
"Bhina, kemari nak duduk sebelah papi.."
"Iya pi, mau Bhina ambilkan jus juga?"
"Boleh, papi peringatkan jangan memanjakan suamimu itu nak, bisa besar kepala dia nanti.."
Satya tertawa terbahak-bahak mendengar nasehat papinya "Dih, papi sirik ya? Ga pernah dilayani sama mami kayak Bhina kan?"
Seketika irisan timun melayang mengenai wajah tampan Satya "Enak aja!!! Dasar anak durhaka, kalau ngomong suka bener"
Bhina mengambil kotak yang berisikan tissue dan mengulurkannya pada suaminya agar bisa membersihkan sisa timun yang menempel di wajahnya...
"Bhi, kayaknya bener apa kata papi kamu.. jangan memanjakan suamimu seperti itu, dia bisa melakukannya sendiri" Anne mendelik kesal melihat Satya tersenyum penuh kemenangan
"Hmm mungkin nanti aku tak memiliki kesempatan seperti ini lagi mam"
"Maksudnya??" Anne mencerna kata-kata Bhina barusan..
Bhina melempar pandangannya ke sembarang arah dan menarik nafas panjangnya "Bukankah umur dan jodoh tak ada yang tahu mam??Selagi Bhina masih bisa bernafas Bhina bakal melakukan yang terbaik semampu Bhina"
Hening.. Semua tak percaya dengan pola pikir gadis yang biasanya terlihat somplak dan kekanakan itu menjadi seorang yang sangat dewasa..
"Elu doain gue cepet mati maksudnya?" Satya asal berbicara untuk memecah keheningan, namun ucapannya mendapat hunusan pisau buah di tangan maminya..
"Sama istri sendiri kamu bilang apa tadi? Lu gue??" Anne seperti siap menyantap mangsanya..
"Belum terbiasa mam, sebel tau sama kata-kata Bhina tadi, berasa umur aku ga lama aja" Satya mencibik kesal.
"Kalau itu terjadi ya udah berarti kita ga berjodoh, mungkin Tuhan juga udah siapin jodoh pengganti buat aku" jawab Bhina
"Cih! Kebiasaan lu tuh ya, selalu bikin gue terbang habis itu elu hempasin...Lu tadi bilang mau melakukan yang terbaik tapi ujung-ujungnya kalau gue mati lu cari suami lagi" Satya sangat kesal dan percayalah semua orang menahan tawanya mendengar ucapan Satya..
"Lah terus gimana??" tantang Bhina
"Kalau gue mati, lu gue ajakin lah"
"Ihhhh ogaahh!!!"
Pasangan yang tadi terlihat seperti suami istri yang harmonis itu mendadak berubah menjadi tom and Jerry..
"Kalian ga honeymoon?" pancing Shella..
"Honeymoon di apartemen" Jawab Satya singkat
"Jadi kalian ga tinggal di sini?" Anne menimpali
__ADS_1
"Kita butuh privasi mam.." Jawab Bhina sambil tersenyum seolah meyakinkan semua orang kecuali Shella..
Anne hendak menghalangi keduanya untuk tinggal terpisah namun Hartanto menggenggam tangannya agar tak melanjutkan kata-katanya.. Sebab mereka sudah menikah dan sebagai orang tua janganlah mencampuri urusan pribadi anak-anaknya, cukup menjadi pendukung bagi mereka.. Namun tersirat kesedihan dari mimik wajah wanita keturunan Belanda itu walaupun detik berikutnya ia mampu menutupi kesedihannya...
"Papi membelikan tiket untuk kalian bisa honeymoon ke Jogja"
"Yang bener Pi?????" Mata Bhina berbinar ketika mendengar kata Jogja
"Tentu saja, kami juga ingin mengenal keluargamu yang di sana.. Ayah dan ibumu sangat antusias jika menceritakan tentang kampung halamannya"
"Cih! Honeymoon masal nih maksudnya??" Satya berdecak kesal dengan rencana papinya..
"Ck, sudahlah kapan lagi kau akan mengunjungi kota yang nyaman itu dan juga keluarga besar istrimu?"
"Maksud papi kota kecil itu? Aku bahkan tak berminat untuk mengunjunginya"
"Kalau kau tak mau tak usah ikut.. Hal yang sepele ga perlu dibikin rumit suamiku" Bhina menekankan pada kata terakhirnya..
"Dengan senang hati kalau begitu.." Satya melenggang pergi karena sudah tak berminat dengan pembicaraan keluarganya mengenai honeymoon masal yang sedang mereka rencanakan
Bhina menghabiskan sarapannya dan segera menyusul suaminya yang sudah memasukkan barang-barang ke dalam mobilnya.. Bhina berpamitan dengan memeluk mami, papi dan Shella yang mengantarkannya hingga ke depan..
"Hufh... Wanita memang menyebalkan! Hanya pindah tempat yang letaknya tak begitu jauh pun seperti akan pergi ke ujung dunia" Satya sangat kesal sedari tadi maminya tak berhenti memeluk Bhina..
"Kak, kamar aku yang mana?" ucap Bhina sembari melihat apartemen Satya yang memang mewah itu..
"Tuh.." Satya menunjuk kamar yang di maksud sambil berjalan masuk, Bhina menatap Satya heran..
"Napa muka lu kayak gitu?"
"Kakak tidur di sini juga??"
"Ya iyalah, ini kan kamar gue"
"Hmm, tadi aku liet di atas ada kamar.. aku di sana boleh?"
"NGGAK!!!" Ucap Satya dengan nada tinggi..
"Biasa aja dong ngomongnya, ga usah pakai ngegas juga, bisa mati muda aku kalau gini caranya" protes Bhina..
"Gue peringatin ya, jangan sekali-kali lu masuk ke kamar itu!!"
emangnya ada apa sih kok dia segitu marahnya padahal aku cuma ngomong... Gimana kalau aku masuk ke sana, bisa dijadiin ayam goreng krispi aku nanti sama bule sableng itu... Bhina bergeridik ngeri membayangkan itu..
"Ngapain lu kayak cacing kepanasan gitu?" Satya heran dengan gerak gerik Bhina..
__ADS_1
"Mau tau aja apa mau tau banget??"
"Kagak mau tau!!!"
"Ngapain tadi nanya??"
"Hiiiiiihh, dasar cewek somplak.. otak lu udah geser kayaknya"
"Biar geser yang penting masih punya otak"
"Jadi lu ngatain gue ga punya otak?"
"Lah kakak sendiri tuh yang ngomong, aku ga bilang kakak ga punya otak.. kayaknya dulu kakak ga lulus pelajaran bahasa Indonesia pas sekolah"
"Sorry ya, gue sekolah di sekolah standar internasional habis itu gue lanjut ke luar negeri"
"Cih! aku juga sekolah di sekolah yang sama tempat kakak sekolah dulu tapi tetap aja bahasa Indonesia pelajaran yang wajib..jadi jangan bawa-bawa alasan sekolah.."
"Udah sana bikinin gue kopi, debat sama elu bikin capek hati, jiwa dan raga"
"Halaahh, bilang aja udah ga punya jawaban.."
"Lu pikir ujian pakai jawaban segala"
"Ujian pernikahan.." Bhina berlalu dan pergi ke dapur membuatkan secangkir kopi untuk suaminya.. Ya walaupun suaminya merupakan salah satu spesies yang paling menyebalkan namun ia tetap saja menuruti apa kata suaminya..
Bhina membawakan kopi untuk Satya dan segera membuka kopernya untuk menata baju-bajunya di walk in closet..
"Sluuuuurrpp.." Satya meminum kopi pertama buatan Bhina dan sekali lagi ia menyeruput untuk meyakinkan bahwa yang dirasakannya tidak salah.. Enak adalah satu kata yang diakui Satya ketika mencicipi kopi buatan istrinya.. Satya menikmatinya hingga habis namun tak sepatah kata pujian keluar dari mulut Satya..
"Mulai sekarang tiap pagi lu bikinin gue kopi"
"Kenapa? Pasti enak ya rasanya?"
Banget.. "Biar gue ga ngantuk di kantor"
"Terlalu banyak mengkonsumsi kopi itu tidak bagus untuk kesehatan, di rumah ngopi, di kantor ngopi, keluar sama temen ngopi lagi.. mau cepet mati?"
"Kalau elu bikinin kopi, gue ga akan minum kopi selain bikinan lu biar gue panjang umur.. Kalau gue mati elu yang bahagia bisa cari suami lagi"
"Kakak hidup juga aku bakal cari suami tiga bulan lagi"
"Otak lu isinya kamus kata-kata ya? Ada aja jawaban lu"
"Bukan kamus kata-kata lebih tepatnya kunci jawaban dari semua pertanyaan kakak" Bhina tertawa terbahak-bahak karena baru pertama ini ia melihat suaminya kesal...
__ADS_1