
Satya, Shella dan Gilang duduk di bangku mereka menunggu acara London Fashion Week dimulai.. Shella dan Gilang tak mengetahui permasalahan antara Satya dan Bhina sehingga mereka dengan tenang menunggu Bhina berlenggak lenggok di catwalk.. Sedangkan Satya, hatinya dipenuhi rasa khawatir apakah Bhina tampil di acara itu atau tidak mengingat kemarahannya tadi..
Lamunan Satya buyar ketika acara dimulai, satu per satu model berjalan dengan menggunakan baju rancangan desainer terkemuka.. Satu per satu Satya pandangi setiap model yang berjalan di runaway dan akhirnya perasaan lega muncul tatkala Bhina juga berjalan dengan pakaian minim akhlak sesuai tebakan Satya..
Cantik adalah satu kata yang dapat mewakili penilaian Satya terhadap Bhina.. Bangga adalah satu kata yang pantas disematkan jika bisa memiliki Bhina.. Semua mata tertuju pada Bhina yang memang kecantikannya tak seperti wanita-wanita bule yang berlaga di acara itu.. Percayalah banyak sekali agency yang ingin meminang Bhina saat itu.. Namun dengan halus Bhina memberi alasan bahwa untuk saat ini dirinya belum dapat berkomitmen karena sebentar lagi ia akan menikah.. Bhina berjanji 3 bulan setelah pernikahannya ia akan kembali ke dunia modelling..
Antara sedih dan bahagia, itulah perasaan Satya saat mendengar jawaban Bhina.. Bahagia karena Bhina membicarakan soal pernikahan mereka dan sedih karena 3 bulan setelahnya mereka akan berpisah.. Sedih? Apakah itu benar? Mungkin Satya hanya iba pada karir Bhina yang akan hancur karena kesepakatan mereka..
"Adeknya mas cantik banget sih" Gilang mencubit kedua pipi Bhina
"Makasih masku yang ganteng.. Abhi doain semoga kalian cepetan nikah.." Bhina menggandeng Gilang dan juga Shella..
"Amiiiin ya Allah... Amiiiin 1000 Amiiiin" Shella heboh sendiri mengaminkan doa Bhina..
"Enak aja cepetan.. gue dulu lah" Satya membungkam mulut adeknya dengan satu tangannya.. Bhina tetap tak bergeming, ia sungguh acuh pada Satya yang sengaja memancing pembicaraan..
Seperti biasa jika Shella dan Gilang memutuskan untuk pergi berdua maka Bhina pulang bersama Satya ke hotel.. Sepanjang perjalanan Bhina membisu, ia lebih memilih menikmati musik yang diputar dan bernyanyi agar suasana hatinya membaik..
"Ga nyangka gue suara elu bagus juga" Satya mencoba membuka obrolan..
"Oh ya? Bagus deh, bisa jadi modal awal buat ngamen kalau nanti ga laku jadi model lagi.."
"Hehe, bisa aja lu.. bhi...."
"Hmm"
"Sorry"
"Buat?"
"Yang tadi siang, gue ga maksud-" belum selesai Satya berbicara sudah dipotong oleh Bhina..
"Ohh tak apa.. Harusnya aku makasih sama kakak.."
__ADS_1
"Kok gitu?"
"Ya profesi aku emang ga bakal lepas dari omongan-omongan yang kayak gitu kak.. Harusnya aku paham dan aku harus bisa menyikapinya dengan sebaik mungkin.. Jadi aku yang harusnya minta maaf karena udah nampar kakak.."
"Gilaaakkk, ga nyangka gue kalau lu punya pikiran sedewasa itu.."
"Tapi kalau boleh jujur, selama ini aku menghindari job-job yang mengharuskan aku berciuman.. Bisa di pasung sama ibu suri kalau gitu ceritanya"
Mobil Satya sudah sampai di basement hotel "Jadi elu mau jalanin kehidupan pernikahan sama gue?" Satya kembali menegaskan..
"Iya, aku akan jadi istri yang baik buat kakak selama 3 bulan dan aku juga mau bayar hutangku ke kakak."
"Elu jatuh cinta ya sama gue? kok mau sih jadi istri yang baik buat gue"
"Kayaknya iya.. Pernikahan itu suci kak, dan ketika aku udah menikah nanti maka sudah tugasku untuk berbakti pada suami"
Deg,
Hati Satya berdenyut nyeri, ia semakin tak tega pada Bhina..
Satya memilih bungkam dan segera turun dari mobil yang disusul oleh Bhina..Mereka menunggu pintu lift terbuka dan benar saja sudah ada Shella dan juga Gilang di dalamnya..
Bhina memutar bola matanya tatkala melihat sepasang kekasih yang tak jelas statusnya itu tengah bergandengan di dalam lift.. Langsung saja Bhina juga memeluk sebelah tangan Gilang..
"Bhi apaan sih? tar dikiranya mas Gilang punya istri dua lagi" Shella merengek
"Baguslah, biar kita keliatan kayak istri yang akur.. jarang-jarang kan kayak gitu"
"Bener juga ya.." Shella dan Bhina tertawa terbahak-bahak
Satya merengkuh Bhina dalam pelukannya sontak membuat sepasang sahabat itu menghentikan tawanya..
"Cih! posesif.." Shella mengumpat tindakan kakaknya..
__ADS_1
"Berisik!!" ucap Satya.. Bhina malah semakin erat memeluk Satya dari samping, tubuh yang sangat ia rindukan untuk dipeluk..
"Apa-apaan sih bhi mesra-mesraan di depan mata suci aku??" Shella mengajukan protesnya..
"Ciieee yang kepengen.. makanya minta dilamar sama mas gilang noh" Bhina menjulurkan lidahnya ke arah Shella dan kali ini Shella kalah telak karena ia tak bisa membalasnya.. Gilang juga tersedak ludahnya sendiri ketika adik sepupunya mengatakan hal itu..
Akhirnya pintu lift terbuka, mereka berjalan menuju kamar Shella dan juga Bhina.. Setibanya di depan pintu kamar, Gilang berpamitan untuk pulang, berbeda dengan Satya yang justru ikut nyelonong masuk ke kamar..
"Kakak ngapain sih ikutan masuk?" protes Shella..
"Males di kamar sendirian" jawab Satya singkat sembari memandang layar tabletnya..
"Maksudnya pengen dikamar ditemenin Bhina gitu?"
"Sepertinya kau sangat mengenal kakakmu ini adikku"
"Cih! Gara-gara kakak kita jadi ga bebas lepas beha"
"Apa wanita selalu seperti itu? Menggelikan.."
Bhina mengabaikan pertengkaran antara kakak beradik itu, ia lebih memilih berendam air hangat karena tubuhnya terasa lelah terutama kakinya karena berjam-jam menggunakan high heels..Seusai mandi, Bhina masih saja mendapati keduanya adu mulut, kali ini matanya tak bisa berkompromi.. Bhina memilih untuk menarik selimutnya dan dalam hitungan detik ia sudah tidur pulas..
"Liet tuh calon mantu idaman mami, udah pules aja..."
"Kakak cinta ga sih sama Bhina? atau masih kepikiran Mak lampir itu?"
"Huusshh.. kalau nyebut orang jangan kayak gitu dek.."
"Ya emang kenyataannya dia kayak Mak lampir... sini gue kasih tau, Bhina itu lebih lebih dan jauh lebih baik daripada Mak lampir yang jahat itu... Kakak aja yang ga mau buka mata... Heran gue pakai pelet apaan sih dia sampe cewek seperfect Bhina gitu kakak sampai ga jatuh cinta?"
Gue bingung sama perasaan gue dek, gue takut Bhina bawa pergi hati gue..
"anak kecil tau apa sih tentang cinta" Satya bangun dan membetulkan selimut Bhina yang berantakan kemudian mencium puncak kepala Bhina..
__ADS_1
"Nah loh, kalau ga cinta ga usah nyosor-nyosor gitu kenapa? Kasian yang bakal jadi jodohnya dia dapet bekas lu"
Satya menggidikkan bahunya dan meninggalkan adik perempuannya yang cerewet tiada duanya itu..