Cinta Cuma-Cuma

Cinta Cuma-Cuma
CCC- Bab 17


__ADS_3

"Selamat malam om dan Tante.." sapa Ardelia ramah


"Malam.." Jawab kedua orang tua Satya kompak dengan singkat padat dan jelas.. Bagi mereka hanya Bhina yang pantas untuk mendampingi putranya setelah kejadian beberapa bulan lalu yang hampir membuat nyawa putranya melayang akibat tindakan Ardelia..


Mendapat respon yang kurang menyenangkan, Ardelia mencoba bergelayut manja di lengan kekar Satya yang dulu pernah menjadi tempatnya bersandar namun lagi-lagi ia mendapat penolakan dari Satya yang mendorong tubuhnya agar menjauh.. Di saat yang bersamaan Bhina sedang menyaksikan hal tersebut..


"Bhi, nyanyi dong bhi.. lama ga denger kamu nyanyi" teriak teman-teman Bhina


"Aku yang main gitar" imbuh ivan


Dengan senyum menawan, Bhina meraih mic dan berbisik kepada Ivan judul lagu yang hendak ia bawakan.. Melihat hal tersebut membuat Satya harus membanting sendok dan garpu yang masih dipegangnya..


Iringan musik dari gitar yang dimainkan oleh Ivan sudah mulai berdendang dan Bhina mulai beraksi, beginilah sepenggal lirik dari lagu yang dinyanyikan Bhina:


Aku tahu engkau, sebenarnya tahu..


Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu..


kau sembunyikan rasa cintaku


di balik topeng pernikahanmu yang palsu..


kau jadikan aku KEKASIH BAYARAN


untuk menemani saat kau merasa sepi


bertahun lamanya ku jalani kisah


cinta sendiri...


Satya tersedak ludahnya sendiri saat mendengar lirik lagu yang dibawakan oleh istrinya, ia meyakini bahwa saat ini istrinya sedang menyindirnya..


"Bhi, ga asik lah lagu-lagu mewek gitu..ga cocok sama elu.. mending elu sama Shella duet kayak jaman SMA.." teriak Doni


"Gue sih oke cuman gue takut Shella kena marah sama yang punya hotel" ucap Bhina santai


"Emang Shella kenal sama yang punya hotel ini?"


"Nooohh kakak gue begooo yang punya" Teriak shella sambil memberi kode kepada Satya untuk memperbolehkan dirinya bernyanyi.. Satya hanya pasrah menyetujuinya karena ia ingin mencari hati istrinya dan segera berdamai..


"Horeeee" teriakan heboh mendominasi restaurant hotel tersebut..

__ADS_1


"Jadi mau lagu apa nih??" tawar Shella


"Cendol dawet Shell"


"Tariiiikk sis... semongkoooo... hoookkyyaaaa hooo hooo hoookkyyaaaa..."


Akhirnya suasana mewah hotel bintang lima milik Satya menjadi riuh layaknya konser dangdut.. Bukan Bhina dan Shella namanya jika tak bisa membuat heboh suasana yang sedang berlangsung..


Satya memijit pelipisnya melihat kelakuan istri dan juga adeknya.. "Istri sama adek lu gokil yah Sat" ucap Rendra sambil menirukan lagu yang sedang di dendangkan..


"Gokil? Malu-maluin lebih tepatnya.. sama sekali tidak cocok dengan Satya yang berkelas.." cibir Ardelia..


"Wah sat, kayaknya elu perlu ngundang pak ustad, gue kok kayak denger suara-suara gaib ya?" sindir Rendra


"Elu ga suka ya sama gue ren?"


"Lah emang gue ga pernah suka sama elu.. kapan juga gue suka sama elu.."


"Satya, kok kamu diem aja sih ga belain aku" rengek Ardelia


"Del, hubungan kita sudah lama berakhir gue harap elu ga lupa itu dan sekarang gue udah punya istri.."


"Kamu ga salah nikahin cewek murahan kayak dia??"


"Gue ga suka elu merendahkan istri gue.. Lu ga lebih baik dari dia.."


"Sat.. lepasin sat kamu bisa membunuh Ardelia nak... Lepasin!!!" teriak mami anne..


Shella dan juga Bhina yang melihat itu langsung berlari mendekat, semua orang yang ada di restaurant itu digiring keluar oleh security atas perintah Hartanto...


"Kakak lepasin kak.." Bhina menenangkan suaminya dengan memeluknya dan ajaib Satya langsung melepaskan cengkramannya dan membalas pelukan yang sangat ia rindukan..


"Uhuuukk...uhuuukk.. gue punya semua buktinya sat.. elu pasti bakalan benci sama wanita ini kalau elu lihat faktanya"


Ardelia menunjukkan foto-foto Bhina sedang bermesraan dengan Arya..


Satya memegang kedua bahu Bhina dan bertanya akan kebenaran foto itu..


"i-itu semua tidak benar.. itu semua bohong..aku ga pernah ngelakuin hal sebodoh itu" Bhina mencoba menjelaskan pada semua orang yang ada di sana..


"Aku benci pengkhianatan bhi" hardik Satya..

__ADS_1


"Tapi aku ga pernah berkhianat.. aku lebih baik mati daripada harus melakukan hal seperti itu bahkan jika aku harus memilih antara aku harus mengakui foto itu atau nyawaku... aku akan lebih memilih kehilangan nyawaku kak.. Demi Tuhan, aku ga seperti itu kak...percaya sama aku.."


Satya melepaskan tangan Bhina yang berusaha memeluknya.. Rasa sakit lebih mendominasi dirinya saat ini..


"Kakak" Bhina menangis tersedu-sedu melihat Satya meragukan dirinya sungguh hal yang lebih menyakitkan daripada melihat foto-foto itu..


Bhina mengambil tasnya dan memilih untuk pergi meninggalkan kepedihan yang baru saja tercipta.. Air matanya tak berhenti mengalir, hingga di depan hotel ia bertemu dengan Ivan yang masih berada di sana.. Ivan mencoba menenangkan tangis Bhina namun tak berhasil.. Bhina tetap berjalan pergi, saat hendak menyebrang dari arah berlawanan ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi..


Ciiiiiiitttt... suara rem yang beradu dengan aspal dan akhirnya tabrakan tak dapat terhindarkan..


Duuuuaaarr.. Tubuh mungil Bhina terpental ke kaca depan mobil dan terbanting ke aspal hitam yang dalam hitungan detik berwarna merah.


"Bhinaaaaa" teriak Ivan yang menyaksikan kejadian itu.. Ia berlari ke dalam hotel mencari keberadaan Shella mengacuhkan semua security yang mencoba menghalanginya...


"Shella, Bhina kecelakaan" teriak Ivan yang membuat semua mata tertuju padanya..


Satya berdiri dan berlari keluar, sirine ambulance sudah terdengar mendekati lokasi kecelakaan, hati Satya hancur se hancur-hancurnya melihat kondisi istrinya.. Apakah ini jawaban dari kata-kata istrinya yang lebih memilih kehilangan nyawanya tadi? Sungguh Satya menyesali kejadian tadi, jika saja ia bisa memutar waktu pasti saat ini Bhina masih ada di sisinya..


Ia mengangkat kepala Bhina ke atas pangkuannya sambil menangis tersedu-sedu "Bhi.. bhiiiii dengerin aku.. bhii bangun... bangun bhiiiii" Satya menepuk pipi istrinya..


"Cepat tolong istri saya.. saya mohon.. selamatkan istri saya!!!!!" Satya membentak semua petugas medis yang hendak mengangkat tubuh Bhina..


"Kakak, Bhina baik-baik aja kan??? Bhina gapapa kan kak???" Shella mengguncang tubuh kakaknya, namun Satya hanya bisa menenangkan adiknya dengan memeluknya..


"Kamu ikut mami papi pakai mobil, kakak mau nemenin Bhina di ambulance..."


"Ga mau, aku juga ikut ambulance"


Kedua kakak beradik itu menemani Bhina di dalam ambulance, Shella yang tak bisa berhenti menangis terus saja mengajak Bhina berbicara


"Bhi, aku ga bakal maafin kamu kalau kamu ga buka mata kamu!!!! Kamu kan janji kita sahabatan selamanya.. sampai kita tua bareng-bareng bhi.. Bangun bhi bangun.. Jangan buat aku takut bhi.." Shella mengguncang tubuh Bhina yang sama sekali tak bereaksi atas setiap ancamannya..


Pedih,


Satya membersihkan wajah istrinya yang berlumuran darah lalu membaringkan kepalanya di sisi kepala Bhina lalu berbisik.


"Bangun sayang"


Yang terjadi sungguh sangat memilukan, detak jantung Bhina mulai melemah membuat seisi ambulance bekerja dengan sangat keras.. Shella menangis histeris sedangkan Satya memaki sopir ambulance yang menurutnya sangat lama mengantarkan mereka sampai rumah sakit..


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2