
Aldin terbangun dari tidurnya dan tidak mendapati Feli di apartemennya.. Aldin berkeliling ke seluruh ruangan namun tak ada tanda-tanda kepulangan Feli.. Semua masih sama pada tempatnya, tak ada yang berubah sedikitpun sejak kepergian Feli... Aldin meraih ponselnya dan memeriksa apakah Feli membalas pesannya namun ia harus merasakan kekecewaan saat tak ada satupun pesannya yang di balas...
Ia sibuk memikirkan keberadaan Feli saat ini, mencoba menghubunginya kembali namun kali ini ponsel Feli tidak aktif.. Hal ini mampu membuat Aldin menendang kursi di hadapannya... Sungguh kursi yang malang..
Aldin meraih kunci mobilnya dan pergi menemui Jasmine.. Ia membutuhkan Jasmine saat ini... Aldin menemui Jasmine dengan kondisinya yang sangat kacau membuat Jasmine bertanya masalah apa yang sedang menimpanya...
"Jasmine..." panggil Aldin dengan suara seraknya, Aldin menarik Darren dari sisi Jasmine agar menjauh lalu memeluknya...
Tak sepatah katapun Jasmine ucapkan saat ini walaupun ia sangat ingin bertanya tentang segala sesuatu yang sedang terjadi kembarannya itu... Darren duduk di sofa, memberikan ruang bagi Aldin, ia paham bahwa Aldin tengah membutuhkan Jasmine... Jasmine mengulurkan tangannya membalas pelukan Aldin membuat Aldin semakin mengeratkan pelukannya....
"Ada apa denganmu Al??" tanya Jasmine lembut seperti mommynya... Sepertinya kini ia sudah menjelma seperti Bhina...
"Benar kata Feli kalau aku seorang pengecut...." sepenggal jawaban dari Aldin membuat Jasmine dan suaminya saling beradu tatap..
"Kau bertengkar dengan istrimu??" Jasmine mengurai pelukannya dan menatap Aldin yang masih tertunduk...Beberapa saat hening tak ada jawaban dari Aldin...
"Aku tak akan memaksamu untuk menceritakan semuanya..." Jasmine mengusap lembut lengan Aldin dan membiarkan Aldin untuk menenangkan dirinya sendiri..
"Dia pergi dan tak bisa dihubungi... Apa dia akan meninggalkanku???" tanya Aldin datar..
"Ada apa dengan otak cerdasmu itu Aldin Pradipta????" Jasmine mengambil ponselnya dan menghubungi Ellena untuk segera menemuinya di rumah sakit... Aldin melupakan Ellena yang memang memiliki keahlian di bidang IT...
"Tinggal tunggu Ellena datang masalah selesai bukan???"
"Bukan begitu Jasmine.. aku sudah melukainya...."
__ADS_1
Jasmine bersedekap "Apa yang kau lakukan padanya hemm???"
"Emily..."
Hening...
Tak ada jawaban dari Jasmine yang sekilas memandang suami dan juga kembarannya itu.. Jasmine menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan..
"Aku tahu kau memiliki alasan untuk menikahi Feli, tapi jangan permainkan yang namanya ikatan suci pernikahan Al... Jika kau belum selesai dengan masa lalumu, jangan pernah memutuskan untuk menjalin hubungan dengan orang yang baru.. Kau tahu ini akan menyakitinya tapi tetap saja kau lakukan... Terlepas dibalik siapa dan bagaimana Feli ataupun Emily mereka sama-sama punya hati... Percayalah aku tak menentangmu menjalin hubungan dengan siapapun... Feli dan Emily keduanya baik di mataku tapi kau harus tegas pada hatimu sendiri Al... Perbaiki semuanya sekarang sebelum terlambat..."
"Emily menderita kanker darah.."
DEG
Jasmine menarik kakaknya dan memeluknya tanpa lagi bersuara karena ia tak ingin memperkeruh suasana hati Aldin. Beruntung Ellena dan Mike segera datang, tanpa basa-basi Ellena melacak keberadaan Feli lalu memberikan informasi kepada Aldin..
"Istrimu ada di rumah sakit ini..." kata Ellena sembari menunjukkan layar laptopnya... Aldin terkejut, ia pikir Feli pergi meninggalkannya... Aldin berlari mencari keberadaan Feli karena ingin segera menemuinya...
.
.
.
Dengan langkah cepat Aldin menuju lokasi yang diberikan Ellena.. Sebuah ruang rawat namun bukan ruang rawat Emily, lalu apa yang ia lakukan di sana....
__ADS_1
Setibanya di sana, Aldin memberanikan membuka pintu dan mendapati Feli sedang tertidur... Aldin mendekat dan meraih tangan Feli lalu menciumnya perlahan yang membuat Feli terbangun dari tidurnya..
Feli melihat Aldin yang tersenyum saat ia membuka matanya.. "Pergilah aku sedang tak ingin berdebat.." ujar Feli lemah...
"Hentikan.. kau tak harus melakukan ini semua..." Aldin mengusap pipi istrinya..
"Aku hanya ingin melakukannya.. Ku harap setelah ini semua hutangku padamu sudah lunas..." Feli membuang wajahnya agar tak melihat Aldin yang melemahkan hatinya itu..
"Feli, maafkan aku.." Aldin memeluk perut Feli dan ingin rasanya Feli membalas pelukannya namun ia sadar jika ia melakukannya maka akan membuat hatinya semakin terluka...
"Kau pergilah dan jangan menggangguku.."
"Aku akan disini menemani istriku.."
"Aku baik-baik saja.. Sebaiknya kau temani Emily, dia sedang membutuhkan dukunganmu saat ini.." Hati Aldin terasa sakit saat Feli mengucapkannya...
"Feli..." lirih Aldin yang tidak dihiraukan oleh Feli.. Ia memilih untuk beristirahat karena semakin banyak berbicara ia sendiri tak yakin mampu menahan air matanya atau tidak...
"Rasa ini lebih menyakitkan daripada prosedur medis yang harus ku jalani Aldin..." batin Feli...
Aldin tetap di tempatnya menunggu Feli, dia ingin menemani Feli, berharap Feli bisa bersikap seperti sedia kala walaupun sepertinya tak mungkin...
"Diammu menyakitiku Feli..." ucap Aldin lalu mencium puncak kepala Feli..
Sebulir air mata jatuh tak tertahankan lagi saat Feli mendengarkan hal itu, ia tak ingin berharap lebih jauh.. Aldin dan Emily saling mencintai pikirnya...
__ADS_1