Cinta Cuma-Cuma

Cinta Cuma-Cuma
CCC- Bab 58


__ADS_3

Emily berlari ke arah Aldin dan memeriksa lukanya, ia tampak sangat khawatir dan segera menelepon ambulance.. Emily dan Mike dibantu oleh Ellena mengamankan keluarga pradipta..


"Dia Jahat.. Dia jahat.. Aku membencinya.. sangat membencinya!!!" Jasmine histeris dan Elvano segera mendekat untuk menenangkannya..


"Jasmine tenang, kendalikan dirimu...Lihat aku.." Elvano menangkup wajah Jasmine yang tertunduk.. Darren terpaku melihat Jasmine yang terlihat kacau..


"A-apa yang sudah terjadi pada Jasmine??" Darren panik dengan apa yang dilihatnya..


"Minggir" Darren menjauhkan Elvano dari Jasmine.. Ia menarik tubuh Jasmine ke dalam pelukannya dan membelai rambutnya..


"Jasmine, ada apa denganmu??" tanya Darren yang sedang menenangkan Jasmine..


"Dia jahat... Dia pembunuh" Jasmine mengacungkan jarinya ke arah Sonia.. Darren masih belum paham dengan perkataan Jasmine..


"Siapa yang telah dibunuh Jasmine?? Tenanglah"


"Anakku.. Aaaaaaaaaaaaaaaaa" Jasmine berteriak sekeras mungkin, ia memberontak dan hendak menyakiti dirinya sendiri jika ingatan akan bagaimana Sonia dengan sengaja berniat membunuh janinnya..


Bagaikan di sambar petir Darren mendengar hal ini, anak? apa mungkin Jasmine selama ini hamil? Tapi kenapa dia tak memberi tahu jika dia sedang hamil.. Kepingan-kepingan peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu berputar di otaknya, ia teringat terakhir kali ia menghubungi Jasmine, Jasmine terlihat pucat dan memuntahkan isi perutnya.. Dia juga mengatakan memiliki kejutan... Tangis Darren pecah., bagaimana ia bisa sejahat ini pada Jasmine.. Ia pikir ia akan menyelamatkan nyawa Jasmine dengan cara ini tapi ia justru membuat buah hati mereka pergi.. Darren memeluk Jasmine dengan segenap rada bersalah dalam dirinya..


"Maafkan aku Jasmine, maafkan aku.. " Hanya kata maaf yang bisa ia ucapkan..


"Kakak..anak kita.." lirih Jasmine sembari memegang perutnya yang rata..


Percayalah saat ini Darren sungguh menderita, ia bahkan sudah kehilangan sebelum bisa memiliki.. Buah hati yang beberapa waktu lalu ia impikan harus pergi dengan cara yang mengenaskan.. Ia merasa menjadi seorang ayah yang buruk.. Dadanya begitu sesak melihat wanita yang ia cintai dalam kondisi yang sedang tidak baik-baik saja..


Elvano hanya bisa memalingkan wajahnya melihat Darren memeluk Jasmine.. Sakit rasanya namun ia sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa... Ia memberikan ruang bagi Darren dan Jasmine untuk mengungkapkan permasalahan yang terjadi.. Namun Sonia menarik kasar rambut Jasmine agar menjauh dari Darren..

__ADS_1


Elvano segera mendorong Sonia agar tak menyakiti Jasmine kembali.. Namun tangan Jasmine lebih cepat meraih tangan Sonia, Jasmine menghajar Sonia hingga Sonia terkapar lemah..


"Itu belum cukup untuk membalaskan perbuatanmu yang telah melenyapkan nyawa anakku"


"Hahaha, nyawamu ada di tanganku" Sonia mengeluarkan sebuah remote yang sekali pencet saja tubuh Jasmine bisa hancur berkeping-keping..


Darren dan Elvano terlihat sangat panik, panik jika Sonia nekat menekan tombol di remote itu... Elvano menjauhkan Jasmine dari Sonia sedangkan Darren berusaha membujuk Sonia agar tidak melakukan hal itu..Akhirnya karena tenaga yang belum pulih sepenuhnya, Jasmine terjatuh dan tidak sadarkan diri.. Elvano menangkap tubuh mungil itu dan menggendongnya..


"Jasmine" ucap Darren di tempatnya, Elvano menghentikan langkah kakinya dan berbalik badan..


"Jika kau ingin memperbaiki semuanya, ku rasa ini belum terlambat.." ucap Elvano lalu beranjak pergi membawa Jasmine ke rumah sakit... Kaki Darren ingin sekali mengejar Elvano dan juga jasmine namun sebelah tangannya di tahan oleh Sonia.. Darren memandang wajah Sonia dan mengikis jarak diantara mereka..


"Terbuat dari apa hatimu Sonia?? Bahkan anakku yang tidak bersalah juga kau lenyapkan..Aku membencimu!!! Ingatlah aku di sisimu karena aku mencintai Jasmine" Darren mendorong tubuh Sonia dan pergi meninggalkannya.. Hatinya sungguh kacau saat ini, berulang kali ia memukul dadanya karena terasa sesak.. Kebahagiaannya harus direnggut paksa darinya. Berungkali ia harus berteriak untuk menetralisir emosi jiwanya.. Namun usahanya sia-sia, yang ia butuhkan saat ini adalah Jasmine...


Malam ini, Darren meneguk banyak minuman untuk meluapkan segala rasa di hatinya.. Beruntung ada Mike yang selalu menemaninya..


"Dude, cukup hentikan.. Kau tak pernah seperti jni sebelumnya.."


"Aku sungguh turut berduka untuk anakmu.. Namun berjuanglah demi Jasmine"


Darren mengenggam erat gelas di tangannya "Kau benar.. aku harus meminta maaf padanya.."


"Tentu saja, mari kita kembali dan persiapkan dirimu esok hari untuk bertemu dengan Jasmine"


Darren menuruti kata-kataku Mike dan mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap..


.

__ADS_1


.


.


Jasmine dan Aldin sama-sama sedang mendapatkan perawatan.. Elvano menjaga Jasmine sedangkan Emily menjaga Aldin.. Jasmine masih enggan membuka matanya, ia memakai banyak tenaganya yang seharusnya ia gunakan untuk pemulihan dirinya...


"Tidur lah yang nyenyak, aku akan menjagamu di sini" bisik Elvano, kemudian ia hendak mencium puncak kepala Jasmine seperti yang dulu selalu ia lakukan jika sedang bersama dengan Jasmine... Namun tiba-tiba saja ia tertawa getir "Bagaimana aku bisa lupa jika kau bukan milikku lagi nona?? Ku mohon maafkan aku kali ini yang tak bisa menahan keinginanku"


Cup.. Sebuah kecupan hangat mendarat di puncak kepala Jasmine..


Di sisi lain, Aldin mulai sadar setelah menjalani operasi.. Emily juga langsung terjaga ketika menyadari bahwa ada pergerakan..


"Kau sudah bangun? Apa kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja.. Dimana Jasmine?? Apa dia juga baik-baik saja??"


"Ada elvano yang menjaganya.. Besok akan ku antarkan kau menemuinya.. Lebih baik sekarang kau istirahat karena lukamu masih belum sembuh"


Aldin kembali membaringkan tubuhnya, ia menatap langit-langit kamarnya.. "Katakan apa yang kau ketahui em??"


"Apa maksudmu Al??"


"Aku yakin kau adalah gadis cerdas yang bisa mengartikan kata-kataku.. Apa kau tak bisa melihat apa yang dialami adikku?? Dia.. Ahh, betapa malangnya adikku"


"Aku ikut berduka atas kejadian yang menimpa Jasmine, sungguh ini diluar dugaan.. Baik aku maupun Darren tak ada yang tahu jika Jasmine sedang mengandung"


"Jangankan kalian, kami keluarganya yang tinggal serumah pun tak ada yang mengetahuinya.." Aldin marah pada dirinya sendiri..

__ADS_1


Emily hanya tertunduk, antara ikut bersedih dan rasa bersalah atas kejadian yang menimpa Jasmine.. Ia bahkan melupakan rasa rindunya pada Aldin yang tak kalah terpuruk dalam hal ini.. Ikatan batin antara Aldin dan Jasmine memang sangatlah kuat.. Apa yang dirasakan Jasmine juga turut dirasakan oleh Aldin..


Emily tak ingin memperkeruh suasana dengan menceritakan tentang semua hal yang terjadi.. Menurutnya Darren yang lebih berhak untuk menyampaikannya dan bukanlah dirinya yang memang tak memiliki kapasitas apapun dalam hal ini..


__ADS_2