Cinta Cuma-Cuma

Cinta Cuma-Cuma
CCC- Bab 46


__ADS_3

Makan malam untuk merayakan pernikahan Darren dan Jasmine diakhiri dengan pertunjukan dari si kembar yang mempesona.. Aldin memang tak memiliki suara merdu seperti Jasmine namun ia piawai dalam memainkan alat musik.. Emily sangat takjub dengan keahlian Aldin, tak hanya tampan ia juga pandai bermain gitar.. Hal itu membuat Aldin tampak seksi di mata Emily.. Oh Emily entah apa yang kau pikirkan saat ini tentang laki-laki yang lebih muda itu..


"Apa kau sedang mengagumiku?" bisik Aldin di telinga Emily setelah selesai bermain gitar..


"Aku mengagumi suara merdu Jasmine.."


"Tapi manik mata indahmu itu hanya tertuju padaku.. aku suka caramu memperhatikanku honey"


Emily memutar bola matanya jengah, ia berpamitan kepada Darren dan Jasmine lebih awal karena menurutnya terus bersama dengan Aldin bisa membuat jantungnya berdebar tidak tahu aturan.. Alarm tubuh Emily sudah menyatakan tanda bahaya dan ia harus segera mengakhirinya..


"Mom dad, aku ingin mengantar calon menantu kalian pulang dulu" pamit Aldin santai yang berhasil membuat mata Emily membola dan seperti akan keluar dari tempatnya.. Aldin benar-benar gila pikirnya.. Emily berjalan lebih cepat untuk bisa sampai ke mobil, ia membanting tubuhnya di kursi penumpang.. Suasana mendadak menjadi kaku, Emily sama sekali tak berniat untuk membahas suatu hal untuk sekedar basa-basi busuk dengan laki-laki yang secara diam ia kagumi itu..


Tak lama kemudian mobil yang dibawa oleh Aldin sudah memasuki pekarangan rumah Emily, Emily segera bergegas turun dari mobil dan meninggalkan Aldin.. Ia berlari masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintunya.. Di balik pintu ia memegang dadanya, debaran jantungnya sungguh amat terasa, beruangkali ia menampar pipinya untuk menyadarkannya dari rasa yang mungkin salah di matanya


Tok tok tok


Emily berbalik dan membukakan pintu untuk mengecek siapakah yang bertamu semalam ini.. Lagi dan lagi, Emily terkejut ketika Aldin yang berdiri tepat di hadapannya..


"Jadi kau menungguku? Mengapa tidak mengajakku masuk saja hmm?? Menunggu itu menyakitkan honey" Tanpa seizin dari empunya rumah, Aldin melenggang masuk dengan santainya.. Hal ini membuat Emily membentangkan tangannya mencoba untuk menghalangi Aldin masuk.. Di luar dugaan, Aldin justru menyambutnya dengan sebuah pelukan..


"Lepaskan brengsek!!!"


"Bukankah kau yang membuka tanganmu untuk meminta pelukan dariku.. Katakan dimana salahku jika memberikan apa yang kau inginkan honey??"


"Dasar Gilaaa!!!"


"Hehe.. yaa aku gila karenamu.. Apa tak ada secangkir kopi sebagai ucapan Terima kasih karena sudah mengantarkanmu pulang dengan selamat??"


"Astaga Aldin, pergi dan jangan ganggu aku.."

__ADS_1


"Tidak sebelum aku mendapat kopiku"


"Ini sudah malam Aldin, bagaimana pendapat orang jika mengetahui aku bersama seorang laki-laki pada jam segini haa??"


"Apa peduli ku?? Jika mereka menuntut ku untuk menikahimu percayalah hal itu yang aku tunggu"


Aldin mengabaikan ocehan Emily dan duduk di sofa ruang tamu, Emily semakin kesal dengan tingkah Aldin.. Ia ke dapur untuk membuatkan secangkir kopi agar tamunya bisa segera pergi.. Secangkir kopi disajikan oleh Emily dengan bibir yang sudah mengerucut sempurna..


Sluuurrpp.. Aldin menyantap kopinya dan tersenyum..


"Kopi buatanmu sungguh nikmat" puji Aldin dengan tatapan memujanya yang membuat Emily salah tingkah..


"Terima kasih" Emily menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, harus ia akui bahwa ia senang dengan pujian Aldin..


"Ingatkan aku untuk selalu menikmati kopi buatanmu setiap pagi honey"


"Tidak bisa!! memang aku siapamu ha?" Emily kembali dengan mode garangnya..


"Cepatlah habiskan kopimu dan pergi dari sini, aku sudah mengantuk" Emily berkacak pinggang, Aldin tersenyum hangat dan berjalan mendekati Emily, menarik tengkuknya dan mencium puncak kepalanya..


"Selamat malam, semoga aku hadir dalam mimpimu.. Hubungi aku jika kau tak bisa tidur setelah ini dan kupastikan aku segera datang untuk menemuimu"


Seketika Emily mematung dengan tindakan Aldin, namun detik berikutnya ia mendorong Aldin untuk segera keluar dari rumahnya kemudian segera mengunci pintunya.. Ia memeriksa jantungnya yang berdegup lebih kencang, tanpa ia sadari senyum mengembang di bibirnya.. Perlahan ia mengusap keningnya, membayangkan bagaimana Aldin menciumnya.. Emily menjadi salah tingkah seperti seorang abg yang sedang jatuh cinta.. Jatuh cinta memang memabukkan..


Diam-diam Emily mengintip di balik jendela untuk memastikan apakah Aldin masih berada di luar atau tidak.. Suara mobil Aldin sudah tak terdengar lagi, Emily meloncat ke atas kasurnya dan menggulingkan badannya di sana..Aldin benar, ia sungguh tak bisa tidur malam ini.. Jadi katakan apakah ia harus menghubungi Aldin? Tentu saja tidak, gengsinya lebih besar daripada keinginannya..


.


.

__ADS_1


.


Di sisi lain,


Darren berjalan dengan jasmine menuju kamar mereka di hotel milik Darren.. Namun sebuah tangan yang kokoh menarik tubuh Jasmine dan memeluknya dengan penuh kerinduan membuat mata Jasmine membola, jangan tanyakan bagaimana ekspresi Darren yang menahan amarahnya..


"El-elvano" ucap jasmine terbata-bata


"Ya ini aku, aku sangat merindukanmu.. Apa kau juga merindukanku?" Elvano masih memeluk jasmine dan menikmati aroma tubuhnya.. Susah payah Jasmine menelan salivanya, apa yang hendak ia jawab saat ini.. Sungguh ia terlena dengan kebahagiaan yang baru saja ia dapat dengan menjadi istri Darren namun di satu sisi ia melupakan seorang lelaki yang juga sangat mencintainya..


"Kenapa kau tak menjawab? Biasanya kau merengek menyatakan kerinduanmu.. Kau berubah" cecar Elvano


Darren menarik tubuh Jasmine dari pelukan Elvano "Dia.. " baru satu kata Jasmine sudah memotongnya..


"El, apa besok kau ada waktu?? Ada hal serius yang ingin ku bicarakan"


Elvano memicingkan matanya "Besok? Kenapa tidak sekarang? Hal serius apakah itu?"


"Jasmine sangat lelah dude, dia butuh istirahat dan ini sudah larut malam" Darren memahami situasi Jasmine saat ini..


Elvano menatap Jasmine penuh arti dan berkata "Baiklah, ku tunggu besok pagi sayang.. aku mencintaimu" sebuah kecupan dari elvano di kening Jasmine membuat Darren kembali menggeram.. Jasmine tak menjawab dengan kata-kata lagi, ia hanya menyentuh pipi Elvano dan tersenyum hangat..


"Selamat malam elvano"


"Selamat malam sayang"


Elvano yang juga menginap di hotel yang sama itupun segera pamit undur diri, akhirnya jasmine bisa bernafas dengan lega walaupun mendapat tatapan horror dari suaminya..


"Sayang" rengek Jasmine

__ADS_1


Tak menjawab, Darren memilih meninggalkan Jasmine terlebih dulu ke kamar, Ia sangat kesal dengan kejadian yang baru saja di lihatnya.. Melihat elvano menatap Jasmine penuh dengan cinta dan Jasmine yang masih menyembunyikan soal pernikahannya.. Ingin rasanya ia menggelar pesta pernikahan yang megah agar semua orang mengetahui jika mereka sudah menikah.. Egois? Dalam urusan cinta memang Darren sangat egois, ia tak suka jika miliknya di usik..


__ADS_2