
"Jaaaasssmiiiiiineee" teriak Bhina histeris saat dokter yang menangani putrinya keluar dengan berita yang tidak menyenangkan.. Tak ada satu orang yang percaya akan penuturan Albert yang mengatakan jika hidup Jasmine hanya bergantung pada alat-alat yang menempel pada tubuhnya..
"Ini tidak mungkin.. Katakan ini semua bohong kan om???" teriak aldin..
"Maafkan aku tapi aku harus mengatakan jika hal ini benar adanya..."
Deg!!!
Tes.... air mata Elvano terjatuh saat mendengar hal ini, Dimanakah suami dari wanita yang sedang terbaring lemah itu.. Ingin rasanya ia menyeret pria itu agar bisa menemani istrinya di masa-masa sulitnya.. Atau jika memungkinkan, dirinya sama sekali tidak keberatan jika harus menggantikan posisi suaminya..
Namun sekarang bukan saat yang tepat untuk menemui keluarga pradipta, ia hanya bisa memantau dari kejauhan... Setiap hari hanya itu yang bisa ia lakukan..
Elvano mencuri kesempatan saat keluarga pradipta pulang untuk beristirahat, sehingga ia bisa masuk ke ruang rawat Jasmine..
"Hai Jasmine, bagaimana kabarmu? Kau tetap cantik walaupun terlihat sedikit pucat" sapa Elvano di telinga Jasmine..
"Aku tak tahu apa alasanmu hingga sekarang masih enggan membuka mata indahmu itu namun bangunlah dan temukan kebahagiaanmu.. Maaf aku harus pergi, tak enak jika ada yang melihatku di sini, nanti aku akan kembali lagi.."
Ketika akan keluar, mata Elvano tertuju kepada sepucuk surat di atas meja dari pengadilan.. Ia tahu ini bukan haknya namun melihat surat itu ditujukan untuk Jasmine, Elvano mengintip apa isi surat tersebut.. Betapa terkejutnya dirinya bahwa itu adalah surat perceraian Jasmine..
Bagaimana bisa pria itu menceraikan Jasmine dalam kondisi seperti ini, Elvano mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan kepada asisten pribadinya.. Ia menyuruh asistennya mencari tahu semua hal yang berkaitan dengan Darren..
"Kau wanita yang kuat, bangunlah.. aku berjanji akan menemani dan menjagamu.. Mulai hari ini aku tak akan pergi menjauh lagi, aku akan di sampingmu dalam setiap kondisimu"
Ajaib!!!
Jasmine membuka matanya hingga kedua netra mereka bertemu.. Betapa bahagianya elvano hingga ia menangis bahagia... Jasmine memegang perutnya yang kini sudah kembali datar, sebelumnya dia sedikit buncit saat hamil.. Air matanya tak tertahankan lagi, ia menangis histeris..
"Jasmine, kenapa? apa perutmu sakit?" Elvano panik melihat Jasmine yang menangis histeris..
"Ba-bayiku dimana bayiku??"
"Apa??" Elvano melihat perut Jasmine dan tak percaya dengan hal ini, suaminya menceraikannya dan ia harus kehilangan bayinya...
"Dia pergi meninggalkanku... Dia membunuh anakku yang tidak berdosa...Aku membencinya... membencinyaaaaaaa!!!!!" teriak Jasmine, segera Elvano menarik tubuh Jasmine ke dalam pelukannya..
"Hei, tenanglah.. ada aku disini.. apa kau masih mengingatku??"
"Elvano" jawab Jasmine sesenggukan..
"Yaaa kau benar sekali, aku Elvano Rodrigo yang tidak akan pernah meninggalkan Jasmine Pradipta.."
Jasmine mendongak menatap wajah Elvano..
"Ma-maksudku bagaimana jika kita menjadi sahabat??Seorang sahabat tak akan mungkin meninggalkan sahabatnya bukan??" jawab Elvano gugup..
__ADS_1
Jasmine mengangguk dan menjatuhkan dirinya ke pelukan Elvano namun pandangannya tertuju pada surat yang tadi di baca oleh Elvano.. Dia menariknya dari atas meja dan membuka isinya.. Elvano khawatir jika Jasmine akan menjadi histeris saat membacanya namun Jasmine malah menyunggingkan bibirnya dengan sedikit tertawa..
"Selesai!!" ucap Jasmine sambil merobek surat perceraiannya..
BRAK
pintu ruang rawat Jasmine terbuka, Aldin yang terburu-buru karena mendapat kabar dari perawat jika Jasmine menangis histeris pun langsung berlari dan memeriksa keadaan Jasmine..
"Kau sudah bangun?? Aku sangat merindukanmu" Aldin menangkup wajah kembarannya dan mencium puncak kepalanya..
"Tak ada yang mencintaiku sepertimu dan daddy" Jasmine memandang Aldin dengan mata yang sangat rapuh...
"Elvano mencintaimu, dia bahkan menjagamu saat kau terbaring di sini" Aldin melirik kepada Elvano, sejak awal Aldin sudah tahu jika Elvano ada di sini makanya Aldin selalu keluar di waktu-waktu tertentu agar Elvano bisa masuk ke ruangan Jasmine..
"Aku lelah" ucap Jasmine
"Akan kupanggilkan dokter untuk memeriksamu" Aldin membaringkan tubuh Jasmine dengan hati-hati lalu memanggil dokter..
Setelah dokter memeriksanya, dokter memberinya obat tidur agar Jasmine beristirahat..
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Elvano..
Aldin menceritakan semuanya, dari chip yang tertanam di tubuh Jasmine yang membuat semua malapetaka ini terjadi..
Aldin hanya mengangguk membenarkan...
"Ohh Shiiitt!!!! Katakan siapa pelakunya??"
"Sonia"
"Sonia?? Biarkan aku membawa Jasmine untuk mengeluarkan chip nya"
"Apa kau bisa? Kami semua sudah berusaha namun belum berhasil"
"Ayahku yang menciptakan chip itu untuk para pemberontak di negaraku.. Namun ayah sonia berhasil mencurinya.. Biarkan aku membawa Jasmine"
"Baiklah, aku akan membicarakan hal ini kepada mommy dan daddy terlebih dahulu"
Elvano mengangguk tanda bahwa ia setuju, Jasmine adalah bintang terang yang menyinari hidupnya... Membawa kebahagiaan walaupun ia tak bisa meraih bintang itu... Bintang itu terlalu terang dan Elvano tak bisa meraihnya bahkan untuk sekedar memandangnya.. Dia terlalu indah untuk Elvano, jika ia redup apa jadinya hidup Elvano... Bersinarlah Jasmine agar aku juga merasakan terangnya sinarmu...
Elvano mengelus puncak kepala Jasmine dengan penuh kasih sayang, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa tak akan membiarkan bintang itu kehilangan cahayanya... Kini ia lebih leluasa untuk bisa masuk ke ruang rawat Jasmine karena Aldin sudah mengetahuinya.. Tak ada yang perlu ia sembunyikan lagi...
.
.
__ADS_1
.
Ceklek
Suara pintu yang terbuka membangunkan Elvano yang sedang tidur menjaga Jasmine.. Perlahan ia membuka matanya dan menegakkan posisinya ketika melihat siapa yang datang..
"Selamat pagi aunty uncle" sapa Elvano..
"Selamat pagi nak, apa kau sudah lupa bagaimana caranya memanggil kami??" Bhina tersenyum hangat..
"Tapi aku..."
"Kau adalah putraku"
"Benarkah?? Jadi.. "
"Panggil kami mom dan dad seperti dulu kau memanggil kami"
"Oh mommy,, kau memang mommy idamanku.. apa aku boleh memelukmu??" Goda Elvano sambil melirik ke arah Satya..
"Jangan mimpi anak muda!! Dia mommy mu"
"Tapi dia mencintaiku dad"
"Tutup mulutmu.. apa kau tak rindu pada daddy??" Satya merentangkan tangannya dan Elvano segera memeluknya..
"Maafkan atas semua yang terjadi pada hubunganmu dan Jasmine.. Aku meminta maaf sebagai seorang ayah"
"Percayalah kebahagiaan Jasmine adalah prioritasku dad"
"Apa kau sudah menikah?"
"Hmmm" Elvano tampak berpikir "Mungkin sebentar lagi, aku ingin kalian semua datang"
"Tentu saja, wanita itu pasti sangat beruntung memilikimu"
"Dan aku tidak beruntung karena tidak bisa memiliki putrimu.. "
Kalimat terakhir Elvano membuat suasana menjadi canggung, Satya menarik nafas panjang dan menghembuskannya "akan lebih baik bagimu jika kau sudah menemukan wanita selain putriku"
"Hmmm, apakah kita bisa membicarakan soal chip itu saja?? Ku rasa kita butuh tempat lain agar Jasmine tak mendengar hal ini"
"Baiklah mari kita ke taman"
Mereka pergi ke taman untuk membicarakan rencana mereka..
__ADS_1