Cinta Cuma-Cuma

Cinta Cuma-Cuma
CCC- Bab 41


__ADS_3

Darren menghentikan mobilnya di tepi jalan dan ia tak melakukan suatu hal yang membuatnya harus menghentikan mobil..


"Apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Jasmine penasaran


"Menunggumu mengajakku berkencan"


"Bukankah kau habis berkencan dengan kekasihmu"


"Dia bukan kekasihku.. Aku ingin berkencan dengan calon istriku"


"Jangan mimpi!!!" Jasmine memukul lengan Darren..


"Ayolah jasmine, ajak aku pergi berkencan.. aku ingin sekali berada di posisi Elvano tadi"


"Jangankan berkencan, kita bahkan sudah banyak menghabiskan hari bersama, melakukan segala sesuatu bersama, apa itu tidak cukup bagimu?"


"Tidak akan pernah cukup jika itu tentangmu dan aku ingin menebus 5tahun yang ku habiskan tanpa di sisimu"


"Baiklah, kalau begitu mari kita nonton Darren.. apa kamu setuju??"


"Setuju, 365 days??"


"Apaaaahhh??" Jasmine terkejut dengan ide Darren..


"Kenapa? Bukankah kau tak suka dengan film horror dan juga drama-drama yang membuat menangis itu?"


"Ya benar tapi banyak adegan.." Kata-kata Jasmine terhenti..


"Ohh Jasmine ku sudah dewasa rupanya..hahaha.. apa yang ada dalam pikiranmu itu ha??" Goda Darren..


"Emmmhh.. emmhhh.. tak ada, aku tak memikirkan apapun!!" Muka Jasmine memerah menahan malu..


Darren tertawa penuh kemenangan karena membuat Jasmine tak bisa menjawab pertanyaannya, kini ia melakukan mobilnya melewati taman kota, tempatnya dulu bertemu dengan Bhina pertama kali..


"Darren aku mau ke sana" tunjuk Jasmine ke taman kota yang sedang mereka lewati..


"Baiklah, aku juga merindukan tempat itu" Darren menghentikan mobilnya dan segera turun dan membukakan pintu untuk Jasmine.. Mereka duduk di sebuah bangku taman, yang merupakan saksi tempatnya bertemu dengan Bhina.. Tiba-tiba Darren meletakkan kepalanya di atas pangkuan Jasmine dan Jasmine pun dengan lembut membelainya..


"Darren di sini sangat indah, lihatlah kita bisa melihat bintang-bintang"


"Apa kau suka tempat ini??"

__ADS_1


"Ya.. dan kau??"


"Mau aku beri tahu sebuah rahasia?"


"Sejak kapan kau menyembunyikan suatu hal dariku Darren?" Jasmine mengerucutkan bibirnya..


"Ini rahasia yang indah.. Tempat ini adalah tempat aku bertemu dengan mommy pertama kali, dan kau sudah ada di dalam perut mommy waktu itu.. Taukah kamu jika aku sudah jatuh cinta padamu sejak saat itu.."


"Kau berlebihan" Jasmine menyentuh wajah Darren, perlahan ia menyentuh alis dan turun ke mata indahnya, kemudian jari telunjuknya bermain di hidungnya yang mancung, lalu berhenti dibibirnya.. Darren menutup matanya, merasakan setiap sentuhan Jasmine..


"Darren"


"Hmm"


"Kenapa aku tak bisa memilikimu? Bahkan sejak kecil aku memimpikanmu menjadi pangeranku"


"Aku milikmu Jasmine, bukankah aku mengajakmu menikah ha?"


"Kau sudah memiliki Sonia, cintai dia dengan baik"


"Hmm.. baiklah kalau itu maumu" Darren bangun dan kembali duduk, Jasmine sungguh menggoreskan luka dengan berungkali menolaknya.. Jasmine tahu bahwasannya Darren sangat terluka dengan penolakannya namun ini jalan yang sudah dipilihnya.. Acara kencan yang diidam-idamkan Jasmine batal karena perkataan Jasmine yang terakhir.. Darren memutuskan untuk mengantarkan Jasmine pulang ke rumahnya dan ia juga kembali ke mansion untuk menemani Satya dan Bhina..


________


"Kusut amat sih, dari mana aja?" ellena melihat wajah Jasmine yang sudah seperti baju yang belum di setrika..


"Kencan" jawab Jasmine malas..


"Kalian berkencan??" Aldin terlihat penasaran..


"Aku dan Elvano kakak"


"hahahaha, sejak kapan jasmineku memanggilku dengan sebutan kakak?? Sepertinya kau salah makan.."


"Berisik!!! Mari kita selesaikan malam ini" pinta Jasmine


"Jasmine, ini lebih berbahaya dari yang kemarin.. mana Darren?? kita harus melakukannya bersama dia" Ellena menasehati Jasmine bagai ibu asrama..


"Sudah cukup, jangan libatkan dia lagi.. Aku tahu sejak awal ini rencana kalian kan?? Dengan menempatkanku di perusahaan Darren, aku sama sekali tak butuh belas kasihan darinya.. Lakukan malam ini juga dan secepatnya aku ingin pulang"


"Apa kau yakin?" Aldin memegang bahu kembarannya, cemas dengan keputusan yang diambilnya..

__ADS_1


"Yakin.. Tubuhku memang mungkin akan terasa sakit dan aku tak mau membuat hatiku juga ikut sakit.. Lakukan sebelum daddy dan mommy datang kemari, aku tak ingin mereka melihatku dalam kondisi yang mengenaskan"


Akhirnya Aldin dan juga Ellena kalah dengan Jasmine yang terus saja memaksakan kehendaknya, Ellena membuka laptopnya dan ia benar-benar mulai bekerja, Aldin sudah memeluk Jasmine untuk menenangkannya.. Perlahan tapi pasti, rasa sakit kepala yang luar biasa menghinggapi Jasmine.. Setiap naik level rasa sakitnya juga bertambah.. Hingga ellena menyelesaikan tugasnya, Jasmine jatuh pingsan dengan kondisi yang sangat lemah, wajahnya sangat pucat.. Aldin yang panik segera membawa Jasmine ke kamar dan membaringkannya..


"Dasar keras kepala, lihatlah kau jadi seperti ini, bangunlah Jasmine" Aldin menjambak rambutnya kasar menyesali keputusan saudara kembarnya..


Ellena mendekat dan memeluknya pria yang sedang kacau itu "Tenangkan dirimu Al, aku yakin dia gadis yang kuat"


"Tapi bagaimana jika ia tak mau membuka matanya?Aku tak sanggup jika harus kehilangan gadis cerewet itu" racau Aldin


"Adikmu memang menyebalkan, selalu saja membuat kita khawatir" Ellena ikut menangisi keadaan Jasmine..


"Sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit, jika ia masih enggan membuka matanya setidaknya masih ada infus yang membantunya" Aldin


"Iya kau benar, mari cepat kita bawa dia" Ellena menyiapkan segala keperluan Jasmine ke dalam tas menyusul Aldin yang sudah menggendong Jasmine menuju mobil..


________


Keesokan paginya,


Darren datang ke kantor jam 08.15, ia berharap Jasmine menyesali perkataannya semalam dan meminta maaf padanya.. Namun betapa terkejutnya ia melihat ruang kerjanya yang masih kosong.. Jasmine tak ada di sana. Berusaha berpikir bahwa hari ini ia terlambat, Darren duduk di singgasana miliknya.. Berkali-kali ia menatap jam mewah yang melingkar di tangannya namun sudah dua jam berlalu Jasmine masih belum juga datang.. Perasaannya berubah menjadi khawatir, ia menghubungi Mike untuk segera ke ruangannya..


"Ada hal penting apa sehingga kau menyuruhku kemari?" Tanya mike


"Apa kau melihat Jasmine hari ini?"


"Hei dude, kau bertanya seolah aku baby sitternya.. ck! Aku tak tahu, yang aku tahu sahabatnya juga tak masuk kerja hari ini.."


"Ellena juga tak masuk??Kekanakan" Darren langsung memijit pelipisnya..


"Apa maksudmu dengan mengatakan mereka kekanakan?"


"Hanya karena aku marah lantas dia tak masuk bekerja dan mengajak sahabatnya untuk turut serta" gerutu Darren...


"Heii dude, ku rasa cara mereka bertarung sama sekali tak menunjukkan sifatnya yang kekanakan.. Bagaimana jika tuduhan yang kau lemparkan kepada mereka itu ternyata salah??"


"Shit!!! Kenapa aku melupakan itu semua.. Hufh aku terlalu emosi sepertinya, temani aku ke apartement mereka Mike"


Mike segera memacu mobilnya menuju apartement Jasmine, sesampainya di sana berulang kali Darren menekan bel namun tak kunjung pintu dibukakan..


"Sepertinya mereka tak ada di dalam, lebih baik kita segera memeriksa CCTV di security" ucap Darren

__ADS_1


Mereka berdua berjalan menuju kantor security yang ada di tower tersebut, tanpa perlu menjelaskan panjang lebar mereka dengan mudah mendapatkan rekamannya.. Kaki Darren lemas ketika melihat Aldin dan Ellena berlari dengan Jasmine yang ada di gendongan Aldin.. Tanpa di perintah, Mike segera memeriksa seluruh rumah sakit di kota ini dan ia menemukan dimana Jasmine di rawat saat ini..


"Apa yang sudah terjadi" lirih Darren yang tiba-tiba terlihat sangat rapuh..


__ADS_2