
Elvano duduk berhadapan dengan Satya dan juga Bhina di taman.. Ia tersenyum melihat sepasang suami istri yang saling mencintai itu.. Sungguh, mereka berdua adalah idola bagi elvano...
"Mengapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya Satya penasaran..
"Aku hanya membayangkan, andai saja aku lahir di tahun yang sama denganmu dad.. Ku pastikan mommy menjadi istriku.." Elvano mengerling jenaka yang disambut gelak tawa oleh Bhina..
"Cih!! Beraninya kau anak muda.. Ku rasa putriku mewarisi wajah cantik istriku hanya saja rambutnya pirang sepertiku.. Bagaimana pendapatmu??"
"Yaa.. dia sangat cantik.. aku tergila-gila untuk semua hal tentangnya.. Namun aku sadar bahwa putrimu tak mencintaiku dan sepertinya istrimu yang mencintaiku.. Bukankah begitu mom??"
"Tentu saja, aku mencintaimu dengan cinta yang sama pada Aldin dan Jasmine" jawab Bhina
"Ohh mom, kau melukaiku" Elvano memasang wajah terluka yang dibuat-buat..
Akhirnya mereka bertiga tertawa bersama, Elvano merindukan keluarga pradipta... Dulu sewaktu masih menjalin hubungan dengan Jasmine, dirinya memang sering menghabiskan waktu bersama keluarga ini.. Bahkan kedekatan mereka sudah seperti keluarga sendiri dan hal ini membuat Elvano sangat nyaman.. Tak lama kemudian, Aldin datang untuk bergabung bersama mereka dan mereka mulai membahas tentang chip yang tertanam di tubuh Jasmine.. Seperti rencana semula, Elvano akan membawa Jasmine menemui ayahnya untuk mencari solusi.. Akhirnya mereka sepakat, Jasmine dan Elvano akan segera terbang ke Inggris untuk menemui ayah Elvano..
Satya dan Bhina merasa sedikit lega akan kedatangan Elvano kali ini.. Masih ada harapan bagi Jasmine untuk terbebas dari belenggu chip yang menderanya..
.
.
.
DEG
"Ada apa denganmu dude?? Kau terlihat cemas??" tanya Aldin
"Entahlah tapi perasaanku sangat tidak enak, aku ingin menemui Jasmine dulu sebentar.. Mungkin saja dia sudah sadar"
"Ck! Kau merindukannya.." ejek Aldin
"Bahkan setiap kali aku bernafas aku selalu merindukannya jika kau tahu"
__ADS_1
"Pergilah, adikku beruntung sekali memiliki sahabat sepertimu" kembali Aldin mengejeknya..
"Tutup mulutmu brengsek" Elvano berdiri dan berpamitan lalu berjalan ke ruang rawat Jasmine, namun di serambi rumah sakit ia melihat seorang wanita yang mirip dengan Jasmine sedang mengenakan baju pasien sedang berjalan dengan tatapan kosong.. Elvano mengikuti wanita itu hingga ke rooftop, wanita itu berjalan ke tepi dan satu langkah lagi ia akan terjatuh dari lantai 20.. Jika terlambat sedetik saja, sudah dipastikan ia sudah berpindah ke dimensi yang lain.. Beruntung ada tangan yang menarik tangannya..
"Jasmine!!!" untuk pertama kali Elvano berteriak pada wanita yang ia cintai itu.. Tak ada jawaban, hanya isakan tangis yang memilukan hati..
Jasmine memukul dada bidang Elvano, ia sengaja memberontak karena sudah menghalangi niatnya untuk bunuh diri.. "Lepaskan aku Elvano!! Biarkan aku mati saja.. Kenapa kau harus datang menghalangiku?? Pergilah!!!"
"Apa yang kau katakan?? Bunuh diri??? Kenapa pikiranmu sangat sempit sekali haa??"
"Aku sudah hancur el... Suamiku pergi meninggalkanku, buah hatiku juga dibunuh dengan cara yang sangat mengerikan... Semua ini terjadi karena diriku, karena chip yang ada dalam diriku semua jadi meninggalkanku...Bukankah dia menginginkan kematianku??? Ku rasa lebih cepat lebih baik sehingga aku tak harus melihat orang-orang yang ku sayang satu per satu meninggalkanku"
"Semua ada jalan keluarnya Jasmine, lihatlah aku Jasmine.. Apa cintaku tak bisa membuatmu bertahan?? Jika memang tidak, lihatlah keluargamu"
Akhirnya Jasmine meluruh ke lantai dan menangis sejadi-jadinya.. Berulangkali ia memukul lantai dengan tangannya hingga memerah namun Elvano menahan tangannya "Cukup, jangan sakiti dirimu lagi.." Elvano menarik tubuh Jasmine ke dalam pelukannya.. Untuk sesaat keduanya terdiam tanpa kata, hanya air mata Jasmine yang terus saja mengalir hingga membasahi baju Elvano...
"Menangislah jika itu membuatmu tenang" Elvano membelai rambut panjang milik Jasmine, ia tak ingin membahas ini lebih lanjut karena akan melukai hati Jasmine dan juga hatinya..
"El.. bajumu basah" ucap Jasmine saat sudah bisa mengendalikan dirinya..
Bugh
Sebuah pukulan mendarat di dada bidang Elvano, siapa lagi pelakunya jika bukan Jasmine.. Elvano mengangkat tubuh Jasmine dan menggendongnya, Jasmine hanya menyembunyikan wajahnya di dada Elvano..
"Mari kita ke kamar, kau harus banyak istirahat agar segera pulih dan aku akan membawamu pergi melihat indahnya dunia"
Jasmine hanya mengangguk, saat ini ia tak bisa berpikir jernih jadi daripada berdebat lebih baik menyetujuinya...
Setibanya di depan ruang rawatnya, Aldin dan kedua orang tuanya berlari menghampiri Aldin yang tengah menggendong Jasmine..
"Jasmine, apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja??" Bhina menangkup wajah putrinya..
"Ya, seperti yang kau lihat dan maaf sudah membuatmu khawatir mom"
__ADS_1
Elvano berjalan ke sisi ranjang dan membaringkan tubuh Jasmine..
TING
Semua ponsel milik keluarga pradipta berbunyi, sebuah pesan masuk dan berhasil mengejutkan semuanya.. Undangan pernikahan Darren dan juga Sonia yang akan dilaksanakan di Indonesia.. Sonia mewajibkan keluarga pradipta turut hadir jika tak ingin melihat tubuh putrinya meledak.. Semua terlihat cemas kecuali Jasmine dan Elvano yang memang tidak tahu apa-apa..
Pandangan ini tak lepas dari mata Jasmine "Apa aku tak boleh tahu?"
"Bu-bukan begitu sayang.. ini hanya... "
Jasmine merebut ponsel mommy nya dan membaca pesan yang masuk, kini ia menyesali keputusannya yang hendak bunuh diri tadi.. Jasmine tersenyum dan berkata "Mari kita hadir di pernikahan kakak"
"Jasmine??" panggil Aldin dengan penuh tanya di benaknya..
"Ya aku Jasmine, bukankah kita diundang ke pernikahan kakak?? Mari kita datang, sangat tak adil baginya jika kita tak menghadirinya.. Ia akan sangat sedih, bukan begitu mom??"
"Nak, kau pasti sangat sedih saat ini.."
"Aku sama sekali tidak sedih dad.. apa aku salah jika aku ingin menghadirinya?? Percayalah aku akan menjadi anak yang baik, aku tak akan mengacaukannya.. Aku hanya ingin memberikan doa terbaikku untuk mereka"
"Apa kau yakin??" tanya Elvano
"Tentu saja dan aku ingin kau menjadi pendamping ku malam ini.. Apa kau keberatan? Atau kekasihmu yang keberatan??" Tanya Jasmine dengan penuh selidik..
"Tidak.. tidak sama sekali.. aku akan menjadi pendampingmu"
"Hmm baiklah tapi aku tidak bertanggungjawab jika kekasihmu marah.." Jasmine tersenyum sangat manis, senyum yang dirindukan Elvano sudah kembali mengembang di wajah Jasmine.. Elvano mengacak rambut Jasmine..
"Aku akan membelamu jika hal itu terjadi"
"Aku seperti simpananmu, astagaa.. aku tak ingin orang-orang berpikiran seperti itu... Apa kata orang-orang nantinya... Sebaiknya aku bersama Aldin saja.."
"Akan ku potong lidahnya bagi yang berani mengatakan itu pada Jasmine ku"
__ADS_1
Mendengar jawaban Elvano, Jasmine hanya bisa melongo dengan mulut yang terbuka lebar.. Hal ini terlihat sangat menggemaskan bagi Elvano.. Ingin rasanya ia menutup mulut Jasmine dengan bibirnya...