Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 65 : Ikatan yang Kuat


__ADS_3

[Sara]


“Mama sekarang ada di rumah sakit. Kepala pelayan bilang Mama mengalami kecelakaan,” begitu yang dikatakan Ava dengan paniknya.


Sara kemudian berangkat bersama Ava dan Arya sembari terus menghubungi Agam untuk memberitahunya.


“Aku akan langsung ke rumah sakit. Posisiku dekat dengan rumah sakit,” jawab Agam melalui ponselnya saat Sara memberitahunya.


Saat tiba di rumah sakit keadaan sudah sangat panik, terutama Ava. Jelas sekali terlihat betapa takutnya adik iparnya itu. Bisa jadi karena berita yang didapat juga mengatakan bahwa Widia mengeluarkan banyak darah dari luka di kepalanya itu.


Jangankan Ava, membayangkannya saja sudah bikin Sara merinding.


“Mas Agam,” panggil Arya dari ujung lorong yang mengarah pada ruangan yang dibatasi dengan sebuah pintu besar yang tertutup. Di ujung sana sudah terlihat sang kakak sedang berdiri tepat di depan pintu itu sembari melipat kedua tangannya di depan dada, pertanda Agam sedang berpikir keras.


“Mama gimana, Mas?”


“Mama nggak apa-apa kan, Mas?”


Arya dan Ava hampir bersamaan bertanya pada Agam. Sama-sama panik. Sama-sama khawatir. Keduanya sama-sama tidak tenang.


“Kalian tenang dulu,” kata Agam menenangkan adik-adiknya itu. “Aku juga baru sampai. Kepala pelayan bilang, tadi Mama ada di IGD, lalu sekarang dipindahkan ke ruangan ini untuk diperiksa lebih lanjut. Aku masih belum bertemu dengan dokter. "


"Terus sekarang, di mana dia? Ada apa sama Mama? Kenapa sampai begini?," desak Ava terus-menerus.


"Aku sudah mendengarkan penjelasan darinya. Jadi aku suruh pulang," jawab Agam.


“Kenapa Mas suruh dia kembali? Aku masih punya banyak pertanyaan untuknya. Kenapa Mama sampai kecelakaan begini? Siapa supirnya?” Ava semakin tidak sabaran.


Sara maju selangkah dan menyentuh pundak Ava, lalu berkata, “Ava, tenanglah dulu.” Dia berusaha menenangkan Ava, dan lupa kalau sang adik ipar sangat membencinya.


Tapi, ajaibnya, Ava tidak marah.


“Kepala pelayan bilang terakhir kali dia melihat Mama saat mengantarkan teh untuk Vian di ruang kerja Papa. Vian datang begitu Mama tiba di rumah,” papar Agam menjelaskan sepelan mungkin pada Ava dan Arya.


Ava terlihat sulit mempercayainya, tapi dia tidak berkomentar apapun, apalagi mengelaknya. Seakan-akan dia sudah tidak heran, tapi masih sulit untuk bisa diterima.


“Begitu selesai, kepala pelayan keluar. 30 menit kemudian terdengar suara pintu yang dibanting. Saat dia pergi melihat, Mama keluar dari ruang kerja dengan kepala sudah penuh dengan darah. Tapi, tidak ada Vian.”


Ava langsung mundur terhenyak. Tubuhnya gemetar hingga bisa dirasakan oleh Sara.


“Mama sangat marah waktu itu. Dia mengambil mobil dan menyetirnya sendiri. Supir diusir pergi. Tepat saat mobil Mama keluar pagar, sebuah truk menghantam mobilnya.”


Ava lemas seketika. Dia terjatuh. Beruntung Sara ada di dekatnya, dan langsung memeluknya, mengusap punggungnya, memberinya ketenangan.


“Mana mungkin ada truk di sana? Truk dilarang melintas di sana,” hardik Arya yang sudah tidak bisa menahan kemarahannya sejak nama Vian disebut.


“Itu yang aku minta tolong Yuda untuk selidiki masalah ini. Dia sekarang sudah ke rumah untuk mengumpulkan semua bukti rekaman CCTV. Kepala pelayan juga aku suruh pulang untuk menyelamatkan rekaman CCTV yang ada di ruang kerja. Aku pernah ingat Papa dulu menyembunyikan satu di sana untuk jaga-jaga,” jawab Agam yang masih menjaga ketenangannya.


Arya masih akan bertanya lagi, tapi kemudian seorang dokter dengan scrub (*) birunya keluar dari ruangan yang selalu tertutup sedari tadi.


“Luka di kepala pasien adalah luka yang sangat serius, terutama di bagian belakangnya. Luka ini bukan disebabkan oleh kecelakaan, tapi sesuatu yang sangat keras dan dihantamkan berkali-kali di bagian itu. Benturan keras saat kecelakaan memperparah luka di kepalanya dan hampir di seluruh tubuhnya,” kata dokter itu.

__ADS_1


Ava sudah mulai menangis. Sara semakin erat memeluknya. Hatinya ikut pilu melihat Ava yang menangis seperti itu. Tapi dia masih bisa menahan air matanya agar tidak jatuh.


Sedangkan Agam dan Arya, seperti layaknya penjaga bagi keluarganya, terus berdiri tegar di depan dokter menerima semua berita buruk itu.


“Cidera akibat hantaman keras mengakibatkan pendarahan di bagian otak. Kita harus segera memindahkan pasien ke ruang operasi dan melakukan operasi besar untuk mencegah penggumpalan dan kerusakan pada bagian lain sebelum berakibat fatal,” lanjut dokter itu menjelaskan.


“Lakukan semuanya!” Agam langsung memotong ucapan dokter itu. “Lakukan apa saja yang harus dilakukan, kami akan menyetujuinya.”


“Tapi ada satu hal yang harus diketahui.”


Semua mendadak menjadi sunyi dan tegang. Perhatian mereka tertuju hanya pada sang dokter. Ava bahkan berhenti menangis.


“Operasi ini bertujuan untuk mengurangi resiko kemaatiian pada pasien. Tapi efek yang sudah pasti akan terjadi adalah kelumpuhan pada organ gerak kaki. Ini adalah akibat trauma yang cukup berat pada bagian kepala karena hantaman benda, dan juga tulang belakang akibat kecelakaan. Selebihnya hanya bisa kami ketahui setelah operasi.”


Agam mengangguk kembali. Lemah. “Kami mengerti,” ucapnya lirih.


Dokter itu mengangguk, lalu kembali ke dalam.


Ava semakin kencang menangis. Tanpa sungkan lagi, dia menyandarkan kepalanya di dada Sara.


Agam yang kemudian duduk di atas salah satu kakinya di depan Ava, lalu membelai lembut kepala Ava.


“Mama akan baik-baik saja. Kita pasrahkan semuanya pada Allah,” ucap Agam lirih menenangkan adik kecilnya itu.


Ava yang kemudian bangkit dan berpindah ke pelukan Agam. Arya yang sedari tadi hanya berdiri di belakang Agam kini ikut turun memeluk Ava.


Sara yang memperhatikan ketiganya berpelukan seperti itu hanya bisa menitikkan air matanya.


Mama pernah mencoba memisah-misahkan mereka. Tapi sekarang, Mama malah menyatukan mereka, meski harus dalam kondisi yang seperti ini.


Enam jam berlalu, operasi masih belum selesai dilakukan. Tidak ada dokter atau pun perawat yang keluar memberi kabar. Tapi layar monitor di depan pintu yang menampilkan daftar nama pasien yang sedang ditangani di dalam sana cukup memberikan informasi bahwa operasinya belum juga selesai.


Arya sempat mondar-mandir di depan pintu, lalu kemudian duduk di sebelah Ava. Kalau sudah demikian, Ava kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Arya. Dan Arya tetap duduk di sana.


Sementara Agam dan Sara masih tetap duduk di bangku yang sama sedari tadi. Tangan Sara terus menggenggam tangan Agam seperti sedang menyalurkan kekuatannya untuk sang suami.


Semua gugup, cemas, dan juga lelah. Menunggu itu memang melelahkan.


Begitu informasi di layar berubah, semua mulai berdiri dan menunggu siapapun yang akan keluar dari pintu itu untuk menemui mereka.


Dokter yang sama akhirnya keluar memberikan informasi terbarunya.


“Operasinya berjalan lancar. Pendarahannya bisa diatasi. Tapi untuk saat ini pasien masih dalam keadaan yang cukup serius. Kami masih perlu memantaunya untuk beberapa jam ke depan sebelum dipindahkan ke ruang rawat.”


Ketegangan ternyata masih belum berakhir.


“Untuk beberapa saat pecahnya pembuluh darah sempat menyumbat otak. Hal ini menyebabkan darahnya tidak mencapai otak selama waktu penyumbatan. Jadi, setelah ini, pasien dipastikan akan mengalami kesulitan bicara.”


Dan, masih belum selesai ...


“Sedangkan akibat dari hantaman yang berkali-kali pada bagian kepala, pasien akan kesulitan mendengar dan melihat. Hantaman itu juga mengenai kepala bagian samping hingga mata.”

__ADS_1


“A-apakah bisa disembuhkan?,” tanya Agam. Dia sendiri masih belum lepas benar dari rasa kagetnya karena informasi dokter sebelumnya.


“Fisioterapi bisa membantu. Tapi mungkin tidak akan bisa kembali 100% seperti sedia kala. Kita masih harus memantau lebih lanjut lagi setelah ini.”


Ava hampir jatuh. Sara langsung menangkapnya dan membawanya duduk, sementara Agam dan Arya masih berbicara dengan dokter.


Selama dua jam berikutnya, Widia masih berada di ruang PACU (**). Selama itu pula, Agam dan Arya membiarkan Ava yang masuk dan melihatnya – karena dokter hanya mengijinkan satu orang saja. Begitu keluar dia sudah menangis saat menceritakan kondisi sang Mama.


Sulit untuk bisa memahami perkataan Ava yang mengatakannya sembari menangis sesenggukan. Tapi satu hal yang bisa Sara tangkap adalah wajah Widia bengkak tidak karuan karena luka lebam.


Apa yang dilakukan Vian padanya?


Benar. Hanya Vian satu-satunya orang yang dicurigai oleh semua orang yang ada di sana. Bahkan Ava juga memikirkan hal yang sama.


Apa yang terjadi? Belum ada yang tahu. Bahkan Yuda belum juga muncul memberikan hasil penyelidikannya.


Tapi satu petunjuk datang saat telepon Agam berbunyi. Entah dari siapa. Agam hanya menjawab dengan ‘Baik’ dan ‘Hmm’.


“Siapa, Mas? Yuda? Dia bilang apa?” Arya langsung mencecarnya dengan banyak pertanyaan begitu panggilan itu diputuskan.


“Kepala pelayan,” jawab Agam. “Beberapa orang datang ke rumah meminta untuk segera mengosongkan rumah utama. Rumah itu sudah dijual.”


“Apa?!”


“Yuda sedang mengurusnya sekarang.”


Keadaan bukan semakin membaik, kini malah bertambah kacau.


“Pasti Al yang melakukannya.” Dalam tangisnya Ava tiba-tiba saja mengatakan sesuatu yang membuat kedua kakaknya langsung berbalik menatap dirinya.


“Apa maksudmu, Ava? Bagaimana kamu bisa tahu?,” desak Arya.


Sara yang ada di samping Ava terus memeluknya erat dan menenangkannya. Saat Arya maju dan mendesaknya, Sara memberinya isyarat untuk lebih tenang.


“Beberapa bulan yang lalu, Al pernah mengatakan menemukan sebuah penemuan yang cocok untuk NFC kembangkan. Tapi pihak penemunya meminta harga yang sangat mahal. Mama setuju untuk menggadaikan rumah utama. Dia memberikan surat rumah pada Al untuk diurus. Aku ada di sana saat Mama menyerahkannya.”


Saking takutnya Ava menerima kemarahan kakak-kakaknya, dia langsung menangis dan menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Sara.


Sementara, Agam dan Arya sudah kehabisan kata-katanya. Mereka tidak punya tenaga lagi untuk marah. Yang mereka lakukan saat ini hanyalah menjauh dari satu dan yang lainnya, lalu menenangkan diri mereka masing-masing.


......................


Author's Note :


(*) Pakaian scrub/seragam scrub (scrub suits) atau dikenal juga dengan nama seragam ruang operasi. Seragam ini merupakan jenis pakaian sanitasi yang dikenakan oleh dokter, bidan, maupun perawat sebelum memasuki ruang operasi.


Sumber penjelasan : https://www.medicalogy.com/blog/aneka-ragam-seragam-rumah-sakit/


Sumber gambar : hasil pencarian Google


__ADS_1


(**) Post Anesthesia Care Unit (PACU) adalah tempat pasien dibawa setelah operasi untuk dipantau secara ketat saat anestesi hilang. Pasien biasanya hanya tinggal di PACU selama beberapa jam, tetapi mungkin tinggal lebih lama tergantung pada ketersediaan kamar rumah sakit atau jika kondisi pasien tidak cukup stabil untuk memungkinkan dipindahkan ke kamar biasa untuk melanjutkan pemulihan.


Sumber : https://yankes.kemkes.go.id/view\_artikel/1713/mengenal-lebih-dekat-ruang-perawatan-khusus-icu-apa-saja-jenis-jenisnya\#:~:text\=Post%20Anesthesia%20Care%20Unit%20(PACU,ketat%20saat%20anestesi%20Anda%20hilang.


__ADS_2