Cinta Cuma-Cuma

Cinta Cuma-Cuma
CCC- Bab 20


__ADS_3

Hari ini adalah hari kepulangan Bhina dari rumah sakit setelah dokter menyatakan kondisi Bhina sudah benar-benar pulih.. Semua keluarga berkumpul untuk menjemput Bhina, termasuk Rendra yang kini memiliki profesi baru sebagai pengintil Shella kemanapun ia pergi..


"Kalian pacaran?" Bhina menautkan alisnya


"Enggak lah, mas Gilang mau dikemanakan??" Rendra langsung lesu begitu mendengarnya..


"Serius??tapi kan kamu ga bisa sama mas Gilang"


"Emangnya kenapa kok ga bisa??" Shella memicingkan matanya


"Elu mau kakak lu jadi duda kalau lu tetep ngotot sama Gilang?" Satya menoyor kepala adik perempuannya itu..


"Haaah?? maksudnya gimana sih kak?? aku semakin ga ngerti deh..."


"Bhina sama Gilang kan saudaraan... Masa elu nikah sama saudaranya ipar elu sih dek"


"Emang salah ya??"


"SALAH!!!" ucap Satya dan Rendra kompak..


Sekarang gantian Shella yang lesu, seolah semua orang tidak setuju jika ia menjalin hubungan dengan Gilang.. Hubungan? Hubungan macam apa? Selama ini Shella hanya sebatas mengagumi Gilang namun tak pernah sekalipun Gilang menyatakan cinta atau memang Gilang tak mencintai Shella? Tapi kenapa sikapnya sangat manis? Bahkan setelah pulang dari London mereka berhubungan sangat baik, Gilang juga membalas setiap pesan yang dikirim oleh Shella.. Semua pertanyaan tentang Gilang terus saja memenuhi pikiran Shella.. Ia bahkan tak menggubris saat Rendra mengajaknya berbicara.. Shella menjadi sosok yang pendiam tiba-tiba, suatu rencana sudah terbesit di otaknya..


Rombongan pengiring kepulangan Bhina pun kini telah memasuki mobil masing-masing menuju kediaman orang tua Satya. Sepanjang perjalanan Shella larut dalam pemikirannya dan Rendra sampai mati gaya mencari bahan pembicaraan karena tak ada satupun yang dijawab oleh Shella. Berbeda dengan pasangan pengantin yang sudah tak lagi baru yang duduk di bangku penumpang itu, Satya dengan mesranya memeluk Bhina seakan tak ingin melepaskannya..


Beberapa menit kemudian, mobil mereka masuk ke halaman rumah Hartanto.. Untuk beberapa hari ini Satya dan Bhina akan tinggal di sana hingga Bhina benar-benar sehat, karena di sana banyak yang mengawasinya sehingga Satya tak perlu khawatir jika meninggalkan istrinya untuk bekerja..


Makan siang bersama untuk menyambut serta merayakan kepulangan Bhina pun telah dipersiapkan oleh Anne secara berlebihan karena ia sengaja mengundang chef yang biasa bertugas di hotel milik Satya itu untuk menyajikan hidangan-hidangan terlezat..


"Sayang mau makan apa?" Satya mengacak-acak rambut istrinya layaknya anak kecil..


"Buah aja kak"


"Dari kemarin mami perhatikan kok kamu makan buah terus.. kamu nggak hamil kan nak?"


Satya dan Bhina kompak terbatuk-batuk mendengar pertanyaan ajaib dari maminya.. Bagaimana mungkin bisa hamil, selama ini kan Bhina koma dan juga setelah menikah memang mereka belum melakukannya..


"Kode tuh kode.. buruan bikinin kami cucu biar rumah ini makin ramai" ucap Devi


"Kalian belum bulan madu kan??" tambah Rahardian

__ADS_1


"Kami akan berbulan madu setelah kami mengadakan resepsi pernikahan kami" jawab Satya dengan penuh keyakinan.. Bhina sungguh terheran-heran dengan ide gila suaminya.. Bagaimana bisa ia merencanakan resepsi pernikahan setelah 3 bulan pernikahan mereka berjalan..


"Kak??"


"Kenapa? Aku pengen dunia tahu kalau kamu Abhinaya Phinastika adalah istri seorang Satya Pradipta"


"Ya tapi kan buat apa kak toh aku memang benar istrimu"


"Ya biar laki-laki lain ga keganjenan deketin kamu.."


Bhina menggeleng-gelengkan kepalanya mengetahui alasan dibalik adanya resepsi pernikahan itu..


"Kalau itu alasannya aku ga setuju"


"Kamu kenapa sih?Seneng ya di deketin cowok-cowok?"


"Kakak yang kenapa? Itu artinya kakak ga percaya sama istri sendiri.."


Inilah pertengkaran pertama mereka sejak menjadi suami dan istri sungguhan.. Bhina memilih mengakhiri pertengkaran dengan pergi ke kamarnya, semua yang berada di sana tak berani mencampuri urusan mereka dan memilih untuk menikmati hidangan-hidangan yang telah tersaji..


Setelah acara makan siang selesai, kedua orang tua Bhina memutuskan untuk segera pulang setelah menemui Bhina di kamarnya.. Satya mengantar mertuanya hingga depan rumah, tak lupa Devi memberikan sedikit nasihat untuk menantunya "Yang sabar nak Satya, tak baik membiarkan sebuah masalah tanpa adanya suatu penyelesaian.. pergi dan selesaikan masalahmu dan Bhina secara baik-baik"


"Baiklah kalau begitu ibu sama ayah pulang dulu"


"Hati-hati di jalan ibu dan ayah"


Sepulang mertuanya Satya menyusul Bhina ke kamar, ia mendapati istrinya yang sedang mengemasi baju-bajunya..


"Sayang"


Jangankan jawaban, menoleh pun tidak.. Bhina menutup kopernya dan menariknya menuju pintu.. Sesampainya di hadapan suaminya Bhina tak lupa berpamitan "Kakak, aku mau pulang ke rumah ibu.."


"Aku tak mengizinkan kamu pergi dalam kondisi marah ataupun sedih.. Aku pernah melakukan kebodohan satu kali saat itu membiarkanmu pergi dan hasilnya aku hampir gila melihatmu terbaring di rumah sakit"


Bhina menangis sesenggukan "Apalah arti pernikahan tanpa sebuah kepercayaan?"


"Maaf.. bukan seperti itu maksudku.. aku hanya cemburu, bukan maksudku meragukan cintamu.. maafkan aku dan jangan pergi"


Satya menarik tubuh Bhina ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat.. Tanpa meminta izin dari istrinya, Satya menggendongnya dan membawanya ke kasur lalu merebahkan tubuh istrinya "Istirahatlah, aku jagain kamu"

__ADS_1


"Kelonin" ucap Bhina manja


"Hahahaha, dengan senang hati nyonya Satya, ngajakin yang iya-iya nih?"


"Enggak!!! Dasar ngeres banget sih otaknya.."


"Ya kan kamu istri aku, masa sama istri sendiri ga boleh ngajakin yang iya-iya??"


"Kakak ihh- kita pacaran dulu kenapa?? Aku belum pernah pacaran lho kak"


"Haduuhh buang-buang waktu aja sih, pacaran sambil enak-enakan kan juga bisa..." Satya mengerling jenaka..


Bhina melempar tangan Satya yang melingkar di perut ratanya ke udara kemudian membalikkan badannya memunggungi Satya karena malu dengan jawaban-jawaban yang mengarah ke itu...


"Kamu mau ngajakin gaya begini dulu yank? Satya merapatkan tubuhnya ke tubuh Bhina lalu menciumi leher Bhina..


"Apaan sih kak" Namun ia menikmati setiap sentuhan suaminya...Setiap hembusan nafas Satya pun dapat Bhina rasakan hingga membuatnya merinding.. Ini kali pertama, kali pertama ia sedekat ini dengan seorang laki-laki dan merasakan getaran yang begitu hebat.. Biasanya jika sedang sesi pemotretan ia tak pernah merasakan nervous seperti yang ia rasakan saat ini, hanya seperti melakukan sebuah aktivitas tanpa adanya perasaan lebih...


Satya membalikkan tubuh istrinya hingga kini berada di bawahnya, Satya ******* bibir istrinya dengan segala rasa rindu yang menggebu.. Perlahan ciumannya turun ke leher dan berhasil meninggalkan jejak di sana, tangannya juga sudah berhasil membuka kancing baju Bhina.. Satya beralih ke dua benda yang paling menonjol namun sayang seribu sayang ada yang mengetuk pintu kamar mereka..


Dengan cepat Bhina mendorong tubuh suaminya agar menjauh kemudian merapikan bajunya.. Satya sangat frustasi kali ini, dengan terpaksa ia harus membuka pintu dan ternyata maminya datang untuk mengantarkan obat Bhina yang tertinggal di ruang tamu...


"Mami gangguin kalian ya?'


"Ga cuma gangguin tapi batalin" Satya sangat sewot kali ini..


"Tega-teganya kamu menjajah istri yang baru saja sembuh.. dasar kumpeni!!"


"Tadi yang minta punya cucu siapa?Lupa?Belum juga jadi nenek udah pikun aja.."


Satya mendorong tubuh maminya agar segera keluar kemudian mengunci pintu kamarnya agar tak diganggu lagi namun ia tak melihat istrinya di tempat tidur.. Satya mencari ke dalam kamar mandi dan benar saja, bibir istrinya sudah manyun semanyun-manyunnya..


"Kenapa sayang?" Satya memeluk istrinya dari belakang


"Lihat ni kak leher aku jadi merah-merah gara-gara kakak.. aku kan jadi malu mau keluar"


"Hahahaha, ya gapapa kan emangnya kenapa?"


"Tau ahh" Bhina pergi ke tempat tidur dan menutupi dirinya dengan selimut..Ia tak mau lagi berbicara dengan suaminya yang dengan sengaja membuat tanda di lehernya..

__ADS_1


__ADS_2