
Pintu apartemen terbuka saat Bhina santai dengan ponsel di tangannya, ia menoleh seakan tak percaya bahwa suaminya sudah pulang bersama dengan asistennya..
"Kalian kok di sini? Bukannya ada meeting?"
"Tanyakan saja pada suami bodohmu itu" ucap Rendra dengan nada kesal..Tatapan Bhina beralih kepada suaminya seakan bertanya ada apa ini sebenarnya..
Satya menarik istrinya dalam pelukannya tanpa ada jawaban, mengendus aroma tubuh yang membuatnya merindu..Bhina membalas pelukan suaminya
"Kakak baik-baik aja kan?"
"Aku kangen sama kamu" Jawaban Satya membuat mata Bhina membelalak dan mulutnya menganga..
Ga mimpi nih dia ngomongnya pakai aku dan kamu... Biasanya pakai elu gue, apa gara-gara rambutnya aku olesin pakai minyak jelantah jadi otaknya ikutan lemes...
"Jangan percaya bhi, palingan ada maunya.." Rendra mencoba mempengaruhi Bhina..
Satya justru menangkup wajah bhina dan menciumi bibirnya..
"Cih! Ga tau malu.. ada gue wooiii ada gue.. ga kasian lu sama gue" Rendra berdecak kesal dan segera naik ke lantai 2 agar tak menyaksikan kejadian yang lebih ekstrim..
"Sayang.." ucap Satya dengan lembut
^^^Waduh, ini kak Satya apa genderuwo yang lagi nyamar sih.. apa kata dia tadi? sayang?^^^
"Mikirin apa sih kok dari tadi diem aja?"
"Emm itu emm..kakak mau dibuatin minum?"
"Kopi favorit!! bikinin sekalian buat Rendra.."
Bhina hanya mengangguk karena otaknya sibuk berpikir apakah genderuwo juga doyan minum kopi..Namun detik berikutnya ia bergeridik ngeri dan langsung berlari ke dapur..
Kini dua cangkir kopi sudah ada di atas nampan yang siap untuk diantarkan kepada dua orang tamunya.. Berkali-kali Bhina berpikir apakah dia harus pergi dari apartemennya sekarang karena ia khawatir jika dua orang tamunya adalah manusia jadi-jadian namun rasa penasarannya lebih besar dari rasa takutnya hingga ia memberanikan diri ke lantai atas untuk mengantarkan kopi..
Bhina menaiki anak tangga dan mencari keberadaan dua tamunya.. Sekali lagi ia mempertajam telinganya untuk memastikan bahwa suara mereka berasal dari kamar yang tak boleh dimasuki oleh Bhina..
__ADS_1
Tuh kan apa aku bilang, kayaknya mereka manusia jadi-jadian.. Kak Satya aja dengan tegas ngelarang aku buat masuk ke kamar ini.. masa iya dia nyuruh bawain kopi ke sini? idih, amit-amit aku tadi di cium sama manusia jadi-jadian..
Bhina menarik nafas panjang dan mulai memutar handle pintu, betapa terkejutnya ia saat melihat pemandangan di hadapannya.. Ia membisu sesaat lalu tersenyum setelahnya..
Ternyata dia bukan manusia jadi-jadian tapi manusia ga punya hati..
"Sa-sayang... aku bisa jelasin semuanya.. ini ga seperti yang kamu pikirin" ucap Satya karena panik melanda..
"Memangnya aku mikirin apa?" jawab Bhina santai dan berjalan masuk lalu meletakkan kopinya di atas meja kerja Satya..
Rendra tak berani berkata kali ini, ia lebih memilih bungkam dan menikmati secangkir kopi buatan Bhina yang rasanya memang enak seperti yang setiap hari selalu dikatakan oleh Satya..
"Sayang.. maaf aku belum sempat buang foto-foto itu" muka Satya memelas saat mengatakannya..
"Kenapa harus dibuang? Kan memang tak ada hubungan apa-apa di antara kita"
Deg,
Satya merasa seperti Bhina benar-benar sudah tak mencintainya.. Salahkan gengsinya yang terlalu tinggi hingga Satya terlambat menyadari perasaannya...Bhina melipat kedua tangannya di depan dada serta berkeliling melihat foto-foto yang ditata dengan bagus di ruang terlarang itu.. Tatapan Satya beralih ke Rendra yang tengah asyik meminum kopinya seakan meminta tolong untuk menjelaskan pada Bhina...
"Benar juga!!! Bisa dipertimbangkan kak.." Keduanya tergelak dan hanya satu manusia saja di sana yang seperti sedang tak dianggap..
"Sayang" rengek Satya..
"Kakak lagi ngomong sama foto? Mending ketemu langsung aja daripada halu sampai dibikinin ruang pemujaan gini sama kakak"
Gelak tawa Rendra mendominasi ruangan itu mendengar apa yang disebut Bhina dengan ruang pemujaan.. Bhina duduk di sebelah Rendra membuat hati Satya terbakar api cemburu..
"Ren" geram Satya..
Tak menggubris wajah sahabatnya yang seperti sudah siap mengumpatnya dengan segala sumpah serapahnya, Rendra justru memanfaatkan kesempatan ini untuk lebih memanas-manasi Satya..
"Kak Rendra suka kue?"
"Suka.. aku doyan makan apa aja sih.."
__ADS_1
"Termasuk temen" potong Satya
Keduanya hanya melirik Satya kemudian melanjutkan obrolannya..
"Aku tadi nyobain bikin cheesecake.. kakak mau cobain ga?"
"Boleh, tapi nanti kalau aku pingsan gara-gara rasa rotinya yang enak itu tolong kasih nafas buatan ya"
"Siiaapp!!!" Bhina berlari turun ke bawah mengambilkan cheesecake hasil karyanya.. 5 menit kemudian Bhina datang dengan sepiring cheesecake dan tersenyum lebar kepada Rendra.. Hal ini membuat Satya semakin meradang, bagaimana bisa dengan mudahnya Rendra dan Bhina dekat..
Bhina kembali duduk di sebelah Rendra dan menyodorkan kue buatannya yang disambut oleh Rendra.. Satu gigitan pertama "Gimana kak???" tanya Bhina bersemangat..
Ekspresi wajah Rendra sangat sulit diartikan ketika mencicipi kue buatan Bhina "Ga enak ya kak?" Bhina menjadi tak bersemangat lagi..
"Sumpah ini cheesecake terenak yang pernah gue makan"
"Serius????"
"Iya serius, kenapa ga buka toko kue aja sih? suami lu kan horaang kayaaa bukain elu toko kue se-Indonesia raya juga ga bakal jatuh miskin dia"
"Yeeeaaayyy, enggak ahh aku belum ada waktu" Bhina bersorak kegirangan hingga akan memeluk Rendra jika tidak dengan sigap Satya duduk di antara keduanya hingga pada akhirnya Satya lah yang mendapat pelukan..
"Kakak ih-"
"Kenapa? mau peluk Rendra? Ga boleh!!! Suapin aku!!!"
Bhina mengerucutkan bibirnya namun tangannya tetap saja menyuapi suaminya hingga habis tak bersisa.. Bhina bangkit berdiri dan pergi meninggalkan ruang pemujaan Satya..
"Cemburu nih" goda Rendra
"Cih! Bener-bener ga ada akhlak lu godain bini gue"
"Apa salah gue?? Daripada nanti yang dapet orang lain mendingan juga ke gue Sat.. gue jagain bener-bener deh calon mantan bini lu"
"Dia milik gue bangsat!!!"
__ADS_1
"Hahaha.. dasar bucin.. akhirnya lu sadar juga kan sama perasaan lu.. jangan lupa ya kalau udah unboxing gue diceritain" Rendra mengerling jenaka..