
Feli keluar dari ruang rawat Emily dengan kaki yang lemas dan perasaan yang berkecamuk di dadanya.. Tingkat kepercayaan dirinya untuk bisa bersanding dengan Aldin terlalu tinggi rupanya hingga membuatnya menertawakan kebodohannya sendiri..
"Dasar bodoh!!" Feli merutuki kebodohannya sendiri... Ia berlari ke kamar mandi untuk menangis sepuasnya, ia sadar bahwa ia tak boleh menunjukkan sisi rapuhnya di hadapan semua orang.. Namun sebuah panggilan dari Aldin membuatnya harus mengatur nafasnya agar terlihat baik-baik saja..
"Ya Tuan..."
"Kau memanggilku Tuan lagi hemm?? Kau dimana?? Aku menunggumu di ruang rawat Jasmine..."
"Karena kau adalah Tuan Baik Hati yang sudah menyelamatkanku.., Akh lupakan itu... Sebentar lagi aku akan menyusulmu, aku masih ada urusan di lab... Jika Tuan terburu-buru Tuan pulanglah terlebih dahulu..."
"Aku akan menunggumu.."
"Baiklah jika begitu..."
Feli mengakhiri panggilannya dan segera pergi ke laboratorium, ia menjalani tes kecocokan sum-sum tulang dengan Emily karena selama ini tak ada pendonor yang cocok dengan Emily... Setelah sample berhasil di ambil, Feli menemui Aldin di ruang rawat Jasmine
Ceklek
Feli melihat pemandangan yang begitu indah saat Darren menyuapi Jasmine dengan penuh cinta... Sepertinya hubungan mereka sudah membaik karena keduanya sama-sama saling melemparkan senyuman..
"Kau sudah datang.. masuklah.." pinta Jasmine..
"Apa kau merasa sudah lebih baik Jasmine???"
"Yaa... untung tadi ada dirimu.. Kau tahu Feli, sejak tadi kakakku tak bisa diam menunggumu.. Dia mondar-mandir seperti setrikaan dan tak bisa duduk seperti sedang menderita ambeyen..." Jasmine sedang mengejek Aldin saat ini namun Aldin hanya cengar-cengir karena yang sedari tadi ditunggu sudah muncul...
__ADS_1
"Benarkah itu??" Feli bertanya pada Aldin tapi Aldin hanya menggidikkan bahunya...
"Jasmine, aku sedikit tidak enak badan.. Aku butuh istirahat sepertinya, aku pamit pulang dulu ya... Semoga kau lekas membaik..."
"Oh iya, kau tampak pucat dan lemas Fel.. Apa kau baik-baik saja??" Jasmine khawatir..
"Aku baik-baik saja, hanya kurang tidur..." Feli mencoba meyakinkan padahal hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.. Seusai berpamitan, Feli berjalan keluar diikuti oleh Aldin, sepanjang jalan menuju parkiran ia hanya tertunduk lesu tak bersemangat.. Aldin memperhatikan hal itu namun ia masih menunggu waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu.. Setelah masuk ke dalam mobil keduanya juga masih terdiam..
"Bagaimana dengan harimu Feli?? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Aldin untuk membuka obrolan, Feli yang baru saja menyandarkan kepalanya pun langsung menoleh ke arah Aldin..
"Kenapa Tuan mau menikahiku??" cecar Feli dengan tatapan tajam...
"A-aku..itu.. emmm.. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini hemm??"
"Jawab saja Tuan! Kenapa???" Feli menaikkan nada bicaranya...
"Sangat penting!!"
"Untuk apa??" Aldin mengernyitkan dahinya..
"Untuk mengambil sikap apakah aku harus tetap tinggal ataukah pergi..." mata Feli memerah, sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tak terjatuh...
"Bukankah kau sendiri yang meminta untuk dinikahi?? Kau lupa??" Aldin ikut kesal.
"Sungguh karna hal itu?? Atau ada hal lain Tuan??? Okay memang aku yang memintamu untuk menikahiku karena aku tak ingin menyerahkan tubuhku pada orang yang tidak berhak menyentuhku... Aku tahu kau menebusku dari pria hidung belang itu dengan harga yang sangat mahal Tuan... Awalnya ku pikir kau hanya menginginkan tubuhku ini saja tapi ternyata tidak.... Bisakah kau memberitahuku dengan mulutmu itu sehingga aku tak salah paham dengan jatuh cinta kepadamu???? Aku juga punya hati Tuan dan bodohnya hatiku memilihmu... Seandainya Tuan mau mengatakan semuanya dari awal, aku akan melakukan semua hal yang menjadi tujuan utama Tuan tanpa perlu melibatkan hati... Aku terlalu bodoh untuk urusan percintaan Tuan dan ku harap kau jangan memanfaatkan hal itu!!" Nafas Feli memburu, dadanya terasa begitu sesak..
__ADS_1
"Feli.. tenangkan dirimu.." Aldin mencoba menangkup wajah Feli namun Feli membuang mukanya dengan cepat..
"Katakan Tuan.. Katakan walaupun itu sangat menyakitkanku..." Kini air mata Feli sudah tak terbendung lagi...
"Dengarkan aku...Kita akan berbicara saat kau sudah tenang Feli..." Aldin menyalakan mesin mobilnya dan membawa Feli pulang ke apartemen miliknya... Feli tak lagi membuka mulutnya untuk menjawab kata-kata Aldin bahkan ia tak menatap wajah Aldin sedikitpun.. Aldin juga memikirkan kata-kata Feli, ia merasa sedih dan bersalah pada Feli..
Sesampainya di apartemen, Feli segera masuk ke kamar mandi dan merendam tubuhnya dalam bathup selama satu jam.. Aldin menunggunya dengan perasaan cemas, ia takut Feli berbuat nekat hingga akhirnya Aldin mengetuk pintu kamar mandi namun Feli tak meresponnya... Aldin panik dan segera mencari kunci cadangan lalu membuka pintu kamar mandi.. Begitu pintu terbuka Aldin melihat Feli di hadapannya sudah lengkap dengan piyamanya, Feli berjalan keluar dan membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamu.. Ia tak ingin tidur bersama satu ranjang dengan Aldin.. Tanpa senyuman, tanpa kata Feli sama sekali tak menyapa Aldin membuat hati Aldin berdenyut nyeri..
"Tidurlah di dalam.. Biar aku yang tidur di sini..." ucap Aldin dengan lembut..
"Tidak Terima kasih Tuan, aku hanya menumpang dan aku cukup tahu diri" jawab Feli tanpa memandang Aldin sedikit pun...
"Feli..." lirih Aldin..
"Jika tak ada yang ingin dibicarakan sebaiknya Tuan juga beristirahat.. Siapkan diri Tuan untuk yang sedang Tuan perjuangkan... Selamat malam.."
Aldin membalikkan tubuh Feli dan membuat Feli menatapnya.. Sesuai keinginannya, Feli menatapnya... Aldin seperti tak mengenal Feli... "Kenapa kau sebenarnya??" tanya Aldin sembari mencengkram bahu Feli..
"Kau yang kenapa Tuan?? Kenapa kau pengecut sekali hemm???"
"Pengecut??" Aldin memicingkan matanya...
"Emily.." jawab Feli telak yang tak bisa membuat Aldin tak bisa berkata-kata.. Aldin menjauhkan tubuhnya dari Feli dan Feli kembali tidur memunggungi Aldin.. Ia tak ingin menangis dengan di lihat oleh Aldin.. Aldin menatap Feli tak percaya... Apalagi yang akan ia katakan pada gadis itu..
Semalaman keduanya tidak tidur, mereka larut dalam pikiran dan perasaan mereka masing-masing. Hingga pagi harinya keduanya juga tak saling bertegur sapa... Feli berangkat ke rumah sakit pagi-pagi sekali setelah mendapat notifikasi di ponselnya... Ia meninggalkan Aldin dengan sebotol minumannya di kamarnya, ia hanya sekedar melirik tanpa berniat untuk berpamitan... Ia hanya takut tak bisa mengontrol dirinya jika ia kembali membuka suara...
__ADS_1
Aldin juga tak melepaskan tatapannya dari pemandangan di balkonnya.. Ia sadar jika ia sudah tak adil selama ini pada Feli.. Ia mengingat semua kata-kata Feli dan ia juga membenarkan bahwa dirinya memang seorang pengecut..
"Maafkan aku Feli..." lirih Aldin seraya meneguk minumannya...