Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 60-2 : Biar Aku yang Tanggung (POV Agam)


__ADS_3

[Agam]


“Semuanya cocok dengan ceritamu, “ kata Yuda seraya meletakkan beberapa lembar kertas bergambar di atas meja mereka. Dia mendorongnya dan berhenti tepat di hadapan Agam.


Agam mengingat obrolannya bersama Sara semalam setelah istrinya itu sudah agak tenang. Sara menceritakan semua yang dia ingat sebelum akhirnya dia tertidur lagi. Pelan-pelan, Agam menata kembali cerita-cerita itu menjadi satu garis besar.


Setelah Sara tertidur, Agam menghubungi Yuda, memintanya untuk mengecek CCTV yang ada di hotel itu. Entah bagaimana caranya, tapi Agam tahu Yuda bisa mengatasinya.


Dan sekarang dia melihat sendiri gambar-gambar yang tercetak di atas kertas putih menunjukkan kecocokan dengan semua hal yang diceritakan Sara.


Kini Agam merasa marah. Dia menggertakkan giginya. Napasnya juga semakin tidak beraturan.


“Dan ini.” Satu lagi lembar-lembaran kertas yang disodorkan Yuda padanya. “Informasi tentang Alvian.”


Agam langsung membukannya. Arya yang duduk di sampingnya kini mendekatkan tubuhnya dengan kakaknya itu agar bisa dengan jelas membaca informasi di dalamnya.


“Alvian Chakrabuana. 27 tahun. Dia putra bungsu Bapak Setiawan Gunadi dan Ibu Wahyuningsih,” jelas Yuda.


Setiawan Gunadi? Dia ...


Yuda sepertinya memahami arti tatapan Agam begitu mendengar nama itu.

__ADS_1


“Ya, dia supir truk yang menabrak mobilmu 9 tahun lalu hingga menyebabkan ayahmu meninggal dan kamu terpaksa lumpuh.”


“Tapi, kenapa baru ketahuan sekarang? Kenapa saat memeriksa latar belakang Vian kemarin tidak ditemukan apa-apa?,” tanya Agam yang begitu menggebu ingin mengetahui segalanya.


“Karena sejak bayi Vian diadopsi oleh saudara sepupu ibunya yang tidak memiliki anak. Akte lahir sampai nama di kartu keluarga didata sebagai anak dari tantenya itu. Begitu ibu asuhnya ini hamil, dia dikembalikan ke orang tuanya. Semua mengira Vian adalah anak sepupu ibunya yang dititipkan. Waktu itu usianya sudah 8 tahun.”


Yuda meminum kopi dari cangkir yang ada di hadapannya. Lalu lalang pengunjung yang datang ke kafe rumah sakit seakan tidak terlihat oleh mereka saat mendengarkan cerita Yuda.


Selanjutnya, Yuda menceritakan apa yang menjadi motivasi Vian mendekati Ava.


Widia yang membayar ayah Vian untuk menciptakan sebuah kecelakaan yang mencelakai Agam dengan memberikan sejumlah uang. Naasnya, kecelakaan itu menyebabkan kematian Tuan Wirasurya.


“Sejak awal, Widia hanya ingin kamu terluka. Minimal koma. Tapi cacat masih bisa diterima. Itu perintah yang didapat Ayah Vian dari Widia.”


Tapi, dengan meninggalnya Tuan Wirasurya, Widia berubah pikiran. Dia ingkar janji.


Ayah Vian berhasil ditangkap, keluarganya terbengkalai, dan berakhir kakaknya meninggal dunia karena kecelakaan.


Sama persis dengan cerita Sara semalam.


“Ibunya meninggal setahun setelah kakaknya meninggal.”

__ADS_1


Yang terjadi setelah itu adalah Vian mulai menggelandang ke sana ke mari tanpa tujuan. Dia kenal dengan banyak preeman dan ikut bergabung bergabung dengan sebuah geeeng anak jaalanan.


Vian menganggap mereka adalah keluarganya.


“Pria ini ...” Yuda menunjuk gambar pria yang tercetak di atas kertas yang tadi diberikan pada Agam. “... adalah salah satu keluarga Vian yang baru.”


Agam semakin keras menggertakkan giginya. Tangannya terkepal sangat keras. Dia pandangi terus pria yang ada di dalam gambar itu. Membuatnya semakin marah.


“Satu informasi penting lainnya,” lanjut Yuda. “Dia memang tidak pernah ke Pace University. Dan dia tidak akan berani ke universitas manapun. Karena ijazahnya palssuu.”


Belum sempat memberikan tanggapan atas informasi Yuda itu, telepon Agam berdering.


Mbok Jami? Sara!


“Den, maaf, Den,” kata Mbok Jami begitu Agam menjawab panggilan itu. “Den Agam tadi suruh saya telepon Aden kalau ada apa-apa sama Non Sara. Makanya saya telepon, Den.”


Agam mulai panik. “Ada apa, Mbok? Sara kenapa?”


“Non Sara tadi minta jalan-jalan. Ya saya anterin. Tapi saya tinggal sebentar ambil sweaternya Non Sara. Balik-balik ini Non Sara sudah sama Den Al, tunangannya Non Ava. Non Sara kayaknya marah sekali, Den. Saya takut kenapa-kenapa.”


“Saya kesana sekarang. Terima kasih, Mbok,” tutup Agam.

__ADS_1


“Ada apa, Mas?,” tanya Arya yang juga ikut panik.


“Vian!,” jawab Agam yang langsung berdiri dan bergegas ke tempat Sara dengan menggenggam keras ponsel yang tadi dipegangnya.


__ADS_2