
"Selamat siang nyonya Satya, nampaknya setelah menikah tuan Satya jadi lebih fresh" sapa Rendra sembari memberikan senyum termanisnya yang dibalas dengan bogeman di lengan kanannya oleh Satya..
"Siang kak Rendra, oh ya? Mungkin tidurnya nyenyak jadi wajahnya kelihatan fresh dan satu lagi panggil aku Bhina"
"Saya pikir kalau pengantin baru kurang tidur, ini malah nyenyak ya?" terus saja Rendra menggoda Bhina..
"Iya mungkin karena sebelum tidur minum susu jadi boboknya nyenyak"
Ya Allah ini beneran istri gue??
Rendra tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Bhina sedangkan Satya jangan ditanya lagi, mukanya sudah merah menahan malu oleh jawaban Bhina..
"Susu hangat bhi?? Enak tuh" Rendra cekikikan
"Iyalah, kak Satya kan sukanya susu hangat sebelum tidur, kalau pagi dia ogah nyusu"
"Woooowww sayang sekali.. kalau aku sih suka susu hangat pagi-pagi bhi"
"RENDRA!!!!! Lu terusin lagi gue potong gaji lu 70%" ancam Satya ketika mendengarkan obrolan unfaedah dua manusia di hadapannya.. Satya menuju ruang pribadinya untuk mengganti pakaiannya menjadi pakaian formal karena ia dan rendra akan menghadiri rapat dengan Daniel..
"Lu mau nunggu di sini apa mau pulang diantar sopir?" tanya Satya pada istrinya..
"Aku tunggu di sini aja deh, aku boleh pinjam komputernya kan kak?"
"Hmm"
Satya dan Rendra pergi meninggalkan Bhina seorang diri, Bhina membuka komputer milik suaminya dan ternyata di layar komputernya masih terpajang fotonya dengan seorang gadis yang tak asing.. Bhina kembali mengingat dimana ia pernah bertemu gadis itu, kemudian ingatan akan Satya yang mencium pipinya muncul.. Air mata Bhina menetes saat ia tanpa sengaja membuka folder foto di komputer itu.. Semua kenangan Satya dan gadis itu ada di sana dan dengan bodohnya Bhina menangisinya..
Kenapa hatiku sakit begini ya? apa ini yang dinamakan cemburu? Tidak Bhina, kamu tidak boleh mencintai Satya.. Dia bukan untukmu!! Ingat!! Dia bukan untukmu Bhina!!!!
Bhina meninggalkan ruang kerja Satya dan berjalan-jalan keluar, sesekali ia mengizinkan karyawan di perusahaan Satya yang berusaha untuk berfoto bersama.. Bhina duduk di taman yang masih satu lingkup di perusahaan suaminya, dia duduk termenung membayangkan suaminya yang sangat bahagia dalam foto bersama gadis itu dan Bhina yang biasanya memiliki tingkat kepercayaan diri yang teramat tinggi pun tak berlaku dalam hal ini..
apa yang bisa aku sombongkandari diriku ini bahkan cintaku saja tak pernah berbalas..mencintai dalam diam sungguh menyakitkan.. Bhina tertawa getir..
Lamunan Bhina buyar karena ada yang menepuk bahunya, Bhina segera menghapus air matanya kemudian mendongak dan tersenyum.
"Ngapain duduk di sini sendirian?"
"Lagi nungguin odong-odong lewat"
Jawaban Bhina memancing gelak tawa diantara keduanya..
"Kamu ga kerja Van?"
"Sebenarnya hari ini aku cuti, tapi ada berkas penting buat bahan meeting pak Satya makanya aku mampir"
"Ohh.." Bhina hanya ber-oh ria..
"Kamu belum jawab kenapa kamu sendirian di sini?"
"Nungguin kak Satya selesai meeting, aku bosan nungguin di ruangannya.. mending juga di sini bisa liet ikan-ikan berenang dapet bonus ketemu kamu lagi"
"Bisa aja kamu bhi, btw kamu udah punya pacar belum?"
Pacar sih enggak, suami iya...
"Aku mah dari dulu ga pernah punya pacar.. Lah kamu sendiri gimana sama pacar kamu itu? siapa namanya? Metta kalau ga salah ingat.."
"Udah lama kandas, sejak lulus SMA.."
"Tau gitu dulu aku pepetin kamunya"
"Kenapa ga dipepetin coba? Kalau iya kan kita pacaran, kali aja udah nikah sekarang"
__ADS_1
"Ya Allah van... Lagian kamu aku kodein juga ga mempan, sorry di kampus aku Nemu tambatan hati baru jadi lupa sama kamu" jiwa sombong Bhina kembali bangkit.
Mereka berdua terlibat obrolan mengenai kisah semasa SMA mereka, sesekali mereka tertawa bahagia mengingat kebodohan-kebodohan yang mereka lakukan kala itu..
.
.
.
Di sisi lain, Satya dan Rendra sudah selesai meeting dan kembali ke ruang kerja Satya..Mata Satya berkeliling mencari keberadaan istrinya, ia berpikir jika istrinya bosan dan meninggalkannya terlebih dulu untuk pulang.. Rendra membanting dirinya di sofa ruang kerja Satya, belum ada 5 detik bokongnya mendarat, bosnya sudah kalang kabut ketika melihat layar monitornya..
"Ren, gawat ren.. mampus gue ren..bantuin gue sekarang ren, ga lucu kan gue baru sehari nikah udah jadi duda"
"Kenapa lagi sih?"
"Gue lupa hapus foto-foto gue sama Ardelia, lu inget kan tadi Bhina bilang mau pinjem komputer gue"
"Bagus deh, gue terima janda rasa perawan dari elu kalau gitu" Rendra berjalan mendekat dan menepuk bahu sahabatnya untuk mengejeknya "elu jatuh cinta kan sama dia"
"Sialan!!!! Bukan masalah jatuh cinta, gue takut tuh bocah ngadu ke emak gue"
"Kayaknya bukan ke emak lu deh.."
"Terus??"
"Noh ke laki-laki lain" Rendra memandang keluar jendela ke arah taman dimana Bhina dan Ivan sedang duduk berdua di taman.. Satya berlari ke jendela untuk melihat kebenarannya dan hal itu benar adanya.. Tangannya mengepal dan meninju tembok di sisi jendela..
"Sabar bos sabar... mungkin bini lu udah nemuin orang yang tepat buat gantiin posisi lu" Rendra dalam mode devil 😈😈😈
"Bangsaaatt!!!" Satya mengumpat lelaki tersebut dengan segala sumpah serapah karena berani mendekati apa yang menjadi miliknya, tawa kemenangan Rendra menggelegar tatkala mengetahui bahwa sahabatnya telah jatuh cinta, Bhina berhasil membawa hati sahabatnya... Dengan langkah kaki cepat Satya menuju taman yang diikuti oleh Rendra di belakangnya sambil bersiul menyaksikan hal apa yang akan terjadi..
"Bhi.." panggil Satya dengan lembut..
"Kakak.. udah selesai meetingnya?"
"Van, kita pamit dulu ya..Makasih udah nemenin ngobrol"
"Iya bhi, btw aku bisa ajak kamu jalan ga?"
"Bisa 3 bulan lagi, saya saranin langsung lamaran aja" sahut Rendra sambil tersenyum licik seakan tak peduli dengan tatapan horor bos yang juga sahabatnya..
Satya menarik pinggul Bhina agar merapat ke tubuhnya, kali ini ia merangkul istrinya dan tak melepaskannya bahkan ia tak memperdulikan tatapan setiap orang yang melihatnya..
"Cih! Posesifnya kumat" gumam Rendra yang masih terdengar jelas oleh Bhina
"Jadi kak Satya posesif ya kak Rendra?"
"Iya, apalagi sama orang yang dicintai.. ngelirik aja bisa dicongkel matanya.. apalagi duduk berdua.. beeuuuuhhh,, ribet urusannya"
"Ohh, dia kan ga cinta sama aku jadi ya aman lah ya"
Cup.. Satya mengecup bibir Bhina yang sedari tadi banyak bicara dengan orang lain dan bukan dengannya..
"Cih!" Rendra mendecih melihat kelakuan sahabatnya itu..
.
.
.
Setibanya di ruang kerja Satya, Bhina meletakkan dua bungkus makanan yang ia beli di restoran cepat saji yang berseberangan dengan gedung kantor suaminya..
__ADS_1
"Kak, aku beliin ini.. makan yuk"
"Gue anti makan junk food" jawab Satya singkat lalu duduk di kursi kerjanya..
"Ohh... kalau kak Rendra anti sama fast food juga?"
"Kagak lah, gue apa-apa juga doyan" sahut Rendra..
"Temenin aku makan ya kalau gitu.. sayang ga ada yang makan"
"Dengan senang hati tuan putri..."
Rendra dan Bhina duduk di sofa dan mulai makan, mereka asyik ngobrol karena Bhina adalah orang yang asik dalam hal mengobrol.. Apapun yang menjadi bahan pembicaraan Bhina selalu mampu mengimbanginya.. Satya semakin kesal dengan keakraban yang terjalin antara Bhina dan rendra...
Bisa-bisanya mereka dengan enaknya makan sambil ngobrol di hadapan gue... Mereka pikir gue patung apa...
Akhirnya Satya memilih bergabung dengan keduanya dan memperhatikan makanan yang dimakan oleh Bhina..
"Itu kenapa ayamnya dikulitin sih, daging sama nasinya ga di makan?" Satya memandang takjub dengan potongan daging ayam yang sudah telanjang di tempatnya...
Bhina menggeleng "Aku cuma suka makan kulitnya aja, daging sama nasinya biar dimakan sama kak Rendra katanya sih dia mau"
"Suapin gue!!!" perintah Satya karena kesal mendengar sisa makanan Bhina akan disantap oleh Rendra..
"Katanya kakak ga suka junk food??"
"Gue makan semua yang elu suapin.."
Bhina mengambil nasi dan ayam lalu menyuapi suaminya itu dengan tangannya sampai habis.. Satya memberi kode kepada Rendra agar keluar dari ruangannya, kali ini tanpa bantahan Rendra segera keluar..
"Lain kali jangan kasih sisa makanan lu ke cowok lain, lu sering ya kayak gitu?"
"Kalau dulu sih sama mas Gilang sebelum dia kerja di London"
Entah mengapa hati Satya lega, ia merebahkan diri di sofa dan meletakkan kepalanya di pangkuan Bhina.. Dengan lembut Bhina membelai rambut suaminya..Satya tampak menikmati setiap sentuhan istrinya, sangat nyaman..
"Kakak"
"Hmm"
"Maafin aku.."
"Maaf kenapa?"
"Maafin aku dulu.."
"Iya tapi kenapa??"
"Janji ga marah kan? Aaaa janji dulu"
"Iya janji.. kenapa?"
"Aku lupa belum cuci tangan..."
"Ya Allah Bhina... lama-lama gue cium lu, rambut gue jadi bau ayam goreng tau..tanggung jawab!!!"
"Caranya??"
"Gue ga mau tau pokoknya elu harus keramasin rambut gue!!!"
"Rambut yang mana??"
"Astaga Bhinaaaaa...🤒🤒🤒"
__ADS_1
Rambut yang mana hayooo?????
Jangan lupa like n comment..