
Setelah percintaan panas mereka, Aldin menggendong istrinya kembali ke ranjangnya.. Feli menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik suaminya, ia sangat malu atas apa yang sudah terjadi hingga membuat Aldin gemas kepadanya lalu mencium puncak kepalanya...
"Apa kau lapar sayang??" bisik Aldin membuat Feli langsung mendongak tak percaya..
"Sa-sayang???" Feli mempertegas kata itu dan membuat Aldin tersenyum bahagia..
"Sayang.. Aku akan memanggilmu sayang.. apa kau menyukainya??" Aldin menangkup wajah istrinya yang bahkan masih terpaku dengan panggilan sayang..
"Jadi bagaimana?? Apa kau suka??" tanya Aldin kembali yang dijawab anggukan cepat oleh Feli..
"Suka.. aku sangat menyukainya..." Feli menghambur ke dalam pelukan Aldin dan kembali menitikkan air mata..
"Aku benar-benar tak akan melupakan hari bahagia ini..." batin Feli.. Merasakan bajunya basah, Aldin mengurai pelukannya dan kembali heran karna sudah mendapati Feli menangis untuk kedua kalinya hari ini...
"Apa kau sangat bahagia hingga kau menangis lagi?? Jika setiap saat aku memanggilmu sayang apa kau juga akan menangis bahagia istriku??"
"Aku menangis karena ini untuk pertama kalinya kau menyebutku sayang.. Aku lapar.." rengek Feli.. Aldin pun merasakan hal yang sama, lapar setelah pertempuran panas mereka.. Ia mengambil sepiring makanan dengan dua sendok di sana lalu ikut nak ke atas ranjang Feli.. Feli menangkap maksud Aldin yang ingin makan sepiring berdua, ia segera mengambil sendok dan menyendokkan makanan ke dalam mulutnya namun tangan Aldin menghentikannya lalu Aldin memakan makanan yang ada di sendok Feli dan menyuapkan makanan kepada Feli.. Itulah yang Aldin inginkan, mereka makan dengan saling menyuapi satu sama lain hingga makanan mereka habis...
"Sayang.. hari ini mommy dan daddy tiba di Milan, aku tak sabar ingin mengenalkanmu pada mereka..."
DEG... Feli terdiam memaku di tempatnya..
"Sayang..."
"Ahh iya maaf, aku hanya berpikir bagaimana jika mereka tak menyukaiku"
"Mereka pasti menyukaimu.. percaya padaku" Aldin mengerling jenaka..
"Tapi kita akan menemui Emily dahulu setelah ini.." pinta Emily..
Aldin menggenggam tangan Emily dan berkata "Kita akan menemuinya bersama dan aku akan mengatakan jika kita sudah menikah.."
__ADS_1
Feli tersenyum lalu menjawab "Ya kita akan menemuinya tapi soal pernikahan kita, lebih baik besok saja kita mengatakannya... Ia belum sepenuhnya pulih, aku takut jika dia mengetahuinya justru memperburuk keadaan.. Aku tak ingin apa yang sudah ku lakukan ini sia-sia.. Jadi bagaimana??"
"Baiklah jika itu maumu..." Aldin mencium punggung tangan istrinya dengan sangat lembut..
Aldin membantu istrinya untuk bersiap menemui Emily, keduanya berjalan beriringan sambil bergandengan tangan.. Bahkan Feli mengeratkan genggamannya karena ia tahu pasti hal itu tak akan terjadi lagi setelah ini.. Ketika sampai di depan ruang rawat Emily, Feli mendongak untuk memandangi wajah suaminya lalu menangkupnya.. Untuk sesaat itu memandangi wajah lelaki yang telah berhasil memenangkan hatinya bahkan matanya tak kuat lagi membendung air mata kepedihan..
"Kau menangis lagi?? Jika kau tak ingin maka kita tak usah menemuinya.. aku akan menjelaskan pada Emily nanti..."
Feli menggeleng dengan cepat dan menimpali "Tidak.. tidak... bukan begitu.. Aku sedang bersyukur memiliki suami setampan dirimu..."
"Astaga sayaaang..." Aldin tergelak lalu meletakkan kedua tangannya di bahu istrinya "Aku memang terlahir tampan dan mempesona agar kau bisa jatuh cinta kepadaku setiap hari..."
"Yaaa... kau juga terlalu percaya diri...Mari kita temui Emily dan berlakonlah seperti biasa..." Alena menghapus air mata di wajahnya dan sedikit merapikan penampilannya lalu masuk terlebih dahulu..
Ceklek
Emily menoleh ke arah pintu dan tersenyum bahagia melihat Feli datang.. Ia sangat merindukan gadis itu... Keduanya saling berpelukan menumpahkan kerinduan yang ada..
"Katakan apa tugasmu sudah selesai Feli??"
"Bagaimana keadaan kakak?? Apakah sudah lebih baik???"
"Ya.. tentu saja.. Ini sungguh keajaiban Feli, ada pendonor yang cocok denganku... Kata dokter aku akan segera sembuh dan hidup normal kembali.."
"Aku turut bahagia untuk kakak..." Feli memeluk Emily dengan sangat erat..
"Kakak.."
"Hmm.."
"Ada seseorang yang mencarimu di luar.."
__ADS_1
"Siapa??" Emily mencoba mengingat-ingat bahwa setahunya tak ada seorang pun yang mengetahui penyakitnya..
"Aku akan membantu kakak menyisir rambut lalu menyuruh orang itu masuk..."
Perlahan Feli membantu menyisir rambut Emily hingga rapi lalu menyuruh seseorang di balik pintu untuk masuk.. Emily sangat terkejut, ia bahkan mematung di tempatnya tak percaya dengan apa yang ia lihat.. Berulang kali ia menggosok mata indahnya namun tetap saja sama.. Aldin ada di hadapannya saat ini... Air matanya bahkan lolos begitu saja saat Aldin mendekat dan duduk di sebelah ranjangnya...
"Bagaimana keadaanmu??" sapa Aldin..
"Tak pernah sebaik ini Al..." Emily menghambur ke dalam pelukan Aldin sedangkan Aldin menoleh ke arah Feli.. Ia takut istrinya marah namun Feli justru tersenyum dan menganggukkan kepalanya... Mendapat persetujuan dari istrinya, tangan Aldin terulur untuk membalas pelukan Emily...
Perih... Satu kata yang dirasakan Feli melihat suaminya dipeluk oleh wanita lain.. Namun ia menguatkan hatinya karena ini sudah menjadi keputusannya...
"Tuan.. Nona Emily sangat menyukai pemandangan danau di belakang rumah sakit ini.. Tolong bawa nona Emily untuk berjalan-jalan ke sana" pinta Feli yang mendapat tatapan tajam dari Aldin..
"Ahh iya aku sudah lama tak kesana.. maukah kau menemaniku berjalan-jalan Al??" timpal Emily..
"Tentu saja setelah aku berbicara dengan dokter Feli.. Tunggulah sebentar..." Emily hanya mengangguk dan melihat Aldin keluar bersama Feli untuk berbicara..
Di luar kamar, Aldin mencoba protes dengan permintaan Feli yang menyuruhnya untuk membawa Emily berjalan-jalan ke tepi danau... Namun Feli kembali meyakinkannya dan hari ini rencananya ia akan mengunjungi Jasmine untuk mengucapkan selamat atas kehamilannya... Aldin menuruti semua perkataan Feli walaupun hatinya merasa enggan untuk melakukannya.. Aldin meminta Feli untuk menunggunya di ruangan Jasmine saja hingga ia datang untuk menjemput... Feli menyetujui permintaannya tanpa protes.. Keduanya kembali masuk ke ruang rawat Emily...
Emily menautkan alisnya melihat keduanya lalu berkata "Kenapa kau sedih Feli?"
"Ahh tidak apa kakak... Tuan memarahiku karena menyarankan kakak untuk berjalan-jalan di tepi danau.. Beliau sangat mengkhawatirkan kondisi kakak.."
"Benarkah begitu Al???" tanya Emily memastikan dan dijawab anggukan oleh Aldin.. Ia mengikuti permainan yang diciptakan oleh Feli...
"Aku senang kau memperhatikanku, tapi aku tak suka kau memarahi Feli.. Dia sudah seperti adikku dan dia benar sekali aku sudah rindu tempat itu... Jangan melimpahkan kemarahanmu pada Feli..."
Feli tersenyum dan mendekat lalu memeluk Emily "Kau memang kakak terbaik, aku bahagia Tuhan sudah mempertemukan kita..."
Emily mengurai pelukannya dan menyentil hidung mancung miling Feli... Feli mengakhiri drama ini dengan membantu Emily untuk duduk di kursi roda dan menyerahkannya pada Aldin.. Aldin mendorong kursi roda Emily dengan mata yang tak pernah lepas dari istrinya...
__ADS_1
Setelah kepergian keduanya, Feli merapikan tempat tidur Emily dan mengganti spreinya dengan sprei baru motif bunga berwarna peach yang sangat cantik, tak lupa ia mengganti bunga di vas lalu menyemprotkan peweangi ruangan...
Feli menarik nafas panjang dan mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya yang ia tulis untuk Emily.. Ia juga memajang fotonya bersama dengan Emily dan menaruhnya di bingkai lalu meletakkan nya di meja sebelah tempat tidurnya.. Feli tersenyum melihat seisi ruangan dan bergumam "Semua sudah berakhir Feli.. Mari lanjutkan hidupmu..."