
Jasmine mengenakan gaun berwarna hitam senada dengan jas yang dikenakan Elvano.. Semua anggota keluarga panik jika nantinya Jasmine tidak bisa mengambil sikap dan justru memperburuk keadaan...
Namun yang mereka pikirkan ternyata salah, Jasmine bersikap sangat tenang.. Tubuhnya masih lemah untuk menghadiri undangan pernikahan Darren.. Elvano merangkul pinggang Jasmine agar tubuhnya lebih kuat, namun Jasmine berjalan dengan tegak dan ia mengangkat kepalanya.. Ia menunjukkan jika ia bukanlah wanita yang lemah.. Ia memasuki ballroom hotel dan duduk di kursi yang sudah di sediakan..
Darren dan Sonia datang untuk menyapa keluarga pradipta... Dengan angkuhnya Sonia menggandeng tangan Darren seolah ia ingin menunjukkan bahwa ia adalah pemenangnya.. Sedangkan mata Darren tak bisa berpaling dari wajah Jasmine yang terlihat pucat namun tetap saja cantik..
"Hai Jasmine, aku mulai sekarang aku adalah kakak iparmu" sapa Sonia..
Jasmine menoleh ke arah Aldin "Apa kau menikahinya tanpa memberitahuku Al?"
"Mana bisa begitu, bukankah kita sudah berjanji untuk menikah di waktu yang bersamaan?" Mata Aldin melirik ke arah Emily yang terdengar tidak nyaman dengan jawaban Aldin baru saja.. Apakah benar Aldin akan menikah.. Dengan siapa? Beraninya dia sudah mempermainkan perasaanku di saat aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya.. Ini tidak bisa dibiarkan...
Mata Darren langsung tertuju pada Elvano dan Jasmine bergantian.. Apa mungkin mereka akan kembali bersama? Bagaimana bisa semudah ini Jasmine melupakannya? Sedangkan Darren melakukan ini semua demi Jasmine.. Balasanmu sungguh menyakitkan Jasmine, aku tak sanggup melihatmu bersama pria lain... Tolong katakan jika ini tidaklah benar Jasmine, ku mohon tunggu aku untuk menyelesaikan ini semua..
Jasmine berdiri dan mengulurkan tangannya, ia tersenyum dengan tulus dan berkata "Selamat untuk pernikahanmu kakak, ku harap kau akan bahagia"
"Te-terima kasih" Darren menjabat tangan Jasmine, tangan yang biasa dia cium kini ia hanya bisa sebatas menjabatnya..
"Ahh, suamiku jangan terlalu lama memegang tangan adikmu.. aku rasa aku cemburu, dia kan adik yang juga mantan istrimu"
"Wah, kau sungguh mendalami peranmu rupanya kakak ipar" ejek Jasmine..
"Apa yang kau katakan wanita sialan???" Sonia berteriak..
"Jangan membentak nya.." ucap Darren dengan tenang namun tetap saja matanya fokus kepada Jasmine..
"Waahh, baru saja menikah kau sudah lupa dengan perjanjian kita rupanya sayang? Bagaimana jika..." Sonia tidak Terima Darren masih saja membela Jasmine..
"Jika kau ledakkan chipnya kakak ipar??" tantang Jasmine..
"Apa kau cari mati Jasmine??? Nyawamu ada di tanganku.."
Elvano merangkul Jasmine agar bisa mengendalikan dirinya, Jasmine menoleh dan tersenyum seakan memastikan semuanya akan baik-baik saja..
"Jangan menatapnya seperti itu Jasmine" ucap Darren sembari membuang muka karena tak tahan dengan pemandangan di hadapannya..
__ADS_1
"Akhh maafkan aku kakak, aku merusak hari bahagiamu sepertinya.. Silakan dilanjutkan, aku mohon pamit" ucap Jasmine dengan lembut lalu ia membungkukkan badannya sebagai tanda hormatnya.. Jasmine berbalik badan dan berjalan meninggalkan tempat itu di ikuti oleh Elvano..
"Berhenti" ucap Sonia yang tak dihiraukan oleh Jasmine..
"Berhenti kau ******!!"
SET
Jasmine dan Elvano kompak menghentikan langkahnya dan menoleh "Ku rasa semua tentang kita sudah selesai, hiduplah dengan bahagia Sonia.. Aku mendoakanmu setulus hatiku"
"Kenapa kau biasa saja??? Aku ingin melihatmu hancur dengan melihat pernikahanku"
"Apalagi yang kau inginkan? Seharusnya kau membunuhku sekalian Sonia"
"Kau adik ipar yang tidak sopan, aku mengundangmu untuk minum bersama.. Kau adalah tamuku" Sonia tersenyum licik..
"Biarkan dia pergi sonia" ucap Darren
"Semakin kau melindunginya, aku semakin ingin menyakitinya suamiku.. paham??"
"Jangan hiraukan dia, lebih baik kita pergi.." Elvano merangkul bahu Jasmine, ia tahu bahwa alasan utama Jasmine ingin pergi karena tubuhnya sangat lemah dan Jasmine tak ingin Darren mengetahui keadaannya..
Minuman mulai dituang ke gelas, keluarga Jasmine sudah satu per satu memberikan nasihat kepada Jasmine agar tak ikut minum mengingat kondisi tubuhnya yang masih sangat lemah.. Namun dengan tenang Jasmine mampu meyakinkan semuanya.. Mereka semua bersulang, Sonia terus menuangkan minuman ke gelas Jasmine..
"Hentikan Jasmine, tubuhmu tak mampu mentolerir alkohol.. " Darren mulai cemas melihat Jasmine yang masih tak berhenti minum..
"Aku baik-baik saja kakak.."
"Hahaha aku menang Jasmine.. aku menang atas dirimu" teriak Sonia yang sudah mulai kehilangan kesadarannya..
"Ya kau menang, pergilah dan hiduplah dengan bahagia.. Jangan lagi ada dendam di hatimu.." Jasmine mengatakannya sembari menatap gelas dihadapannya dengan tatapan kosong..
"Tidak, aku tak akan membiarkanmu bahagia.. aku akan membunuh satu per satu orang yang kau cinta.." Semua orang terkejut dengan penuturan Sonia.. Jasmine bangkit dan mencekik leher Sonia..
"Bukankah sudah ku katakan jika kau bisa membunuhku saja dan jangan pernah libatkan keluargaku!!"
__ADS_1
"Uhuuuk.." Sonia kesusahan bernafas dan dengan segera Darren melepaskan cengkeraman tangan Jasmine di leher Sonia..
"Lepaskan Sonia, kau bisa membunuhnya Jasmine" teriak Darren, ucapan Darren membuat Jasmine menangis dan meluruh ke lantai..
"Jangan berteriak kepadanya brengsek!!" Aldin merasa tidak Terima melihat adiknya menerima perlakuan itu dari Darren.. Emily menarik tangan Aldin agar tidak terpengaruh oleh keadaan namun dengan segera Aldin menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam..
"Apa kau bagian dari ini semua??Jika memang terbukti, sekalipun aku tak sudi melihat wajahmu itu nona.." ucap Aldin tepat di depan Emily..
"Ti-tidak, Al percayalah ini semua demi kebaikan Jasmine" Emily mencoba menenangkan Aldin..
"Al hentikan.." lirih Jasmine..
Aldin memalingkan wajahnya dari Emily dan berjalan ke arah Jasmine.. Percayalah ini adalah bagian yang paling menyakitkan bagi Emily, saat orang yang kau cintai justru memalingkan wajahnya..
Tiba-tiba suara tembakan terdengar dan peluru itu tertuju pada Bhina..
"Moooooommmm...." teriak Jasmine sekuat tenaga.. Aldin berlari untuk melindungi mommynya dan kini sebuah peluru bersarang di lengannya..
Jasmine berdiri dan menghajar Sonia dengan sisa kekuatan yang ia miliki "Berani sekali kau melukai keluargaku??"
"Jasmine hentikan kegilaanmu ini, dia bisa saja membunuhmu.. Tolong ingat itu" ucap Darren..
"Darren Wilson, asal kau tahu tadinya aku ingin datang kemari untuk memberikan kalian dukungan dan doa terbaik atas pernikahan kalian.. Tapi sepertinya setelah ini kau harus mendidik istrimu dengan baik.. Aku tak peduli dengan nyawaku sendiri, tapi aku tak akan pernah Terima jika dia melukai keluargaku..."
"Jangan membuat pengorbanan ku ini sia-sia Jasmine"
"Siapa yang berkorban untuk siapa Darren??? Aku yakin kau akan lebih hancur dariku saat mengetahui kebenarannya"
"Sudah cukup hentikan semua ini.. Jasmine mari kita pulang" Elvano mencoba menengahi..
"Semua pengorbananku kau balas dengan kembalinya dirimu dan Elvano??*
"Tutup mulutmu itu Darren, dia sama sekali tak ada hubungannya dengan ini semua!!" bentak Jasmine..
"Cukup Darren, hentikan ini semua.. Jasmine sudah cukup menderita dan jangan menambah bebannya" kali ini seorang Elvano memohon kepada Darren demi Jasmine..
__ADS_1
"Kebenaran apa yang kau maksud Jasmine??" tanya Darren..
"Aku tak ingin membahasnya..." Jasmine tiba-tiba saja menutup telinganya dan menjadi histeris mengingat bagaimana ia harus kehilangan janinnya dengan cara yang sangat mengerikan...