
"Jasmiiiineeee" teriak Darren yang berusaha mencari keberadaan wanita yang dicintainya itu namun berulangkali ia berteriak sama sekali tak ada jawaban..
Hatinya sangat hancur melihat mobil yang sudah terbakar habis tak bersisa, ini terlihat sangat menyakitkan.. Baru dalam hitungan menit yang lalu Jasmine menggenggam tangannya dan tersenyum dengan sangat manis... Tangis darren pecah, ia sangat menginginkan Jasmine hidup namun hatinya sangat putus asa..
"Hari menjelang petang, lebih baik jika pencarian kita lanjutkan esok hari.." ucap Edward pada Darren..
"Aku ingin di sini" jawab Darren dengan tatapan kosong..
"Ada petugas yang akan berjaga di sini.. Kau masih terluka Darren.." Edward mencoba menasehati Darren.
"Apa menurutmu dia masih hidup Ed??"
"Dia wanita yang baik, Tuhan pasti melindunginya.. Percayalah Darren.."
"Tapi kau lihat mobilnya hancur tak bersisa..." air mata Darren lagi-lagi jatuh tak tertahkan..
Tak tahu harus menjawab apalagi, kini Edward juga turut menitikkan air matanya yang sudah ia tahan sejak tadi mengingat kemungkinan kecil kakaknya selamat dari kecelakaan itu.. Edward sudah menganggap Jasmine seperti kakaknya sendiri, sejak kepergian Elvano keduanya memang lebih sering menghabiskan waktu bersama sebagai kakak adik.. Edward sangat menyayangi Jasmine, ia tak ingin Jasmine dan Angel terpuruk setelah kepergian Elvano...
"Aku tak ingin kehilangan kakakku lagi...Elvano sudah pergi meninggalkanku dan Jasmine satu-satunya kakak yang ku miliki Darren... Bahkan aku rela mencarimu agar kalian bisa kembali bersama seperti keinginan Elvano... Aku ingin Jasmine bisa hidup bahagia..." tangis Edward pecah..
Darren dan Edward saling merangkul untuk sama-sama menguatkan.. Tiba-tiba saja ada panggilan masuk di ponsel Darren dari nomor asing..
"Hallo..." sapa Darren
"Kakak..."
Deg... Darren tak mungkin salah mengenali suara itu..
"Jasmine???"
"Kakak aku takut... Aldin belum membuka matanya sampai sekarang..." Jasmine menangis tersedu-sedu..
"Tenanglah... katakan kau ada dimana Jasmine?? Aku akan menjemputmu"
"Aku dan Aldin di selamatkan oleh seorang gadis dan ia membawa kami ke rumahnya... HP ini tidak bisa mengirimkan share location.. Minta Ellena untuk melacak nya.. Maaf aku menghubungimu karena aku hanya hafal nomor ponselmu kak..."
"Aku hampir mati Jasmine melihat kondisi mobilmu... Tunggulah sebentar, kami akan segera menjemputmu"
Darren dan Edward tersenyum akhirnya apa yang mereka takutkan tidak pernah terjadi.. Mereka bergegas mencari Ellena untuk melacak signal ponsel yang digunakan Jasmine tadi... Satya dan Bhina turut bisa bernafas lega karena anak-anak mereka selamat...
Setelah Ellena berhasil menemukan posisi Jasmine, mereka semua bergegas menjemputnya bersama rombongan polisi dan tim medis yang turut serta..
Tok tok tok... Darren mengetuk sebuah pintu rumah yang sangat sederhana tapi terlihat asri.. Seorang gadis cantik keluar untuk membukakan pintu.. Ia tersenyum dengan sangat ramah dan mempersilakan tamunya untuk masuk ke dalam..
"Jasmine.." Darren berlari memeluk Jasmine dengan sangat erat..
"Kakak... Tolong Aldin..." Jasmine masih saja memangku kepala Aldin dan menangis tersedu-sedu..
"Tenanglah.. kami semua ada di sini.. Aldin pasti baik-baik saja"
Tim medis segera mengangkat Aldin ke mobil ambulance ditemani oleh mike dan juga Ellena.. Sedangkan Jasmine dan Darren bersama dengan Edward menuju rumah sakit.. Sepanjang perjalanan, Edward memperhatikan Jasmine yang sangat nyaman dalam pelukan Darren.. Sepeninggal Elvano, Jasmine adalah sosok yang tangguh di mata Edward.. Baru kali ini Edward melihat sisi rapuh kakak iparnya..
"Kenapa kau tersenyum seperti orang gila.." ejek Darren..
"Kau mencintai kakakku dude dan aku bahagia melihatnya..."
"Dia hidupku..." ucap Darren sembari mengecup puncak kepala Jasmine..
__ADS_1
"Dia beruntung karena kau sangat mencintainya..."
"Aku lah yang beruntung.. berkat dirimu aku bisa melihatnya kembali.. Terima kasih dude"
"Yaa... kau harus mentraktir minum jika begitu"
"akan ku belikan clubnya sekalian untukmu dude"
"Waaahhh, kau sombong juga ternyata"
Keduanya tertawa bersama-sama hingga tak terasa mereka sudah tiba di rumah sakit... Aldin langsung ditangani oleh tim dokter sedangkan Jasmine duduk diam saja dengan penuh kecemasan... Emily datang dan berlutut meminta maaf pada Jasmine..
"Heeiii bangunlah.. ini bukan kesalahanmu.." Jasmine menuntun Emily untuk duduk di sebelahnya..
"Ini salahku....andai saja...."
"Ini takdir em dan tak ada hubungannya denganmu..."
"Maafkan aku...."
"Aku tahu kau memiliki alasan em dan percayalah aku menghargai itu semua..."
"Jasmine, kau wanita yang sangat baik..."
"Kau juga em, kakakku pasti akan bahagia bersamamu"
"Kakak???" Emily mengernyitkan dahinya..
"Ya.. bukankah kau dan Darren akan menikah"
"Jasmine.. Darren mencintaimu bukan aku dan soal menikah maaf aku hanya berbohong saja.. Kami tak berencana menikah sama sekali..." Emily merasa tak enak hati..
Ceklek
Pintu ruang tindakan terbuka dan seorang dokter keluar untuk memberitahu bahwa Aldin mencari Jasmine.. Dengan sigap Jasmine segera menemuinya disusul dengan semua keluarganya..
"Al..." Jasmine tak bisa menyembunyikan air matanya..
"Kau jelek saat menangis.." Aldin tersenyum tipis..
"Aku lebih suka kau mengatakan aku jelek saat aku sedang tidak menangis.."
"Mana mungkin, kau cantik..."
"Ini pertama kalinya kau mengatakan aku cantik..."
"Kau memang cantik, aku mengakuinya dalam hatiku... Sebab kau lebih senang dibilang cantik oleh Darren"
"Kau menyebalkan..." Jasmine menangis tersedu-sedu..
"Boleh aku minta sesuatu??"
"Katakan Al.."
"Menikahlah dengan Darren di hadapanku agar aku bisa tenang..."
Jasmine terlibat saling pandang dengan Darren, Jasmine tampak bingung dengan permintaan Aldin..
__ADS_1
"Ku rasa ini terlalu cepat Al, aku ingin menggelar pesta mewah untuknya jika kami menikah" jawab Darren..
"Kalian bisa melakukan itu nanti, aku hanya ingin melihat kalian menikah..Kenapa kau membohongi dirimu sendiri Jasmine????"
"Apa maksud nya Al??"
"Kalian saling mencintai dan sekarang sudah dipertemukan.. Apalagi yang kalian tunggu ha???"
"Al.. fokus pada kesembuhanmu... Nanti lagi kita bicarakan ini ya"
"Aku tak mau di operasi jika kalian tak menikah di hadapan ku saat ini juga..."
"Oh Tuhan.. Aldin please..." Jasmine tampak frustasi dengan permintaan saudara kembarnya...
Jasmine bingung dengan sikap keras kepala kembarannya...Banyak pertanyaan muncul di benaknya akibat permintaan Aldin..
"Apalagi yang kau pikirkan heemmm?? Mommy dan daddy pasti setuju.. Darren?? Aku tahu dia sangat menggilaimu Jasmine.." desak Aldin
"Aldin, aku juga memiliki keluarga di sini asal kau tahu..." sanggah Jasmine..
"Kami merestuimu nak..." ucap Tuan dan Nyonya Rodrigo yang baru saja datang..
"Mom dad.." Jasmine terkejut dengan kedatangan mertua yang sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri..
"Kau harus bahagia sayang.." Nyonya Rodrigo memeluk Jasmine layaknya putrinya sendiri.. Percayalah Jasmine menangis sesenggukan di bahu ibu mertuanya..
"Jangan menangis nak.. Sampai kapanpun daddy mohon agar kau sudi menjadi putri kami.." Tuan Rodrigo tampak menahan air matanya agar tak jatuh namun benteng pertahanannya runtuh saat Jasmine beralih ke pelukannya..
"Selamanya.. Selamanya aku adalah putri daddy okay?? Jangan menyakitiku dengan permintaan konyol mu itu dad.... Aku sangat bahagia memiliki orang tua seperti kalian..." Jasmine mengeratkan pelukannya..
"Terima kasih sudah hadir dalam hidup kami nak.."
"Terima kasih juga sudah mau menganggapku seperti putri kalian sendiri... Sungguh aku sangat bahagia tinggal di tengah-tengah kalian.."
Darren tersenyum melihat interaksi antara keluarga Elvano dan juga Jasmine.. Mereka tampak saling menyayangi satu sama lain dengan tulus..
"Darren.." sapa Tuan Rodrigo..
"Ya uncle.."
"Apa kau mencintai putriku??" tanya Tuan Rodrigo..
"Aku sangat mencintainya tapi akulah yang paling banyak menyakitinya" Darren tersenyum getir saat mengucapkan hal ini, ia selalu saja mengingat hari buruk itu.. Hari dimana ia memberikan penderitaan untuk wanita yang ia cintai..
"Nak, dengarkan ini..Maafkanlah dirimu sendiri dan Jangan memandang bayang-bayang kelam masa lalu kalian namun hiduplah untuk hari ini.. Semua yang sudah berlalu tak bisa diperbaiki maka hiduplah dengan baik mulai saat ini.." Nasihat Nyonya Rodrigo..
"Ya aunty, bolehkah aku memelukmu??" pinta Darren..
"Tentu saja.." Nyonya Rodrigo membuka tangannya lebar-lebar dan siap untuk memeluk Darren.. Untuk sesaat keduanya berpelukan..
"Apa kau tahu aunty, pelukanmu sehangat pelukan mommy Bhina" ucap Darren..
"Kau menyakitiku Darren" ucap Bhina..
"Ohh mom kemarilah... Aku rindu pelukanmu..." Akhirnya mereka bertiga berpelukan hingga Satya berdehem karena merasa dirinya diacuhkan... Semua orang tertawa oleh tingkah Satya..
"Suamimu tak berubah sama sekali mom, masih saja posesif..." Darren menggidikkan bahunya acuh dan semua orang menertawakan Satya...
__ADS_1