
Setibanya di mansion milik Darren yang tidak berubah sama sekali sejak terakhir kali Jasmine mengunjunginya 15 tahun yang lalu, sudut bibirnya tertarik ia bahagia membayangkan masa kecilnya di tempat itu bersama Darren dan juga Aldin.. Mereka bertumbuh bersama di tempat itu, mana mungkin Jasmine bisa melupakan masa kecilnya yang penuh dengan kebahagiaan itu..
"Apa kau merindukan tempat ini?" Bhina merangkul Jasmine
"Ya, aku rindu masa kecilku mom"
"Jasmine, wah kau sekarang tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik sekali" puji Meghan..
"Mom meghaaan, aku merindukan kalian" pekik Jasmine dan kemudian memeluk Meghan yang sudah dianggap seperti mommy nya sendiri..
"Katakan kenapa kau tak pernah mengunjungi kami jika kau merindukan kami? Kau sedang berbohong?" ucap Meghan dengan wajah terluka yang dibuat-buat..
"Kau berlebihan mom, bukankah setiap tahun kita bertemu di Jogja"
"Milan berbeda dengan Jogja sayang"
"Yang penting mom Meghan dan daddy Gilang masih orang yang sama"
"Wah semakin cerdas saja kau berbicara..cepatlah masuk dan sapalah koleksi barbiemu itu" ucap Gilang
"Dengan senang hati dad"
Jasmine melangkah masuk dan menuju kamar yang ia tempati dulunya, kamar itu sama sekali tak berubah sedikitpun.. Susunannya masih sama dan boneka Barbie kesayangannya masih tersusun rapi.. Jasmine berjalan dan melihatnya, satu per satu kenangan berputar di kepalanya.. Hingga sebuah tangan kekar melingkar di perutnya..
"Aku sangat merindukanmu princess" bisik Darren di telinga Jasmine..
"Lepaskan.." Jasmine berusaha melepaskan tangan Darren..
"Biarkan begini sebentar saja, aku hampir gila melihatmu memeluk laki-laki lain.. Jangan lakukan itu lagi ku mohon"
Jasmine membalikkan badannya dan setelah sekian lama kini mata mereka beradu "apa hakmu melarang ku?" ketus Jasmine..
"Bukankah sudah ku katakan jika kau adalah milikku"
__ADS_1
"Kau berkata seperti itu tapi kau bersenang-senang dengan wanita lain.. menjijikkan"
"Aku tak pernah melakukannya, aku hanya pernah menyentuh bibir gadis manis yang saat itu masih berusia 15tahun kala itu.. Aku hanya mencintaimu"
"Aku membencimu jika kau tahu" Jasmine mendorong tubuh Darren dan meninggalkannya..
Jasmine berlari turun menuruni anak tangga menuju ruang keluarga dimana semuanya sedang berkumpul..
"Mom, dad aku akan menuju apartemenku sekarang bersama Ellena"
"Mengapa kau tidak tinggal di sini saja, di sini ada banyak kamar" Meghan berusaha menghalangi Jasmine..
"Di sini terlalu jauh dari tempatku magang mom" Jasmine mencoba mencari alasan karena rumah Darren juga tak kekurangan sopir untuk mengantarkan mereka sejauh apapun mereka pergi..
Jasmine berpamitan dan menarik tangan Ellena untuk mengikutinya meninggalkan tempat itu.. Tak lama kemudian Darren turun dan bergabung dengan mereka namun Jasmine sudah pergi..
"Apa kau menyakitinya dude?"
"Aku hanya bilang jika aku merindukannya, apa itu salah mom?" Darren mencari pembenaran dari Bhina..
"Apa aku salah jika aku mencintai putrimu dad??" Tak ada yang ingin Darren sembunyikan mengenai perasaannya..
"Tak ada yang salah nak, hanya saja kau perlu bersabar untuk mendapatkan hatinya.. Percayalah daddy merestui hubungan kalian jika memang Jasmine juga mencintaimu"
"Dia mencintaiku hanya saja dia marah padaku"
Semua orang di sana menertawakan penderitaan Darren, sungguh keluarga yang sangat baik sekali tertawa diatas penderitaan orang lain..
.
.
.
__ADS_1
Melewati hari kemarin, hari ini adalah hari pertama Jasmine dan Ellena magang.. Mereka mendatangi kantor tempat mereka magang.. Gedung yang menjulang tinggi dengan banyak karyawan yang bekerja di sana menandakan bukan perusahaan yang bisa dianggap remeh.. Semua yang bekerja terlihat profesional, dan tentu saja mereka bibit-bibit unggul mengingat gaji yang ditawarkan perusahaan tersebut sangat menggiurkan dengan segala fasilitas yang diberikan..
Jasmine dan Ellena menuju ke meja receptionist menyampaikan maksud dan tujuan mereka.. Sang receptionist yang ternyata senang mengikuti jagat raya hiburan dunia mengenali Jasmine yang merupakan idolanya.. Ia pun meminta Jasmine untuk berfoto dengannya, setelah berhasil mendapatkan fotonya sang receptionist itu mengarahkan agar Jasmine menuju lantai 32 tempat pimpinannya dan Ellena ke lantai 7 bergabung dengan divisi keuangan..
"Kenapa aku harus magang di tempat pimpinan perusahaan ini sih, bisa tukeran tempat ga ell?"
"Aku sih mau-mau aja tapi kan tadi receptionist nya bilang kalau keputusan ini mutlak.. Udah sabar cuma sebulan juga, kamu harus strong okay"
Jasmine merotasikan bola matanya jengah, kini mereka tengah berada di depan lift karyawan untuk naik ke lantai dimana mereka akan ditempatkan.. Semua karyawan menundukkan kepalanya tatkala pemilik perusahaan hendak menuju lift pribadinya.. Jasmine dan Ellena hanya melirik siapakah pemimpin perusahaan ini, setelah melihat wajahnya Ellena terkekeh geli sedangkan Jasmine melempar pandangannya ke segala arah..
Pintu lift pribadi milik pimpinan terbuka namun sayang sekali kali ini tangan Jasmine ditarik untuk masuk ke dalamnya, Jasmine tak ingin terlibat sendirian sehingga ia juga menarik tangan sahabatnya untuk ikut serta masuk ke dalamnya.. Semua karyawan terkejut dengan tindakan pimpinannya tersebut, sepanjang mereka berkarir ia adalah sosok yang dingin namun berkharisma, tak pernah beramah tamah dengan para karyawannya dan hal yang baru saja mereka lihat sungguh mengejutkan..
Di dalam lift Jasmine masih saja tak mau membuka mulutnya berbeda dengan Ellena yang menyapa Darren "Hai kak Darren, lama tak jumpa ternyata dirimu lebih tampan sekarang"
"Benarkah?? Apa sahabatmu juga mengatakan hal yang sama??" Darren melirik Jasmine yang tak mengalihkan pandangannya dari pintu lift..
"Akh tanyakan sendiri kalau begitu.. aku masih ingin bersahabat dengannya" Ellena membuat angka dua dengan kedua tangannya..
Ting.. Lantai 7..
"Semoga harimu menyenangkan kawan" Ellena mencium pipi sahabatnya sebelum ia keluar dari lift.. Jasmine menghembuskan nafasnya dengan kasar, suasana menjadi canggung saat ia harus berdua dengan Darren di dalam lift.. Ia masih enggan membuka mulutnya untuk sekedar menyapa Darren.. Darren terus saja memandangi wajah gadis kecil yang sangat ia rindukan itu, ia tak ingin berdebat karena ia masih ingin memandanginya dengan sepenuh hati..
Ting.. Lantai 32..
Semua karyawan menunduk memberikan penghormatan kepada Darren, Jasmine hanya mengikuti di belakangnya karena sesungguhnya ia tak tahu dimana tepatnya ia akan magang hingga seorang asisten pribadi Darren menyapanya "Selamat pagi nona Jasmine, senang bertemu dengan anda, perkenalkan saya Mike asisten pribadi Tuan Muda Darren" Mike mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Jasmine..
"Jasmine, panggil aku Jasmine saja tak perlu pakai embel-embel nona.. Senang berkenalan denganmu Mike" Jasmine tersenyum hangat kepada Jasmine..
"Benar yang dikatakan Darren jika kau sangat cantik Jasmine"
"Terima kasih atas pujiannya Mike, aku tak suka dibohongi namun sepertinya itu tak berlaku buatmu"
"Jaga pandanganmu Mike" ketus Darren yang melihat tatapan memuja Mike kepada Jasmine..
__ADS_1
Mike sangat menyukai adegan dimana Darren cemburu karena selama ini Mike selalu menggoda wanita yang mencoba mendekati Darren namun Darren tak bereaksi sama sekali..Mike sempat mengira bahwa Jasmine adalah sosok dalam bayangan Darren saja, dan kini apa yang dikatakan Darren adalah sebuah kenyataan.. Gadis itu sedang berada di hadapannya sekarang dan benar saja kata Darren bahwa dia adalah gadis yang sangat manis..