
Mike mengantarkan Jasmine ke meja kerjanya yang terletak di dalam ruang kerja Darren..
"Apa aku akan bekerja di sini Mike?" Jasmine memperhatikan ruangan yang sangat luas itu dan hanya ada dua meja yang saling berhadapan namun jaraknya jauh.. Meja besar dan kokoh itu sudah dipastikan milik Darren..
"Tentu saja Princess Jasmine" ucap Mike sambil mempersilakan Jasmine untuk duduk..
"Tutup mulutmu brengsek, hanya aku yang boleh memanggilnya dengan sebutan itu* Darren melayangkan tatapan kesal kepada Mike yang semakin menjadi-jadi menggodanya.. Jasmine tak terpengaruh akan hal itu, ia menikmati kursinya dan meletakkan fotonya bersama Aldin dan Ellena di samping layar monitor nya..
"Katakan apakah dia kekasihmu dan perempuan itu saudaramu?" tanya Mike penasaran
Jasmine tersenyum dan menggeleng dengan cepat "Dia separuhku (Jasmine menunjuk Aldin) dan dia sahabat terbaikku (Jasmine menunjuk Ellena)"
"Maksudnya separuhmu? Kenapa aku tidak paham ya dengan kata-katamu.. Tapi jika diperhatikan dia sangat mirip denganmu, mungkin kalian jodoh, aku mendengar kata orang jika kalian memiliki wajah yang mirip pasti kalian jodoh"
"Yaa betul sekali, kami sudah dijodohkan sejak dalam kandungan asal kau tahu, tak ada yang menyayangiku sepertinya, tapi sayangnya aku tak bisa menikahinya Mike"
"Kenapa?"
*Karena dia adalah kembaranku"
"Jasmine, aku sangat menyayangimu" protes Darren dan Jasmine hanya menggidikkan bahunya.. Tentu saja tawa Mike pecah saat itu juga..
Mengabaikan tatapan horror Darren, Mike segera mengajari Jasmine tugas yang harus ia kerjakan dengan tumpukan dokumen di mejanya.. Tidak begitu sulit bagi Jasmine untuk mengolah data walaupun otaknya tak seencer Aldin tentunya.. Setelah selesai mengajarinya, Mike pamit untuk kembali ke ruangannya.. Jasmine melanjutkan pekerjaannya demikian dengan Darren yang juga fokus membaca laporannya..
Tak terasa jam makan siang pun tiba, Jasmine berdiri hendak menuju kantin karena di perusahaan tersebut di sediakan makan siang gratis untuk karyawan.. Namun tidak dengan Darren, ia tak pernah membaur dengan karyawannya ataupun sekedar menyapa..
"Kau mau kemana Princess?"
"Ini sudah jam makan siang, aku mau makan siang bersama Ellena di kantin"
"Kalian bisa makan di sini denganku"
__ADS_1
"Aku tidak mau" Jasmine pergi meninggalkan ruang kerja Darren dan menuju lantai 7 untuk menemui sahabatnya.. Di sana ia menemukan sahabatnya sedang menjadi pusat perhatian, nampaknya hari ini ia mendapatkan banyak teman di perusahaan ini sangat berbeda dengan dirinya yang terkurung di ruang kerja Darren..
"Hai, apa kita bisa makan siang sekarang?" sapa Jasmine
"Tentu saja, hari ini aku bercerita tentangmu kepada mereka semua dan lihatlah betapa mereka sangat mengidolakanmu.. Maukah kau bernyanyi untuk mereka nanti di kantin?" ucap Ellena dengan puppy eyesnya
"Apa di kantin bisa untuk menyanyi?" Jasmine mengernyitkan dahinya..
"Bisa, biasanya kami selalu makan sambil diiringi nyanyian dari perwakilan setiap divisi.. Karena hari ini ada dirimu maka kau harus bernyanyi untuk kami" ucap salah satu karyawan..
"Baiklah" Jasmine mengangguk setuju dan mereka bersorak-sorai akan hal itu, mereka segera menuju kantin yang ternyata sudah dipenuhi karyawan namun siapa sangka jika suasana kantin sangat sunyi karena Darren dan Mike bergabung untuk makan di sana.. Ini sebuah keajaiban karena sebelumnya mereka tak pernah menginjakkan kakinya di kantin perusahaan yang kemewahannya seperti restauran bintang lima..
"Maaf jadi dimana aku harus bernyanyi?" Tanya Jasmine pada karyawan yang tadi sangat antusias untuk mendengarkan suaranya..
Jasmine naik ke panggung dan mengambil gitar yang ada di sana dan bertanya kepada para karyawan yang sedang ada di kantin lagu apa yang mereka inginkan, tak ada satupun yang berani menjawabnya kecuali Ellena "Nyanyiin Belum Siap Kehilangan dong"
Jasmine melotot tajam ke arah Ellena yang memang mulutnya perlu dibersihkan dengan desinfektan.. Jasmine mulai memainkan gitarnya dan bernyanyi, begini sepenggal liriknya:
Ternyata belum siap aku kehilangan dirimu,
yang masih selalu ada dalam hatiku,
Tuhan tolong mampukan aku tuk lupakan dirinya
semua cerita tentangnya dirimu yang membuatku
selalu teringat akan cinta yang dulu hidupkanku
Semua karyawan hanyut dalam lagu yang dibawakan oleh Jasmine walaupun mereka tak mengerti bahasa Indonesia, namun mereka bisa merasakan kepedihan mendalam dari lagu yang dibawakan oleh Jasmine.. Mereka semua bertepuk tangan dengan meriah karena suara Jasmine yang sungguh merdu itu, ia tak pernah menggelar konser di Milan sama sekali dan kini ia menyanyi di hadapan karyawan perusahaan Darren secara cuma-cuma..
"Jasmine kemari cepat" Ellena melambaikan tangannya agar Jasmine bergabung untuk makan bersama, lagi dan lagi ia harus satu meja dengan Darren..
__ADS_1
Jasmine mengambil makanannya dan memakannya tanpa memperhatikan Darren di hadapannya yang mematung sejak tadi setelah mendengarkan lagu yang dibawakan oleh Jasmine.. Jasmine memperhatikan Darren bahkan tak menyentuh makanannya sama sekali..
"Apa kau sekarang pilih-pilih makanan?" Kini Jasmine tak tahan untuk bersuara..
"Aku sedang tak ingin makan"
"Kau bisa sakit, perhatikan dirimu kau butuh energi untuk memikirkan nasib karyawan di sini"
Ellena sampai terbatuk-batuk mendengar kata-kata Jasmine baru saja, Mike membantu menepuk punggungnya dan memberikan segelas minum untuknya.. Yang lebih mengejutkan lagi Jasmine mengambil alih piring Darren dan menyuapinya.. Ellena berkali-kali menggosok matanya untuk sekedar meyakinkan bahwa yang dilihatnya tidaklah salah.. Hati Darren kegirangan kali ini karena Jasmine memperhatikannya bahkan ia menyuapinya, ia sangat bersemangat menerima setiap suapan dari Jasmine hingga makanan di atas piringnya habis tak bersisa.. Sungguh gadis yang manis, sejak kecil ia tak akan membiarkan Darren sampai sakit karena lupa makan dan hari ini Darren menemukan gadis kecilnya kembali..
Jam makan siang selesai mereka kembali ke ruangannya kembali dan Darren, Mike, Jasmine, Ellena dalam satu lift yang sama..
"Jasmine sungguh aku tak menyangka jika kau memiliki suara emas"
"Kau berlebihan Mike" jawab Jasmine
"Sungguh, bahkan Darren sampai tak berkedip mendengar suaramu"
"Bukan suaranya tapi liriknya Mike" sanggah Ellena
"Betulkah? Apa ada yang salah dengan liriknya?" Mike tampak berpikir keras..
"Kau perlu belajar bahasa Indonesia untuk bisa mengetahuinya Mike dan aku tak keberatan untuk mengajarimu.. tapi dengan satu syarat..di dunia ini tak ada yang gratis bukan?" tawar Ellena..
"Katakan apa itu?" Mike tampak tertarik dengan sahabat Jasmine itu
"Nanti akan ku pikirkan" jawab Ellena enteng dan segera keluar dari lift karena sudah sampai lantai 7, tak lupa ia mencium pipi sahabatnya "Semangaaattt Jasmine ku"
Pintu lift kembali tertutup dan menuju ke lantai 32, Mike langsung menuju ruangannya.. Darren berjalan lebih dulu diikuti oleh Jasmine, langkah Jasmine mulai sempoyongan dia merasakan sakit kepala yang begitu hebat kali ini.. Namun sekuat tenaga ia menahan rasa sakitnya hingga dahinya basah dengan keringat sebesar biji jagung..
Sampai di ruangan, Jasmine meluruh ke lantai.. Darren segera menangkap tubuh mungil Jasmine "Ada apa denganmu?" Darren terlihat sangat khawatir melihat wajah Jasmine yang tiba-tiba saja pucat.. Dengan segera Jasmine menghambur ke dalam pelukan Darren "Hubungi Aldin, aku sangat membutuhkannya saat ini"
__ADS_1
"Di sini ada aku, katakan apa yang kau butuhkan aku akan memberikannya"
Jasmine tak menjawab pertanyaan Darren tapi hanya memeluk Darren dan merasakan kenyamanan yang selama ini ia rindukan.. Sungguh pelukan Darren adalah pelukan ternyaman baginya.. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang ia rindukan, rasa tenang dan nyaman sudah mendominasi dirinya kali ini dan perlahan ia bisa mengendalikan rasa sakitnya.. Darren terus membelai rambut Jasmine, ia merasakan ada sesuatu hal yang aneh dari diri Jasmine.. Apakah Jasmine menderita suatu penyakit yang parah hingga ia memutuskan untuk menjauhi dirinya.. Segala macam pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya.. Tiba-tiba Jasmine pingsan dan hal itu membuat Darren panik, ia menggendong Jasmine menuju kamar rahasianya dan membaringkannya di kasur miliknya.. Ia segera menghubungi seseorang untuk meminta penjelasan tentang semua ini..