
Hari ini feli sudah selesai praktek, ia segera pulang ke rumah untuk bertemu dengan suaminya.. Suami?? Hatinya menghangat saat menyebut kata suami.. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta..
Setibanya di apartement, Feli mencari keberadaan Aldin, ternyata ia sedang melamun di balkon.. Feli menyelimuti tubuh Aldin dengan selimut..
"Anginnya terlalu kencang.. Tuan bisa sakit.."
"Kau sudah pulang?" ucap Aldin dengan tatapan jauh memandang gedung-gedung perkotaan..
"Ya.. Apa yang mengganggu pikiran anda Tuan?"
"Feli, apa aku bisa berjalan lagi??"
Feli berjongkok di hadapan Aldin dan meraih tangannya "Hari ini aku mempelajari resume medis Tuan, cedera yang Tuan alami secara medis sudah pulih.. Untuk bisa berjalan hanya dibutuhkan kemauan yang besar dari dalam diri Tuan..."
"Sebenarnya kau dokter atau motivator Feli??" Aldin tergelak..
"aku bisa menjadi keduanya Tuan..." Feli mengerling jenaka..
"Apa kau sudah makan??"
"Belum.. Bagaimana dengan Tuan??"
"Belum juga..."
"Bagaimana jika kita makan malam di luar sembari jalan-jalan Tuan??"
"Aku tahu itu hanya alasanmu karna tak bisa memasak bukan???"
Aldin dan Feli tertawa bersama-sama karena tebakan Aldin memang tepat sasaran.. Daripada repot-repot memasak bukankah lebih mudah membelinya saja... Feli berdiri dan mendorong kursi roda Aldin, ia membantu Aldin untuk bersiap..
__ADS_1
Setelah selesai bersiap keduanya keluar, belum jauh dari apartement mereka melewati taman yang entah kenapa sepi tak ada orang, dua orang pria tiba-tiba mencegah mereka.. Percayalah saat ini Feli sangat ketakutan, ia sangat mengenal kedua pria itu.. Kedua pria itu adalah pria yang berkelahi dengan Aldin waktu itu di bar.. Diam-diam keduanya membuntuti Aldin dan juga Feli..
"Larilah Feli dan hubungi Jasmine segera.." perintah Aldin..
"Tidak Tuan, aku takut mereka akan menghajar Tuan sama seperti di club waktu itu.. Aku tak akan meninggalkan Tuan atau kita akan berlari bersama??"
"Idemu konyol Feli, jika aku bisa berlari maka aku akan menghajar mereka saja.. Pergilah!!!"
Feli sama sekali tak mendengarkan Aldin hingga kedua pria itu menyeretnya.. Mereka berniat untuk memperkosa Feli, Feli sudah menjerit ketakutan.. Aldin berusaha melawan tapi kursi rodanya didorong hingga ia terjatuh... Pria itu berhasil menciumi seluruh wajah Feli tapi tidak dengan bibirnya karena Feli terus saja memberontak.. Air mata Feli terjatuh, ia merasa harga dirinya hancur...
Aldin berusaha sekuat tenaga untuk berdiri, ia tak tahan melihat Feli.. Ia mengingat kata-kata Feli tadi saat di balkon.. Ia yakin bahwa ia bisa berjalan, berkat keinginannya perlahan Aldin bisa berdiri dan melangkah kan kakinya... Saat itu terjadi dua pria tadi sudah berhasil merobek baju Feli.... Aldin langsung menghajar keduanya tanpa ampun hingga keduanya tak sadarkan diri.. Aldin berlari mendekati Feli yang sudah meringkuk dan menangis, bahkan Feli berteriak "Jangan sentuh aku!!!"
"Feli... ini aku Aldin.. tenanglah.. mereka tak bisa melakukan apapun padamu..."
"Aldin??"
Feli berlari memeluk Aldin dengan sangat erat "aku takut... aku sangat takut..."
Aldin melepaskan jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Feli, ia pun menggendong Feli.. Untung mereka belum jauh dari apartement.. Aldin bisa merasakan tubuh Feli bergetar ketakutan.. Feli menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Aldin...
Sesampainya di apartement, Aldin merebahkan tubuh Feli dikasur.. Ia pergi ke dapur untuk mengambilkan segelas air untuk Feli.. Sekembalinya Aldin dari dapur ia melihat Feli histeris mengingat perlakuan kedua pria tadi yang mencoba untuk melecehkannya...
Aldin menangkup wajah Feli dengan lembut "Feli dengarkan aku... tenanglah"
Kata-kata Aldin tak di dengarkan Feli, Feli justru semakin histeris.. Aldin kehabisan cara untuk menenangkan Feli, spontan ia mencium bibir Feli dengan lembut.. Feli melemah, tak lagi histeris kini kesadarannya telah kembali.. Aldin melepaskan pagutannya dan memeluk Feli..
"Jangan tinggalkan aku Tuan.. aku takut" rintih Feli..
"Aku tak akan meninggalkanmu, kau aman bersamaku.."
__ADS_1
Mereka diam beberapa saat dalam pelukan hangat merasakan kengahatan tubuh pasangannya.. Aldin tersenyum membayangkan ciuman pertamanya dengan Feli tadi... Ia tak menduga bahwa itu akan menjadi candunya... Ia kembali meraih dagu Feli dan meminta ciumannya lagi.. Semakin lama ciuman mereka semakin dalam membuat keduanya larut dalam suasana yang semakin panas.. Bahkan Aldin sudah menjatuhkan jaket yang melilit di tubuh Feli, perlahan tangannya bergerilya di tubuh Feli.. Feli sama sekali tak menolaknya, ia menikmati saat Aldin memilin bagian yang berwarna merah muda di puncak dadanya itu.. Ciuman Aldin beralih ke leher jenjang Feli dan meninggalkan jejaknya di sana.. Perlahan turun ke tempat yang tadi dimainkannya.. Aldin menyesap salah satunya dan memainkan satunya membuat Feli terbang melayang..
Hanya sebatas itu, Aldin belum berani melakukannya lebih jauh lagi karena biar bagaimanapun ia menghormati Feli namun jika Feli menyerahkannya dengan sukarela maka Aldin tak akan ragu untuk melakukannya...
"Tuan.." lirih Feli...
"Hmm..."
"Mengapa Tuan berhenti??"
"Ck! Kau menyukainya??"
Feli mengangguk tanpa tahu malu, membuat Aldin semakin ingin memakannya namun masih sadar.. Aldin kembali memainkan tangannya, walaupun tangannya sudah berani turun ke bagian inti namun Aldin hanya bermain-main saja di sana tanpa memasukinya.. Ia yakin Feli belum siap dengan itu semua maka ia hanya memberikan sentuhan-sentuhan mautnya... Ternyata setiap sentuhan Aldin membuat Feli candu, ia menginginkan lebih dan lebih lagi namun ia tak tahu bagaimana caranya... Aldin hanya menyentuhnya hingga Feli berhasil melakukan pelepasannya, Aldin merasa berhasil sebagai seorang pria jika bisa membuat wanitanya tak berdaya karnanya...
"Aku ingin pipis.." cicit Feli
"Keluarkan Feli, jangan ditahan" bisik Aldin di telinga Feli..
Aldin tersenyum puas saat ada cairan lengket yang keluar dari inti Feli "Kau, jika kau sudah siap nanti tak akan kubuat kau lebih terbang melayang..."
Feli tersipu malu, kini bahkan dia berani mencium Aldin lebih dulu.. Ya, Feli belajar lebih cepat dari yang Aldin duga... Aldin mengerang saat Feli dengan beraninya menyentuh juniornya..
"Felii..." Aldin menggeram, ia tak tahan melihat posisi Feli diatasnya yang terlihat sungguh seksi... Aldin membalikkan badannya dan memasukkan juniornya... Saat melakukannya, Aldin mengembalikan kesadarannya..
"Fe.. Li.," suaranya bergetar, ia sadar sudah melewati batasannya...
"Hadiahmu Tuan.." mata Feli berkaca-kaca tangannya menangkup wajah Aldin dan meraih bibir Aldin untuk meyakinkan Aldin agar tak ragu untuk melanjutkan aksinya..
Benar saja, mendapat persetujuan dari Feli, Aldin melanjutkan aksinya hingga mencapai puncaknya.. Tak cukup sekali, Aldin menghajar Feli habis-habisan... Akhirnya keduanya tidur karena kelelahan, tak lupa Aldin mencium puncak kepala Feli dan mengucapkan Terima kasih untuk malam yang indah ini.. Feli merasa dihargai sebagai wanita dan entah kenapa ia ingin jika Aldin menjadi miliknya seorang setelah malam ini....
__ADS_1