
"Jalan-jalan ke pantai??" tawar Satya yang diangguki oleh Bhina..
Mereka menyusuri pantai tanpa ada sebuah obrolan, keduanya diam sama sekali tak membuka kata satu dengan lain.. Ingin rasanya Satya membawa wanita itu dan mengurungnya di dalam kamarnya namun ia sangat canggung saat ini.. Ia belum menemukan topik yang pas untuk memulai obrolannya..
"Kamu cantik" Dengan bodohnya kata-kata itu meluncur dari bibir Satya..
"Aku memang terlahir mempesona"
"Hehe, yang dikatakan Rendra memang benar" Satya terkekeh
"Sombong maksudnya? Hmm, aku hanya menjawab dan menurutku jawabanku apa adanya.."
"4tahun ga ketemu, kamu tambah gemesin..Dan aku masih belum percaya kalau aku mempunyai dua anak yang sangat lucu-lucu.. Seandainya waktu bisa diputar, aku ingin menemanimu membesarkan anak-anak kita"
"Sudahlah, justru aku berterimakasih karena jika hari itu tak terjadi aku tak bisa menjadi seperti sekarang ini"
"Jadi kau senang jika aku lupa ingatan??Katakan apa anak-anak kita merepotkanmu??"
"Bukan begitu juga maksudku..Tentu saja tidak, mereka anak yang baik dan sangat manis.. Aldin cerdas sepertimu dan Jasmine dia bahkan sudah memulai karirnya dengan bernyanyi"
Satya mengulum senyumnya, betapa bersyukurnya ia dianugerahi anak yang luar biasa.. Namun senyumnya tak bertahan lama tatkala ada tangan seorang pria yang merangkul Bhina dengan posesif.. Tak memperdulikan siapa pria itu dan suasana malam yang memang gelap membuat wajah pria itu menjadi samar.. Melihat Rendra memeluknya tadi saja sudah membuat darahnya mendidih dan ini apalagi?? Satya menghadiahi laki-laki tersebut dengan bogeman mentah di wajahnya..
"Kak Satya stop" Bhina mencoba menghentikan tindakan konyol Satya..
"Apa dia kekasihmu??" tersirat amarah di wajah Satya terlebih Bhina melindungi pria itu..Satya merasa hancur, ia seperti tak memiliki harapan untuk kembali pada Bhina.. Ia berbalik badan hendak meninggalkan Bhina dan pria itu.. Jika berlama-lama akan membuat dirinya mati berdiri melihat Bhina dengan pria lain..
"Kak Satya, dia tu mas Gilang" teriak Bhina..
Satya menghentikan langkahnya dan berbalik untuk mengecek kebenarannya dan ternyata benar bahwa pria itu adalah Gilang..
"Posesif huh?Dia adikku jika kau lupa"
"Maafkan aku, sungguh aku cemburu.. sekali lagi maafkan aku"
"Okay, aku tak perlu mengkhawatirkan adikku karena ia bersamamu.. Silakan dilanjutkan pembicaraan kalian" Gilang pamit undur diri dan percayalah Satya langsung memeluk wanita di hadapannya..
"Kembalilah padaku, aku mohon" ucap Satya dengan lembut..
"Apa kau sedang melamarku??"
"Menurutmu apalagi??"
"Kak Satya, bahkan pria lain melamarku dengan cara yang romantis dan kau..." Bhina menggantungkan kalimatnya..
"Siapa pria yang berani melamarmu?? Berani-beraninya dia mengusik apa yang menjadi milikku"
__ADS_1
"Tak penting, aku menolaknya"
"Kenapa?"
"Karena aku mencintaimu"
Senyum mengembang di wajah Satya mendengar Bhina masih mencintainya, ia tak sabar untuk kembali rujuk bersama Bhina dan menjalani hidup bersama kembali.. Satya menggendong Bhina ala Bridal Style menuju kamarnya dan Bhina juga melingkarkan tangannya di leher Satya...
"Aku merindukanmu" bisik Satya di telinga Bhina..
"Aku mencintaimu"
"Apa kau tak merindukanku??"
Bhina menggeleng dan detik berikutnya Satya melemparnya ke atas tempat tidur lalu menggelitiknya..
"Ahahaha ampun.. aku merindukanmu"
"Panggil aku sayang"
"Aku merindukanmu sayang"
Satya melahap bibir Bhina dengan segala rasa rindu selama 4 tahun ini, ia bahkan tersenyum saat tangannya mendarat dengan nakal di bagian yang paling menonjol..
"Hah?Apa kau lupa jika aku sudah memiliki dua anak darimu?" Bhina mendelik kesal..
"Hahaha, kalau begitu berikan aku yang ketiga agar lebih berisi lagi"
"Mereka masih terlalu kecil sayang, bahkan mereka baru saja tahu kau daddynya.. Jangan keterlaluan"
"Baiklah, aku rindu permainanmu.. Apa kau masih sepintar dulu ataukah sudah lupa caranya"
"Apa kau sedang meremehkanku??"
"Tentu saja aku menantangmu.."
Akhirnya mereka melewati malam indah bersama, Satya tak henti-hentinya memakannya bagai singa yang kelaparan hingga keduanya lelah dan tertidur...
__________
"Selamat pagi kesayangan" Satya mengusap lembut wajah Bhina yang masih tertidur pulas..Sudah lama ia tak menikmati pemandangan seindah ini..
"Uhhhmmm" Bhina menggeliat dan mengeratkan pelukannya..
"Sepertinya ini tidur ternyamanmu.. Kau posesif sekali, ayolah kau harus sarapan untuk mengisi energi buat pergulatan kita nanti malam"
__ADS_1
Bhina mencubit perut Satya dan membalikkan badannya memunggungi Satya "Bukannya kakak harus pulang ke Jakarta??Besok aku harus kembali ke Milan"
Satya segera membalikkan tubuh Bhina kembali, kini netra mereka saling beradu.. Apa maksud dari kata-kata Bhina barusan? Apa ia tak mau kembali ke Jakarta bersamanya dan lebih memilih kembali ke Milan..
"Apa maksud semua ini??" tanya Satya..
"Ada hal yang harus aku selesaikan di Milan kak.." Bhina tampak ragu
"Apakah penting?? Apakah tidak bisa ditunda?? Aku akan menemanimu menyelesaikan urusanmu nanti"
"Aku harus menjelaskan sesuatu pada seseorang.. Tolong mengerti"
"Pria??"
Bhina mengangguk, ia tak berani menatap wajah Satya karena Satya pasti tak akan terima dengan ini semua..
"Maaf.." lirih Bhina
"Apa kalian berpacaran??"
"Entahlah, sejak awal dia yang membantuku, mendukungku dan selalu berada di sisiku selama 4 tahun ini.. Berulangkali ia memintaku untuk menjadi wanitanya namun hatiku tak bisa..Hatiku memilihmu, namun aku harus menjelaskan semua ini padanya.."
"Katakan kau hanya milikku"
"Tentu saja" Bhina mengecup bibir Satya..
"Katakan aku bodoh tapi aku sangat cemburu"
"Dan aku sangat mencintaimu"
"Jangan pergi, aku takut kehilanganmu.."
"Aku milikmu.."
Akhirnya Satya menumpahkan rasa cemburunya dengan adegan panas sebagai sarapan paginya dan tentu saja kali ini lebih menggebu-gebu sehingga membuat Bhina harus mencengkeram kuat punggung Satya..
"Katakan apa kau masih marah??"
"Mana mungkin aku bisa marah padamu.. Sudah ku pikirkan, besok aku akan menemanimu dan anak-anak ke Milan"
"Baiklah kalau itu kemauanmu tapi aku tak mau menanggung rasa cemburumu itu.. kau bisa membuatku tak bisa berjalan"
Satya terkekeh mendengar protes dari Bhina karena Bhina selalu menjadi candunya.. "Aku harus segera mandi karena hari ini aku akan mengajak anak-anak untuk bermain seharian dan tentunya nanti malam aku akan mengajak mommy nya bermain-main juga"
"Cih!" Bhina hanya bisa mendecih kesal karena sedikitpun Satya tak mau melepaskannya...
__ADS_1