
Hari sudah siang dan makan siang sudah tertata rapi di meja makan, Bhina memasak berbagai menu dengan porsi yang cukup untuk dua orang. Tak berlebihan dan tak juga kurang, ia senang makan makanan yang selalu baru jadi baginya lebih senang untuk sering-sering memasak daripada makan dengan menu yang sama sebelumnya kecuali dengan salad buah.. Bhina memenuhi sebagian kulkas dengan salad buah karena ia sangat menyukainya..
Satya turun dari lantai dua, tepatnya dari ruangan yang tak boleh di masuki oleh Bhina dengan membawa berkas di tangannya lalu menyodorkannya pada Bhina.. Bhina membuka dan mempelajari berkas yang diberikan oleh Satya lalu meletakkan berkas itu di meja makan.. Pandangannya beralih ke piring kosong di hadapan suaminya, bak seorang ibu asrama bhina mengambilkan nasi, sayur dan juga lauk untuk Satya..
"Kok ga di tandatanganin?"
"Perut kenyang hati senang, nanti aku tanda tangani dengan senang hati setelah makan"
Hening, hanya suara dentingan sendok dan piring yang ada namun lagi dan lagi Satya dibuat terkejut dengan rasa masakan Bhina.. Dia beli apa masak sendiri? Seenak ini masakan dia, aku pikir dia kekanakan, hobby belanja dan suka dandan kayak cewek-cewek lain, ternyata dia jago masak juga..
"Selesai" Suara Bhina memecah keheningan yang terjadi antara mereka berdua, ia kembali membuka berkasnya dan membaca dengan lantang isinya..
"Surat Perjanjian Pernikahan
Pihak pertama (Satya Pradipta) dan Pihak Kedua (Abhinaya Phinastika) menyatakan bahwa pernikahan yang dijalani hanya pernikahan kontrak selama 3 bulan.
Pihak kedua harus menjadi istri yang baik untuk pihak pertama.
Demi menjaga nama baik pihak pertama, pihak kedua dilarang berdekatan/menjalin hubungan dengan pria lain sebelum bercerai.
Setelah tiga bulan, pihak kedua berselingkuh dan meninggalkan pihak pertama.
Demikian surat perjanjian ini ditandatangani dengan sadar dan tanpa ada tekanan dari pihak manapun"
Bhina membubuhkan tanda tangan di tempat yang disediakan dan menyodorkan berkas itu kepada Satya.
__ADS_1
"Elu sama sekali ga protes?"
Bhina menggelengkan kepalanya lalu berjalan menuju kulkas dan mengambil salad buah favoritnya..
"Kok bisa sih lu nyantai bener?"
"Terus aku bisa apa? Apa aku harus menolak perjanjian ini dengan alasan aku jatuh cinta sama kakak?"
"ya-ya bukan gitu juga sih maksud gue, lu ga minta harta gono-gini dan sebagainya? Biar kita sama-sama enak, kalau kayak gini kan kesannya gue yang jahat banget sama elu"
Bhina tertawa sumbang "Kakak ga jahat, yang jahat itu takdir dan kita sedang dipermainkan oleh takdir, aku tak mau memperkeruh suasana yang nantinya akan membuat takdir kita menjadi lebih buruk.. Mari kita jalani dengan ikhlas hati dan aku rasa 3 bulan adalah waktu yang cepat"
"Nih cobain.." Bhina menyuapi Satya dengan salad buah kesukaannya..
"Enak!! Beli dimana?"
"Bikin sendiri, tuh di kulkas ada banyak.."
"Elu bisa masak ya ternyata"
"Kenapa? Heran? Pamali di keluarga besarku kalau ga bisa ngerjain kerjaan rumah tangga..Kata ibu nih ya secantik dan sesukses apapun seorang wanita harus bisa mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga.. Itu wajib hukumnya di keluarga besarku yang di Jogja"
"Lu yakin ga butuh pembantu di sini?"
"Gue anterin"
"aku bisa sendiri"
"Gue ga suka di bantah"
"Okay...." Bhina segera membereskan meja makan dan berlari ke kamarnya untuk berganti baju sebelum suami tampan nan sableng itu berubah pikiran..
Bhina memilih kaos berwarna putih dan celana jeans dengan sobekan di bagian lututnya kemudian mengikat rambutnya lalu merias wajahnya, penampilannya seperti anak ABG..
"Pakai celana apaan sih lu.. dikira pedofil gue jalan sama anak ABG"
"Hahaha.. ayolah kak santai dikit Napa??"
"Yaudah tunggu, gue ganti baju dulu"
Sepuluh menit kemudian Satya kembali dengan kaos berwarna senada dengan Bhina dan celana pendek berwarna abu-abu tua..
"Ciiiee, matching kan sama aku kalau gini jadinya... yuk ah berangkat" Bhina menggenggam tangan Satya dan lagi-lagi Satya tak menepisnya, bahkan hatinya menghangat..
Tak ada Satya yang romantis bagai di novel-novel yang membukakan pintu mobil untuk istrinya.. Bhina juga tak pernah menuntut Satya untuk romantis, menuntut? punya hak apa Bhina menuntut hal itu pada suami pajangannya.. Satya melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan, mereka berkeliling supermarket mencari kebutuhan rumah mereka.. Ternyata ini kegiatan belanja yang disukai oleh Satya dimana ia yang mendorong troli dan sesekali berdiskusi dengan Bhina tentang barang mana yang disukai dan akan dipilih.. Mereka sungguh melakoni peran suami istri ini dengan baik..
__ADS_1
"Bhina" Sapa seorang pria yang terlihat sedang berbelanja juga.. Satya mengernyitkan dahinya karena merasa tak asing dengan pria tersebut..
"Hai Ivan.. lama ga ketemu.. apa kabar?"
"Baik.. kamu apa kabar?"
"Baik juga.. Nambah cantik aja kamu bhi sekarang"
"Makasih.. Kamu sama siapa Van?"
"I-itu sama.. Siang pak Satya" jawab ivan gugup karena melihat Satya menghampiri mereka..
"Siang" singkat Satya
"Kamu siapanya pak Satya bhi?"
"Oh dia kakak sepupuku" Jawaban Bhina itu ternyata mampu membuat Satya mengepalkan tangannya.. Bhina berpamitan pada Ivan dan menarik pergelangan Satya untuk segera mengakhiri belanja ala keluarga bahagia..
Satya membayar semua belanjaan yang mereka beli dan menyuruh orang untuk mengantarkan ke apartemennya, telepon mendadak dari Rendra membuat keduanya harus menuju ke kantor..
Di dalam mobil, Satya mulai menginterogasi Bhina "lu kenal sama Ivan?"
Bhina mengangguk dan terus bernyanyi mengikuti lagu yang sedang di putar..
"Temen apa?"
"Temen SMA, dulu aku pernah suka sama dia.. Dia keren tau kak dulu, dia tuh ketua basket dan pujaan hati banyak wanita termasuk aku" Bhina sambil tertawa membayangkan masa SMAnya..
"Kalian pacaran?"
"Kita Deket sih kak, sering jalan bareng, main kemana-mana bareng cuman ga ada status.."
"Kok gitu??"
"Iya dia kan punya pacar orang Bandung.. Jadi aku sama dia sih cuma Deket aja terus karena kuliah kita beda kampus sampai sekarang aku ga pernah kontak sama dia"
"Besok lagi jangan deket-deket sama dia"
"Kenapa????"
"Dia kerja di kantor gue, lagian ngapain sih lu bilang kalau gue saudara lu"
"Ya masa aku bilang kakak itu suami aku.. kan kakak sendiri yang bilang kalau pernikahan kita ini dirahasiakan"
Satya diam tanpa kata, tak bisa menjawab kata-kata Bhina.. Benar itu yang diinginkan Satya namun kenapa hatinya menolak? Kenapa ia sakit hati saat Bhina tak mengakui dirinya sebagai suami.. Jangan-jangan ia sudah terjebak dalam permainannya sendiri..
__ADS_1