
Sudah tiga hari sejak kecelakaan itu terjadi, sepanjang malam Bhina tak bisa tidur karena memikirkan suaminya yang tentu saja bersama dengan Ardelia.. Ia bahkan tak nafsu makan karena suaminya berulang kali menolak panggilan darinya..
Bhina sangat sedih, bagaimana bisa ketidakadilan ini menimpanya bahkan di saat dirinya baru saja menemukan kebahagiaannya bersama Satya..
Bhina menatap cermin di hadapannya dan tertawa getir "inikah takdirku Tuhan??"
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Bhina "Masuk"..
Rendra datang dan segera duduk di sebelah Bhina, terlihat dengan jelas mata sembab Bhina dan wajah yang pucat..
"Elu udah makan?"
Bhina menggelengkan kepalanya..
"Mau sampai kapan lu kayak gini? Lu butuh tenaga buat hadapin ini semua"
Bhina membuang pandangannya ke atas, menahan agar air matanya tak jatuh..
"Aku bisa apa disaat suamiku sendiri menawarkan sebuah perpisahan kak?" Kini air mata yang ia tahan pun akhirnya tumpah mengingat tatkala ia mencoba mengingatkan Satya akan pernikahannya, bukannya secercah harapan yang ia dapatkan tapi surat gugatan yang ia terima.. Satya sungguh tak main-main dengan keputusannya untuk berpisah.. Walaupun semua orang mencoba untuk menghalangi agar hal itu tak terjadi namun keinginan Satya untuk berpisah jauh lebih besar daripada kemauannya untuk mengingat masa lalunya dengan Bhina...
Rendra merentangkan tangannya, menawarkan sebuah pelukan agar Bhina merasa lebih tenang.. Tak menolaknya, Bhina menyambut pelukan Rendra dan menangis sejadi-jadinya, berulang kali Rendra harus menahan sakit karena Bhina beberapa kali memukul punggungnya..
"Lu ga sendiri bhi, gue siap jadi tempat lu berbagi tangis.. gimana kalau mulai hari ini gue jadi kakak lu.. Apa lu mau punya kakak kayak gue??"
"Tentu saja" ucap Bhina
"sekarang elu harus makan, elu harus nurut sama kakak elu yang paling ganteng ini"
Rendra menyuapi Bhina dengan telaten hingga Bhina menghabiskan seluruh makanannya..
"Kak"
"Hmm"
"Aku bakal pisah sama kak Satya.." ada kesedihan yang mendalam tatkala Bhina mengucapkannya..
__ADS_1
Rendra menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar "Heeii, dengerin gue.. gue lebih seneng lu jadi Bhina yang nyebelin kayak biasanya daripada lu jadi bhina yang mengenaskan seperti ini.. Dan satu lagi, gue pastiin pria bodoh itu bakalan nangis darah kalau ingatannya udah balik.. apalagi tau kalian pisah.. gue yakin dia bakal hancur.. untuk sekarang gue ga bisa ngapa-ngapain.. mau dipaksa kayak gimana pun juga dia ga bakalan inget"
"Seandainya Tuhan memberiku sebuah alasan untuk aku bisa bersemangat lagi menjalani hidup ini kak"
"Mau gue temenin ketemu Satya??"
Bhina hanya mengangguk walaupun ia yakin Satya tak ingin menemuinya.. Rendra berdiri dan segera menuntun Bhina keluar dari kamarnya.. Di luar Devi dan juga Rahardian sudah menunggu dengan cemas, mengingat sudah 3 hari Bhina tak keluar dari kamarnya..
"Sayang" panggil Rahardian dengan lembut..
"Ayah ibu, Bhina baik-baik aja" Sudah menjadi kebiasaan bagi Bhina sejak kecil untuk selalu menyembunyikan kesedihannya terutama di hadapan kedua orangtuanya...
"Nak Rendra, titip Bhina ya.." ucap Devi
"Pasti Bu"
Bhina dan juga Rendra menuju rumah sakit tempat Satya di rawat.. Setibanya di sana, Anne dan Hartanto memeluk Bhina bergantian..
"Apa aku boleh masuk?"
"Tentu saja sayang, di dalam ada Shella dan juga..." Anne menggantung kata-katanya..
Bhina melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang rawat Satya, hatinya bagai di sayat-sayat saat melihat suaminya sedang di suapi oleh Ardelia..
"Bhi.." panggil Shella dengan penuh kecemasan..
"Aku ga papa Shell" Bhina tersenyum manis ke arah sahabatnya namun saat itu juga Shella dan Anne menangis menyaksikan kebesaran hati Bhina..
"Hai.. aku ingin menyuapimu apakah boleh?" tanya Bhina kepada Satya..
"Bukankah sudah ku bilang berkali-kali bahwa aku tak ingin bertemu denganmu!!" ucap Satya dengan nada tinggi
"Jaga ucapanmu Sat!!" Hartanto mencoba memperingatkan Satya karena telah berbicara sedikit keras pada Bhina..
"Papi, tak apa aku baik-baik saja" Bhina menenangkan ayah mertuanya..
"Apa kau sungguh-sungguh tak ingin bertemu denganku?apa hatimu tak sakit saat mengatakannya?" Tanya Bhina
__ADS_1
Untuk sejenak Satya diam, benar yang dikatakan Bhina bahwa hatinya sangat sakit saat ia dengan sadar menyakiti Bhina.. Perasaan yang sungguh aneh baginya, otaknya memerintahkan untuk menjauhi Bhina namun ada apa dengan hatinya yang justru sangat terluka..
"Tentu saja, apa kau sudah menandatangani surat gugatan itu?
"Sebanyak apa kau menginginkannya??"
"Tentu saja sebanyak aku ingin menikahi Ardelia, aku yakin pernikahan kita terjadi karena sebuah kesalahan, tak mungkin aku menikahi wanita seperti dirimu"
"Seperti diriku? Apa aku terlalu buruk untukmu?"
"Sudahlah, jangan mempermainkanku dengan kata-katamu, lebih baik bagimu untuk segera menandatangani surat itu"
"Baiklah kalau itu maumu, tapi dengan satu syarat"
"Katakan cepat!!!"
"Aku mau memeluk kamu untuk yang terakhir kalinya, setelah itu aku janji untuk tanda tangan"
"Mana bisa begitu" Ardelia mendorong tubuh Bhina hingga terhuyung ke belakang dan saat itu juga Shella menjambak rambut Ardelia karena dengan sengaja sudah mendorong Bhina..
"Hentikan!!" teriak Satya untuk menghentikan perkelahian antara Shella dan juga Ardelia..
"Kau boleh memelukku dan segera tanda tangani surat itu!!"
Bhina mendekat dan memeluk Satya, bahkan ia menumpahkan air mata kesedihannya di pundak Satya.. Entah dorongan dari mana Satya pun membalas pelukan Bhina.. Tak dapat dipungkiri bahwa melihat Bhina menangis, hatinya sungguh sangat pilu.. Ia benci saat-saat seperti itu, saat dimana pikirannya menginginkan Ardelia namun hatinya berpihak pada Bhina..
Setelah puas memeluk Satya, Bhina menjauhkan dirinya.. Ia mengeluarkan sepucuk surat dari dalam tasnya dan menandatanganinya..
Kedua orangtua Satya beserta Shella sudah sekuat tenaga membujuk Bhina agar tak menandatangani surat itu namun kenyataannya Bhina memilih menyerah..
"Ini sudah ku tanda tangani, semoga kamu selalu bahagia dengan kehidupanmu.." ucap Bhina dengan tulus..
Bhina berjalan ke arah mertuanya yang menangis dan menenangkan mereka.. "Bhina doakan semoga papi dan mami selalu sehat, tolong maafkan kesalahan Bhina selama ini dan jangan bersedih lagi... Ini semua sudah Bhina pikirkan dengan baik-baik"
"Shella, berhenti menyalahkan dirimu sendiri.. Dan yaa best friend forever" ucap Bhina sembari mengacungkan jari kelingkingnya di udara dan di sambut oleh Shella..
"Demi Tuhan, sampai kapanpun lu ga cuma sahabat terbaik gue.. Selamanya lu tetep jadi kakak ipar gue"
__ADS_1
Akhirnya Bhina dan Shella menangis berpelukan.. Sudah tiga hari Bhina memikirkan ini dengan baik-baik, ia tahu bahwa ia sudah menyerah sebelum berjuang namun jika ia memaksakan egonya agar Satya mengingatnya tentu saja itu tak akan baik... Bhina pernah mencobanya namun yang terjadi justru sakit kepala hebat menyerang Satya.. Bhina tak sanggup jika harus melihat Satya kesakitan, akhirnya ia lebih memilih mundur untuk kebaikan bersama..