Cinta Cuma-Cuma

Cinta Cuma-Cuma
CCC-Bab 53


__ADS_3

"AKU LULUUUUSSSS" Teriak Jasmine ketika keluar dari ruang sidang, wajahnya sungguh berbinar karena hasil usahanya tidak sia-sia... Semua keluarganya menoleh dengan tatapan yang tidak Jasmine harapkan, mana mungkin mereka kecewa jika dirinya lulus, bukankah mereka datang memang untuk mendukungnya.. Namun mengapa wajah mereka bagai awan gelap yang siap menurunkan hujan badai...


"Kita lulus Jasmine" Sambut Ellena yang berusaha memecahkan keheningan, keduanya saling berpelukan dan mengucapkan selamat untuk kelulusan keduanya..


Jasmine melihat seseorang yang sangat ia rindukan berada di sana, siapa lagi jika bukan suaminya..


"Darreeeennn" Jasmine berlari dan melompat ke pelukan suaminya dengan segala kerinduan yang ada..


"Jadi ini kejutanmu?? Aku bahagiaa sekali, tapi kejutanku lebih bagus, kau pasti menyukainya" Jasmine berbicara dengan panjang lebar, tak seperti biasanya yang selalu bersikap hangat Darren terlihat pendiam namun tetap membalas pelukan istrinya..


Jasmine berusaha mengurai pelukannya, namun darren malah memeluknya semakin erat "Biarkan seperti ini" ucap Darren sembari menatap langit biru.. Melihat itu semua keluarga menjadi sangat sedih, hal yang menarik perhatian Jasmine adalah air mata mami dan mommynya yang menetes, ditambah Darren yang memeluknya tanpa kata... Bukankah ini aneh, apa ada sesuatu hal yang mereka sembunyikan, Jasmine merasa ada yang tidak beres sehingga ia mendorong tubuh suaminya.. Masih mencoba untuk bersikap biasa saja, Jasmine berusaha membuka suara "Aku akan memberi tahu kejutan dariku" ucap Jasmine..


"Aku sudah tahu" ucap Darren sembari memandangi wajah cantik sang istri dengan sejuta kesedihan..


"Dari mana kau tahu? Bahkan aku belum mengatakannya, tak ada seorangpun di sini yang sudah ku beri tahukan kejutanku untukmu.. Bagaimana kau bisa tahu? Apa selama ini kau belajar cenayang?" Jasmine sedikit tertawa namun tak ada satu pun keluarganya yang merespon, biasanya mereka akan sangat heboh mengggodanya jika itu dalam hal yang wajar tapi kali ini perasaannya tak mungkin salah..


"Kau tadi sudah berteriak sayang jika kau lulus dan aku mendengarnya... Selamat untuk kelulusanmu"


"Terimakasih"


"Aku ingin bicara" ucap Darren dan Jasmine bersamaan dengan manik yang saling beradu..


"Kau dulu saja" ucap Jasmine..


"Jasmine, hari ini kau boleh menyalahkanku dan membenciku setelah aku mengatakan ini semua kepadamu.. Namun perasaanku padamu tak akan pernah berubah sedikitpun, dari dulu sekarang dan selamanya hatiku akan selalu tetap mencintaimu.. Hanya kau satu-satunya wanita yang ku inginkan"


Jasmine menatap lekat manik suaminya, di sana jelas tersirat kesedihan yang mendalam..


"Untuk itu, mulai hari ini aku Darren Wilson membebaskan dirimu dari tanggung jawab seorang istri.."


"Ma-maksudnya??"


"Maafkan aku Jasmine" air mata Darren sudah tak tertahankan lagi, bahkan semua anggota keluarganya juga ikut menangis..


"Al.. aku memang tak pernah secerdas dirimu sejak lahir.. Tapi katakan jika aku salah mengartikan kata-kata suamiku??" Jasmine menoleh ke arah kembarannya..


"Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada untukmu.. Aku mencintaimu, tanganku akan selalu terbuka lebar untuk memelukmu setiap saat" jawab Aldin..


"Ada apa denganmu mom?? katakan pada putramu jangan bercanda dengan hal-hal seperti ini, aku sedang tidak berulang tahun hari ini.. Bahkan Aldin yang sering mengerjai ku saja tak pernah sebercanda ini.. Bukankah yang ku katakan itu benar mom??"


Bhina semakin sesenggukan mendengar pertanyaan putri semata wayangnya, ia tak kuasa menahan kesedihannya saat ini karena putrinya belum bisa menerima kenyataan yang ada..

__ADS_1


"Sayang.. kemarilah" Satya membuka tangannya agar bisa memeluk putrinya..


"Dad.." suara Jasmine mulai bergetar..


"Semua akan baik-baik saja nak" Satya memberikan pelukan terhangatnya..


"Jadi aku tak sebodoh itu untuk mengartikan kata-kata Darren??"


"Putri daddy pintar dan memiliki hati yang sangat baik"


Jasmine diam dalam pelukan daddynya, kata-kata Darren yang membebaskannya dari tanggung jawab seorang istri terus saja berputar di otaknya yang akhir-akhir ini sudah bekerja dengan sangat keras untuk menyelesaikan tugas akhirnya..


Ellena pun tak kuasa menahan tangis di pelukan Mike yang juga datang untuk menemani Darren..


"Jadi aku tidak salah mengartikan?? Kau ingin berpisah??" Tanya Jasmine


"Aku tak ingin berpisah darimu Jasmine tapi keadaan tak memungkinkan"


"Katakan apa alasanmu? Kau jatuh cinta pada wanita lain? Aku tahu aku bukan wanita idaman para lelaki yang pandai dalam urusan memasak dan hal-hal rumah tangga seperti mommy tapi jika itu alasanmu aku bisa belajar menjadi istri yang baik untukmu"


"Bukan itu Jasmine, aku mencintaimu melebihi nyawaku.. Aku menerimamu dengan segala yang ada pada dirimu.. Aku tak pernah mempermasalahkan dirimu yang tak bisa memasak untukku ataupun hal yang lainnya.. Bagiku kau sempurna, dalam hal ini aku yang salah.. Untuk itu ku mohon mengertilah"


"Lalu kenapa Darren??"


"Sonia.." Darren tertunduk lesu..


"Ada apa dengannya? Bukankah ia sedang menjalani masa hukumannya?"


"Sonia sudah bebas dengan uang jaminan yang diberikan oleh ayahnya" Tiba-tiba saja Emily muncul dan menjelaskan mengenai Sonia..


Emily menatap teduh wajah Jasmine dan menangkupnya "Aku tahu kau wanita yang kuat, sejauh apapun dunia memisahkan cinta kalian, aku yakin jika kalian berjodoh sehebat apapun manusia memisahkan kalian akhirnya pasti kalian akan bersama kembali"


"Terima kasih untuk pujianmu em, namun jodoh macam apa yang menginginkan sebuah perpisahan?"


Pertanyaan ini membuat hati Darren sangat terluka, ia yang selama ini mengatakan pada semua orang jika dirinyalah yang paling mencintai Jasmine namun apa yang terjadi? Justru dialah lelaki yang paling jahat karena sudah menyakitinya sedalam ini..


"Jika alasanmu karena Sonia mengancam akan meledakkan tubuhku.. Apa yang kau inginkan Darren??" Kali ini Jasmine berteriak..


"Aku ingin melihatmu tetap hidup, aku mohon bernafaslah untukku.. Aku bahagia dengan memastikanmu tetap hidup walaupun kita tak bisa bersama"


"Jika begini bukan Sonia pembunuhnya, tapi KAU" Jasmine mengacungkan telunjuknya ke wajah Darren..

__ADS_1


"Aku mohon maafkan aku" tangan Darren terulur untuk mengusap wajah Jasmine namun segera di tangkis oleh Jasmine..


"Apa keputusanmu sudah benar?? perpisahan ini yang kau inginkan??"


"Maaf..." Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Darren..


"Darren Wilson, mulai hari ini kau bisa menganggap keluargaku seperti keluargamu sendiri seperti biasanya, kasih sayang mereka tak akan pernah berubah tapi tidak denganku!! Hubungan kita tak akan pernah lagi sama... Mulai hari ini aku tak ingin mengenalmu bahkan melihatmu!! Aku membencimu seluas hatiku Darren"


"Jasmine dengarkan aku.."


"Berhenti menjelaskan semuanya Darren!! Terima kasih kau sudah memberikan alasan terbaik untuk aku bisa membencimu!!


Jasmine berlari meninggalkan mereka semua namun Darren berteriak memanggil namanya yang sama sekali tak dihiraukan oleh Jasmine, Darren mencoba mengejar Jasmine karena khawatir terjadi sesuatu hal padanya.. Kali ini perasaannya sungguh tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang akan direnggut paksa darinya namun ia tak tahu itu apa..


Aldin menahan tangan Darren "Biar aku yang mengejarnya dude.. Hatinya sedang kacau saat ini"


"Baiklah, tolong jaga Jasmine dengan baik.. Maafkan aku Al"


"Kau tak perlu meminta maaf, kami tahu kau mencintainya dan melakukan ini semua untuk melindunginya... Jasmine hanya salah paham.. Aku yakin dia akan mengerti, dia hanya butuh waktu untuk memahami ini semua,.."


"Terima kasih untuk pengertian kalian, aku mohon pamit karena Sonia hanya memberiku waktu satu jam untuk mengatakan ini semua... Dan pada akhirnya, aku harus mengakhiri kisah dengan cara seperti ini"


"Tenangkan dirimu Son" ucap Satya menenangkan putranya..


"Ya, kalian keluarga terbaikku.." Darren memeluk mereka satu per satu dan berpamitan untuk kembali ke Milan..


Aldin berlari mengejar Jasmine tanpa menghiraukan Emily yang sejak tadi memperhatikannya diam-diam.. Emily juga kecewa dengan sikap Aldin yang kini berubah menjadi dingin, walaupun menyebalkan tapi Emily lebih menyukai Aldin dalam mode tengilnya.. Walaupun tak sempat menanyakan kabar namun Emily lega bisa melihat wajah Aldin secara langsung untuk membayar kerinduannya selama ini...


Darren, Emily dan Mike pergi meninggalkan tempat itu namun hal lain terjadi tanpa pengetahuan mereka.. Suara teriakan Jasmine membuat Aldin harus mencari arah sumber suara.. Merasa ada yang tidak beres, ellena juga mengikuti Aldin karena ingin memeluk sahabatnya yang saat ini sedang bersedih..


"Al, dimana Jasmine??"


"Entahlah, perasaanku sangat tidak enak.. Tadi aku seperti mendengar teriakannya, semoga aku salah" ucap Aldin khawatir..


"Bagaimana jika kita cari Jasmine ke rooftop, biasanya kami ke sana jika sedang membolos kuliah"


"Mari kita coba ell"


Ellena dan Aldin berlari ke anak tangga yang akan membawa mereka ke rooftop namun kali ini Ellena berteriak histeris melihat sahabatnya sudah tergeletak di lantai dasar dengan bersimpah darah yang sangat banyak...


Teriakan Ellena membuat anggota keluarga Jasmine berlari ke arah sumber suara.. Betapa hancurnya hati keluarga pradipta saat itu, Aldin sudah menelepon ambulance.. Ia merobek bajunya untuk membalut luka di kening Jasmine yang berdarah..

__ADS_1


"Kenapa darahnya banyak sekali?? Jika dari keningnya tak mungkin akan keluar darah sebanyak ini"


Mereka semua yang dalam mode panik pun tak mampu mencerna kata-kata Aldin hingga ambulance datang..


__ADS_2