setelah mengingat kekalahannya dalam pertarungan di tepi hutan.
Kalau dia memang orang yang kejam kenapa dia sama sekali tidak melukai ku ? Dia orang yang aneh, terkadang dia perhatian, terkadang dia ketus dan terkadang dia konyol. Dia sama sekali tidak mencerminkan sosok orang yang jahat. Siapa dia sebenarnya ?
Dylan memejamkan matanya karena merasa kesal hatinya mulai meragu, sedikit banyak dia mulai terbiasa berhadapan dengan Ken seperti seorang adik dan kakak yang tidak akur, bukan seperti musuh yang harus di lenyapkan.
Dylan menghela napas kasar, dia bangkit dan pergi menjauh dari kerumunan murid-murid. Berjalan menyusuri tepi pantai dan memandang ke laut lepas, ke arah gulungan ombak yang saling balapan untuk mencapai tepi pantai.
Langkahnya terhenti saat dia melihat sesosok wanita berdiri di tepi pantai, beberapa meter di depannya.
" Cih dia pasti sedang meratapi kekasihnya yang pulang lebih dulu, itu lah sebabnya aku benci jatuh cinta, sangat cengeng " Dylan bergumam lirih, dia memutuskan akan menggoda Kiran untuk meluapkan amarahnya.
" Dingin bukan ? " Suara keras Dylan membuyarkan lamunan Kiran. Dia menoleh ke asal suara dan membuang muka begitu melihat ternyata itu Dylan.
" Merindukan saudara kembarmu ? " Tanya Dylan mengejek.
" Cih, kekanak-kanakan sekali, ku kira dia siswa tercerdas tapi selera humornya buruk " Kiran bergumam kesal.
Baguslah ada dia, aku akan melampiaskan kekesalanku padanya.
__ADS_1
Kiran melirik tajam Dylan yang semakin mendekat.
" Upin ? " Lanjut Dylan begitu dia sudah berada tepat di samping Kiran, dia bahkan membungkukkan badan setengah miring untuk melihat reaksi Kiran.
" Omoo... jadi rembo kemari untuk bertanya dimana ipin berada ? Wuah... aku tidak tau hubungan kalian seakrab itu untuk saling mencari, atau kau mencarinya karena ingin mencuri sandalnya ? " Balas Kiran sengit, dalam suasana hati yang buruk, bertengkar begini bisa sedikit melepaskan beban dihati.
Dylan menegakkan badannya, menutup mulutnya rapat-rapat karena kesal, dia tidak menyangka Kiran pandai berdebat.
Dia ini mutan atau apa ? Dulu pertama bertemu seperti alien yang nyasar ke bumi, lalu sekarang dia berani berdebat ? Dia benar-benar tak terduga.
Dylan menghela napas kesal, kemudian menghadap Kiran lagi.
" Aku sama sekali tidak mencarinya, aku kira kau sedang sedih dan berpikir untuk lompat kedalam air karena saudara kembarmu pergi terbang entah kemana ? " Dylan membalas Kiran tak kalah sengitnya.
" Oh !! Atau jangan-jangan dia terbang kembali karena ingin menghabiskan akhir pekannya dengan kekasihnya yang lain ? " Dylan memanas-manasi Kiran. Tapi Kiran tidak bereaksi sama sekali, dia hanya terdiam memandang laut.
" Kau terlalu baik untuk laki-laki buruk sepertinya, sekali lihat bisa dipastikan dia telah berkencan dengan lusinan wanita, ya tentu saja dia bisa bergonta ganti pasangan tiap malam, stok wanita yang dia jual di club malamnya tidak akan pernah habis " Dylan berubah serius, seperti menyimpan dendam kesumat yang membara.
" Apa ? " Kiran menoleh kesal kepada Dylan, tidak mengerti kenapa tiba-tiba Dylan mengubah topik pembicaraannya menjadi serius. Tapi ini kesempatan baiknya untuk mengetahui yang sebenarnya terjadi, begitu pikir Kiran.
" Dia dan Klan busuk itu hanya sekumpulan preman yang sok berkuasa " Dylan tanpa sadar menumpahkan kekesalan yang selama ini dia simpan sendiri, dia sudah tidak tahan lagi.
" Aku tidak mengerti yang kau bicarakan " Kiran berpura-pura acuh, dia tidak ingin terlihat terlalu tertarik lalu membuat Dylan urung menceritakan alasannya membenci Klan Loyard.
" Mereka menjalankan bisnis kotor, menjual wanita, dan menyembunyikan pembunuh " Jawab Dylan datar, ingatannya kembali menerawang pada sosok ayah tirinya.
" Darimana kau tau kalau klan Loyard melakukan itu semua ? Apa kau punya buktinya ? " Tanya Kiran hati-hati, salah bicara sedikit saja Dylan akan menyadarinya.
" Karena aku salah satu korban mereka, salah satu petinggi Klan itu adalah ayah tiriku, dia membunuh ibuku, lalu dengan bantuan Klan dia mendapatkan pengacara yang terkenal dan bebas dari tuduhan pembunuhan dengan alasan tidak ada sidik jarinya sebagai bukti " Suara Dylan bergetar saat menceritakan luka di hatinya, luka yang bertahun-tahun selalu membuatnya bermimpi buruk.
__ADS_1
Kiran menoleh ke arah Dylan, menatapnya tajam dengan tatapan menyelidik, menilai apakah Dylan sedang bercanda. Tapi melihat raut wajahnya yang menengang, Kiran tau Dylan sedang serius. Sedangkan Dylan menatap jauh ke laut lepas, tanpa sadar butiran air matanya menetes mengingat tubuh ibunya yang terbujur kaku bersimbah darah, dan mendengar berita bahwa mantan ayah tirinya bebas dari segala tuduhan.
" Dylan kau.. " Kiran berusaha mengucapkan bela sungkawa tapi dia tidak sanggup. Dia harus melihat dari sudut pandang Dylan saat ini karena sepertinya dia tidak berbohong.
Kiran tertunduk, dia sepenuhnya sadar sepak terjang Klan Loyard seperti apa, dia bekerja cukup lama di club, dan memang sering terjadi perkelahian antara penjaga dan pengunjung. Belum lagi rumor yang tersebar tentang betapa kejamnya mereka dan ketua mereka. Kiran tidak bisa mengatakan Dylan berbohong sedangkan dia juga tau sedikit kenyataan itu.
" Makanya aku bilang padamu, putus saja dengannya sebelum kau terlibat lebih jauh dalam masalah yang berat " Dylan kembali membuka suara, nadanya kini terdengar lebih tenang.
" Kalau kau membenci Klan Loyard sebesar itu kenapa kau bersekolah di sekolah pribadi milik Klan ? " Tanya Kiran penuh selidik.
" Aku hanya ingin menyelidiki dan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang Klan, tentang kelemahan mereka, tentang bisnis gelap mereka, dan nanti saat aku lulus dan bisa menjadi jaksa aku akan menuntut mereka semua " Dylan menjelaskan dengan tegas tanpa keraguan.
" Dylan kau... " Kiran mencoba menjelaskan tapi dia tidak tau penjelasan apa yang akan dia berikan, dia tidak bisa bilang bahwa Klan Loyard baik hanya berdasarkan Ruby, Rai dan Ken yang dia kenal.
" Jangan membelanya hanya karena dia kekasihmu, kalian baru jadian pagi tadi, jadi kau tidak tau bagaimana dia sebenarnya " Dylan menyela Kiran, dia tau Kiran akan membela Ken.
" Dia bukan kekasihku " Saut Kiran cepat, dia berusaha menyangkal Dylan karena hubungan mereka harus di rahasiakan.
" Jangan bohong, aku dengar semua pembicaraan kalian di hutan, antara upin dan ipin " Dylan menoleh ke arah Kiran dan tersenyum miring mengejek, seperti memegang kartu as milik lawannya.
" Apa ? Jadi kau menguping ? " Kiran terkejut, tidak menyangka Dylan akan mengetahuinya.
" Perhatikan baik-baik, aku akan mengawasi kalian " Dylan mengancam lirih dan kemudian berbalik pergi meninggalkan Kiran yang masih diam membeku.
" Hei... hei ! " Teriak Kiran memanggil Dylan yang semakin jauh tidak menghiraukan teriakan Kiran.
Bagaimana kalau yang di bilang Dylan benar, klan Loyard seburuk itu ? Lalu apa Ruby tau ? Aku harus memberitahunya, tapi dia sedang hamil tua, bagaimana kalau ini malah berbahaya untuk junior ? Aku harus bagaimana ini ?
Kiran gelisah sendiri dan memutuskan akan kembali ke kamarnya juga, memikirkan langkah selanjutnya.
__ADS_1