
TING!!!
Notifikasi di ponsel Bhina berbunyi, sebuah pesan teks masuk dari ibunya.. Bhina membulatkan matanya tak percaya dengan pesan yang dikirim ibunya..
"Oh My God!!!!!" pekik Bhina
"Astagfirullah Bhi, suara lu bikin gue tuli lama-lama di deket lu" Protes Rendra yang masih belum menemukan posisi Shella saat ini..
"Kenapa ay??"
"Nih baca aja sendiri" Bhina menyerahkan ponselnya kemudian menopang wajahnya dengan kedua tangannya.. Sejenak ia memikirkan Shella, Rendra yang turut dibuat penasaran pun ikut mengintip isi pesan di ponsel Bhina..
"Terus apa hubungannya coba sama Shella??" lontar Rendra dengan polosnya..
"Ya itu yang bikin adik gue jadi kabur bego..Sekarang kita tahu dia kemana" terang Satya..
"Biar aku yang jemput dia, kalian berdua ada rapat penting kan besok??" Bhina memandang jauh ke luar jendela..
"Tapi yank?" Satya merasa sangat keberatan berpisah dengan istrinya.. Bhina yang mengerti maksud Satya kali ini hanya bisa memeluknya dan meyakinkan suaminya..
"Tunggu aku besok selesai rapat ya??? kali ini perasaanku ga enak yank"
"Dasar laki!!!ga mau rugi..." Bhina melengos
"Parah lu Sat, ga bisa bobok lu kalau ga dikelonin bini lu sekarang??"
"Iyalah, nyesel gue disuruh nikah sama emak gue dari dulu nolak Mulu.. Tau gitu kan gue nikahin Bhina sejak lulus SMA aja dulu pasti sekarang kita udah punya anak yang lucu-lucu ya kan yank??"
"Aku jadi pengen cepet-cepet punya anak biar ga kesepian" Bhina bergelayut manja di dada suaminya..
"Hufh, pasangan yang serasi.. sama-sama ga punya hati, mending gue pergi daripada lihat adegan pembuatan bayi secara live" Kata-kata Rendra mengundang gelak tawa keduanya.Tak habis pada pikir dengan dua makhluk di hadapannya, Rendra segera bangkit berdiri dan pergi..
Seperti sebuah umpan, Satya segera melancarkan aksinya yang ingin mencetak banyak keturunan bersama Bhina..
_______________
__ADS_1
Keesokan paginya,
Bhina sudah siap untuk pergi ke Jogja, kini ia harus memeluk bayi besarnya yang masih saja menghalanginya untuk pergi..
"Setidaknya tunggulah aku selesai rapat dan kita berangkat bersama"
"Tak ada waktu sayang, segera selesaikan rapatnya dan jemput aku ke jogja"
"Kau masih di sini tapi aku sudah merindu..tidak kah kau merasa kasian padaku?" Satya mengeratkan pelukannya..
"Aku menunggu malam kita di Jogja sayang" percayalah Satya langsung bersemangat saat Bhina mengucapkan hal itu..
Ia mengantar Bhina ke bandara sebelum ia menghadiri rapat pagi ini..Satya mencium puncak kepala Bhina sebelum Bhina memasuki ruang tunggu.. Ia menatap istrinya yang berjalan menjauh hingga tak terlihat lagi, kemudian segera meluncur ke kantornya.. "Rapat harus segera di selesaikan" tukasnya dengan semangat..
Satu jam kemudian, pesawat yang ditumpangi Bhina mendarat di Yogyakarta.. Bhina sangat merindukan kota pelajar itu, kota dimana keluarga besarnya tinggal..
"Pak Diiiiiii" teriak Bhina kepada sopir yang selama ini mengabdi pada keluarga besarnya..
"Non Abhi jan tambah ayu tenan Saiki, pak di pangling non.." (Non Abhi tambah cantik sekali sekarang, pak di pangling non)
"Monggo Non, eyang Kakung kalian eyang putri sampun ngentosi non Abhi"(Mari non, kakek dan nenek sudah menunggu non Abhi)
"Yuuukk aku juga udah kangen sama semuanya"
Pak di, membuka pintu mobil dan mempersilakan Bhina masuk, 45menit dari bandara mereka telah tiba di kediaman keluarga besar Adiwilaga.. Rumah? Rumah yang di maksud di sini sudah seperti keraton, dilihat dari bangunannya yang penuh ukir-ukiran dari kayu jati yang dipoles dengan sangat mengkilap sehingga membuat rumah itu tambah mewah.. Dari gerbang utama hingga joglo harus melewati taman dengan pemandangan kanan dan kiri penuh dengan tanaman hijau, sungguh rumah yang asri.. Tidak seperti di ibukota yang kanan dan kiri sudah tembok tetangga..
Setiap anak-anak dari Adiwilaga diberikan satu rumah yang masih berada di dalam lingkup keraton milik Adiwilaga itu.. Walaupun beberapa ada yang merantau namun jika liburan mereka akan menempati kediaman masing-masing..
"Eyaaang..." Bhina berlari dan memeluk eyang yang sangat ia rindukan, di usianya yang sudah menginjak 70 tahun, Adiwilaga dan istrinya masih terlihat awet muda..
"Abhi.." ucap Adiwilaga sembari mengusap punggung cucu kesayangannya..
"Eyang kung sama eyang uti sehat kan??"
"Tentu saja, tapi menikah tanpa mengundang kami tentu saja membuat kami merasa tak dianggap lagi" ucap eyang uti dengan nada terluka..
__ADS_1
"Oh Eyang, maafin Abhi... semua serba mendadak.." Bhina melirik ke arah kedua orang tuanya dan mertuanya yang saat itu sedang berbincang-bincang dengan eyang..
"Dimana suamimu sayang?" tanya Anne karena melihat Bhina datang sendirian..
"Ada rapat mam, nanti dia nyusul ke sini setelah rapatnya selesai"
Anne hanya mengangguk mendengar jawaban menantunya, sebab dalam perkara genting sekalipun Satya akan tetap memilih untuk menghadiri rapat... Segala urusan pekerjaan menjadi prioritasnya..
"Shella mana Bu?" Bhina mengedarkan pandangannya mencari adik iparnya namun tak muncul tanda-tanda keberadaan Shella
"Di kamarnya, coba kamu temuin.. Ajak ngobrol, dari tadi anaknya cuma diam aja"
Bhina mengangguk paham lantas mendatangi kamar di rumah Bhina..
Tok tok tok
"Shell" Masih tak ada jawaban
"Shella" panggil Bhina lagi namun tetap saja tak ada jawaban
"Shell, ini aku Bhina...kamu ga mau ketemu sama aku Shell??"
Bhina mencoba membujuk Shella namun ia tak kunjung menjawab.
"Gue di kamar belakang elu, ngapain lu ngomong sama hantu penunggu kamar lu??"
Bhina memamerkan barisan giginya tatkala mengetahui tindakan bodohnya yang mengetuk kamar kosong .
"Kirain kamu tidur di kamarku Shell"
"Ah kayak ga tau kak Satya aja sih lu, mana boleh gue bobok sama lu.. Yang ada juga dia yang mau ***** lu makanya gue ga boleh tidur di kamar lu"
"Wah..wah.. wah... kamu paham bener ya kalau aku punya bayi besar"
"Ya iyalah, liet tuh ***** lu tambah gede aja semenjak punya bayi besar, hebat juga dia" Shella tersenyum menatap dada Bhina yang memang lebih menantang sekarang...
__ADS_1
Tanpa melanjutkan perdebatannya, Bhina masuk ke kamar Shella dan membanting tubuhnya di kasur, di susul Shella yang juga merebahkan dirinya di sebelah Bhina.. Sepersekian detik mereka menatap langit-langit kamar itu tanpa kata yang terucap..