
"Siapa kau sebenarnya??"
Belum sempat Jasmine menjawabnya sebuah anak peluru meluncur ke arah Nyonya Rodrigo.. Jasmine segera menarik tangan Nyonya Rodrigo dan mendorongnya segera ke arah Tuan Rodrigo... Sedangkan Tuan Rodrigo yang gagah perkasa segera mendekap tubuh istrinya yang histeris..
Tak lama berselang muncul segerombolan orang yang tiba-tiba menyerang.. Apa boleh buat, dengan tangan kosong Elvano, Edward dan juga Jasmine berusaha menghentikan serangan.. Satu hal yang tak pernah elvano tahu bahkan ketika dulu ia menjalin hubungan dengan Jasmine.. Jasmine sangat mahir ilmu bela diri dan bahkan ia membuat semua lawannya tumbang.. Sayang sekali sebuah pistol ditodongkan tepat di kepala Jasmine..
"Jasmiiiineee...." teriak Elvano yang menyaksikan sebuah pistol menempel di kepala Jasmine namun dengan cepat Jasmine membalikkan posisi hingga kini ia yang menodongkan pistol di kepala orang tersebut..
"Aku tidak suka cara seperti ini bung.. menembak dari jarak yang sangat dekat seperti ini bagaikan seorang pengecut.. Berlarilah sekuat tenagamu"
Benar saja, orang itu berlari sekuat tenaga dan dalam hitungan ketiga Jasmine melepaskan timah panas tepat di kaki orang itu..
Doooorrrr.
"Plok.. plok.. plok..." Sebuah tepuk tangan meriah dari Tuan Rodrigo..
"Aku sangat mengagumimu nak.. Jadilah putriku" ucapan Tuan Rodrigo kali ini mampu membuat Elvano dan Edward menoleh ke arah daddynya dalam waktu yang bersamaan..
"Senang sekali dengan sambutanmu Uncle.. Apa kau sedang melamarku?? Jika iya, katakan padaku kau melamarku untuk putramu yang mana uncle.."
Tuan Rodrigo menatap kedua putranya dan tersenyum "Ternyata kau sangat cerdik, ku rasa aku melamarmu untuk Edward karena sejak tadi ia berniat untuk melamarmu dan bukankah kau hanya sahabat Elvano??"
"Hmm.. baiklah sepertinya aku memang seumuran dengannya.. Katakan dengan baik jika kau ingin melamarku Ed, aku akan menjawabnya saat ini juga jika kau penasaran"
"Eheeemmm..." Edward menarik nafas panjang sebelum ia mengucapkan apa yang dalam pikirannya..
"Jasmine.. " ucap Edward
"Hmmm.."
"Menikahlah denganku.." sahut Elvano
Semua orang langsung menatap Elvano, memastikan apakah pendengaran mereka masih bekerja dengan baik.. Elvano tak pernah segamblang ini mengutarakan isi hatinya..
"Elvano.. maaf aku tidak bisa..aku sudah terlalu sering menyakitimu.. Kau berhak bahagia.." Jasmine tertunduk tak berani menatap mata Elvano..
"Lihat aku Jasmine!"
Jasmine menggeleng sambil tertunduk..
"Jadi kau lebih menyukai Edward? Apa aku tidak pantas untukmu??"
"Kakak tenanglah.. kami hanya bergurau.." Edward berusaha menenangkan Elvano..
__ADS_1
Elvano mendorong tubuh adiknya agar menjauh, obrolan keluarganya entah mengapa mampu memporak-porandakan hatinya.. Bersanding dengan Jasmine adalah mimpinya..
"Elvano.." panggil Jasmine yang diabaikan oleh Elvano...
"Dia hanya salah paham nak, aku akan membantu menjelaskannya nanti.." Jasmine hanya mengangguk pasrah dan kembali duduk..
"Boleh aku tahu alasanmu menolak Elvano?? Dia benar-benar mencintaimu" tanya Edward..
"Dulu aku kekasihnya, namun aku menikah dengan pria lain.. Apa kalian sudah bisa membayangkan luka di hatinya saat itu?? Aku tak mampu jika harus melukainya kembali.."
"Jika kau sudah menikah mengapa kau kemari bersama putraku? Dimana suamimu?" tanya Tuan Rodrigo
"Dia.. kami sudah berpisah uncle.." Jasmine menahan air matanya namun sialnya tetap saja terjatuh di pipi mulusnya..
"Kau menangis? Kau masih mencintai mantan suamimu?"
Jasmine menggeleng "Aku membencinya seluas hatiku uncle"
"Kau marah??"
"Tentu saja.. aku kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat aku miliki dan rasanya sungguh menyakitkan"
"Sesuatu yang belum kau miliki??"
Jasmine menatap perutnya yang rata dan berkata "anakku.."
"Tidak apa uncle.. Sebaiknya aku segera berpamitan, aku ingin berjalan-jalan.. Lama sekali aku tak mengunjungi tempat ini.."
"Apa kau tak jadi menginap disini?? Bagaimana jika kakakku mencarimu??" Edward mencoba menghalangi Jasmine agar tetap tinggal..
"Aku bisa menjaga diriku ed.. Tenanglah.."
”Bagaimana dengan chipnya? Aku bisa membantumu.." Tuan Rodrigo juga berusaha menahan Jasmine..
"Terima kasih uncle tapi sebenarnya aku tidak tertarik.. Bukankah diriku sudah hancur se hancur-hancurnya.. Tak ada lagi yang tersisa dariku kecuali ragaku ini.. Aku tak keberatan jika memang hidupku harus berakhir..."
"Jasmine putriku..kau adalah putriku" Nyonya Rodrigo menangis mendengar kisah Jasmine..
"Betapa beruntungnya saya bisa dianggap sebagai putrimu.. Terima kasih Nyonya... Permisi semua" Jasmine melangkahkan kakinya pergi meninggalkan mansion mewah milik keluarga Rodrigo..
Nampaknya Tuan Rodrigo harus segera berangkat ke kantor, sedangkan Edward dan Nyonya Rodrigo memutuskan untuk masuk ke dalam rumah..
Saat tiba jam makan siang, di meja makan hanya ada Edward dan juga Nyonya Rodrigo.. Elvano enggan turun mungkin karena ia masih kesal... Hal ini membuat Nyonya Rodrigo untuk menyuruh bibi Na menghantarkan makan siang ke kamar Elvano..
__ADS_1
Tok.. Tok.. Tok..
"Selamat siang Tuan Muda, saya bibi Na mau mengantarkan makan siang"
"Masuk"
Bibi Na masuk ke dalam kamar Elvano, di sana Elvano sedang menatap sebuah foto di hadapannya..
"Ini makan siang untuk Tuan Muda"
"Apa mereka semua sedang makan siang di bawah??"
"Hanya Nyonya besar dan Tuan Muda Edward"
Elvano mengerutkan dahinya "apa Jasmine sudah memakan makan siangnya?"
"Maaf Tuan tapi nona Jasmine, aku tidak melihatnya lagi setelah tadi pagi..."
Elvano terkejut dengan jawaban bibi Na, dia berlari meninggalkan makan siangnya menuju ke ruang makan dimana ada Mommy dan juga adiknya..
"Mom, dimana Jasmine???"
"Setelah kejadian tadi, Jasmine berpamitan dan pergi.."
"Kemana??"
"Dia mengatakan ingin jalan-jalan kak.. Aku minta maaf soal tadi, aku tak tahu jika kakak akan semarah ini.. Aku hanya bercanda kak.."
"Lupakan..maafkan aku yang terbawa emosi sesaat ed.."
"Jangan keterlaluan dengan cara memaksanya menerimamu bodoh!! Mommy sebagai seorang wanita saja sampai bergeridik ngeri mendengarkan betapa tragisnya hidup gadis itu... Beri dia waktu untuk menyembuhkan lukanya Elvano.. Dia sedang rapuh saat ini"
"Kau membelanya mom??"
"Dia putriku"
"Sejak kapan dia menjadi putrimu??"
"Sejak kau membawanya kemari.. Pergi dan cari putriku sampai ketemu... Jangan pulang tanpa Jasmine!!" ancam Nyonya Rodrigo..
Elvano mendekat dan memeluk mommynya serta mendaratkan sebuah kecupan di pipinya "Aku mencintaimu mommy"
"Cih!! Kau sudah ingat bagaimana cara memeluk dan mencium mommy mu sendiri??"
__ADS_1
"Kau berlebihan mom...." Elvano berlari keluar dan memasuki mobilnya, ia mulai mencari Jasmine walaupun ia tidak tahu kemana Jasmine saat ini.. Ia berkeliling kota untuk mencarinya namun tak kunjung menemukan.. Ponsel?? Jasmine belum mempunyai ponsel sekarang... Elvano menyesali tindakannya yang membuat Jasmine justru malah menjadi pergi.. Bukankah di sisiNya sudah cukup bagi Elvano namun mengapa kini ia berharap lebih??
Tak bisa dipungkiri bahwa hati kecilnya sangat mencintai Jasmine, saat egonya mendominasi ada sisi dalam dirinya yang memang tak ingin Jasmine dimiliki oleh pria lain..