
[Agam]
Bibir Agam tidak berhenti menyunggingkan senyum di wajahnya. Dia ingin berhenti, tapi tidak bisa. Semenit dia menyadarinya, dia langsung menghilangkan senyumnya itu. Tapi semenit kemudian, senyum itu kembali.
“Mas, jangan senyum-senyum seperti itu! Diliatin Mbok Jami dari tadi.” Sara berbisik cukup keras saat sedang menyajikan makanan di hadapannya.
Ehem, ehem ... Agam berdehem cukup keras untuk mengembalikan kesadarannya. Meskipun sebenarnya tidak terlalu mempan juga. Agam kembali tersenyum.
“Mas!”
Ehem ...
Tidak bisa, Sara. Kamu tidak bisa membuat Agam berhenti tersenyum. Kamu sendiri yang membuatnya seperti itu.
Di kepala Agam terus mengingat bagaimana rasanya menyentuh bibir Sara yang terasa begitu lembut dan manis, merasakan aroma citrus-musk-vanilla di dalam mulutnya. Manis dan menggelitik hingga ke dalam perut dan dadanya. Tentu saja tidak bisa, Agam tidak bisa berhenti tersenyum.
Tapi, dia masih mencoba untuk menuruti permintaan Sara. Dia tidak ingin gadis kesayangannya marah di hari pertama mereka resmi menjadi sepasang ... kekasih? Bukan, bukan, mereka sudah menikah. Suami istri? Bisakah? Mereka bahkan belum melakukan hubungan batin layaknya suami istri yang sesungguhnya.
Hentikan, Agam! Buang pikiran kotormu! Jangan buat Sara ketakutan karenamu! Kamu seharusnya sudah cukup bersyukur Sara mau bersamamu.
Iya, bersyukur.
Siang tadi dia begitu ketakutan membayangkan Sara akan pergi jauh darinya. Bisa jadi Sara pergi karena Mama nya melakukan sesuatu padanya. Mungkin ingin menjauhkan Sara darinya. Atau mungkin membuat Sara berpaling darinya. Dan banyak mungkin-mungkin lainnya yang cukup membuat Agam tidak bisa tenang selama dia belum mendapatkan Sara kembali.
Dan sekarang, tiba-tiba saja semua berubah. Sara ada bersamanya sekarang. Dia bahkan mencium Agam. Bagaimana bisa Agam berhenti tersenyum?
Ini seperti mimpi yang seketika menjadi kenyataan. Sulit dipercaya.
Seperti saat ini, saat Agam sedang terbaring di atas tempat tidurnya, tapi jantungnya tidak berhenti berbunyi dug dug, dug dug, dug dug. Sangat kencang dan cepat.
Tidak seperti malam-malam sebelumnya, ini adalah malam pertama tidur bersama sebagai ... apalah namanya. Rasanya berbeda. Benar-benar berbeda.
Agam yang biasanya bisa bersikap tenang, tapi malam ini dia bahkan kesulitan mengontrol kecepatan detak jantungnya sendiri. Semakin cepat kala dia mulai membayangkan ciuman mereka tadi siang.
“Mas ...,” panggil Sara lirih.
Mereka saat ini sedang melakukan ritual yang biasanya mereka lakukan sebelum tidur. Mengobrol sampai mengantuk.
“Hmm ...”
“Seperti apa masa kecil Mas?”
Masa kecil? Masa kecil, ya?
Pertanyaan yang tak biasa ditanyakan oleh Sara malam ini. Biasanya mereka akan mengobrol tentang segala sesuatu yang ada di rumah, seperti Milo, Evan, Arya, Mbok Jami. Terus merembet ke cerita-cerita kegiatannya waktu bersama Ibu atau Nisa dan Nino.
“Kenapa tiba-tiba kamu nanya itu?”
“Yya ... cuma pengen tahu aja, gimana Mas waktu masih kecil?,” jawab Sara.
Hmm ... Masa kecil, ya?
“Tidak ada yang istimewa. Tidak seperti ceritamu.” Bukan tidak ingin bercerita, dia hanya tidak tahu di bagian mana yang menarik.
“Ya coba dulu deh, Mas. Siapa tahu beneran menarik.”
Sara kemudian beringsut mendekati Agam. Bantal yang biasanya ada di tengah, pada malam itu tidak ditata oleh Sara di sana.
Lengan kiri Agam kemudian direntangkan ke depan, lal disandarkan kepalanya di atas lengan Agam. Sara kini berada dalam pelukannya.
Jantung Agam semakin tak karuan. Bagaimana Agam bisa menolak permintaannya kalau sudah begitu?
“Ehem ... K-kita mau mulai dari mana?”
__ADS_1
“Apa yang Mas suka lakukan waktu kecil?”
Masa kecil Agam dihabiskan sendiri tanpa teman atau saudara. Orang tua Agam sibuk bekerja sepanjang hari. Hanya Mbok Jami dan Pak Pardi, asisten rumah tangga yang ada waktu itu, yang menemaninya di rumah.
Meski demikian, kedua orang tua Agam sangat menyayangi Agam. Mereka masih memperhatikan Agam. Mereka bahkan masih sempat meluangkan waktunya sepulang kerja dan pada libur untuk bermain dengan Agam.
Hubungan Agam dan kedua orang tuanya masih terbilang sangat dekat hingga Agam punya cita-cita untuk bisa seperti mamanya.
Sayangnya meninggalnya sang Mama memberikan kesedihan yang sangat dalam bagi Agam kecil yang saat itu masih berumur 6 tahun.
Beruntungnya, sang Papa membawa seorang wanita yang bisa menyembuhkan lukanya itu. Dialah Widia, sang ibu tiri.
Dari Widia, Agam kecil mengenal yang namanya kasih sayang seorang Ibu. Waktu terbanyaknya dihabiskan bersama Widia. Bermain, bercerita, belajar, bahkan Widia juga yang pergi ke sekolahnya saat Agam kecil mendapatkan tugas bercerita tentang Ibu. Agam meminta Widia untuk datang.
Perubahan sikap Widia mulai dirasakan ketika sang ibu tiri melahirkan Arya. Agam mulai dipaksa mengalah untuk Arya.
Mainan harus untuk Arya, perhatian Widia lebih ke Arya, semua adalah tentang Arya. Meski Widia masih memberikan perhatiannya untuk Agam, Arya tetap adalah nomor 1.
Tapi, Agam kecil terlalu senang untuk mengambil pusing soal itu. Dia tidak terlalu mempedulikannya. Dia terlalu senang karena pada akhirnya dia memiliki adik. Meski Widia minta Agam memberikan mainannya untuk Arya, dengan senang hati Agam akan melakukannya. Karena sesenang itulah dia pada saat itu.
Dan, ketika Ava lahir, jadilah Agam menjadi nomor 3 dalam urutan prioritas. Tetap saja, Agam tidak keberatan. Adik perempuan jelas ada hadiah yang indah baginya, selain Arya tentu saja.
“Meski aku tahu Mama sudah melakukan ini semua, tetap saja aku nggak pernah berani melawan Mama. Aku mungkin marah padanya, tapi aku nggak pernah sampai hati untuk bisa memutuskan hubungan ini.”
Suara Agam sedikit bergetar pada akhirnya. Rasa marah dan kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa memutuskan apa yang seharusnya dia lakukan untuk dirinya sendiri, hampir menguasai dirinya.
“Karena itu ... aku menikahi ... mu.”
Benar. Karena sikap pengecutnya itu, dia melibatkan Sara dalam masalah keluarganya yang seharusnya bisa dia selesaikan sendiri. Benar kata Yuda. Dia terlalu pengecut.
“Itu karena Mas terlalu baik.”
Kata-kata Sara tiba-tiba mengenyahkan getaran emosi di sekujur tubuhnya. Terlalu baik?
Ah iya, benar waktu itu. Aku hanya ingin mengucapkan rasa terima kasihku waktu itu. Apa hubungannya?
“Mas ... Mas kan sudah membantu masalahku. Sebagai gantinya, seharusnya aku yang membantu Mas. Tapi Mas malah menawarkan aku acara pernikahan sesuai keinginanku. Kalau bukan terlalu baik, apa namanya?”
Agam tertawa. “Tidak ada hubungannya, Sara.”
“Ada dong, Mas. Kalau seandainya orang lain mungkin akan minta ditanggapi wayang 7 hari 7 malam.”
Agam kembali tertawa, tapi kini Sara ikut tertawa bersamanya.
“Mas nggak ingin makanan pemberian Mama. Tapi Mas juga nggak ingin semua orang di rumah ini ikut memakannya. Karena itu Mas selalu minta Mbok Jami buang semua makanan dari Mama. Itu kan agar tidak ada yang ikut makan dan kena efek obbat itu. Kalau bukan karena Mas terlalu baik, terus apa dong?”
Itu salah satu alasan kenapa aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu, Sara. Kamu selalu bisa menemukan aku di mana pun aku bersembunyi. Kamu selalu bisa menemukan alasannya.
Tangan Agam mencari puncak kepala Sara, membelai rambutnya, lalu menciuminya, menghirup dengan bebas aroma yang selama ini dia selalu rindukan. Terakhir, dia menempelkan kepalanya menyentuh Sara.
Perlahan, Agam merasakan sentuhan tangan Sara di wajahnya. Lembut hingga Agam tak ingin Sara melepaskannya. Sebagai gantinya, dia menyentuh tangan Sara itu dan menyelimutinya dengan tangannya.
“Mas pernah melewati masa-masa sulit bersama Mama. Wajar kalau Mas menyayangi Mama. Dan karena Mas nggak bisa menyalahkan Mama karena semua ini, Mas jadi menyalahkan diri Mas sendiri. Bukan salah Mas kalau seperti itu. Tapi satu hal yang harus Mas ingat. Mas nggak sendirian. Ada aku, ada Arya, ada Mas Yuda juga. Ada semuanya, Mas. Aku dan mereka sangat menyayangi Mas. Jadi, jangan pernah merasa sendiri, Mas.”
Sara kini memeluknya dengan erat, menenggelamkan wajahnya di dada Agam, sementara Agam sedang terdiam meresapi setiap kata yang diucapkan Sara. Memang benar, dia selalu merasa sendirian selama ini.
Aku menganggap semua orang sama dengan Mama. Aku menarik diriku sendiri dari mereka. Tapi melupakan bahwa mereka juga punya perasaan yang ingin didengar. Seperti aku yang juga ingin didengar.
Memikirkan itu semua, Agam membalas pelukan Sara. Erat, sangat erat, bahkan dia tidak ingin melepaskannya.
Jadi, seperti ini rasanya didengarkan.
Malam itu, malam yang cukup hangat bagi Agam. Tidak hanya tubuhnya karena pelukan Sara, tapi juga hatinya yang juga karena Sara.
__ADS_1
Malam itu, dia merasa seperti baru saja melepas sebagian besar beban di hatinya. Malam yang sangat melegakan baginya.
Tapi, entah angin dari mana, suasana tiba-tiba berubah setelah sangat lama mereka diam saling menikmati kehangatan tubuh yang lainnya.
“Mas masih ingat Shayna dan Rachel?,” tanya Sara di tengah-tengah keheningan di antara mereka.
Shayna? Rachel? Siapa mereka?
“Siapa? Teman kamu? Aku pernah bertemu?”
“Mas lupa?”
Agam memang benar-benar tidak tahu siapa mereka.
“Katanya Shayna sering ke rumah utama. Terus Rachel sering ikut di acara NFC. Masak nggak inget sih, Mas?” Nada bicara Sara kini terdengar cukup kesal.
Tapi Agam benar-benar tidak ingat.
Tunggu. Shayna?
“Oh, yang sering ke rumah utama, ya? Mungkin anak temannya Papa. Aku tidak tahu siapa namanya. Kita kenalan tapi aku tidak ingat namanya. Jadi namanya Shayna? Kenapa dengan Shayna?”
“Cantik nggak, Mas?”
“Shayna? Lu ... mayan ... mungkin. Aku lupa wajahnya.”
“Kalau Rachel? Katanya dia pintar main biola. Sering ke acara NFC.”
“Bukan aku yang mengurus acara NFC. Mungkin tim marketing yang sekarang pindah ke FTC. Pertanyaan ini tentang apa?”
“Nggak apa-apa. Cuma penasaran saja. Pasti cantik.”
Sepertinya aku pernah dengar cerita seperti ini dari Yuda.
“A-aku lupa wajah mereka. Tapi aku yakin kalau kamu yang lebih cantik.” Kadang mendengarkan cerita Yuda juga tidak ada salahnya.
Agam yang sudah mulai yakin karena mengira sudah mengendalikan keadaan, ternyata perkiraannya salah. Sara tiba-tiba melepaskan pelukannya.
“Mas tahu dari mana kalau aku cantik? Mas kan belum pernah lihat wajahku.”
Agam menelan kasar salivanya. Aku salah bicara.
“Kalau memang cantik ya bilang saja cantik. Nggak usah bohong,” gerutu Sara yang baru saja berbalik membelakanginya.
Agam tahu, karena baru saja dia dapat merasakan Sara memindahkan posisi berbaringnya, meski masih menyandarkan kepalanya di atas lengannya.
“Aku benar-benar tidak tahu, Sara. Aku tidak pernah memperhatikan soal itu,” kata Agam membela dirinya.
Sara tetap bergeming. Dia tidak menghiraukan bujukan Agam yang sedang merayunya.
“Sara ...”
Tidak ada jawaban.
“Sayang ...”
Agam mendengar suara cekikikan yang tertahan. Dia tersenyum. Dia yakin Sara sedang menggodanya.
Agam langsung memeluk Sara dan bersandar pada punggungnya. Sara sempat sedikit berontak berpura-pura kesal, tapi Agam semakin mengeratkan pelukannya. Dia tidak membiarkan Sara lepas dari pelukannya.
Semakin larut, Sara akhirnya tertidur dalam pelukannya. Agam yang masih terbangun, terus memeluknya tanpa mengenal rasa lelah karena Sara tertidur di lengannya. Dia sangat menyukainya.
Hingga rasa kantuknya mulai menyerang, Agam menciumi surai Sara dan bermimpi indah bersamanya.
__ADS_1
Selamat tidur, Sara ...