Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 36 : Kembali ke Titik Nol


__ADS_3

[Sara]


Hampir satu jam Sara hanya bisa menangis terduduk di luar mendengar teriakan Agam yang tidak juga mereda. Beberapa kali Sara masih mencoba untuk masuk, tapi Raka tetap menghalanginya.


Tiga hari tanpa makanan – hanya sekali dia makan dari yang dibawa Arya, itu pun hanya beberapa suap – Sara terlalu lemah untuk melawan Raka yang bertubuh tinggi tegap. Kini dia menyesalinya.


Seharusnya aku makan meskipun sedikit, agar aku punya tenaga.


Setelah lebih dari dua jam, Agam mungkin mulai kelelahan. Teriakannya semakin lama semakin pelan dan semakin tidak terdengar. Suara di kamar Agam semakin hening.


Tepat di saat itu, Raka berdiri dan segera masuk ke dalam. Sara ikut bergegas berdiri dan menyusul Raka, tapi Raka lebih cepat darinya. Ketika Sara mencoba untuk menggerakkan gagang pintunya, pintu itu tidak terbuka. Raka menguncinya.


Sekali lagi, Sara harus menunggu.


Mungkin hampir setengah jam berlalu, Raka akhirnya keluar. Dia menemui Sara yang masih di depan pintu.


“Tuan Agam ingin bertemu.”


Satu kalimat yang sudah sangat lama ingin dia dengar. Rasanya sungguh melegakan. Akhirnya aku bisa bertemu dengannya.


Raka memimpin jalannya. Dia membukakan pintunya untuk mempersilahkan Sara masuk. Dan apa yang dia lihat di dalam sana sungguh menyakitkan hatinya.


Banyak pecahan beling di lantai, entah pecahan dari perabotan apa. Bisa jadi lampu meja, karena hanya lampu utama yang ada di atas saja yang menyala. Nakas, kursi, peralatan tidur semua berserakan di lantai. Agam seperti baru saja memutar kamarnya hingga benar-benar terbalik.


Sara melihat sosok pria pucat yang masih dengan baju yang sama seperti yang dia lihat terakhir kalinya. Kaos putih dan celana panjangnya. Dia sedang duduk di atas kursi rodanya. Napasnya memburu, rambutnya tak rapi seperti biasanya, duduknya pun membungkuk kesulitan untuk tetap tegak karena sedikitnya tenaga yang dimilikinya saat ini.


“Mas Agam ...”


“Berhenti di situ, Sara! Cukup berdiri di sana dan dengarkan aku! Karena aku tidak akan bisa mendengarkanmu!” Agam mungkin terlihat masih lemas, tapi kata-kata terdengar tegas dan serius. Agam tidak sedang ingin dibantah.

__ADS_1


Apa maksudnya tidak bisa mendengarkan? Alat bantu dengarnya kenapa?


Sara melihat ke arah Raka berharap ada jawaban. Tapi jawaban Raka hanya singkat, “Alat bantu dengarnya rusak, Nyonya.”


Dipandanginya lagi Agam yang berjarak sekitar tujuh langkah darinya. Sudah sedekat ini , tapi tetap tidak diijinkan mendekat.


“Kamu mau tahu alasan kenapa aku minta kamu agar menjauhi aku dari Mama, kan? Sekarang aku jelaskan padamu!” Nada suara Agam terus meninggi. Emosinya masih belum hilang meski tenaganya sudah berkurang.


“Dua tahun lalu, aku bangun dalam keadaan tidak bisa melihat ataupun mendengar. Tidak ada dokter yang tahu apa penyebabnya. Lalu aku pergi ke luar negeri untuk cari tahu penyebabnya. Dan mereka bilang aku mengkonsumsi obbaatt tertentu yang dilarang dalam jangka waktu yang lama.”


Sara menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya. Jangan bilang ...


“Kamu tahu siapa yang melakukannya selama 2 tahun terakhir itu sebelum aku kehilangan kemampuan melihat dan mendengarku? Iya, Mama.”


Jadi itu alasannya. Alasan mengapa Mas Agam selalu menghindari Mama. Alasan semua penolakan itu. Ya Allah ...


“Aku menemukan bukti-bukti kalau Mama melakukan itu semua untuk membuat aku tidak berdaya. Bahkan terapi kedua kakiku gagal karena obbaatt itu. Aku dibuat lumpuh oleh orang yang sangat aku percayai selama bertahun-tahun. Mama bahkan memperlakukan aku sama seperti dia memperlakukan Arya dan Ava. Tapi ternyata ... ini yang aku dapat.”


Sara yang melihat itu juga tidak dapat menahan miliknya sendiri. Dia ikut menangis bersama Agam.


“Dan sekarang, kamu tahu apa yang terjadi?”


Agam memegangi pegangan kursi rodanya. Dia mengangkat tubuhnya dengan bertumpu pada kedua tangannya. Agam berdiri. Tapi sepersekian detik kemudian, dia terjatuh.


Melihat itu, seluruh tubuhnya seakan mendapatkan perintah yang tidak dia sadari untuk segera maju. Tangannya sudah terbuka lebar untuk membantu Agam. Tapi baru beberapa langkah, Raka berdiri di depan Agam, menghalangi Sara untuk maju lebih dekat lagi.


Kenapa dia terjatuh? Dia bisa berdiri waktu itu. Ada apa ini?


“Kamu lihat sendiri, kan? Kamu lihat kan waktu itu? Aku bisa berdiri dengan kedua kakiku meski belum stabil benar. Tapi sekarang ... sekarang ... Kamu lihat sendiri, kan?”

__ADS_1


Mengapa bisa begini? Apa yang terjadi?


“Kandungan obbaatt itu berhasil melemahkan otot-ototku lagi. Usahaku selama 2 tahun terakhir ini sia-sia sudah. Aku kembali seperti dulu lagi, Sara!!” Agam berteriak sangat keras. Bahkan mungkin memaksa pita suaranya untuk berteriak lebih keras dari yang dia mampu.


Suara kerasnya langsung menusuk ke telinga Sara. Menyebabkan Sara terpaku hingga hanya bisa terduduk sembari mengeluarkan air matanya yang sedari tadi belum juga habis.


Dia sedang menyalahkan aku. Dia mengira aku ada hubungannya dengan Mama. Karena itu dia marah.


Agam kini telah duduk bersandar pada nakas yang tersisa di sudut kamar. Tidak seperti waktu itu, Agam kini kesulitan untuk menggerakkan kedua kakinya. Untuk bersandar pada nakas saja, Agam harus merangkakkan tubuhnya.


Sara semakin tidak dapat menahan air matanya.


“Ijinkan aku bicara dengannya. Ijinkan aku mendekat,” pinta Sara pada Raka yang berharap Raka bisa menyampaikannya pada Agam.


Raka mendekati Agam. Perlahan dia menyentuh tangan Agam, membuka telapak tangannya terbuka ke atas. Raka mulai berisyarat.


Agam mengangguk.


Tanpa jeda sedikit pun, Sara langsung maju begitu Agam menyetujuinya. Kini Sara yang memegangi telapak tangan Agam.


Dalam isyaratnya, Sara berkata, “Aku bersumpah aku tidak tahu apa-apa soal obbaatt itu. Bukan aku yang melakukannya, Mas.”


“Lalu, siapa? Siapa yang harus aku salahkan, Sara? Kamu atau Ibu?,” timpal Agam yang membuat Sara terkejut.


“Kenapa Mas bawa-bawa Ibu dalam masalah ini?”


“Aku harus bagaimana, Sara? Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan kalau mereka menemukan kandungan obbaatt itu dalam rendang. Ya, rendang yang kamu bilang dikirim Ibu, Sara.”


Sara seketika terhenyak.

__ADS_1


Nggak, nggak mungkin ...


__ADS_2