Cinta Cuma-Cuma

Cinta Cuma-Cuma
CCC- Bab 19


__ADS_3

"Selamat pagi sayang, apa mimpimu sangat indah hingga kau belum juga bangun?"


Sudah dua bulan ini Satya menemani istrinya di rumah sakit...Setiap hari ia membawa bunga untuk diletakkan di meja samping tempat tidur istrinya.. Belum ada perkembangan dari Bhina, masih sama, ia masih memejamkan matanya..


"Nak, bukankah ini sangat menyakitkan untuk Bhina? bukankah dengan melepasnya justru akan membuat Bhina terlepas dari semua rasa sakit ini?" Devi dan Rahardian sudah ikhlas jika semua alat bantu harus dilepas dari tubuh putri semata wayangnya..


"Iya kak, kasihan Bhina.." Shella yang tadinya sama seperti Satya yang ingin mempertahankan Bhina pun pertahanannya runtuh melihat Bhina yang seperti ini.. Hidup tidak matipun tidak..


"Apa mami juga mau mengatakan hal yang serupa?"


"Sayang.. dengarkan mami.."


"Aku tak ingin mendengar apa yang tak ingin ku dengar mam.."


Anne yang begitu mengenal putranya itu pun tak berani menyampaikan argumennya..Semua sudah berunding terkecuali Satya untuk melepaskan alat bantu dari tubuh Bhina..Namun apalah daya mereka ketika Satya menyatakan jika ia adalah suami dari wanita yang terbaring lemah itu, dan segala keputusan ada di tangannya...


"Apa aku salah jika aku tak ingin kehilanganmu sayang??" ucap Satya pilu.. Satya memejamkan matanya dan tertidur di kursi sambil menggenggam tangan istrinya..


.


.


.


Keesokan harinya,


Satu gerakan dari jari Bhina langsung membuat Satya bangun dan mengerjapkan matanya.. Ia meyakinkan dirinya apakah yang dirasakannya itu sungguh nyata..Lagi, jari telunjuk Bhina bergerak.. Satya menangis bahagia dan berteriak memanggil dokter untuk memeriksa keadaan istrinya..


Ketika dokter datang, Bhina mulai membuka matanya secara perlahan.. Pandangannya masih kabur namun ia tahu jika Satya berada di dekatnya..


"Selamat pak, istri bapak mampu melewati masa kritisnya..Sungguh ini adalah keajaiban dari Tuhan"


"Terima kasih dok" ucap Satya sembari menjabat tangan dokter yang menangani istrinya..


Satya duduk di sebelah Bhina dan membelai rambutnya "Sayang.."


"Kakak ada di sini?"


"Ya, setiap hari aku menjagamu.."


"Apa aku merepotkanmu?"

__ADS_1


"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja tidak"


"Sudah berapa lama aku di sini?"


"Dua bulan"


"Apa sudah saatnya untuk berpisah?"


Satya menangkup wajah istrinya dan mencium bibir yang ia rindukan "Kita tidak akan berpisah, maafkan aku yang harus membatalkan perjanjian kita.. Dengan kesungguhan hati aku mohon untuk tetap tinggal dan menua bersamaku.. i love you"


"Sepertinya aku tak butuh obat lagi jika setiap hari kakak bilang i love you.. i love you too Satya Pradipta"


"Terima kasih sayang.." Satya menciumi seluruh wajah istrinya namun tiba-tiba seorang perawat mengetuk pintu..


"Selamat pagi bapak dan ibu, sudah waktunya ibu untuk mandi"


"Biar saya saja sus..letakkan semua perlengkapan mandinya di sana.." Mata Satya mengarah pada sebuah meja..


"Kakaaaakkkk..aku ga mau dimandiin kakak.. aku malu!!!!"


"Memangnya siapa yang memandikanmu setiap hari di sini haa??? Tentu saja suamimu yang tampan ini, tak usah malu aku bahkan sudah melihat semuanya"


"Aaaaaa aku udah ga perawan lagi..."


Akhirnya Bhina hanya bisa pasrah ketika suaminya memandikannya, walaupun tak seperti biasanya Satya memandikan dengan penuh air mata, kali ini ia memandikan dengan senyum usil di wajahnya..


Selesai dengan acara mandi-mandian itu, Satya segera menyuapi istrinya..Bhina seperti terlahir kembali, ia tak menyangka bahwa suaminya juga sangat mencintainya.. Bukankah ini membahagiakan? Tentu saja..


Ceklek


"Bhiiiii..." Shella berlari dan memeluk Bhina sambil menangis..


"Apa kabar rekan duetku??" goda Bhina


"Buruk!!!! Gue hampir aja solo album tanpa lu"


Gelak tawa memenuhi ruang perawatan Bhina kala itu..


"Hai bhina, bagaimana keadaanmu?? Berikan aku pelukan"


Bhina tersenyum dan melebarkan tangannya namun dihadang oleh Satya "Bini gue!!!"

__ADS_1


"Cih!!" Rendra tetap saja menggeser tangan Satya dan memeluk Bhina.. Satya mendengkus kesal melihatnya..


"Kak Rendra sama Shella datang bareng?? kebetulan atau emang sengaja?" tanya Bhina dengan penuh selidik..


"Berdua.. apa kau cemburu nona??"


Satya menjauhkan tubuh istrinya dari laki-laki yang sedang memeluknya dengan sengaja itu di hadapan matanya.."Cih! Dia kagak naksir sama elu ngapain juga cemburu"


"Kalau gitu gue lamar adik elu deh bro biar kita jadi sodaraan.. kurang baik apa coba gue?"


"Najiiis gue punya adik ipar kayak elu"


Satya naik ke atas ranjang pasien dan membawa Bhina ke dalam pelukannya mengabaikan dua orang yang kesal karena melihat kemesraan pasangan yang menodai mata suci mereka..


"Ini rumah sakit jika kau lupa" Rendra merotasi kan bola matanya


"Dan kami ini adalah pasangan suami istri asal kau tahu.. berbaik hatilah pada kami dan lebih baik kalian segera pergi dari sini.."


"Apa kau mengusir kami??"


"Bukan mengusir, ini adalah sebuah perintah.."


"Tapi kak..." protes Shella yang masih ingin bercerita panjang lebar dengan Bhina..


"Kakak iparmu masih butuh istirahat dek.."


Akhirnya Shella dan Rendra mengalah dan memilih meninggalkan pasangan yang tengah tidur satu ranjang itu..


"Kakak kok gitu sih sama mereka? Aku kangen tau sama Shella"


"Apa salahnya aku pengen berduaan sama istri sendiri??"


Blush.. pipi Bhina merona merah..


"Ciiiee yang malu.. dimandiin aja ga malu masa dibilang gitu malu sih.. atau jangan-jangan ketagihan mau dimandiin lagi?"


"Kakaaaakkkk" Sebuah Capitan mendarat di perut kotak-kotak yang bagaikan roti sobek milik Satya..


"Ciiiee yang udah berani pegang-pegang.. turun dikit boleh lho tangannya"


Bhina menarik tangannya dari perut Satya kemudian membuang mukanya karena malu menatap wajah suaminya sendiri yang terus menerus menggodanya..

__ADS_1


"Ciieee yang lagi bayangin yang iya-iya"


"Kakak.. nangis lho aku.." rengek Bhina sembari menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya... Tempat ternyaman untuk bersandar..


__ADS_2