Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 10-1 : Sesuatu yang Disembunyikan (1)


__ADS_3

[Sara]


10.10


Hari ini adalah jadwal Ibu cuci darah. Hari ini juga adalah pertama kalinya Ibu cuci darah di rumah sakit yang sudah ditunjuk oleh Agam. Dan sejak 2 hari yang lalu, Agam sudah memberinya ijin untuk menemani ibu selama proses cuci darah hari ini.


Dengan diantarkan oleh supir, Sara berangkat saat hari sudah agak mendekati siang, setelah dia menyelesaikan semua pekerjaannya.


Hanya saja, saat itu dia tidak bisa berpamitan dengan Agam. Karena Agam sudah mendekam di ‘istana’ kesayangannya. Tapi, dia sudah menitipkan pesannya pada Mbok Jami.


Kalau Ibu tahu aku pergi tanpa pamit Mas Agam, Ibu pasti ngomel nggak habis-habis, batin Sara.


“Lho, Sara ... Kok kesini?,” seru Ibu yang terkejut begitu melihat Sara mengintip dari balik pintu kamarnya.


Agam tidak berbohong. Semuanya adalah yang terbaik. Ibu bahkan disediakan kamar yang berisikan Ibu seorang hanya untuk proses hemodialisis. Berbeda dengan biasanya dimana Ibu harus menunggu dari subuh dan bergantian dengan pasien lain yang mana pada akhirnya Ibu selalu kelelahan setelah itu.


“Ibu kok kaget to?,” goda Sara seraya memberikan kue yang kemarin diberikan oleh Ci Linda pada Mbak Mina. “Masak ya Sara nggak boleh nengok Ibu. Kan Sara ya kangen, Bu.”


“Non ini lho, Bu. Selalu bawa-bawa buat anak-anak,” protes Mbak Mina pada Ibu yang hanya dijawab dengan tawa kecilnya.


“Ya nggak apa-apa to, Mbak. Kan buat anak-anak. Lagian itu dari Mas Agam, kok,” kilah Sara. “Mau buat Ibu, eh tapi Ibu nggak boleh makan itu. Jadi buat bocil-bocil aja, ya.”


Dan Mbak Mina tidak bisa lagi melawan selain menitipkan rasa terima kasihnya pada Agam.


“Kamu kenapa kesini? Mas Agam mu gimana? Kamu tinggal sendirian? Kasihan, lho.” Ibu mendesak Sara dengan berbagai pertanyaan begitu putrinya itu duduk di sampingnya.


“Ibu ini gimana to? Ini Sara yang datang, yang ditanyain kok malah Mas Agam.”

__ADS_1


Sang Ibu tersenyum malu mendengar godaan Sara itu. “Mas Agam baik-baik saja, Bu,” lanjut Sara lagi menenangkan ibunya. Dia masih memegangi tangan Ibu setelah tadi menciumi punggung tangannya. Kebiasaannya setiap kali bertemu atau akan berpisah dengan Ibu.


“Kalau jam segini, Mas Agam lagi kerja, Bu. Sampai sore malah. Sara yang ditinggal sendirian sama Mbok Jami,” celoteh Sara. Sedikit berbohong. “Makanya sama Mas Agam disuruh kesini nengokin Ibu, sambil nganterin kue buat Nino sama Nisa.”


Berbohong sedikit, nggak apa-apa, kan? Hanya supaya semua terlihat baik-baik saja.


Kenyataannya, justru Sara sendiri lah yang meminta ijin pada Agam 2 hari lalu begitu suaminya itu memberitahu tentang rumah sakit baru tempat Ibu akan melanjutkan pengobatannya.


“Ya ndak gitu. Manten anyar iku senengane meppeett ae. Lha iki kok mencar-mencar to. (Ya bukan begitu. Pengantin baru itu sukanya deketan terus. Lha ini kok pisah-pisah),” kata Ibu membela dirinya. “Terus, kapan dadi anake? (Terus, kapan jadi anaknya?)”


Kali ini Mbak Mina ikut membela Ibu. “Tahu nih, Non Sara. Nggak peka blas. Ibu wis nggak sabaran iku ... (Tidak peka sama sekali. Ibu itu sudah tidak sabar ...)”


“Lha iya, Min. Aku kan yo wis ndak sabar pengen ngemong cucu. (Aku kan juga sudah tidak sabar ingin menimang cucu),” sambung Ibu.


Sara tersenyum, meski terasa getir. Cucu ...


“Ibu gimana? Enakan nggak?,” tanya Sara mengalihkan pembicaraan yang sudah mulai menjangkau ke topik yang sensitif. Cucu bukanlah satu hal yang bisa dikabulkan Sara untuk Ibu. Terutama dengan pernikahan yang bukan nyata.


“Oh iya, bilangin sama Agam. Nggak perlu lah pelayan segala. Sudah ada Mina. Biar sama Mina saja,” kata Ibu lagi.


Sara tersenyum mendengarnya. “Kata Mas Agam, pelayannya buat nemenin Ibu. Mbak Mina kan cuma sampai sore, Bu.”


Tapi, protes Ibu masih berlanjut. “Ya tapi kan juga nggak perlu lah rumah sakit semahal ini. Yang biasa saja. Biayanya pasti mahal. Simpan saja uang kalian. Ditabung untuk anak-anak kalian.”


Dan, masih terus berlanjut. Intinya sama. Ibu hanya tidak ingin memberatkan Agam. Ibu tidak ingin semakin lama semakin menjadi benalu dalam keluarga kecil putrinya itu.


Sara mengerti maksud Ibu. Sara tahu Ibu sedang mengkhawatirkan kondisi Agam sebagai disabilitas. Kekurangan pada fisiknya dianggap sulit mencari nafkah karena keterbatasan pekerjaan yang bisa dilakukannya. Sama seperti Ayah. Ibu sedang menyamakan Agam dengan Ayah.

__ADS_1


“Ibu jangan khawatir. Ibu nggak tahu sih menantu Ibu kayak apa. Gedung kantornya saja guede banget, Bu. Rumahnya juga,” celoteh Sara membanggakan Agam di depan Ibu tanpa berani mengundang Ibu ke rumah Agam. Dia takut Agam keberatan. Tapi dengan bercerita begitu saja, Sara lebih berharap Ibu bisa tenang.


Tapi, Ibu malah memandanginya sangat lekat. Kedua manik matanya menatap lurus menusuk kedua mata miliknya sendiri. Seperti sebuah pisau yang sedang ditusukkan padanya, lalu dengan gerakan tidak beraturan terus memutar merobek semua yang ada di dalam sana agar tumpah ruah tidak bersisa.


“Setiap Ibu melihat kamu, nggak tahu kenapa, Ibu selalu merasa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari Ibu.”


DEG!


Sekuat itukah insting seorang Ibu? Serapi apapun disembunyikan, sebersih apapun jejak yang ditinggalkan, tetap tidak bisa bersembunyi dari yang namanya insting Ibu.


“Nggak kan, Nak?”


Pertanyaan Ibu membuat Sara semakin gugup. Dia tidak berani lagi menatap Ibu. “I-ibu ngomong apa, sih? M-mana ada Sara menyembunyikan sesuatu, Bu? Emangnya Sara menyembunyikan apa?”


Beruntung, pelayan yang sedari tadi menunggu di luar akhirnya masuk memberitahukan bahwa dokter ingin bertemu dengan Sara. Sara langsung bernapas lega. Dia terselamatkan.


“Ibu jangan mikir yang aneh-aneh. Pokoknya fokus sama kesembuhan Ibu. Nggak ada yang Sara sembunyikan. Dah ya, Sara ketemu dokter dulu.”


Hanya memberikan ciuman di pipi Ibu, Sara langsung pergi begitu saja tanpa menunggu Ibu menjawabnya. Membawa jantung yang masih menempel setelah berdegup sangat kencang mendengar ucapan Ibu. Sara berhenti sejenak untuk mengambil napasnya.


Setelah memastikan tidak ada yang mengikutinya, Sara duduk di salah satu bangku, menenangkan hatinya yang baru saja berantakan karena Ibu. Menekan rasa bersalah agar tidak membuatnya mengakui semuanya yang sudah disembunyikan.


Tapi Sara tidak menyesalinya.


Saat dia melihat semua fasilitas yang Ibu dapatkan, begitu juga dengan saat Sara berbicara dengan dokter yang mengatakan bahwa Ibu sudah dimasukkan ke dalam daftar tunggu teratas, Sara tahu dia sudah membuat keputusan yang tepat.


Entah berapa kali sudah dia berpikir mungkin ini adalah rencana Agam sendiri. Pria itu sengaja memberinya ijin untuk menemui Ibu hanya untuk memberitahunya bahwa dia sudah melakukan tugasnya. Bahwa Sara tidak punya pilihan lagi untuk mundur.

__ADS_1


Dan ya, Sara memang tidak berniat untuk mundur lagi. Semua sudah terjadi. Pernikahan itu sudah sah. Mundur sekarang hanya akan membuatnya lebih malu lagi di hadapan Ibu. Sia-sia sudah kebohongannya kalau sudah begitu.


2 tahun, Sara. 2 tahun. Ini baru 2 minggu.


__ADS_2