
Shella menangis histeris dalam pelukan Satya, bahkan ia memukuli dada Satya untuk melampiaskan kesedihannya karena sahabat tercintanya sedang berjuang antara hidup dan mati..
"Bhi dengerin aku bhi.. please bangun bhi.. kamu marah kan sama Mak lampir itu?? bangun bhi, aku janji kalau kamu buka mata kamu.. aku bakal bantuin jambakin tuh rambut Mak lampir.. ayolah bhi jawab aku sekali aja..Atau kamu pengen denger kakakku bilang cinta sama kamu?? itu yang kamu mau bhi??"
Detak jantung Bhina kembali stabil bahkan ia membuka matanya dengan sisa tenaga yang ia miliki..
"Ka-kak"
"Iya sayang ini aku di sini.. bertahan ya.. sebentar lagi kita sampai rumah sakit.."
"a-aaku ti-tidak pe-pernah melakukan i-tu.. ma-af u-dah bikin ka-kak kecewa" dengan susah payah Bhina mengucapkan hal itu
"Sssttt, aku percaya kamu.. please bhi kamu harus tetap bertahan.. aku cinta sama kamu"
Bhina tersenyum manis "Terima kasih, aku benci kebohongan tapi kali ini tak berlaku untukmu.."
"Sungguh aku tak berbohong.. i love you Abhinaya Phinastika Pradipta"
"Kau tahu? ini adalah mimpi terindahku dan aku harap Tuhan tak akan pernah menyuruhku untuk bangun dari mimpi ini"
"Shella, Aku tak tahu dulu di kehidupan sebelumnya aku pernah berbuat baik apa, sehingga aku bisa bersahabat denganmu sekarang.. Jangan menangis lagi, aku benci melihatmu menangis.."
"Gimana bisa kamu ngomong kayak gitu?? Kamu harus liet aku tiap kali aku nangisin hal ga penting sekalipun!!!"
"Aku lelah Shell.." mata Bhina perlahan mulai tertutup, ia mulai kehilangan kesadarannya.. Satya dan Shella tak henti-hentinya memanggil Bhina agar kesadarannya kembali.. Namun sama sekali ia tak mau mendengarnya dan memilih untuk tidur...
Setibanya di rumah sakit, kedua orang tua Satya dan juga Bhina serta Rendra sudah menunggu di lobby rumah sakit.. Bhina langsung dibawa ke ruang tindakan untuk penanganan lebih lanjut..
__ADS_1
Di luar ruang tindakan, Satya berkali-kali memukul tembok hingga tangannya berdarah, ingin rasanya ia menggantikan posisi Bhina yang tergolek lemah saat ini..
"Sudah nak, jangan sakiti dirimu sendiri.. mari kita sama-sama berdoa untuk kesembuhan Bhina" suara yang sangat teduh itu menenangkan seorang Satya..
Satya berlutut dan memeluk kaki ibu mertuanya sambil menangis tersedu-sedu "Ibu maafin Satya tidak bisa menjaga putri ibu.. Satya salah Bu maafin satya"
"Nak bangun, ini semua murni kecelakaan.. tak ada yang menghendaki hal ini terjadi nak... Ini semua sudah digariskan oleh Tuhan" ibu Devi menenangkan menantunya yang sudah terlihat sangat kacau itu..
Sejam berlalu sejak Bhina masuk ke ruang tindakan dan akhirnya dokter keluar dan mengatakan kenyataan yang sesungguhnya..
"Selamat malam Bapak Satya, mengenai istri bapak kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun sangat kecil sekali kemungkinan untuk istri bapak bisa hidup seperti sedia kala lagi.. Saat ini hidupnya hanya bergantung pada alat-alat yang menempel di tubuhnya.. Jika para keluarga sudah merelakan maka kami akan melepaskan alat bantu di tubuh istri Bapak"
Kaki Satya menjadi lemas mendengar penjelasan dari dokter yang menangani istrinya.. Bagai disambar petir ia mendengar kabar yang tidak ingin ia dengar.. Satya meluapkan amarahnya pada dokter tersebut yang dinilai tak berusaha maksimal dalam menangani istrinya.. Baginya mendengar hembusan nafas Bhina sudah lebih baik daripada harus melihat nama istrinya di batu nisan..
Bugh,
"Baik pak Satya, maafkan saya" ucap dokter itu ketakutan..
Satya masuk ke ruang perawatan istrinya, jangankan menangis kini Satya terlihat sangat buruk.. Ia terus menggenggam tangan istrinya "Aku bakal nungguin kamu sampai kamu lelah tertidur, sayang.. tangan kamu dingin sekali apa kau kedinginan? pasti dokter dan perawat itu lupa mengatur suhu ruangannya.. lihatlah kau jadi terlihat pucat.. aku akan menghukum mereka nanti karena telah berani membuatmu kedinginan"
Anne menangisi putranya yang kondisinya juga tak kalah mengkhawatirkan "Satya jangan seperti ini nak, Bhina pasti tak suka melihatmu seperti ini"
"Mami tahu?? Setiap kami bersama, gadis ini selalu saja memelukku.. Bahkan tadi pagi sebelum aku berangkat bekerja, tak seperti biasanya dia memelukku seolah tak ingin berpisah dan apa yang ku lakukan? mengejeknya, jahat bukan? jika aku tahu itu sebuah pertanda maka aku tak ingin pergi kemana-mana dan terus memeluknya sepuas yang dia inginkan.. Gadis ini harus bangun, dia harus melihat betapa buruknya aku tanpa dirinya mam" Satya terus menggosok telapak tangan istrinya agar hangat..
Semakin tak bisa berkata-kata, seisi ruangan hanya bisa menangis melihat cinta Satya kepada Bhina.. Bahkan mami dan papinya tak percaya jika Satya benar-benar mencintai Bhina karena pernikahan mereka terjadi bukan atas dasar cinta tapi karena perjodohan..
"Cukup!!Hentikan tangisan kalian.. Istriku pasti tak suka mendengar tangisan kalian.."
__ADS_1
Hening,
Satu per satu keluar dan menangis di luar ruang rawat Bhina, terutama Shella yang sangat histeris.. Rendra menggantikan Satya untuk menenangkan Shella, ia memeluk Shella agar gadis itu merasa lebih baik.. Melihat Shella yang justru mengganggu ketenangan rumah sakit, Rendra membawa Shella ke taman yang masih berada di area rumah sakit.. Setidaknya suara tangisnya hanya akan menganggu tidur para cacing bukan para pasien yang sedang butuh istirahat..
"Minum dulu.." Rendra menyodorkan kaleng minuman
"Aku tidak haus"
"Tapi kau harus minum agar tak dehidrasi, lihatlah air matamu saja jika dikumpulkan sudah bisa membuat seekor ikan berenang dalam baskom.. kalau kau minum mungkin aku akan membuatkan kolam ikan agar air matamu bisa membanjiri kolamnya"
"Ternyata kamu kocak juga" Shella memaksakan dirinya untuk tersenyum..
"Terkadang jika sedang dibutuhkan" Rendra membawa Shella ke dalam pelukannya..
"Lihatlah bajumu basah"
"Aku bisa menggantinya..Apa kau sudah merasa lebih baik?"
Shella menggelengkan kepalanya
"Baiklah aku paham, dengarkan aku.. Bhina adalah gadis yang kuat, aku percaya dia bisa melewati ini semua.. Sekarang tugas kamu adalah membangunkannya dengan doamu dan lihatlah keajaiban apa yang akan Tuhan berikan"
"Ternyata selain kocak, kamu juga sangat bijak.. Seandainya aku belum memiliki pujaan hati, aku pasti bakal minta kak Satya untuk jodohin aku ke kamu..."
Dasar cewek somplak, bisa-bisanya ngomong gitu pas lagi sedih-sedihnya..
"Kalau begitu lupakan pujaan hatimu itu dan mulailah untuk memujaku" Rendra mengerling jenaka..
__ADS_1
Keduanya pun kompak tertawa atas obrolan tak penting dan tak bermakna di antara mereka.. Namun Shella sangat berterimakasih walaupun tak bermakna tapi tetap saja mampu sedikit menghibur hatinya yang pilu..