Cinta Cuma-Cuma

Cinta Cuma-Cuma
CCC- Bab 14


__ADS_3

Satya menarik tangan Bhina untuk masuk ke kamar mandi di apartemennya, Bhina merengek tak mau mengeramasi rambut suaminya.. Bhina memeluk pintu kamar dengan erat sehingga membuat Satya dengan terpaksa mengakat gadis ramping itu ke bahunya..


"Sini lu!!! pokoknya tanggung jawab"


"Kakak jangan kak.. please"


"Cih! Mana muka songong lu tadi pas nanya rambut yang mana??"


"Aaaa kakak ampun kak" teriak Bhina sambil memukul punggung suaminya..


"Enak aja lu bilang ampun-ampun, nih rambut gue turun pamor gara-gara elu.. Biasanya gue pakein Pomade mahal, lah ini elu kasih minyak jelantah"


"Ya maap.. sekali-kali dikasih aroma yang menggugah selera makan"


"Makan elu" Satya menurunkan tubuh Bhina di kamar mandi dan mulai menyalakan shower.. Satya berdiri di bawah guyuran shower dan menyerahkan sebotol shampo kepada Bhina.. Akhirnya dengan berat hati Bhina melakukannya, Bhina ikut bergabung di bawah guyuran shower dengan masih menggunakan kaos putih dan celana jeans yang tadi ia kenakan untuk belanja.. Perlahan ia memijit kepala Satya dengan lembut, mata Satya terpejam menikmati setiap sentuhan istrinya.. Tanpa ia sadari tubuh istrinya ikut basah dan kaos yang dikenakan sudah terlihat sangat transparan.. Terlihat dengan jelas bra berwarna merah yang dikenakan istrinya itu menggoda imannya..


Satya meraih tengkuk istrinya dan ******* bibir istrinya di bawah guyuran air shower.. Bhina membalas ciuman suaminya seolah melampiaskan rasa cemburu yang tadi menyerangnya.. Sesaat mereka melupakan perjanjian yang tadi baru saja mereka tanda tangani.. Satya melepaskan pagutannya dan kedua netra mereka saling beradu..


"Kak"


"Hmm"


"Aku tahu ini salah..maaf tadi aku lancang buka foto kakak..." Bhina meneteskan air matanya


"Dia masa lalu gue"


"Aku tahu.." Bhina menjauhkan dirinya dari Satya dan segera mengambil jubah mandi miliknya lalu keluar dari kamar mandi sebelum setan merasuki keduanya..Bhina menuju walk in closet dan berganti dengan piyama tidur miliknya.. Ia sangat lelah hari ini dan ia membutuhkan tidur berkualitas... Bhina merebahkan diri di kasur empuk nan mahal dan seperti biasa dalam hitungan detik ia sudah terlelap..


Satya yang sudah selesai mandi dan menenangkan adik kecilnya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat istrinya sudah terlelap.. Satya berbaring di sebelah istrinya, sesekali ia menoleh ke arah istrinya.. Seakan ada magnet dalam tubuh istrinya yang mampu membuat Satya tertarik untuk memeluknya.. Tanpa pikir panjang, Satya memeluk tubuh istrinya.. Tubuh yang pas dalam pelukan Satya.. Tubuh yang mampu membuat dunia Satya jungkir balik dan tentu saja sangat Satya rindukan.. Aroma tubuh Bhina mampu membuat Satya menggila..


"Bhi, bangun.."


"Hmm" Bhina menggeliat dan semakin mengeratkan pelukan suaminya.


"Laper bhi.. masakin dong.."


"Beli aja lewat aplikasi, aku ngantuk banget"


"Gue suka masakan elu bhi"


Cup..cup..cup.. Satya menciumi wajah Bhina hingga mau tak mau Bhina harus membuka matanya..


"Kakak ih-"


"Jurus ampuh buat ngebangunin Cinderella" Satya tertawa terbahak-bahak dan akhirnya Bhina memilih mengalah dan menyediakan makan malam untuk Satya..

__ADS_1


Setiap hari mereka lalui dengan sangat manis, seperti sedang bermain peran.. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, Bhina selalu menyiapkan segala keperluan Satya bahkan setiap jam makan siang Bhina harus membawakan bekal untuk Satya ke kantor..


Tanpa ada ungkapan cinta diantara keduanya, hubungan mereka mengalir.. Bhina tak lagi berharap pada Satya setelah ia melihat foto Satya dan juga Ardelia bahkan ia merasa bahwa hubungan mereka lebih baik seperti kakak adik saja.. Hingga tak terasa satu bulan pernikahan telah mereka lewati..


"Tinggal 60 hari lagi" gumam Bhina sembari melihat tanggalan di meja samping tempat tidurnya..


"Apanya yang 60 hari lagi?"


"Hari perpisahan kita.."


Deg,


Hati Satya berdenyut nyeri saat Bhina mengucapkan sisa waktu mereka untuk bersama.. Apa sebuah keegoisan jika Satya nyaman dengan hidup yang ia jalani saat ini? Hubungan pernikahan namun tanpa ada pengakuan cinta..Satya masih saja bingung dengan perasaannya karena sejak hari itu Bhina sudah tak pernah membicarakan tentang perasaannya, berbeda dengan dulu yang secara gamblang Bhina mampu mengatakan jika ia jatuh cinta pada Satya...


"Tadi mami telepon katanya kita diundang makan malam.. Hari ini kakak ada meeting kan, nanti kakak langsung nyusul aja ya, aku berangkat sendiri"


"Lu ke kantor gue aja, nanti kita berangkat bareng"


Bhina hanya mengangguk, ia meraih tangan suaminya dan menciumnya untuk melepas suaminya pergi bekerja, Satya juga mencium puncak kepala istrinya namun tiba-tiba Bhina menghambur ke dalam pelukan Satya..


"Kenapa? mau ikut ke kantor??"


"Gak lah.. lagi pengen peluk-peluk aja"


"Emangnya kurang? elu tiap malem meluk gue, lagi nonton juga peluk gue bahkan gue lagi kerja aja elu gelendotan di dada seksi gue"


"Bu-bukan gitu maksud gue" Satya gugup karena merasa Bhina tidak akan memeluknya lagi setelah ini.. Setelah melihat foto di komputernya saja, Bhina sudah tak pernah mengucapkan jika ia jatuh cinta pada Satya.. Jangan-jangan setelah ini Bhina tak lagi mau memeluknya seperti yang biasanya ia lakukan.. Mampus lu sat, guling lu ngambek.. ga ada jatah kelon nih bisa-bisa...


"Berangkat gih nanti telat"


Dengan berat hati Satya meninggalkan Bhina ke kantor, ia tak bertanya apakah Bhina marah atau tidak dengan perkataannya tadi walaupun hatinya ingin sekali bertanya akan hal itu..


.


.


.


Di kantor, Rendra sedang menjelaskan beberapa dokumen terkait meeting nanti siang, namun tak banyak yang masuk ke dalam otak cerdasnya..


"Napa lagi sih lu?Lemes amat kayak ga dapet jatah aja semalem"


"Hufh, Bhina makin ke sini kok kayak ngejauhin gue ya ren..Dia kayak yang ngejalanin tugasnya sebagai istri tapi kok hatinya tertutup.."


"Lah kenapa elu terganggu sama hal-hal kayak gitu.. Bukankah itu lebih memudahkan kalian pas kalian bercerai?"

__ADS_1


"Bercerai? kenapa gue nyaman dengan hubungan yang seperti ini ya?"


"Otak lu kudu dicuci kayaknya sat.. Lu mau sampai kapan sih kayak gini? Tinggal bilang cinta aja susah amat sih lu"


"Gue takut ren.."


"Ya Allah Bro, Ardelia sama Bhina itu dua orang yang berbeda.. lu masih cinta sama Ardelia?"


"Gue bahkan marah waktu liet dia jalan sama pacarnya"


"Kalau Bhina yang jalan sama cowok lain gimana?"


"Amit-amit jabang bocah!!! ati-ati lu kalau ngomong.. gue bunuh tuh cowok"


"Lah terus elu cintanya sama siapa bego???"


"Gue bingung..."


"Ya udah lepasin Bhina"


"Ya ga bisa gitu dong..dia kan istri gue.."


"Elu marah liet Ardelia jalan sama pacar barunya gue rasa karena elu benci sama pengkhianatannya bukan karena elu cinta sama dia...Lah kalau elu liet Bhina jalan sama cowok lain, gue rasa elu cemburu"


"Lu kangen ga sih sama Ardelia?"


"Enggak sama sekali"


"Sama bini lu?"


"Yang jelas ga bisa jauh-jauh sama dia.."


"Kayaknya elu kalah sama permainan lu sendiri.. akhirnya elu bucin juga sama model cantik impian banyak lelaki itu"


"Tutup mulutmu brengsek!! Dia istriku dan hanya milikku"


"Lebih baik segera perbaiki hubungan kalian sebelum terlambat"


Satya terdiam memikirkan saran sahabatnya dan benar apa yang dikatakan Rendra bahwa ia harus memperbaiki hubungannya..


"Ren, batalin meeting hari ini.. lu nanti ikut gue ya"


"Bangkeee lu sat!!! Seenak jidat lu batalin meeting.."


"Gue kan bosnya"

__ADS_1


"Terserah!!"


__ADS_2